
Bisa di bilang, hari ini adalah hari patah cowok-cowok yang menyukai Aleyza, dan cewek-cewek yang menyukai Athaya. Meski mereka tahu kalau keduanya memang sudah saling sayang sejak kecil.
Berita tentang hubungan antara Aleyza dan Athaya sudah menyebar luas di seluruh penjuru sekolah karena postingan akun Instagram milik Athaya.
“Za, muka lo kenapa dah? Serem banget perasaan,” ujar Aidan seraya menatap prihatin ke arah Aleyza.
Anggota inti The Vagos kini berada di gazebo yang terletak di pinggir lapangan SMA Trunajaya. Sedari tadi, entah apa yang sedang Aleyza alami. Mukanya memang pucat, dan mood nya sedang kacau sekali.
Aleyza yang menyenderkan kepalanya di dada bidang milik Athaya itu menatap malas Aidan. “Gue lagi badmood.”
“Astaga, Za. Kayaknya gue selalu salah di mata lo. Kemarin-kemarin aja, mepet terus ke gue pas lagi marahan sama si Thaya. Lah sekarang, giliran udah baikan gue terlupakan. Asem bener lo,” ujar Aidan dengan wajah memelas.
“Ya lo kan emang pantes digituin, cocok. Lagipula, untuk saat ini Aleyza sedang nyaman dengan posisinya. Tuh liat, dadanya Thaya emang lebih aduhai bagi dia.” Timpal Adelard membenarkan.
“Iya juga sih, gue mah apa atuh. Cuman bongkahan kerikil aja.”
Athaya mengelus kepala Aleyza dengan lembut. “Kamu kenapa sih, Za? Badmood gara-gara apa? Jangan cemberut terus dong.” Tawar Athaya, begitu perhatian kepada Aleyza.
Aleyza menggelengkan kepala kuat. “Nggak apa-apa, nggak tau juga.”
Athaya menghela napas sabar. “Mau nyemil? Nanti aku beliin deh.”
“Eyza lagi nggak mau apa-apa, Thayang.”
Athaya tersenyum lembut, tangannya terus mengusap kepala Aleyza yang bersandar di dadanya.
“Tha, nanti pulang duluan aja ya. Aku pulang sekolah harus kumpul OSIS dulu, pembahasan untuk pembukaan ekskul.” Ucap Aleyza setelah lama diam.
Athaya menganggukkan kepalanya. “Iya, nanti kalau kamu butuh apa-apa bilang aja sama mereka ya. Kan mereka itu memang babu nya kamu.”
“Sial*n! Nggak usah ikut-ikutan kurang ajar lo, Tha! Mentang-mentang jadi ketua, se enaknya lo mah.” Aldo menggeleng heran. Ia benar-benar tidak percaya dengan ucapan Athaya, bisa-bisanya ia memanjakan Aleyza dengan anggota The Vagos yang dijadikan babunya.
“Lupa lo? Kan apapun itu, kalau bisa buat Aleyza Bahagia mah kalian harus menuruti itu.” Balas Athaya semena-mena.
Lemuel mengelus dagunya. “Sweet, banget sih lo. Jadi pengen deh jadi cewek lo juga.”
“MANA SUDI GUE!” Athaya bergidik ngeri.
Dari kejauhan sana, Naufal datang dengan Alice yang mengekornya.
“Hai, Alice.” Sapa Aidan seraya melambaikan tangannya kepada Alice.
“Hai juga, Aidan.” Balas Alice riang.
“Gilak! Manis banget senyum lo.” Goda Aidan.
“Mulut lo mau gue jahit hah?!” tanya Naufal sangar.
“Wes, santai dong. Bercanda doang kali ah.” Aidan cengengesan.
“Tha, si Aleyza kenapa?” tanya Alice yang memperhatikan Aleyza cemberut terus.
“Palingan juga lagi badmood tuh cewek.” Timpal Naufal.
Alice hanya menganggukkan kepalanya seakan paham.
“Dari tadi kalian?” tanya Naufal ikut duduk di sebelah Adelard. Ia mengeluarkan bungkus rokok dari saku Almamaternya.
Gerakan Naufal itu tidak luput dari perhatian Aleyza. Gadis itu bangkit, dan merampas rokok dari tangan Naufal. “Lo nggak boleh ngerokok di sekolah! Awas aja ya! Mau gue hukum hah?! Gue nggak mau kalau sampai lo, atau anggota The Vagos lainnya melanggar aturan sekolah ini!” peringat Aleyza. Kemudian ia memasukkan bungkus rokok itu ke dalam Almamater miliknya.
Naufal tertawa pelan. “Hahaha, gue lupa kalau lo itu ketua OSIS di SMA Trunajaya. Thanks ya udah ingetin. Lo emang cocok jadi Ketua OSIS disini.”
“Ouh jelas, cewek gue gitu loh.” Timpal Athaya sedikit menyombongkan.
“Songong lo, mentang-mentang udah pacaran!” timpal Adelard kesal melihat tingkah sombong adiknya itu.
__ADS_1
“Syirik aja lo, bang.”
***
Athaya melangkahkan kaki nya keluar kelas. Bel pulang sekolah sendiri sudah berdering sejak tadi.
Hari ini, Athaya memutuskan untuk menunggu Aleyza yang sedang kumpul OSIS agar bisa mengajak Aleyza jalan-jalan sejenak.
Kedua mata Athaya memencar, matanya tidak sengaja menangkap siluet seseorang yang dirinya kenali.
Tanpa lama-lama, Athaya segera menghampiri gadis itu.
“Kak Maisie!” panggil Athaya dengan kencang seraya berlari ke arah gadis itu.
Maisie yang mendengar Namanya dipanggil itu pun menoleh ke arah sumbernya. Bukannya menyapa balik Athaya seperti biasa, gadis itu justru langsung memalingkan wajah. Setelah itu Maisie buru-buru pergi dari depan ruang kelas nya tanpa menoleh ke arah Athaya lagi.
“Kak Maisie! Kak!”
Maisie tidak berhenti, malah mempercepat langkahnya seolah tengah menghindarinya. Athaya yang terengah pun memutuskan untuk berhenti.
Ia menatap punggung Maisie yang mulai menghilang setelah berbelok di salah satu Lorong. Kening lelaki itu mengerut bingung.
“Lah, kak Maisie kenapa sih?” gumamnya bertanya-tanya.
***
“Sebelum pulang, apakah ada yang ingin ditanyakan terlebih dahulu?”
Aleyza berdiri gagah di ruang OSIS. Matanya menatap ke arah siswa-siswi yang akan mengikuti beberapa ekskul yang ada di SMA Trunajaya.
“Tidak ada kak, sudah jelas semuanya!” balas mereka dengan kompak.
Aleyza mengangguk. Ia menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
“Yasudah, kalau begitu untuk pembukaan ekskul hari ini kami anggap selesai. Kalian sudah boleh pulang.” Final Aleyza.
“Lumayan capek.” Gumam Caca seraya menyeka keringat di dahinya.
“Udah boleh pulang nih?” tanya Abram setelah menggendong tasnya ke Pundak.
Aleyza mengangguk. “Silahkan, langsung pada pulang ke rumah ya. Hati-hati juga di jalannya.”
“Oke, Za. Kita duluan kalau gitu!” ujar Caca, kemudian pergi Bersama anggota OSIS lainnya.
Kini tinggal tersisa Aleyza dan juga Fais yang berada di ruangan itu. Keduanya masih membereskan beberapa berkas penting untuk dibawa pulang.
“Pulang sama siapa, Za? Athaya udah pulang atau nungguin lo?” tanya Fais pada Aleyza yang masih sibuk memasukkan beberapa berkas ke dalam tasnya.
“Kalau misalnya Athaya udah pulang, palingan gue minta jemput salah satu anggota The Vagos.” Balas Aleyza. Gadis itu tersenyum hangat.
Fais mengangguk paham. “Oke deh, gue duluan kalau gitu ya.”
Aleyza melambaikan tangan saat Fais keluar dari ruangan. Tak lama Fais keluar, Aleyza pun ikut keluar dan tak lupa mengunci ruangan OSIS terlebih dahulu.
Gadis itu melangkah menuju parkiran sekolah. Berharap ada Athaya yang menunggunya.
Sampainya di parkiran SMA Trunajaya, gadis itu dibuat terkejut dengan kehadiran Athaya yang sedang duduk manis di atas motornya. Lelaki itu memangku dagu dengan sebelah tangannya, terlihat sekali jika lelaki itu sedang mengantuk karena kedua matanya terlihat sedikit tertutup dan terlihat sangat menggemaskan di mata Aleyza.
“Hai, ganteng nya Eyzayang.” Panggil Aleyza pelan seraya menepuk puncak kepala Athaya, membuat lelaki itu terperanjat kaget.
“Ih, Eyzayang nya Thaya ngagetin aja deh!” Athaya mengerucutkan bibir sebal.
Aleyza terkekeh. “Kenapa belum pulang? Aku kira kamu pulang duluan tau,”
Athaya menggelengkan kepala pelan. “Mana mungkin aku pulang duluan ninggalin kamu, kamu itu tanggung jawab aku.”
Aleyza mencubit kedua pipi Athaya gemas. “Ihh lucu sekali big baby nya Eyza, ayo kita pulang sayang.”
__ADS_1
***
Maisie memasuki pekarangan rumah dengan wajah yang terlihat tidak bergairah. Semangat hidupnya seolah sirna begitu saja.
Kenyataan yang diterimanya semalam cukup membuat dirinya merasa tidak senang. Athaya, lelaki yang disukainya sejak setahun yang lalu kini telah menjadi pacar Aleyza.
Ia sadar dirinya memang bukan siapa-siapa jika dibandingkan dengan Aleyza yang sempurna sekali.
Kehadirannya itu disambut bingung oleh Farah yang tengah menyiram bunga di pekarangan rumahnya. pasalnya, sejak pagi tadi ia merasa kalau Maisie bersikap tidak seperti biasanya. Wajah gadis itu terlihat murung dan seperti ada sebuah kesedihan yang sedang ia tutupi. Dengan cepat, ia berjalan menghampiri Maisie.
“Maisie, sayang. Kamu kenapa? Kok murung sih?” tanya Farah langsung pada intinya.
Maisie menghela napas berat. Gadis itu pun menatap ke arah Ibunya cukup lama. “Maisie nggak apa-apa kok, bu.” Ia mengulas senyum tipis yang terlihat jelas sangat dipaksakan.
“Kamu itu nggak bisa bohong sayang, sini cerita ke Ibu lagi ada masalah apa.” Perasaan seorang Ibu memang paling peka terhadap anaknya. “Sini sayang, cerita aja ke ibu.”
Farah menarik tangan Maisie, mengajak anaknya itu masuk ke rumah. Ia menyuruh gadis itu untuk melepaskan tas biru muda yang menggantung di punggungnya, lalu menyuruh Maisie untuk duduk di sofa ruang tamu.
“Sini sayang, tiduran.”
Farah menepuk pahanya, memberikan instruksi kepada Maisie untuk meletakkan kepalanya di sana.
Gadis itu pun menurut. Ia merebahkan diri di atas sofa kemudian menjadikan paha Farah sebagai bantalannya.
“Sekarang udah mau cerita, hmm?” tanya Farah seraya terus mengusap kepala Maisie dengan lembut.
“Bu, Athaya sama Aleyza sekarang udah pacaran,” ujarnya langsung pada intinya.
Farah membulatkan matanya sedikit terkejut. “Athaya punya pacar?!”
Terdengar helaan napas berat yang meluncur dari mulut Maisie. “Iya, sama Aleyza. Dan baru semalam mereka pacaran.”
Farah terdiam, pantas saja Maisie terlihat berbeda hari ini. Bahkan untuk sarapan aja Maisie tidak menyentuh makanan yang dibuat nya sama sekali. Farah tahu kalau anaknya itu menyukai Athaya sudah sejak lama.
“Aku harus gimana, Bu?” tanya Maisie meminta pendapat.
“Jodohkan di tangan tuhan sayang. Sedangkan tuhan Athaya sama tuhan Aleyza aja beda, masih ngarep buat jodoh?”
“Mereka baru pacaran, kamu masih ada hak buat dekat Athaya dan buat dia berpaling dari Aleyza. Jangan mikirin orang lain, kamu juga berhak Bahagia bukan?”
Maisie Kembali menegakkan tubuhnya. Tatapan mata cowok itu terlihat kosong. Sepuluh detik kemudian, Maisie berdiri dari duduknya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia pergi meninggalkan ruang tamu dan menuju kamarnya.
***
Tok!Tok!Tok!
Farah sudah mengetuk pintu kamar Maisie beberapa kali. Sejak pembicaraan terakhirnya dengan Maisie tadi sore, gadis itu sama sekali belum keluar dari kamarnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul Sembilan malam, tetapi Maisie tidak memberikan tanda-tanda akan keluar dari kamarnya. Embusan napas kasar terdengar dari mulut Farah, wanita itu menoleh ke arah Willy suaminya yang berdiri di sebelahnya.
“Maisie, sayang. Keluar yuk, kamu dari pagi belum makan loh,” ujar Farah dengan lembut, berharap anaknya itu akan luluh.
“Sayang, putri Ayah. Kamu dengar kita kan?” tanya Willy membuka suara.
Farah dan Willy saling berpandangan saat Maisie masih tidak juga menjawab. Sebelumnya, Maisie tidak pernah sampai seperti itu. Mungkin perasaan gadis itu benar-benar terluka untuk pertama kalinya.
“Sayang, kamu jangan gini dong. Bikin kita khawatir aja, keluar kamar yuk.”
“Kamu nggak boleh patah semangat gini dong, seharusnya kamu itu perjuangin Athaya,” ujar Willy.
Farah tersenyum sendu. “Udah, Yah. Mungkin Maisie butuh waktu buat sendiri ya. Mudah-mudahan besok dia udah nggak murung lagi.”
Willy mengangguk. Pria itu merangkul Pundak istrinya, mencoba untuk menenangkan kegelisahan yang bersemayam di hati Farah. “Udah ya, nggak apa-apa kok.”
Sementara itu, di dalam kamarnya yang gelap tanpa penerangan sedikit pun. Maisie terduduk di atas dinginnya lantai. Ia menundukkan kepalanya dalam, wajahnya terlihat suram.
Tangan kirinya itu memegang ponsel yang menampilkan room-chat nya dengan Athaya. Ia sama sekali tidak membalas pesan dari lelaki itu.
__ADS_1
Maisie melempar asal ponselnya. Tangannya mengacak rambutnya yang sudah berantakan. Dirinya benar-benar terpuruk saat ini.