
“Kita udah sampai, Za.”
Perkataan Athaya menyadarkan Aleyza. Gadis itu menatap sekeliling, sudah sampai rumah Athaya ternyata.
Ia pun melepas sabuk pengaman, bergegas turun dan langsung berjalan beriringan dengan Athaya.
Ting nong.
Ting nong.
“Iya tunggu sebentar.” Suara dari dalam terdengar menyahuti.
Ceklek.
“Siap_ eh ada den Thaya sama non Eyza. Ayok masuk, den sama non.” Bi Jum membuka pintu untuk Athaya dan Aleyza. Kedua remaja itupun memasuki rumah megah milik Athaya.
Derap Langkah beriringan terdengar melangkah ke arah meja makan. Sepasang suami istri dan juga abang nya menoleh ke sumber suara. “Eh Thaya, sama Eyza juga nih.”
Shafia menghampiri Aleyza, menarik tangan gadis cantik itu tidak sabaran. “Kamu apa kabar sayang? Bunda kangen tau nggak?” pertanyaan demi pertanyaan Shafia lemparkan.
“Bun, boleh diem dulu? Ada yang mau Thaya sampaikan sama Ayah dan juga Bunda. Ini penting.” Athaya mengambil duduk di sebelah ayahnya. Sedangkan Aleyza ada di seberangnya, duduk di sebelah bunda Shafia sambil menunduk.
“Mau ngomong apa, Tha?”
“Athaya, emmm ma…mau sampaikan a..anu, ini gimana ya. Ey…za.”
“ATHAYA!”
Semua orang tersentak, tak terkecuali Athaya. “Coba kalau ngomong itu yang benar dong!”
Athaya meng geletar. Ia juga inginnya seperti itu, tapi demi apa. rasanya tak semudah yang ia bayangkan.
“Athaya… mau bilang. Thaya mau bilang, emm- bilang kalau Aleyza hamil! Anak Athaya!” lelaki itu langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan setelah mengatakan kalimat yang lumayan Panjang dalam satu tarikan itu.
Deg.
“Ap-apa Thaya?!”
Tanya Abimana sekali lagi, memastikan pendengarannya masih berfungsi dengan baik dan tidak. Apa dia tidak salah dengar kan?
“A..Aleyza hamil, Yah.”
__ADS_1
Athaya dan Aleyza sama-sama menunduk. Tak berani menatap wajah serta ekspresi dari Ayah dan Bunda Athaya.
“Beneran? Serius? Ya allah, makasih banyak.” Shafia memeluk Aleyza disebelahnya. “Beneran kan? Yeay bunda mau punya cucu! Makasih Tha, makasih Za.”
Athaya menatap tak percaya bundanya, begitupun Aleyza. Bagaimana bisa dia senang di keadaan yang sama sekali tidak wajar ini?
Plak.
Suara tamparan bergema.
Tiba-tiba saja tangan Abimana mendarat mulus ke pipi Athaya. “ANAK KURANG AJAR KAMU! EMANGNYA AYAH PERNAH NGAJARIN KAMU BUAT NGELAKUIN HAL BEJAK KAYAK GITU HAH?!” murka Abimana.
Athaya memegangi pipinya yang terasa panas. Lelaki itu diam saja karena memang dia bersalah.
Aleyza yang sadar bahwa Athaya baru saja ditampar langsung mengalihkan pandangannya, menatap Abimana takut-takut.
“Yah.. ini bukan salah Athaya. Tapi salah Aleyza,” ujar gadis itu pelan. Lagi-lagi ia berandai-andai di dalam hati. Andai saja malam itu dia tidak pergi, maka keadaan ini takkan pernah terjadi. Athaya tidak akan ditampar oleh ayahnya, dan mereka tak perlu ada disituasi yang seperti ini.
Abimana beralih menatap Aleyza lalu menghembuskan napas nya kasa.
“Bukan masalah siapa yang salah, Za. Kalian sadar apa yang kalian perbuat?” ucap Abimana terlihat frustasi.
“Sudahlah ya, Yah. Ini kan sudah terjadi juga.” Bunda Athaya mengelus pipi Aleyza, tersenyum manis lalu mengapit tangan gadis itu. “Bunda malah senang kok, Za. Dengan kejadian in ikan bunda bakalan cepat nimang cucu.”
Astaghfirullah, bundanya Athaya ini memang perlu di ruqyah sepertinya. Bisa-bisa dia malah senang.
“Ayah tahu sendiri kan kalau Thaya mencintai Eyza dari apa yang telah Thaya rasakan di dalam hati. Oke, Thaya tau ini salah. Tapi, mau bagaimana lagi? Anak yang di kandung Eyza anak kandung Thaya. Lagipula, Thaya rela kok pindah agama mengikuti Eyza,” ujar Athaya tanpa pikir Panjang dulu.
“ATHAYA ZALINO BRATAJAYA!” teriak Abimana begitu lantang.
“Sadar atas apa yang kamu ucapakan, hah?! Sadar?! Istigfar kamu! Kamu pikir segampang itu?! Ayah nggak habis pikir dengan jalan pikiran kamu itu!”
Athaya menunduk dalam, jujur. Untuk saat ini dia sendiri pun sebenarnya bimbang. Satu sisi ia memang harus bertanggung jawab, tapi… lagi-lagi perbedaan agama yang menjadi penghalangnya.
“Yah, mau bagaimana pun Thaya harus bertanggung jawab.” Ucap Adelard disela-sela kehengingan itu.
Abimana beralih menatap anak sulungnya itu, ia tahu bahwa Athaya harus bertanggung jawab. Tapi, dia tidak rela jika anaknya harus pindah agama. Demi apapun ia tidak ridho.
“Gue juga nggak bakalan lepas tanggung jawab, bang.” Jawab Athaya tegas.
“Terus?” tanya Adelard.
“Ya gue juga bakalan nikahin Aleyza lah! Bagimana pun juga itu anak gue, keponakan lo ya bang!”
__ADS_1
Adelard dan Abimana hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Sungguh, mereka berdua bingung dengan jalan pikiran Athaya. Mengapa Athaya bisa menganggap enteng permasalahan besar ini.
Athaya… athaya… kamu yang berbuat dengan Aleyza, malah ngajak-ngajak orang puyeng sama masalah kamu ini.
“Sudah, sudah. Nanti lagi kita cari jalan keluar yang terbaik nya bagaimana.” Sanggah Abimana sembari menatap Athaya tajam.
“Untuk saat ini, lebih baik kita sarapan dulu. Setelah itu, nanti siang kita kunjungi keluarga Arkarna.” Sambung Abimana sembari membalik piring yang tersedia di atas meja makan.
***
“Jadi, begitu Ken,” ujar Abimana setelah menjelaskan segalanya pada Kendrick.
Untuk saat ini, mereka sedang bertamu ke kediaman Arkarna.
“Apa keputusan yang akan kamu pilih, Ken?” tanya Shafia kepada Kendrick.
“Yang jelas, bagaimana pun juga Athaya harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Tapi, kalian tahu kan? Baik Athaya dan juga Aleyza keduanya berbeda agama. Jadi?” tanya Kendrick balik.
Semuanya diam, ini lah yang menjadi penghalangnya.
“Emm, Eyza siap kok kalau harus pindah agama ikut Athaya. Karena, kalau nanti Athaya nikahin Eyza, Eyza kan jadi istri Thaya. Seorang istri itu harus mengikuti suaminya bukan? Jadi, Eyza siap.” Ucap Aleyza tiba-tiba, ucapannya itu langsung membuat Kendrick menatapnya tajam.
“Apa-apaan kamu ini, Za!” teriak Keyla tidak terima.
“Mamah nggak akan pernah ngijinin kamu buat pindah agama ya!” hardiknya.
“Mah… Eyza udah besar, Eyza juga udah bisa nentuin pilihan Eyza sendiri.” Lirih Aleyza.
“Aleyza! Yang di ucapkan oleh mamah kamu itu benar, papah pun nggak akan pernah menyetujui keputusan kamu.” Sanggah Kendrick.
“Athaya bersedia tanggung jawab kan?” tanya Kendrick langsung beralih menatap Athaya.
Athaya mengangguk setuju. “Jelas saya bakalan tanggung jawab, om. Bagimana pun juga itu anak kandung saya.” Jawab Athaya mantap.
“Oke, kamu cukup bertanggung jawab atas anak itu dan tidak perlu menikahi Aleyza.” Ucap Kendrick dengan santainya.
“APA?! nggak bisa begitu dong om!” Athaya bangkit dari duduknya, ia sangat tidak terima denga napa yang Kendrick ucapkan.
“Keputusan ada di tangan kamu sendiri, intinya saya tidak mau jika anak saya harus menikah apalagi pindah agama mengikuti kamu,” ujar Kendrick angkuh.
“Ken, ayolah. Kamu tidak boleh egois.” Bujuk Abimana.
“Sepertinya pembicaraan ini sudah selesai, kalian sudah boleh pergi. Silahkan, pintu keluar ada di sebelah sana,” ujar Keyla angkuh sembari menunjuk ke arah pintu rumahnya.
__ADS_1
Dengan berat hati, Abimana, Shafia, Adelard, dan juga Athaya harus pergi meninggalkan kediaman Arkarna. Setidaknya, mereka harus memberi waktu untuk Kendrick dan Keyla berpikir.