Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Ungkapan Rasa dan Terkejut


__ADS_3


Tak terasa, kini sudah tanggal 15.


Sepulang dari sekolah, seluruh anggota The Vagos berkumpul di markas untuk bersiap-siap pergi ke lapangan tempur.


Dengan berbalut jaket kebanggaan, mereka semua berbaris rapi untuk mendengarkan komando dari Athaya, Adelard, dan juga Naufal.


“Seperti yang udah pernah kita bahas, kita bakalan tetap pakai strategi seperti biasa. Karena, bagaimana pun gue yakin mereka belum tau tentang itu,” ujar Adelard dengan serius. Matanya beralih menatap Aleyza yang kini sedang menyenderkan kepalanya di bahu Aidan.


Dari kemarin, setelah Aleyza bertengkar kecil dengan Athaya. Ia sendiri lebih memilih untuk bermanja-manja dengan Aidan. Entahlah, memang begitu adanya Aleyza. Ketika sedang bermasalah dengan Athaya, gadis itu akan beralih kepada Aidan.


“Za, inget. Lo jangan jauh-jauh dari kita.” Peringat Adelard kepada gadis itu.


Aleyza mencebik kan bibirnya. “Y.”


“Ck! Kebiasaan. Lo kalau lagi ada masalah sama si Thaya pasti jutek banget. Bukannya apa-apa nih, ya Za.” Desah Naufal. “Mau sekuat apapun lo, lo nggak bisa melawan kodrat lo sebagai cewek.”


“Tenang, Aleyza tetap tanggung jawab gue.” Athaya berdiri di samping Naufal lalu menepuk Pundak sahabatnya itu.


Naufal mengangguk pelan. “Kita juga jangan sampai main individu, pokoknya harus saling bantu.”


“The Vagos!”


“We are! Always here together!”


Athaya dan Naufal saling tatap, kemudian keduanya bertos ria. Mereka memang saling melengkapi satu sama lain.


“Tetap jaga agar kemenangan itu milik kita.” Ucap Athaya.


“Kita berangkat!” perintah Athaya dengan tegas.


Seluruh pasukan The Vagos langsung bubar dengan sendirinya. Mereka mulai menaiki kendaraan yang terparkir rapi di halaman markas.


***


Di sebuah lapangan luas, dua geng kini sedang saling berhadapan. The Vagos berada di selatan, sementara Oktrax berada di utara. Athaya dan Gelvino maju untuk mewakili pasukan mereka.


Dengan slayer bandana yang senantiasa melingkar di lengan tangan kanan, Athaya menatap Gelvino dengan dagu yang sedikit terangkat. Matanya memandang remeh ketua dari Oktrax itu.


“Gue bawa pasukan banyak, sedangkan lo kok dikit ya?” tanya Gelvino dengan wajah sombongnya.


Athaya berdecak pelan, ia tersenyum miring ke arah Gelvino. “Banyak omong lo, emang nya udah pernah menang dari The Vagos hah?”


Gelvino membuang mukanya ke arah lain. Sepertinya ia merasa malu dengan pertanyaan Athaya. Karena, bagaimana pun selama battle geng Oktrax memang belum pernah menang.


“Gue yakin, kalau kali ini Oktrax yang bakalan menang!” final Gelvino. Lelaki itu menatap beringas ke arah Athaya yang masih bertahan dengan wajah tenang, meski matanya menyorot tajam ke arah lawan.


“SERANG!” perintah Athaya kepada anggota The Vagos.


Mereka semua langsung menyerbu satu sama lain, seakan tidak membiarkan lawan mereka menang.


Aleyza yang merupakan satu-satunya perempuan, kini tidak lagi memikirkan gendernya.


“Heh! Gue kira lo udah mati!” Aleyza menunjuk Gustian yang baru saja menendang salah satu anggota The Vagos. Lelaki itu menatapnya dengan pandangan yang amarah.


“Lo! Cewek sialan! Gara-gara lo aset berharga gue linu beberapa hari, sialan!” kesal Gustian seraya mendekati Aleyza.


Aleyza yang paham amarah Gustian pun memasang kuda-kuda bersiap untuk menangkis jika tiba-tiba Gustian melayangkan pukulan untuknya. Setidaknya, untuk saat ini ia tidak boleh sampai lengah.


“Masa gitu doang lo marah sih! Cemen ah, sini lawan gue!” tantang Aleyza.

__ADS_1


Gustian mengepalkan kedua tangannya. Lelaki itu mulai melayangkan pukulan bertubi-tubi ke arah Aleyza. Namun, beberapa kali gadis itu berhasil menangkisnya.


Bugh.


Karena mendapatkan serangan yang terlalu banyak dari Gustian, akhirnya satu pukulan lelaki itu berhasil mendarat di pipi Aleyza. Rasa ngilu dan nyeri menjalar di tulang pipi Aleyza.


Aleyza yang tidak terima dengan pukulan Gustian pun berniat membalas nya. “GUSTIANJ**G! SIAL*N! MATI LO!”


Aleyza pun menendang kepala bagian kiri Gustian. Lelaki itu terjatuh dengan tangan memegangi kepalanya. Tidak ingin memberi celah, Aleyza Kembali menghampiri Gustian yang masih tergeletak.


Aleyza pun berjongkok tepat di depan Gustian. Kemudian ia meninju perut Gustian tanpa merasa kasihan.


Gustian yang kesakitan, memukul Kembali pipi Aleyza. Gadis itu terjungkal ke belakang. Senyum miring terukir di bibir milik Gustian. Tepat saat dirinya hendak melayangkan pukulan untuk Aleyza, Athaya datang dan langsung memukul kencang rahang Gustian. Dengan sigap, Athaya membantu Aleyza berdiri.


“Za, udahan marah nya. Lo kena pukulan berapa kali?” tanya Athaya khawatir.


“Dua, pipi kiri dan kanan,” ujar Aleyza mengadu kepada Athaya.


“****!”


Athaya menghampiri Gustian, kemudian menghajar habis-habisan lelaki itu tanpa ampun.


Bugh.


“Ini buat lo karena udah berani mukul cewek gue!” ujar Athaya, ia terus menerus memukul Gustian. Bunyi retakan tulang tidak lagi Athaya pedulikan.


Seluruh anggota The Vagos kini benar-benar menunjukkan sisi yang berbeda.


“THA, EYZA! AWAS! BELAKANG KALIAN!” teriak Adelard kencang lalu menendang tongkat baseball yang sudah dilayangkan ke arah Athaya dan juga Aleyza.


Perhatian mereka semua teralihkan ke arah seorang lelaki yang kini tengah berlari menghampiri Athaya.


Gelvino mengumpat habis-habisan, karena aksinya berhasil di gagalkan.


Aldo tertawa sinis. Ia menatap lawannya datar yang kini sudah terbaring lemah. Lelaki itu menepuk kan kedua tangannya seolah-olah sedang menghapus debu yang menempel di sana.


Sekarang, tinggal Gelvino yang tersisa di tengah sana. Ia sedang di hajar habis-habisan oleh Naufal. Seluruh anggota The Vagos yang berjumlah 300 orang itu pun mengitari Gelvino yang dalam posisi telungkup di atas tanah.


“Percuma pasukan banyak, kalau nggak berguna,” ujar Naufal seraya menatap ke arah Gelvino yang menyembunyikan wajah disela-sela tangannya. Menutupi rasa malu mungkin.


“Hari ini, 15 Desember. The Vagos Kembali menang atas Oktrax!” ujar Athaya dengan mengangkat jaket kebanggaan The Vagos itu ke udara.


“WE ARE THE VAGOS! ALWAYS HERE TOGETHER!”


***


Kini, hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Anggota The Vagos mengendarai motor mereka dengan rapi di jalanan yang cukup sepi. Mereka mengendarai motor menuju lapangan di dekat markas mereka untuk merayakan kemenangan The Vagos.


“Wah, Fal! Lo keren tadi, sumpah!” ujar Lemuel seraya menjabat tangan Naufal.


“Alay lo ah! Kemenangan kita kan Bersama-sama.” Ralat Naufal, kemudian tersenyum tipis.


Mereka semua Kembali melanjutkan kebiasaan mereka disertai tawa dan candaan yang semakin memperhangat suasana.


“Aidan, kunci motor gue sini balikin.” Titah Aleyza dengan menengadahkan tangan ke arah Aidan yang memang tadi memakai motor miliknya.


Aidan merogoh saku jaket nya untuk mengambil kunci motor Aleyza. Ia melemparkan kunci itu yang langsung ditangkap dengan sigap oleh Aleyza.


Aleyza pun menuntun motornya ke dekat tempat motor Athaya terparkir. Lelaki itu menyambut kehadirannya dengan senyuman hangat.

__ADS_1


Kedua mata Athaya begitu meneduhkan, tatapan lembut yang dimilikinya itu hanya di perlihatkan kepada Aleyza dan juga keluarganya.


“Zayang….” Panggil Athaya, membuat Aleyza menatapnya dengan pandangan bertanya.ia berdeham pelan untuk mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba menyerang. “Kita menang.” Lanjutnya.


Aleyza menatap Athaya dengan kening mengerut. Suasana di sekitar mendadak hening karena gelagat Athaya yang tidak seperti biasanya. Keduanya pun menjadi pusat perhatian saat ini.


“Kenapa?” tanya Aleyza.


Athaya meneguk saliva nya susah payah. Jantungnya kini berdebar begitu kencang.


“Em, Zayang. Kamu mau kan jadi pacar aku?” tanya Athaya, kemudian meringis pelan.


Aleyza tidak mampu menyembunyikan senyuman bahagianya. Kedua pipinya saja kini sudah bersemu merah merona. Gadis itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sebelum akhirnya mengangguk.


Ia langsung memeluk Athaya dengan erat, membenamkan wajahnya yang memerah di dada bidang lelaki itu.


“HARI INI, TANGGAL 15 DESEMBER DIMANA ATAS KEMENANGAN THE VAGOS. GUE NYATAKAN KALAU LO, ALEYZA VALERIE ARKARNA RESMI MENJADI PACAR ATHAYA ZALINO BRATAJAYA.” Final Athaya begitu tulus dari hati. Ia memegang belakang kepala Aleyza kemudian mencium kening gadis itu cukup lama.


Semua anggota The Vagos pun bersorak senang. Mereka mengendarai kendaraan masing-masing kemudian mengitari Athaya dan Aleyza.


Tanggal 15 Desember, menjadi kemenangan The Vagos sekaligus hari spesial untuk Athaya dan juga Aleyza.


Untuk saat ini, biarlah mereka berdua melupakan satu kenyataan besar yang sebenarnya akan menjadi pemisah hubungan mereka kelak.


***


“Zayang, aku pulang dulu ya. Dadah pacarnya Athaya!”


Lelaki itu berdiri, bersiap-siap untuk beranjak dari rumah Aleyza. Ia berlari kencang menuju rumahnya, sampai lupa jika motornya masih tertinggal di halaman Aleyza.


Tepat setelah Athaya sampai di depan rumah, dia terkejut melihat seorang gadis duduk di kursi teras rumahnya.


“Kak Maisie, ngapain ke sini malam-malam?” tanya Athaya.


“Setahu gue, hari ini geng lo ada jadwal battle sama geng Oktrax kan? Nah, gue ke sini cuman mau pastiin kondisi lo. Lo nggak apa-apa kan?" ujar Maisie setelah turun dari kursi yang ia duduki. Gadis itu terlihat khawatir dengan keadaan Athaya. “Muka lo lebam-lebam gitu, udah di obati?”


Athaya refleks memegang pipinya. “Ouh ini, udah kok tadi di obati Aleyza. Bentaran lagi juga sembuh kok.” Ia tersenyum untuk membuat Maisie percaya bahwa dirinya memang tidak apa-apa.


Maisie pun mengamati Athaya dari atas sampai bawah untuk mengecek apakah ada luka lain di tubuh lelaki itu. Sementara itu, Athaya senyum-senyum sendiri entah karena apa. Hal itu sontak membuat Maisie melambaikan tangan di depan wajah lelaki itu.


“Tha? Lo kenapa? Senang banget kayaknya.” Tanya Maisie.


“Hehe, gue emang lagi senang kak.” Balas Athaya dengan riang.


“Karena?”


“Malam ini, atas kemenangan The Vagos. Aleyza resmi jadi pacar gue, kak. Setelah sekian lama, akhirnya gue bisa ungkapin perasaan gue ke dia.”


Maisie yang mendengar ucapan Athaya benar-benar tak menyangka. Bak disambar petir, Gadis itu susah payah meneguk saliva nya.


Kenyataan besar yang paling tidak ia harapkan menjadi kenyataan malam ini. Maisie tidak menyangka kalau Athaya dan Aleyza benar-benar telah resmi berpacaran padahal mereka berdua berbeda keyakinan. Harapan yang tertanam di benaknya seolah dihempas begitu saja.


Melihat Maisie yang hanya diam, tentu membuat Athaya penasaran. “Kak Maisie kenapa? Lo nggak senang ya kalau gue jadian sama Aleyza?”


Maisie terlihat gugup. Gadis itu berdeham pelan untuk menormalkan Kembali ekspresi wajahnya. Senyum di bibirnya mengembang paksa. “Se-senang kok, gue senang. Selamat ya, akhirnya lo sama Aleyza bisa jadian.”


Athaya tersenyum lebar menanggapi itu. “Makasih, Kak.”


Maisie mengangguk. Suasana di sekitarnya tiba-tiba berubah menjadi canggung dan tidak enak. “Gue balik dulu kalau gitu ya.”


Athaya mengangguk sebagai jawaban. Ia menunggu Maisie menaiki mobilnya, pintu mobil sudah di bukakan oleh supir Maisie.

__ADS_1


Gadis itu menyempatkan diri untuk menatap Athaya lamat dan tersenyum manis sebelum akhirnya ia benar-benar pergi dengan perasaan yang ia sendiri tidak bisa jabarkan.



__ADS_2