Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Fais


__ADS_3


“Lo kelihatan capek banget deh, Za,” ujar Fais kepada Aleyza.


Keduanya kini tengah berada di salah satu mall untuk membeli perlengkapan di ruangan OSIS yang sudah seharusnya di ganti.


Tidak ingin berbohong, Aleyza pun mengangguk. Kepalanya benar-benar pening sekarang. Mungkin ini akibat semalam ia yang bergadang untuk mengerjakan tugas sekolah nya.


“Kita langsung balik aja ya?” tanya Fais, ia merasa tidak enak.


“Boleh. Gue juga capek banget, lagian ini udah semua kan?”


Fais tersenyum tipis kemudian mengangguk. Ia mengecek Kembali paper bag yang berada digenggaman nya.


Setelah dirasa benar-benar sudah lengkap, keduanya pun berjalan berdampingan menuju parkiran.


“Langsung pulang kan? Atau mau nyari makan dulu?” tawar Fais.


Aleyza menggeleng, “Nggak usah, gue makan di markas The Vagos aja. Udah kangen Athayang nih, ayok pulang.”


“Tapi, lo oke kan?” tanya Fais lagi. Jujur saja ia merasa kasihan dengan partner-nya ini.


Aleyza tertawa kecil. “Gue oke kok, apa lagi kalau nanti ketemu Athayang. Semangat 45 gue balik lagi.”


Fais mengangguk. “Tumben banget Athaya nggak ikut? Biasanya dia selalu ikut kemana pun lo pergi,” ujar Fais lalu terkekeh pelan. Bagaimana pun, Athaya ini memang selalu sensitive jika dirinya berdekatan dengan Aleyza.


Aleyza yang sedang asyik memandangi jalan sekitar pun menjawab. “Tadi nya dia maksa pengen ikut. Cuman gue larang, jadi gue suruh dia diem di markas aja.”


“Lo benar-benar akrab banget sama anak-anak The Vagos ya?” tanya Fais.


Aleyza mengangguk. “Gue Queen Of The Vagos, kalau lo lupa itu. Ya meskipun gue kadang nyusahin mereka, setidaknya mereka memang benar-benar memperlakukan gue layaknya Queen.”


***


“Lo curang njir!”


Hidung Aidan kembang kempis menahan amarah. Wajahnya kini sudah dipenuhi oleh bedak bayi karena berulang kali kalah dalam permainan Uno.


“Curang dari mana hah?! Lo kalau kalah ya kalah aja sih, nggak usah pake acara nuduh orang lain curang.” Balas Lemuel, melakukan pembelaan.


Adelard tertawa melihat wajah Aidan yang penuh dengan bedak itu. “Gaya-gayaan lo ngambek segala, nggak Laki lo ah.” Godanya seraya menaik turunkan alisnya.


“Nggak asik lo ah!” teriak Aidan kelewat kencang. Lelaki itu menekuk wajahnya tidak suka. Tatapannya tertuju ke arah Athaya yang sejak tadi asyik dengan ponselnya. “So sibuk amat lo, lagi cari-cari cewek pengganti Aleyza nih?”


Ketua The Vagos itu menatap malah ke arah Aidan. “Ngomong apa lo hah?!” balasnya.


Aidan mencebik kan bibir. “Si Eyza emang nya kemana sih? Kok tumben kagak ada disini?” tanya nya.


“Lagi di mall sama Fais.” Timpal Aldo se adanya.


“Pantesan si Athaya galau merana gitu, ceweknya lagi asyik sama cowok lain ternyata.” Ejek Lemuel.


“Gue tekankan ya! Dia nggak asyik sama tuh si Fais, dia cuman lagi beli perlengkapan buat ruang OSIS!”


“Ck! Jadi kangen Eyzayang kan.” Rengek nya kesal.


“Baru ditinggal ke mall aja udah kayak yang ditinggal kemana aja lo.” Adelard menggeleng heran.


“Ya habisnya gimana, dia kan separuh hidup gue.”


“Mulut lo tuh mulut lo! Benar-benar harus disumpal.” Sahut Aldo.


“Biasanya lo kan ngikut sama si Eyza, kok sekarang kagak?” tanya Naufal sembari membalas chat.


“Gue tadi maksa ikut, cuman nggak di bolehin sama si Eyzayang.” Athaya menyenderkan tubuhnya di sofa.


“Wah hati-hati lo Tha! Nanti Aleyza berpaling lo yang ketar-ketir nih.” Aldo menggeleng tak habis pikir.

__ADS_1


Athaya memutar bola matanya . “Nggak akan mungkin! Kalau sampai Aleyza berpaling, gue yang bunuh tuh si Fais!”


“Gila! Jiwa-jiwa psikopat banget lo.” Timpal Naufal.


“Padahal yang gue liat si Fais tuh baik deh, emangnya lo punya dendam apa sih sama dia?” tanya Adelard penasaran.


Selama ini, Athaya memang sedikit sensitive jika ada orang yang menyebut nama Fais. Padahal, Wakil Ketua OSIS SMA Trunajaya itu terkenal baik dan juga ramah kepada siapapun.


“Gue nggak suka karena dia selalu dekat sama Aleyza! Gue nggak suka itu titik!” balas Athaya jujur sekali.


“Heh bego! Mereka itu kan satu organisasi, ya pastinya dekat lah! Heran deh gue sama lo. Lagi pula gue tau lah Aleyza gimana. Nggak mungkin dia berpaling sama lo, kalian kan sama-sama bucin,” ujar Aldo.


Naufal mengalihkan pandangannya, cowok itu mengangguk setuju. “Aleyza adalah tipikal orang yang setia, jadi nggak mungkin juga dia berpaling dari lo. Kalian itu kan sama-sama bucin, jadi lo tenang aja. Gue cukup tau dia gimana lah.”


“No! sedalam apapun kalian tau tentang Eyzayang. Tetap gue yang benar-benar tau seluk beluknya.”


Kelima lelaki itu pun menatap heran ke arah Athaya.


“Kalian udah pernah mandi bareng sama dia belum?” Athaya menaikkan dagunya sombong.


Kelima lelaki itu pun kini menggeleng kompak. “Ya kali njir, Eyzayang mau diajak mandi bareng sama salah satu dari kita.”


“Nah, sadar diri ternyata. Gue mah sering dong!” lanjut Athaya lalu tertawa geli.


“Lo gila, Tha!” teriak Adelard dengan hebohnya.


“Lah emangnya salah? Kan waktu kecil gue emang sering mandi bareng sama dia. HAHAHA.” Athaya tertawa keras. Sedangkan kelima lelaki itu mengeram kesal dengan ucapan Athaya.


“Sialan lo!” maki Naufal.


***


Dengan Langkah lunglai, Aleyza turun dari kamarnya.


Matanya tak sengaja menatap kedua orang tuanya yang sedang mengobrol Bersama Evans, kakak angkatnya di ruang tengah. Mereka bertiga terlihat begitu Bahagia. Aleyza sadar diri, sepintar apapun dia tetap akan kalah dengan Evans.


“Papa dapat kabar dari bodyguard, katanya kamu ini masih suka keluyuran nggak jelas. Kamu juga masih main sama teman-teman geng itu! Ingat Aleyza, kamu itu cewek. Nggak sepantas nya kamu kumpul-kumpul kayak gitu sama banyak cowok. Jangan jadi cewek murahan, Za!” murka Kendrick. Kedua matanya menatap nyalang ke arah Aleyza.


“Pah, aku ini anak papah atau bukan sih? Emang salah kalau aku berteman dengan mereka? Aku bukan cewek murahan Pah! Papah pikir, dengan papah bilang kayak gitu aku nggak sakit hati?! SAKIT PAH! Bisa nggak sih, kalian itu menghargai Aleyza sebagai anak kalian?!” balas Aleyza mengeluarkan isi hatinya. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, berharap dapat menghilangkan rasa sesak di dalam dadanya.


“Dari kecil loh Pah Aleyza seperti nggak dianggap anak oleh kalian. Mau sepintar apapun Aleyza, pastinya akan tetap kalah dengan bang Evans kan? Jelas lah, dia kan anak ke sayangan papah. Lagi pula, Aleyza kadang mikir. Aleyza ini anak kandung papah atau bukan? Kalau iya, kenapa papah memperlakukan Aleyza seperti ini? Tapi, kayaknya Aleyza emang bukan anak kandung papah. Coba Pah, bilang Aleyza ini anak siapa? Biar Aleyza cari sendiri orang tua kandung Aleyza.”


“CUKUP ALEYZA!” sentak Kendrick sembari menahan tangannya yang hendak menampar Aleyza.


Aleyza tertawa hambar. “Kenapa Pah? Kenapa nggak di tampar aja sih?”


“Kamu itu lama kelamaan semakin ngelunjak tau! Mamah nggak pernah ngajarin kamu untuk berbicara begitu sama kami,” ujar Keyla ikut menimpali.


“Hah? Gimana? Ngajarin? Sejak kapan kalian ada waktu buat ajarin Aleyza? Perasaan, nggak pernah deh. Kan kalian terlalu sibuk dengan bisnis dan juga anak kesayangan kalian.” Sarkas Aleyza.


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi Aleyza. Rasa panas juga nyeri menjalar di permukaan kulit gadis itu.


“Haha, Eyza kira papah yang bakalan tampar. Ternyata mamah. Papah nggak mau nambahin?” tanya Aleyza sembari menahan air matanya agar tidak turun.


“Padahal Aleyza berbicara fakta kok, kenapa mamah malah tampar Aleyza? Nggak terima dengan ucapan Aleyza? Iya? Yang Aleyza butuhkan itu kasih sayang dari kalian. Bukan tamparan seperti ini.”


“Tapi nggak apa-apa, ya mungkin emang ini cara kalian ya buat sayang sama Aleyza. Makasih sebelumnya.” Setelah menyatakan itu. Aleyza langsung berlari keluar menuju rumah Athaya.


***


“Za, kamu kenapa sayang?” tanya Shafia seraya mengelus puncak kepala Aleyza.


Shafia menatap lembut Aleyza yang sedari tadi menundukkan kepala. Ia paham, jika Aleyza sudah murung seperti ini pasti ada yang tidak beres dengannya.


Aleyza menggeleng pelan. “Nggak apa-apa kok, Bun.”

__ADS_1


Shafia tersenyum lembut. Ia ikut duduk di sebelah Aleyza. Mereka kini tengah berada di ruang keluarga Bersama dengan Abimana, Adelard, dan Athaya.


Athaya mengerutkan keningnya saat melihat pipi Aleyza yang memerah. Karena peka, lelaki itu pun berdiri dari duduknya. Athaya langsung pergi ke dapur untuk mengambil baskom berisi air dingin dan juga handuk kecil untuk mengompres pipi gadis itu.


Shafia menatap lembut ke arah Aleyza yang berwajah cemberut dan menundukkan kepala. “Kenapa sayang? Lagi ada masalah?”


Aleyza menggeleng pelan.


“Kamu habis ditampar lagi ya? Apa mau Bunda bantu ngomong sama orang tua kamu?” tanya Shafia yang memang sudah hafal dengan gelagat Aleyza setiap bermasalah dengan kedua orang tuanya.


Aleyza refleks mendongak. “Nggak usah, Bunda. Nggak apa-apa. Lagian juga percuma, Aleyza kan emang bukan anak mereka, jadi mereka nggak akan peduli sama Eyza.”


Shafia membulatkan matanya, sedikit tidak percaya dengan ucapan Aleyza. Ia pun memegang kedua Pundak Aleyza. Tatapan teduh penuh kelembutan milik wanita itu selalu bisa membuat Aleyza merasa tenang. “Sutt, kamu nggak boleh ngomong gitu ya sayang. Ingat ya, kamu itu udah Bunda anggap anak Bunda juga. Kamu nggak boleh merasa sendirian, ada kami yang akan selalu menyayangi kamu. Kalau butuh apa-apa, bilang aja sama Bunda atau Ayah ya,” ujar Shafia dengan tulus.


Aleyza menatap Shafia dengan haru. “Bunda, Eyza boleh peluk bunda?”


Dengan senang hati, Shafia mengangguk.


Ia merentangkan tangan, membuat Aleyza langsung memeluk erat dirinya.


“Bunda, makasih. Makasih banyak, berkat Bunda Eyza jadi bisa ngerasain kasih sayang Mamah. Eyza sayang sama bunda.”


Shafia mengangguk seraya terus mengelus punggung Aleyza. “Sama-sama sayang, Bunda juga sayang kamu.”


Tidak berselang lama, akhirnya Athaya datang menghampiri Aleyza dengan baskom berisi air dingin dan handuk tipis yang berada di tangannya.


Tanpa banyak bicara, cowok itu dengan segera mengompres pipi Aleyza yang memerah. Abimana dan Shafia yang melihat tingkah anaknya begitu perhatian kepada Aleyza pun mengukir senyum haru.


“Kamu kenapa bisa gini sih, Zayang?” tanya Athaya khawatir sembari mengompres pipi Aleyza pelan.


“Shhh, pelan-pelan Thayang. Sakit tau.” Ringis Aleyza.


“Maaf.”


“Kamu nginep disini aja ya? Tidur sama aku, aku kangen kamu banget,” ujar Athaya.


Aleyza menatap Athaya sejenak lalu beralih memandangi Abimana dan juga Shafia seakan-akan meminta ijin dari keduanya.


Abimana yang paham dengan tatapan Aleyza pun mengangguk. “Boleh kok sayang, tidur sama Athaya aja ya.” Ucap nya dengan senyuman tulus.


“Eitss apaan sih, Yah. Nggak boleh ah!” timpal Adelard yang tidak setuju dengan ucapan Abimana.


“Kenapa sih bang? Sewot amat lo.” Balas Athaya heran.


“Masa iya mereka tidur berdua hah?!” tanya Adelard.


“Gue juga nggak bakalan macam-macam, bang. Cuman tidur doang lah, biasanya juga kan gitu. Kok lo sekarang sewot?” tanya Athaya menggelengkan kepalanya heran.


“Lo enak tidur nya ditemenin Aleyza. Lah gue? Masa iya gue sendiri njir ah males.” Ucap Adelard dengan nada kesal.


“Biasanya juga kan emang bang Adelard tidur sendirian kali ah.” Kali ini Aleyza yang menimpali ucapan Adelard.


“Nah, Eyza bener tuh.” Sahut Abimana.


“Kalian semua benar-benar menyebalkan, pokoknya aku juga mau ikut tidur bareng sama Aleyza titik!” ucapnya final.


“Gini nih kalau orang syirik, coba lo tanya Aleyza. Dia nya mau apa enggak.”


“Meski dianya nggak mau juga gue mah tetep bakalan maksa buat tidur bareng kalian.” Ucap Adelard tak tahu dirinya.


Abimana dan Shafia hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kedua putra nya itu.


“Sudah, sudah. Jangan bertengkar terus. Biar adil, Aleyza tidur sama Bunda aja nih,” ujar Shafia sembari terkekeh.


“NGGAK BOLEH!” teriak Abimana, Adelard, dan juga Athaya seketika kompak.


“Wah, Ayah dan anak yang sangat kompak.” Sahut Aleyza sembari tertawa dan ikuti oleh Shafia yang ikut tertawa juga.

__ADS_1



__ADS_2