
Sudah seminggu sejak tragedi di Secret Club waktu itu. Kini, Aleyza Kembali menjalani hari-hari seperti biasanya. Meski masih suka kepikiran, setidaknya ia harus terlihat baik-baik saja.
Gadis itu tersenyum ke arah Athaya yang sedang menata rambutnya.
“Kamu jangan kecapean ya.” Athaya tersenyum hangat.
“Iya, siap Athayang!” balas Aleyza dengan nada lucu seperti biasanya.
“Kalau gitu aku ke ruangan OSIS dulu ya, awas aja kalau kamu bolos ya!”
Athaya mengerucutkan bibirnya sebal. “Iya, nggak akan bolos kok.”
Setelah Athaya mengecup singkat puncak kepala Aleyza, Aleyza segera pergi dari sana. Athaya memandang kepergian gadis itu dengan senyuman. Ia tersenyum melihat kepergian gadis tercintanya itu.
Setelahnya, Athaya duduk di atas bangkunya. Tangannya merogoh ponselnya yang berada di dalam saku celana. Lemuel dan yang lainnya belum berangkat, jadi ia tidak punya teman untuk berbicara.
“Hai, pagi Athaya.”
Athaya mendongakkan kepalanya saat suara yang familier memanggilnya. Itu Caithlin, gadis yang selalu saja mengganggu Athaya dengan senyum yang mengembang tipis di bibirnya.
“Nih, buat lo. Mumpung gue lagi baik.” Caithlin menyodorkan satu botol minuman ke arah Athaya.
“Tau darimana lo kalau gue suka ini?” tanya Athaya setelah menerima uluran satu botol minuman itu.
Gadis yang berdiri di samping meja Athaya itu terkekeh ringan. “Kan gue udah pernah bilang. Gue selalu tau tentang lo ataupun Aleyza.”
Athaya menatap gadis itu bingung. “Mau jadi penguntit lo?!”
Lagi-lagi Caithlin tertawa. “Lo cukup minum aja, nggak perlu banyak tanya.” Ia berlari pergi meninggalkan Athaya sendiri di ruang kelasnya.
“Cewek aneh.” Ucap Athaya.
***
“Kok bisa ya si Aleyza mau-maunya pacaran sama Athaya.”
“Cewek macam Aleyza bisa-bisanya malah pacaran sama si Athaya yang nggak bener ya. Padahal kan dia cocoknya sama Fais.”
Kedua tangan Athaya terkepal saat mendengar cibiran yang berasal dari dua teman dekat Fais. Kedua lelaki itu memang suka sekali menggosipkan nya, sudah seperti perempuan saja mereka berdua ini.
“Tha, mau kemana lo?” tanya Aldo yang baru saja menghabiskan makanannya. Lelaki itu membuka tutup botol minumnya.
“Lo cukup diem disini aja.” Peringat Athaya.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Athaya mulai melangkah pergi dari tempat duduknya. Lelaki itu menghampiri Raka dan Fahmi yang duduk tidak jauh dari tempatnya tadi.
“Heh! Cowok bermulut cewek!” panggil Athaya.
Raka menoleh dengan tatapan malas. “Ngomong apa lo?!”
“Maksud lo apa hah gosip in gue? Udah ganti kelamin lo? Mulut lo lemes amat kayak mulut netizen!” tanya Athaya menahan marah.
Raka terkekeh. “Mulut-mulut gue, ya jadi gimana gue dong!”
Lelaki itu berdiri dengan bersedekap dada. Dagunya sedikit terangkat untuk menyombongkan diri. “Gue sih lebih suka kalau Aleyza sama Fais. Soalnya Cuma mereka yang cocok.”
Athaya menatap tajam Raka. “Siapa lo? Kok ngatur-ngatur ya? Kalau Fais suka Aleyza tapi Aleyza nya suka gue, bisa apa kalian semua?”
“Definisi manusia nggak tau diri ya lo! Sadar bro! keyakinan lo aja beda sama Eyza, pake so-soan angkuh gitu.” Fahmi mengitari Athaya. “Lo kalau dibandingin sama Fais jelas jauh beda! Lo Cuma bisanya ngerusuh, bego, dan nggak berguna tau. Nggak cocok banget sama Aleyza yang perfect segala-galanya.”
Perkataan Fahmi tentunya berhasil menohok hati Athaya. Apa yang lelaki itu katakana ada benarnya juga, jika dibandingkan dengan Aleyza. Tentu dirinya ini memang tidak ada apa-apanya.
“Tuh, coba lo liat Fais.” Raka menunjuk Fais yang tengah berdiri di dekat tukang mie ayam dengan seorang siswa yang berbincang-bincang dengannya. “Fais itu ganteng, pinter, ramah, keponakannya guru, bijaksana, sama-sama perfect lah kayak Aleyza. Jadi, jelas dia yang lebih cocok sama Aleyza kan?”
Aleyza mengikuti arah tunjuk Raka. “Mau se perfect apapun Fais. Kalau Aleyza nya cinta sama gue, lo berdua bisa apa bodoh?”
Raka tertawa lagi. “Yakin kalau dia cinta sama lo?
“Lo mau gue bikin patah tulang hah?!”
Suasana semakin memanas, murid-murid yang berada di kantin mulai berkerumun tidak ingin ketinggalan momen antara Athaya dan juga Raka.
“Oke, lo yang duluan mancing emosi gue. So, jangan salahkan gue kalau harus berbuat keji ke lo.”
“Hahahaha.” Tawa Raka dan Fahmi kompak jelas meremehkan Athaya tentunya.
Athaya mengeram kesal. Giginya saling bergemelutuk menahan emosinya yang memuncak. Lelaki itu bersiap untuk melayangkan pukulan ke wajah Raka. Namun, seseorang tiba-tiba mencekal tangannya.
“Lo?” beo Athaya setelah melihat siapa pelakunya.
Gadis berpenampilan rapi itu hanya menatap datar Athaya. “Lo itu nggak selevel sama dia, Tha. Dia itu Cuma cowok gila!” ujarnya pada Athaya.
Raka yang mendengarnya tentu tidak terima. Ia pikir Caithlin adalah murid baru yang baik. Ternyata tidak sebaik yang dia kira.
Raka melotot penuh amarah. “Cew_”
“Nggak usah ngomong sama gue lo! Lo itu udah kayak banci tau, hobinya gosip in orang. Gue Cuma kasih saran, besok-besok mending seragam lo ganti pakai rok ya.” Serobot Caithlin seraya menatap remeh pada Raka dan juga Fahmi.
Gelak tawa dari murid-murid yang berkerumun pun terdengar menggelegar mengejek kedua lelaki itu.
__ADS_1
Dengan emosi yang tertahan karena merasakan malu yang luar biasa, Raka dan juga Fahmi pergi dari sana dengan berlari kencang.
***
Aleyza terperanjat kaget saat Kendrick menggebrak meja belajarnya dengan begitu kerasnya. Gadis itu menundukkan kepalanya dalam karena tidak ingin menatap wajah Papahnya.
Aleyza tidak tahu mengapa orang tuanya itu mendadak pulang. Ia kira mereka akan menginap di kantor seperti biasanya.
“DASAR ANAK TIDAK TAHU DI UNTUNG! SUDAH BERAPA KALI PAPAH BILANG! NGGAK USAH BERTEMAN DENGAN MEREKA! MEREKA ITU BAHAYA! KAMU ITU CUKUP BELAJAR DAN BUAT ORANG TUA KAMU INI BANGGA!” bentak Kendrick benar-benar emosi.
“Kenapa nilai kamu bisa turun gini hah?! Kenapa? Papah malu, Za. Malu punya anak bodoh kayak kamu!” lanjut Kendrick.
Aleyza hanya bisa diam sembari menunduk. Gadis itu menatap tangannya yang bergetar hebat. Kemarahan yang Kendrick keluarkan selalu saja berhasil membuatnya ketakutan hebat.
“Apa harus papah pukul kamu terus, hah?”
“Maaf, pah. Maafin Eyza.” Cicit Aleyza pelan.
“Papah nggak butuh maaf dari kamu! Papah Cuma mau kamu keluar dari geng sialan itu dan cukup fokus dengan Pendidikan kamu! Bisa nggak sih kamu itu jadi anak yang berbakti dan nggak usah bantah orang tua!”
Aleyza memberanikan diri untuk menatap wajah Kendrick yang memerah. “Pah, Eyza juga manusia biasa! Papah Cuma bisa melarang-larang Eyza, tanpa langsung ikut andil untuk ngurus Eyza! Jadi disini, papah juga jelas salah!”
“SUDAH MAKIN BERANI UNTUK MEMBANTAH KAMU YA!” kedua mata Kendrick melotot. Urat lehernya terlihat menonjol, dan juga kedua tangannya terkepal erat.
“Bukan maksud Eyza buat membantah papah. Tapi, Eyza juga perlu kasih sayang papah dan juga mamah. Eyza juga pengen kalian didik. Kenapa sih? Kenapa kalian malah sayang sama anak pungut itu!”
PLAK.
Tamparan keras berhasil mendarat di pipi mulus Aleyza. Sudut bibir gadis itu mengeluarkan darah akibat dari tamparan keras Kendrick. Pria itu benar-benar sudah gila karena berani menampar anak kandungnya sendiri.
“Jelas papah lebih sayang sama Evans! Karena dia itu berharga! Masa depan dia sangat jelas tidak seperti kamu! Kamu itu hanyalah beban bagi papah dan juga mamah!” ujar Kendrick. Napas pria itu memburu saking tersulut emosinya.
“Ouh, bang Evans berharga dan Eyza enggak? Lucu ya pah, kenapa nggak papah bunuh aja Eyza? Kan Eyza beban. Jadi, kalau Eyza mati beban kalian nggak ada!” balas Aleyza tanpa rasa gentar sedikit pun.
Kendrick mengeram kesal, tanpa rasa kasihan sedikit pun ia mendorong Aleyza hingga terjatuh dari atas kursi nya. Kedua mata pria itu nyalang ke arah anak gadisnya.
Napasnya memburu dengan emosi yang kian memuncak. “PAPAH BENAR-BENAR MENYESAL PUNYA ANAK PEMBANGKANG SEPERTI KAMU! ANAK TIDAK TAU DI UNTUNG KAMU, ALEYZA!” setelah mengatakan itu, Kendrick berjalan keluar dari kamar Aleyza dengan bantingan kuat di pintu kamar gadis itu.
Aleyza menangis dalam diam. Gadis itu menggigit bibir bawahnya kuat untuk menahan isak tangisnya.
Kedua lututnya merangkak untuk mendekat ke arah meja belajarnya. Tangan gadis itu menarik laci yang ada di sana dengan gemetar untuk mencari cutter yang selalu ia gunakan untuk menyakiti dirinya sendiri.
Tangannya mengarahkan ujung cutter itu ke arah lengan tangannya yang kini hanya memakai kaos lengan pendek saja. Dengan gemetar, Aleyza mulai membuat sayatan di sana. Helaan napas lega terdengar dari mulutnya setelah merasakan perih dari sayatan yang dirinya ciptakan.
Berkali-kali gadis itu melakukan sayatannya hingga membuat lengan putih mulusnya kini berubah menjadi memerah dengan percikan darah yang mengalir di sekitarnya.
__ADS_1
“Athaya…., Eyza capek… Eyza pengen peluk.” Lirihnya pelan.