Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Aleyza yang ingin diperlakukan sama seperti Evans


__ADS_3


Aleyza meremas ujung bajunya karena merasakan suasana canggung yang luar biasa. Di hadapannya, ada kedua orang tuanya dan juga Evans.


Aleyza tidak tahu kenapa mereka menyuruhnya untuk sarapan Bersama pagi ini, padahal biasanya saja mereka tak pernah peduli.


“Nanti malam kamu harus hadir ke hotel,” ujar Kendrick memecah keheningan yang ada.


“Hotel? Emang nya ada apa?” tanya Aleyza dengan kernyitan di dahinya.


“Hari ini kan ulang tahunya abang kamu Evans. Acara di hotel, memangnya kamu lupa kalau abang kamu itu ulang tahun?” balas Keyla.


Aleyza menatap Evans yang sedang asyik dengan makanannya. Ia lupa kalau hari ini adalah ulang tahun saudara angkatnya itu. “Apakah perlu Eyza hadir? Bukannya kalian paling nggak mau kalau ada Eyza di sekitar kalian ya?”


Kendrick mengendik kan bahunya. “Sebenarnya saya juga nggak mau kamu ada ya. Terserah kamu mau hadir atau tidak, yang penting saya sudah meminta kamu untuk hadir.”


Keyla mengangguk setuju. “Nanti kamu ngadu lagi ke Athaya kalau nggak kita ajak, kalau kamu ngadu kan yang ada kita juga yang malu sama orang tua dia.”


Aleyza mengulas senyum getir, ternyata hanya karena itu mereka mau memintanya untuk ikut hadir. Aleyza pikir, orang tuanya tulus. Ternyata memang hanya ia yang terlalu berharap saja.


“Kamu sudah ngucapin selamat ke abang kamu?” tanya Keyla


.


Aleyza memutar bola matanya malas. Gadis itu berdecak. “Selamat ulang tahun ya bang. Selamat, abang udah dapatin semuanya. Mau papah, mamah, dan seluruh kebahagian yang ada. Selamat yang bang udah rebut semua nya dari gue,” ujarnya dengan nada menyebalkan.


“ALEYZA VALERIE ARKARNA!” bentak Kendrick memanggil nama lengkap Aleyza dengan mata melotot penuh kemarahan.


Aleyza tertawa kecil dibuatnya. “Salah? Perasaan nggak ada yang salah ya.” Balasnya lalu pergi dari sana.


***


Malam pun tiba.


Aleyza mematut dirinya di depan cermin. Gaun putih yang membalut tubuhnya itu membuat dirinya terlihat semakin cantik.



Sebenarnya, ia malas untuk datang ke ulang tahun Evans. Namun, berhubung tugas sekolah dan OSIS nya sudah selesai. Ia pun bingung mau apa, terpaksa ia harus hadir ke acara ulang tahun abang angkatnya itu.


Setelah dirasa sempurna, gadis itu pun mengambil ponselnya kemudian berjalan keluar dari kamar. Keningnya mengerut saat merasa rumahnya telah sepi. Padahal, tadi ia masih melihat kedua orang tuanya dan Evans sedang sibuk bersiap-siap.


Kedua kaki Aleyza melangkah cepat turun ke lantai dasar. Gadis itu membuka pintu rumah dan terkejut saat itu juga. Mobil Kendrick dan juga Keyla sudah tidak, artinya mereka sudah pergi duluan dan meninggalkannya.


“Bisa-bisanya gue berharap bakalan di ajak pergi sama mereka.” Aleyza tertawa hambar. Lagi-lagi ia terlalu berharap lebih.


“EYZAYANG!”


Teriakan itu membuat Aleyza menatap seorang lelaki dengan balutan jas hitam tengah melambaikan tangan ke arahnya. Itu Athaya, lelaki itu tersenyum ke arahnya.


“ATHAYANG!” balasnya berteriak juga.


Athaya berlari menghampirinya.


“Kita berangkat bareng ya,” ujar Athaya setelah sampai di hadapan Aleyza.


Kedua matanya menatap Aleyza dari atas sampai bawah. Decakan kagum pun keluar dari mulutnya.


“Cantik banget ya allah pacarnya Athaya.”


“Ehhh bentar, ini apa-apaan terbuka gini. Ganti, Za! Aku nggak mau bagian dada kamu terekspos. Aku nggak suka berbagi!” ucap Athaya kesal setelah menyadari bahwa bagian dada Aleyza memang terlihat.


Aleyza yang niatnya ingin tersenyum karena pujian Athaya pun tidak jadi. Ia malah mengerucutkan bibirnya.


“Apaan sih, Tha. Ini waktu nya udah mepet banget, kan nggak mungkin kalau aku ganti. Lagi pula baju ini udah yang paling bagus.” Jawab Aleyza.

__ADS_1


Athaya berdecak. “Ck! Dahlah! Jadi badmood aku. Nanti pas di pesta kamu nggak boleh jauh-jauh dari aku! Awas aja!” ancamnya.


“Suutt nggak boleh bawel. Jadi pergi kan? Aku boleh berangkat bareng kamu?” tanya Aleyza untuk memastikan.


Athaya menganggukkan kepalanya. “Boleh dong, masa enggak sih.”


Athaya menautkan jemarinya dengan milik Aleyza. Lelaki itu benar-benar terlihat tampan malam ini.



“Sayang, senyum dong nggak boleh cemberut gitu ih jelek.” Aleyza menarik bibir Athaya dengan satu tangannya. “Tenang aja, selagi kamu di samping aku terus aku nya aman kan?”


“Tentu.” Jawab Athaya yakin.


“Keluarga kamu juga di undang ya?” tanya Aleyza setelah melihat kedua orang tua Athaya yang keluar dari dalam rumah Bersama Adelard yang masih sibuk menata rambutnya.


“Iya sayang, kan mereka juga rekan bisnis orang tua kamu.” Athaya membuka pintu mobil. “Silahkan masuk cantiknya Thaya,” ujarnya seraya membungkukkan tubuhnya.


Aleyza tersenyum melihat itu. Buru-buru ia masuk ke dalam mobil Athaya. Setelah dirinya masuk, Athaya langsung menutup pintu dan berjalan memutari mobil lalu masuk.


“Kenapa kita nggak bareng sama mereka?” tanya Aleyza sembari memasang sabuk pengamannya.


“Nggak. Nanti bang Delard ganggu kan malas.” Athaya memutar bola matanya malas.


“Ih nggak apa-apa tau. Soalnya kan seru kalau ada dia juga.” Gadis itu terkikik geli.


Athaya membalasnya dengan gelengan kepala. Ia mulai mengemudikan mobilnya menuju hotel dimana acara ulang tahun Evans akan di rayakan. Sementara itu, Aleyza masih sibuk mengamati wajahnya lewat pantulan cermin kecil di tangannya.


“Tha, aku cantik kan?” tanya Aleyza pada Athaya yang fokus mengemudi.


Athaya terdiam sebentar. Dua detik setelahnya ia tersenyum tipis. “Cantik banget malah. Jadi makin bikin aku jatuh cinta tau nggak.”


***


Aleyza menatap takjub sekeliling ruangan yang kini dipijaknya.


Aleyza menatap Evans yang berdiri di depan kue ulang tahun yang cukup membuatnya teramat iri. Lelaki itu tampan memakai setelan jas seperti seorang pangeran. Evans benar-benar mendapatkan perlakuan spesial seperti anak kandung meski sebenarnya ia adalah anak angkat.


“Beruntung banget bang Evans.” Gumam Aleyza.


Athaya refleks menoleh ke arah gadis itu. Pandangannya menjadi sedikit iba, ia tahu persis bagaimana perasaan gadisnya sekarang ini. “Nggak boleh iri gitu ya. Jangan sedih juga, kamu tau kan kalau aku nggak suka liat kamu sedih gini.” Bisik nya.


Aleyza menghela napas Panjang,bersusah payah untuk menguatkan diri dan hatinya. “Kita kesana,” ujarnya seraya menunjuk Evans.


Athaya mengangguk. Mereka berdua berjalan menghampiri saudara angkat Aleyza itu, yaitu Evans. Tangan kanan Athaya menggenggam tangan Aleyza dan tangan kiri nya yang memegang kado untuk Evans.


Kedatangan keduanya disambut senyuman tipis oleh Evans.


“Selamat ulang tahun, bro. ini kado buat lo ya,” ujar Athaya sembari menyodorkan kado ulang tahun untuk Evans itu.


“Thanks, ya bro.” balas Evans lalu tersenyum ramah. Ia menerima uluran kado dari Athaya. Tatapan matanya tertuju ke arah Aleyza yang enggan menatapnya.


Acara ulang tahun pun dimulai. Nyanyian lagu selamat ulang tahun mengalun indah dari beberapa tamu undangan. Wajah mereka semua terlihat berseri-seri seolah ikut merasakan kebahagiaan. Kecuali Aleyza dan Athaya tentunya. Aleyza kini sedang duduk di salah satu kursi, dengan wajah cemberut.


Athaya yang gemas sendiri melihat Aleyza pun diam-diam mengambil ponselnya. Ia sengaja memotret Aleyza tanpa sepengetahuan gadis itu. Dirasa puas akan hasil jepretannya, ia pun membuka akun Instagram miliknya. Berniat untuk memposting foto gadis manis nya ini.



Terdengar sekali suara Keyla yang bersorak riang. Ia mengecup lama puncak kepala Evans. Dilihat dari kedua matanya, wanita itu begitu menyayangi Evans seperti anak kandungnya.


“Tha, Eyza juga pengen dicium Mamah kayak bang Evans.” Lirih Aleyza dengan mata nya yang berkaca-kaca. Athaya yang mendengar lirihan dari gadisnya pun buru-buru menyimpan Kembali ponselnya.


Athaya yang mendengar kalimat itu terasa sangat menyayat hatinya. Ia memandang sendu ke arah Aleyza yang mencoba menahan tangisnya. “Zayang, jangan nangis ya. Kamu masih punya aku, bang Delard, ayah sama bunda loh. Jangan nangis ya.”


Aleyza mengangguk pelan. Mati-matian ia menahan air matanya agar tidak tumpah. Jujur saja, ia sangat sakit hati melihat Evans dikelilingi oleh orang-orang yang begitu menyayanginya.

__ADS_1


“Selamat ulang tahun ya ganteng, makin ganteng aja kamu tuh ya. Ouh iya, tante dengar tim futsal kamu menang jadi juara satu ya? Selamat ya, selain pintar di bidang akademi. Kamu ini aktif juga di non-akademik nya ya. Didikannya Kendrick sama Keyla mah emang nggak pernah di ragukan lagi sih ya,” ujar Clara, salah satu rekan kerja Kendrick dan Keyla.


“Makasih ya, Evans ini emang nggak pernah mengecewakan aku atau pun papah nya.” Balas Keyla sedikit malu-malu.


Kendrick tertawa. “Ouh jelas, kan dia anak kebanggaan kita.”


Evans yang mendengar itu hanya bisa tersenyum canggung. Ia bingung harus berbuat apa.


Tatapan Clara beralih kepada Aleyza yang berdiri di samping Evans. “Ini siapa? Pacarnya Evans atau siapa ya?”


Keyla menatap Aleyza datar. “Aduh, Evans mah mana sempat mikirin buat pacaran. Dia mah teman Evans.”


Aleyza menatap tak percaya ke arah mamah nya. Sebegitu tidak di inginkan nya kah dia? Sampai dia tidak dianggap anak? Bagaimana Aleyza tidak sakit hati? Ketika mamah nya memperlakukan Evans yang merupakan anak angkat spesial seperti anak kandung. Sedangkan dia? Dia anak kandung tapi malah berbalik dengan Evans.


Dada Aleyza naik turun menahan amarah. Kedua tangannya bergetar hebat. Demi apapun, Aleyza ingin menangis saat ini. Sudah cukup rasa sakit yang ia rasakan hari ini. Kedua kaki gadis itu perlahan bergerak mundur. Aleyza berlari keluar tanpa memedulikan orang-orang yang melihat dirinya dengan tatapan bingung dan juga aneh.


Athaya yang melihat itu pun langsung mengejar Aleyza.


“Za!” teriak Athaya kencang. Ia sudah sampai di parkiran. Rupanya, gadis itu berlari keluar dari Kawasan hotel.


Meskipun mendengar teriakan Athaya, Aleyza tetap tidak menghentikan langkahnya. Gadis itu berlari sekuat tenaga dengan deraian air mata yang membasahi wajahnya.


Dengan Langkah cepat, Athaya berlari mengejar Aleyza.


Athaya pun lantas menarik tangan gadis itu. Ia membawa Aleyza ke dalam pelukan hangatnya, mendekap erat gadisnya yang tengah menangis hebat.


“Untuk kali ini aku izinin kamu nangis, Za. Nangis aja kalau itu bisa bikin kamu lega nantinya,” ujar Athaya dengan mata terpejam. Isak tangis Aleyza jelas menumbuhkan luka paling dalam di hati Athaya.


“Aku salah apa, Tha? Aku kurang apa? Apa aku nggak berhak untuk Bahagia?” tanya Aleyza menangis dalam pelukan Athaya.


“Aku anak kandung papah sama mamah, Tha. Tapi kenapa malah aku yang di perlakukan seperti anak tiri mereka? Apa aku ini bukan anak mereka? Aku juga pengen di perlukan sama seperti bang Evans, Tha.”


Athaya melepaskan pelukan mereka setelah mendengar kalimat gila yang Aleyza katakan.


Kedua matanya fokus di manik mata milik gadis itu. “Kamu ngomong apa sih, Za? Kamu itu anak mereka. Inget itu. Kamu jangan merasa sendirian, kamu punya aku, bang Delard, ayah dan bunda kan? Belum lagi anak-anak The Vagos yang selalu ada buat kamu. Kamu nggak sendirian sayang. Kamu punya banyak orang yang sayang sama kamu.”


Aleyza terdiam dengan air mata yang kian mengalir deras. Gadis itu menunduk dalam. Kedua bahunya bergetar hebat. “Aku emang punya orang-orang yang sayang sama aku. Tapi itu percuma, Tha. Percuma kalau aku nggak bisa dapetin kasih sayang dari orang tua aku sendiri.”


Athaya tersenyum lembut. Kedua matanya menyorot penuh kehangatan ke arah Aleyza. “Sutt udah ya, jangan nangis terus. Kalau kamu sedih terus, hati aku yang ngerasain sakitnya. Za.”


Mendengar penuturan Athaya, Aleyza tidak berkata-kata. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara untuk menjabarkan ketulusan hati Athaya. Selama ini Athaya benar-benar sabar menghadapi tingkahnya.


“Aku bukan cuman pacar kamu, aku juga tetap sahabat kamu. Jadi, jangan sungkan untuk selalu terbuka sama aku ya. Aku selalu senang ketika kamu mau terbuka sama kamu, setidaknya aku benar-benar berharga di mata kamu itu.”


Athaya mengurai pelukan mereka. Kedua tangannya menangkup pipi Aleyza yang memerah karena efek menangis.


“Jangan nangis terus ya, Za. Kalau kamu nangis terus tuh aku ngerasa gagal jadi cowok kamu. Aku sayang kamu, aku nggak mau kalau sampai kamu sedih-sedih lagi,” ujar Athaya dengan begitu tulus.


“Tha…, aku benar-benar nggak tau harus ngomong apa lagi sama kamu. Intinya aku sayang kamu.” Balas Aleyza dengan tatapan sendu.


“Udah, sekarang kamu harus senyum ya. Kalau kamu nangis tuh jelek tau, Eyza harus senyum kayak gini biar cantik terus.” Athaya menarik ujung bibir Aleyza dengan tangannya. Membentuk sebuah lengkungan di sana.


“Tha?” panggil Aleyza dengan suara parau.


“Apa sayang ku?”


“Aku sayang kamu.” Ucap Aleyza, entah mendapatkan keberanian dari mana. Ia berjinjit sedikit lalu mengec*p singkat bibir Athaya.


Athaya terdiam sejenak di tempatnya, masih tidak percaya dengan Tindakan Aleyza pada nya. Sedetik kemudian, ia pun mulai tersenyum manis pada Aleyza.


“Udah makin berani ya, siapa yang ngajarin hmm?” tanya nya kemudian menjawil hidung mancung milik Aleyza.


“Kamu dong.” Balas Aleyza lalu terkekeh pelan.


“Aku balas nanti ya.” Balas Athaya tersenyum lebar.

__ADS_1



__ADS_2