Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Suasana duka dan suatu fakta tak terduga


__ADS_3


Suasana haru menyelimuti pemakaman Maisie. Puluhan orang ikut mengantarkan jenazahnya. Keluarga, kerabat dekat, perwakilan guru, sahabat dekat Maisie, dan tujuh inti The Vagos pun berbondong-bondong mengantarkan sampai ke pemakaman.


Farah masih terus menangis, anak-anak gadis satu-satunya kini telah meninggalkan dunia. Willy, sang suami pun terus mengusap Pundak farah, berharap dapat memberikan sedikit ketenangan.


“Bu, ayo kita pulang.” Ajak Willy kemudian.


Satu per satu orang mulai meninggalkan pemakaman. Kini hanya menyisakan kedua orang tua Maisie, Aleyza, Athaya, beserta inti The Vagos lain.


Farah menggelengkan kepalanya dengan derai air mata yang kian membanjiri kedua pipinya. “Maisie, Yah. Dia anak gadis kita satu-satunya udah pergi ninggalin kita.” Balasnya sesenggukan.


Willy memandang prihatin istrinya. Ia juga sama merasakan kehilangan yang begitu dalam. Farah semakin menangis kencang seraya memeluk nisan Maisie.


“Bu, sebelumnya saya minta maaf. Tapi, saya masih tidak tahu Maisie meninggal karena apa ya?” tanya Athaya hati-hati.


Farah menegakkan tubuhnya lagi, ia menatap Athaya sendu. Tangannya terangkat untuk mengusap punggung Athaya sejenak. “Setelah kamu antar dia pulang, dia sempat pergi entah kemana. Lalu, dia nggak lama pulang dan langsung masuk ke kamar mengurung diri. Lama tak keluar kamar, jelas membuat kami khawatir akan kondisinya. Kami pun berusaha memanggil-manggil Maisie, tapi sayang tidak ada respon sama sekali di dalam kamar tersebut. Karena semakin di landa ke khawatiran, Suami ibu pun mendobrak pintu kamar Maisie. Setelah pintu terbuka, Maisie ditemukan….”


Farah membekap mulutnya, tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya.


“Maisie ditemukan tergeletak begitu saja di lantai dengan mulut yang berbusa.” Lanjut Willy membuat Aleyza dan Athaya terkejut bukan main.


“Tapi…, Maisie memang sengaja mengakhiri nyawanya dengan mengosumsi beberapa obat keras hingga overdosis.”


Setelah mendengar lanjutan dari perkataan Willy itu, Aleyza dan Athaya kompak membulatkan mata. Sementara itu, tangis Farah semakin keras dalam pelukan suaminya.


“Om, serius? Kak Maisie bunuh diri?” tanya Athaya masih tidak percaya. Jantung lelaki itu berdebar kencang saking kagetnya.


Willy menghela napas berat, lalu mengangguk. Tangannya merogoh sebuah surat yang berada di saku kemeja hitamnya. “Om nemuin surat ini di samping Maisie, tertulis untuk Aleyza,” ujarnya seraya menyodorkan secarik kertas itu kepada Aleyza.


Dengan cepat Aleyza menerimanya.


__ADS_1


Tanpa sadar, kini air mata Aleyza kian mengalir deras setelah membaca surat itu. Athaya yang ikut membaca itu pun tidak menyangka, Maisie yang saking mencintainya memilih untuk mengalah dengan mengakhiri nyawanya sendiri.


“Kak Maisie bu…, bunuh diri itu karena ak…, aku?” tanya Aleyza dengan pandangan kosong. Tubuhnya terasa lemas saat itu juga, kenyataan apa ini? Mengapa? Mengapa ia tidak peka akan perasaan yang Maisie pendam kepada kekasihnya itu?


***


Sudah sejak dua jam yang lalu Aleyza menangis di pelukan Athaya. Gadis itu benar-benar merasa terpukul dengan kepergian Maisie. Apa lagi, Aleyza juga merasa penyebab Maisie yang nekat menghabisi nyawanya sendiri adalah karena dirinya.


“Zayang, ini bukan kesalahan kamu. Udah, jangan nangis gini terus ya. Aku nggak suka liat kamu sedih gini, Na,” ujar Athaya masih tetap berusaha untuk menenangkan Aleyza. Ia dapat merasakan kalau gadis itu menggelengkan kepala dalam pelukannya. Athaya tidak peduli dengan kemejanya yang basah akibat air mata Aleyza.


“Aku salah, Tha. Karena aku kak Maisie ngerasa sakit hati. Andaikan aku tahu dia suka dan teramat mencintai kamu, aku bisa mengalah kok Tha asal jangan sampai Kak Maisie se nekat itu.” Aleyza menangis semakin kencang dalam pelukan Athaya. Punggung gadis itu bergetar hebat, membuat Athaya tidak henti-hentinya mengelusnya dengan penuh kelembutan.


Athaya mengurai pelukannya dan mengusap pipi Aleyza yang basah karena air mata. Seluruh wajah gadis itu memerah akibat terlalu lama menangis.


“Kalau aja aku ngebiarin kamu buat dekat sama Kak Maisie, setidaknya seiring berjalannya waktu. Kamu bisa suka sama dia, Tha. Jadi, kamu bisa balas perasaan dia dan semua ini nggak bakalan terjadi,” ujar Aleyz lagi. Masih terus menyalahkan diri sendiri.


“Za, hey! Do not talk like that! No matter how close I am to him, if the person I love is you, what should I do? Masa iya aku harus bohongi perasaan aku sendiri? Nggak mungkin kan?”


“Tapi, dia suka sama kamu. Apa kamu nggak bisa balas perasaan dia? Setidaknya, dengan kamu yang bisa balas perasaan dia. Dia nggak bakalan mengakhiri nyawanya sendiri, Tha.” Aleyza menundukkan kepalanya. Air matanya masih terus mengalir deras.


Aleyza terdiam seraya terus menangis.


“Za, udah ya. Kak Maisie juga udah nggak ada, dia udah pergi dan itu pun atas keputusan dia serta takdir. Baik aku, atau kamu juga nggak seharusnya terus-terusan saling menyalahkan diri sendiri. Stop nangis nya, Za. Kamu juga harus pikirin orang-orang disekitar kamu yang khawatir sama kondisi kamu saat ini, Zayang.” Lanjut Athaya.


Aleyza Kembali mendongakkan kepala. Ia menatap tepat di kedua manik hitam milik Athaya. Tatapan teduh millik lelaki itu seolah mampu memberikan sinar penyemangat untuk dirinya.


Tanpa lama-lama, Aleyza Kembali berhambur ke dalam pelukan lelaki itu. Athaya mengulas senyum tipis. Ia membalas pelukan Aleyza tak kalah eratnya.


“Zayang nggak boleh nangis lagi, hati aku selalu sakit ketika kamu nangis gini.”


Kalimat itu adalah kalimat penenang yang selalu Athaya katakana jika Aleyza tengah menangis.


***

__ADS_1


“Zayang, makan dulu ya sayang.”


Gelengan lemah di kepala Aleyza membuat Athaya menghela napas berat. Sejak kemarin, gadis itu sama sekali tidak memasukkan makanan sedikit pun ke dalam perutnya. Aleyza terus merenung sambil menangis ketika mengingat kematian Maisie.


Padahal, Farah dan Willy sudah meminta kepada gadis itu untuk tidak terlalu memikirkan kenyataan pahit yang baru saja menimpa mereka semua


“Sayang, setidaknya kasian sama diri kamu,” ujar Athaya lagi, masih berusaha untuk membujuk Aleyza.


“Eyzayang, makan dikit aja dong. Dari kemarin lo nggak makan, kalau lo sakit kita semua yang sedih.” Timpal Aidan seraya memandang kasihan ke arah Aleyza yang merenung di depan jendela.


“Za, lo nggak kasihan sama Athayang? Diau dah kayak orang gila tau! Bahkan, di sekolah aja dia nggak bisa fokus karena khawatir dengan kondisi lo,” ujar Adelard.


Athaya langsung menatap abangnya itu dengan gelengan kepala, seolah memberikan peringatan kepada mereka untuk tidak mengatakannya.


“Zayang, dikit aja.” Athaya menyodorkan sesuap sup ke arah mulut Aleyza dengan sendok.


“Nggak mau.” Balas Aleyza.


“Za, jangan gini. Jangan bikin khawatir, kamu mau apa hm? Bilang sama aku, aku turuti asal kamu nggak murung lagi ya.” Tawar Athaya. Tangan lelaki itu terangkat untuk mengelus lembut kepala Aleyza.


“Kamu lupa? Tante Farah sama Om Willy kan udah bilang ke kamu buat nggak sedih dan nggak perlu merasa bersalah, Zayang.” Lanjut Athaya.


Aleyza hanya diam, tidak menanggapi perkataan Athaya.


“Tha, orang tua Aleyza kemana ya? Kok dari tadi nggak keliatan.” Tanya Aidan penasaran. Karena, sedari tadi sejak datang ke rumah Aleyza mereka semua sama sekali tidak melihat sekelebat kehadiran orang tua gadis itu.


“Biasalah, lo tau sendiri orang tua Aleyza gimana.” Balas Athaya.


“Tha?” panggil Aleyza dengan suara yang terdengar parau. “Eyza perempuan jahat ya? Eyza… pembunuh kan?”


Athaya menatap marah ke arah Aleyza. “Don’t talk like that! It’s not true! You did nothing wrong and you are not a murderer!”


Setelah itu, terjadi keheningan yang Panjang di sana. Suasana ruang tamu rumah Aleyza terasa begitu canggung.

__ADS_1


***



__ADS_2