Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Tetap berbeda dan Kehilangan Maisie


__ADS_3


Hari sudah malam tetapi Athaya masih belum bisa tidur. Sepertinya, menemui Aleyza di jam segini adalah pilihan yang tepat.


Athaya membuka pintu rumahnya secara perlahan lalu melangkah keluar. Ia menyeberang jalan untuk mencapai rumah Aleyza yang berada di depannya. Seluruh lampu rumah gadis itu sudah padam, kecuali bagian kamarnya.


“EYZAYANG!” teriak Athaya dengan kencang. Ia memencet bel rumah Aleyza beberapa kali agar gadis dengan cepat membukakan pintu untuknya.


Tidak berselang lama, Aleyza keluar dengan baju tidur yang membalut tubuhnya. Rambut gadis itu acak-acakan, kedua tangannya memegang laptop.


“Apa sih Tha! Udah malam tau, kenapa?!” tanya Aleyza heran.


Athaya memutar bola matanya. Tidak ingin menjawab pertanyaan Aleyza, ia segera masuk dan menuju kamar Aleyza yang berada di lantai dua.


“Heh! Orang nanya tuh di jawab! Kagak ada sopan-sopan nya emang!” teriak Aleyza sembari mengejar Athaya.


Sampai di kamar gadis itu, Athaya langsung menuju tempat tidur. Tanpa pikir Panjang, ia pun langsung mendaratkan bokongnya di sana.


“Zayang.”


“Apa sih? Aku tuh mau ngerjain tugas-tugas OSIS nih, mau apa kamu tuh?” balas Aleyza menggerutu sebal.


“Sini, duduk.” Titah Athaya seraya menepuk Kasur yang didudukinya.


Karena tidak ingin membantah, Aleyza pun menuruti ucapan lelaki itu. Ia duduk berdempetan dengan Athaya. “Kenapa Thayang? Kenapa?”


Athaya membaringkan tubuhnya di atas kursi dan menjadikan paha Aleyza sebagai bantalan. Kedua mata tajamnya itu menatap manik mata milik Aleyza dengan seksama.


“Kangen tau, mau dielus dong.” Kata Athaya dengan nada sedikit manja.


Aleyza memutar bola matanya. Kumat kan! Kebiasaan deh, kalau manja nya udah datang ya seperti ini. Giliran di depan anak-anak The Vagos saja galak nya bukan main. Meskipun begitu, Aleyza tetap melakukannya dengan senang hati.


“Manja banget deh kamu, udah kayak Miko aja.” Balas Aleyza, lalu terkikik geli.


Athaya berdecak sebal. Ia menekuk wajahnya tidak suka. “Aku sama Miko aja ganteng-an aku, Za. Lagipula aku ini manusia, jangan disamain sama tuh hewan kamu.”


“Lah kok sewot? Padahal kalian itu sama-sama lucu tau.”


“Lucu-an aku!”


Aleyza tertawa lagi. “Pokoknya kalian sama-sama lucu! Titik.”


“Za, berhenti sama-sama -in aku sama tuh si Miko!”


“Nggak bisa sayang ku.”


Athaya berdecak pelan. “TERSERAH!”


Aleyza pun melanjutkan kegiatannya yaitu mengelus-elus rambut Athaya. Sementara itu, Athaya hanya diam dengan pandangan kosong. Sudah beberapa hari ini Athaya merasa kalau Maisie benar-benar menghindarinya.


Athaya berpikir, apakah ia punya salah? Namun, Athaya rasa ia tidak melakukan kesalahan. Entah apa yang membuat Maisie menghindar ketika tidak sengaja berpapasan dengannya.


“Tha, kok melamun?” tanya Aleyza dengan kening berkerut.


Athaya yang langsung tersadar itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya untuk Kembali fokus. “Nggak apa-apa, kok Zayang.”


Aleyza menatap tidak suka ke arah Athaya. “Aku tahu kamu bohong! Dan aku ngga suka itu. Kamu kenapa?”


“Aku ngerasa kalau kak Maisie itu berubah dan kesannya menghindari aku.” Balas Athaya jujur.


“Ouh.” Balas Aleyza singkat.


“Bahkan, waktu itu aja ketika aku sama dia nggak sengaja pas-pasan di sekolah. Dia langsung pergi dan menghindari aku.”


“Ngerasa kehilangan?” Aleyza mengangkat sebelah alisnya.


Athaya terperanjat kaget dengan pertanyaan Aleyza. Namun, setelahnya ia tertawa melihat itu. “Kamu cemburu sayang?’ godanya. Dari wajahnya saja Athaya sudah bisa menebak kalau Aleyza merasa cemburu.


“G."


Athaya yang mencoba mengganti suasana yang canggung itu pun mulai mencari topik baru. “Besok temenin aku joging, mau?”


Aleyza menggeleng pelan. “Kamu lupa? Aku harus pergi ibadah, Tha.”


Athaya meringis pelan. Lagi-lagi ia merupakan kenyataan itu. “Sorry, aku agak lupa. Kamu tau? Terkadang aku selalu pengen ngajak kamu doa bareng. Tapi, aku tuh terkadang bingung.” Ucap Athaya yang sedikit menggantung.

__ADS_1


“Bingung? Kenapa?” tanya Aleyza heran.


“Bingung mau pakai doa aku, atau doa kamu.” Balas Athaya apa adanya.


Aleyza tertawa hambar. “Ternyata kita tetap dalam kondisi yang berbeda ya.”


***


Athaya menuruni tangga dengan cepat saat mendengar bel di rumahnya berbunyi. Hari ini, Ayah, Bunda, dan Adelard sedang pergi berkunjung ke rumah nenek mereka. Jadi, tinggal lah Athaya seorang diri di rumahnya.


Saat ia membuka pintu rumahnya, tepat saat itu juga kedua mata Athaya membulat sempurna. Bagaimana tidak? Di depannya kini ada Maisie yang berpakaian rapi setelah beberapa hari terakhir gadis itu menghindarinya.


“Em, pagi Thaya.” Sapa gadis itu dengan senyum yang mengembang sempurna.


Athaya hanya terdiam dengan wajah bodohnya, membuat Maisie tertawa gemas. “Tha, kenapa?” tanya nya.


“Ini bener kak Maisie kan?” tanya Athaya masih tak percaya.


“Iya gue, lo kira siapa?”


Athaya cengengesan. Lelaki itu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Pagi-pagi gini, kak Maisie mau ngapain?”


“Kalau gue mau ngajak lo pergi bentar, lo mau? Lo lagi nggak ada janji sama Aleyza kan? Soalnya ada hal penting yang mau gue bahas.” Balas Maisie dengan wajah yang mulai serius.


Athaya mengedipkan matanya tiga kali sebelum akhirnya mengangguk. “Gue lagi nggak ada janji sama Eyzayang kok, emangnya mau pergi kemana nih?”


Maisie tersenyum. “Nanti gue kasih tau kita mau kemana setelah lo udah siap. Sekarang, lebih baik lo siap-siap dulu. Karena, nggak mungkin kan kita pergi dengan kondisi lo yang seperti ini?” Maisie tertawa di akhir kalimatnya.


Athaya refleks melihat penampilannya sendiri. Sadar dengan penampilannya sekarang, Athaya pun hanya bisa cengengesan. “Gue siap-siap dulu kalau gitu.”


Setelah mengatakan itu, Athaya langsung berlari terbirit-birit masuk ke dalam rumah.


Maisie yang melihat itu pun tersenyum geli seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun, itu semua tidak berlangsung lama ketika gadis itu mengingat status Athaya dengan Aleyza sekarang. Senyumnya luntur saat itu juga.


***


Athaya tidak berhenti berdecak kagum saat melihat ke sekelilingnya. Ternyata, Maisie mengajaknya ke sebuah perbukitan yang letaknya lumayan jauh dari rumah Athaya. Pepohonan hijau yang rindang itu membuat matanya segar.


“Ouh iya, sebelumnya kita mau ngapain ke sini?” tanya Athaya setelah turun dari atas motor.


Kedua remaja itu akhirnya sampai di sebuah danau yang lumayan luas. Ada sebuah jembatan yang Panjang terbentang di tengahnya. Maisie mengajak Athaya untuk menapak di sana.


“Indah, gue suka,” ujar Athaya dengan sorot mata yang berbinar. “Kapan-kapan gue ajak Eyzayang kesini boleh?” tanya Athaya.


Maisie mengangguk cepat. “Boleh kok, boleh.” Jawab nya dengan senyuman manis, yang mana sebenarnya itu adalah senyuman yang dipaksakan.


Maisie menghadapkan tubuhnya ke arah Athaya. Gadis itu menatap Athaya dengan lekat. “Lo makin ganteng aja deh.”


Athaya terkekeh ringan. “Ya, itu mah Eyzayang juga tau. Lagipula, gue kan emang ganteng dari lahir.”


“Aduh, pede banget ternyata.” Maisie menerawang jauh ke depan. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Gadis itu terlihat hendak mengatakan sesuatu.


“Mau ngomong ya? Kenapa? Bingung apa yang mau di omongin nya?” tanya Athaya yang langsung peka.


Maisie melipat bibirnya, jujur saja ia merasa begitu gugup sekali. “Em, gue mau ngomong tentang perasaan gue ke lo.”


Athaya menatap gadis itu bingung, otaknya masih berupaya untuk mencerna perkataan Maisie. “Hah? Maksudnya?”


Maisie menghela napas Panjang. Ia menggenggam hangat kedua tangan Athaya. Tatapan gadis itu menatap teduh kedua manik hitam kecokelatan milik Athaya. “Tha, sorry kalau sebelumnya gue lancang. I like you from the first time we met.”


Jantung Athaya mendadak berdebar tidak karuan. Lelaki itu meneguk saliva nya susah payah. Tubuhnya kini mendadak terasa panas dingin. Ia pun menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Pandangannya kini ia alihkan untuk melihat sekitar danau, tidak berani sama sekali untuk menatap manik mata milik Maisie.


Benar ternyata dugaan nya selama ini. Maisie menyukai nya, Athaya sendiri bingung harus bagaimana. Perasaannya, dan hatinya saja sudah menjadi milik Aleyza se utuhnya.


“You, the first man who made me fall too deep in a feeling of love.” Lanjut gadis itu.


“Kenapa? Kenapa lo harus suka sama gue?”


Maisie tersenyum kecut. “Since when does falling in love need a reason?”


Athaya terdiam, masih mencerna perkataan Maisie kepadanya.


“Gue sadar diri kok. Lo suka nya sama Aleyza, bahkan kalian berdua udah pacaran kan. Maksud gue juga bukan ingin merebut lo dari Aleyza. Gue cuman mau jujur tentang perasaan gue ke lo.”


Perasaan Athaya sekarang campur aduk. Lelaki itu merasa bersalah dan juga tidak enak. “Sorry, you know myself I love Aleyza since childhood. And I don’t like you either, since a year ago. I already considered you my older sister, nothing more.”

__ADS_1


Kedua bahu Maisie melemas. Meskipun merasakan kekecewaan yang begitu besar, Maisie tetap bisa mengulas senyuman untuk menutupi kesedihan.


“Nggak apa-apa, lagipula ini resiko yang harus gue terima ketika berani mencintai seseorang yang tidak mencintai balik bukan.” Jawab Maisie.


“Lo nggak marah?” tanya Athaya hati-hati.


Maisie menggeleng. “Buat apa marah? Kalau misalnya yang lo cintai itu bukan gue, gue juga bisa apa?”


“Maaf ya. Selama ini gue cuman anggap lo kakak perempuan gue.” Athaya berujar kecewa. Perasaan bersalah kini mendominasi menggerogoti hatinya.


“Udah, nggak apa-apa. Mending kita pulang yuk, takutnya Aleyza lagi butuh lo. Gue harap, lo anggap kejadian ini nggak pernah terjadi ya.”


***


Maisie turun dari motor Athaya. Setelah memberikan helm kepada lelaki itu, tangannya beralih mencengkeram erat tali tas. Jujur, baik Athaya maupun Maisie sama-sama gugup setelah kejadian di danau tadi.


“Gue balik ya kalau gitu,” ujar Athaya berpamitan.


“Hati-hati ya.” Jawab Maisie.


Maisie terkekeh ringan. Perasaannya Kembali menghangat setelah melihat senyum di bibir Athaya Kembali terbit. “Em, Tha. Izin peluk lo sebentar boleh?”


Athaya sempat ragu karena takut jika Aleyza akan marah padanya nanti. Namun, setelah melihat tatapan Maisie yang terlihat tulus memohon itu membuatnya menganggukkan kepala.


Tanpa lama-lama, Maisie segera menarik Athaya ke dalam pelukannya. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma parfum Athaya yang terasa menyegarkan.


“Gue minta maaf ya? Maaf karena telah lancang mencintai lo, gue pamit. Lo jaga diri baik-baik ya, dan tetap Bahagia Bersama Aleyza.” Bisik Maisie tepat di telinga kanan Athaya.


Keduanya mengurai pelukan.


“Gue juga minta maaf karena telah bikin lo kecewa. Semoga lo dapat cowok yang lebih baik dari gue ya.” Athaya terkekeh geli, begitupun dengan Maisie.


Setelah itu Athaya Kembali memakai helm dan bersiap pergi. “Gue pergi dulu ya.”


“Hati-hati, jangan ngebut ya.” Peringat Maisie saat Athaya sudah menutup kaca helmnyam


Athaya pun menyalakan Kembali mesin motornya dan mulai meninggalkan Maisie sendirian. Dalam diam, Maisie memandang kepergian lelaki itu dengan sorot sendu.


“Kalau gue nggak bisa miliki lo, setidaknya orang lain pun begitu. Termasuk Aleyza, Tha. Untuk kali ini, gue ingin menjadi orang egois.”


***


“Pagi gantengnya Aleyza.” Aleyza tersenyum ke arah Athaya yang baru saja keluar dari rumah. Lelaki itu membalas dengan senyuman yang begitu menawan.


“Pagi, Eyzayang!” balas Athaya dengan riang. Athaya pun memberikan helm kesayangan milik Aleyza kepada gadis itu.


“Hari ini upacara, kamu nggak lupa bawa topi kan? Masa iya mau aku hukum?” tanya Aleyza.


“Udah di bawa kok sayang. Hari ini aku nggak lupa, kan semalam kamu yang ingetin.” Athaya menampilkan cengiran lebarnya.


Baru saja athaya hendak naik ke atas motornya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Lelaki itu pun mengurungkan niatnya dan mengangkat telepon terlebih dahulu. Keningnya mengerut saat melihat nama Ibu Farah tertera di layar ponselnya. Dengan cepat, ia mengangkat telepon dari Ibu Maisie itu.


“Assalamualaikum, Bu?”


Terdengar isak tangis di seberang sana. Hal itu semakin membuat Athaya merasakan cemas yang luar biasa.


“Waalaikumsalam, Th… Thaya….”


“Ibu Farah, kenapa? Kok nangis?” tanya Athaya dengan raut khawatir.


“Maisie. Maisie…, udah nggak ada Thaya….”


Athaya membulatkan mata. Ia membekap mulut dengan tangannya dan jantungnya berdebar kencang. Dalam hati, ia berharap kalau semua ini adalah mimpi.


“Bu, ini nggak benar kan? Ibu nggak serius kan?” tanya Athaya dengan suara bergetar.


“Mana mungkin ibu bohong, Thaya. Kemarin, setelah kamu antar dia pulang, ternyata di…, dia pergi lagi entah kemana. Da_” suara Ibu Farah terputus di tengah. “Ibu nggak bisa jelasin di telepon. Kamu bisa ke rumah?”


“I…, iya bu.”


Sambungan telepon terputus. Tubuh Athaya melemas saat itu juga. Tatapan matanya kosong, lelaki itu benar-benar merasakan kehilangan yang luar biasa besar.


“Tha? Kenapa?” tanya Aleyza dengan wajah paniknya.


“Kak Maisie. Di…, dia udah nggak ada, Za.” Balas Athaya membuat Aleyza terkejut bukan main.

__ADS_1



__ADS_2