
082xxxx: Cowok Lo makin lama makin dekat nih sama Caithlin. Dulu Maisie, sekarang Caithlin. Yakin kalau Caithlin dan Athaya cuman temenan?
082xxxx: /sent a photo
Aleyza menggeram kesal setelah melihat foto Athaya bersama dengan Caithlin. Entah nomor milik siapa yang mengirimkannya pesan serta foto itu. Yang jelas, kali ini Aleyza benar-benar merasa sangat kesal.
Aleyza segera pergi ke kelas Athaya di jam istirahat kedua, sebab ketika istirahat pertama ia sibuk dengan kegiatan OSIS nya. Selang beberapa saat, ia sampai di kelas Athaya. Kehadirannya langsung disambut oleh inti The Vagos.
"Eyza? gue kangen banget sama Lo, apa kabar ? Lo sehat-sehat aja kan? Hidup kita-kita sepi nih setelah Lo jarang nongkrong sama The Vagos lagi," ujar Aidan heboh.
Athaya yang tengah menelungkupkan kepalanya pada lipatan tangan di atas meja itu pun mendongak, lelaki itu sedikit terkejut dengan kehadiran Aleyza.
"Aidan, nggak usah lebay ya Lo!* balas Aleyza dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan kekesalannya. "Tha, gue mau ngomong sama Lo," ujar Aleyza pada Athaya dengan menggunakan kalimat 'lo-gue'.
"Langsung ngomong aja, Za." balas Athaya sedikit heran.
"Gue mau nya berdua, Lo cukup ikut gue bentar." ajak Aleyza. Perkataan gadis itu membuat kernyitan bingung di kening anak-anak inti The Vagos.
"Kenapa cuman berdua sih? kalian lagi ada masalah lagi?" tanya Adelard bingung.
"Lard, kita cukup hargai privasi mereka." tegur Naufal membuat Adelard mengangguk paham.
Athaya menghela napas berat.
__ADS_1
Meskipun begitu, ia tetap melakukan perintah Aleyza. Athaya berdiri, lalu menarik tangan Aleyza untuk keluar dari kelasnya. Dalam perjalanan, keduanya hanya terdiam sampai Athaya menghentikan langkahnya di taman belakang tempat biasa mereka berkumpul.
"Mau ngomong apa, Za?" tanya Athaya dengan sabar.
Dari wajahnya, Aleyza sendiri bisa menebak kalau Athaya pastinya tidak tidur semalam.
"Lo bisa lihat sendiri," Aleyza menunjukkan sebuah foto dari nomor tak dikenal itu.
Athaya yang melihatnya pun menghela napas berat, tangannya terangkat untuk memijat pangkal hidungnya. Ia benar-benar merasa pusing sekarang. "Kalau kamu mau marah, marah aja Za" balas Athaya terlihat pasrah.
"Makin Deket aja ya, Tha. Dulu, Lo tau sendiri gue nggak suka kalau Lo deket-deket sama Almh. Kak Maisie. Sekarang, Lo juga udah deket-deket sama Caithlin. Tha, dari dulu Lo udah paham kalau pacar Lo ini cemburuan kan?" ujar Aleyza mengutarakan apa yang ada dalam benaknya. "Kalau orang itu nggak ngirim foto lo sama Caithlin, pasti nya Lo nggak bakalan bilang ke gue kan. Tha?"
Athaya masih diam seraya terus memandang Aleyza, sorot mata lelaki itu terlihat sulit untuk diartikan.
Athaya tertawa hambar. "Za, kamu selalu mempermasalahkan kedekatan aku dengan cewek lain. Padahal, itu hanya sekadar sebagai teman biasa. Lagipula, aku nggak pernah kepikiran buat suka sama orang lain. Za"
"Tapi gue nggak suka, Tha. Tiap gue Deket sama Fais aja Lo selalu marah. Tapi, pernah nggak Lo mikirin perasaan gue ketika Lo deket-deket sama Caithlin? Dia murid baru, kenapa kalian bisa cepat akrab? Giliran gue yang deket-deket sama Fais, Lo sewot. Lo sendiri aja selalu merasa yang paling benar disini."
"Kayak di kelas tadi, emang nya Lo kira gue nggak tau? interaksi Lo sama Caithlin beda. Kalian terlihat nyaman dan kayak nggak ada beban. Kadang, gue mikir Tha. Apa selama ini segala hal yang gue kasih ke Lo itu kurang ya?" Aleyza menatap sinis ke arah Athaya.
"Bilang ke gue, Tha. Apa semua nya masih kurang buat Lo? bahkan, setelah lo rusak masa depan gue begini." tanya Aleyza seraya memegang kedua bahu Athaya.
"Za, aku selalu ngedepanin perasaan kamu. Aku selalu berusaha buat bikin kamu bahagia, tapi kenapa kamu masih nggak bisa percaya sama aku? Cuman kamu, Za. Cuman kamu yang aku suka, Kak Maisie ataupun Caithlin nggak ada apa-apanya kalau dibandingin sama kamu."
Athaya memejamkan matanya sejenak, dadanya terasa sesak saat mengingat kalau Aleyza sering merasa curiga kepadanya.
__ADS_1
"Za, bukan cuman cewek yang bisa sakit hati. Cowok juga bisa, oke Za aku ngaku salah kalau selama ini terlalu berlebihan dengan Kak Maisie ataupun Caithlin. Itu karena aku udah anggap mereka kayak saudara sendiri, Za. Mereka sering bantuin aku kalau lagi ada kesulitan. Apa kamu pernah lakuin itu? nggak, kan? Disini cuman aku yang selalu ada buat kamu, dan kamu enggak sama sekali Za. Kamu selalu sibuk dengan OSIS kamu itu!"
Aleyza menganggukkan kepalanya dalam, gadis itu takut untuk menatap kedua mata Athaya yang memandangnya nyalang.
"Kamu nggak pernah mau hilangin sifat egois kamu itu, Za."
"Tha..., kenapa disini kesan nya emang gue yang salah banget ya?" tanya Aleyza pelan, sungguh ia merasakan sakit hati dengan penuturan jujur Athaya itu. Apakah ia se egois itu Dimata Athaya?
"Aku juga capek, Za. Ada saatnya aku benar-benar lelah sama sikap kamu," ujar Athaya, menatap dingin ke arah Aleyza.
"Lo capek sama gue? dan Lo bosen sama gue kan, Tha?" tanya Aleyza dengan suara parau. "Lo bebas sekarang, Tha. Gue bebasin Lo, soal anak yang ada di kandungan gue. Nggak apa-apa, gue bisa ngurus mereka sendiri."
"Oke, emang itu yang aku mau. Aku nggak akan peduli sama kamu lagi mulai saat ini. Lagipula, aku juga ragu kalau itu anak aku." Setelah mengatakan itu, Athaya melangkah pergi meninggalkan Aleyza sendirian di taman belakang sekolahan.
Saat itu juga, Aleyza merasa bahwa dirinya benar-benar kehilangan dunianya. Perkataan Athaya, berputar-putar di kepala nya. Sakit, itulah yang dia rasakan. Bagaimana bisa, Athaya meragukan anak yang berada di kandungannya. Apakah Athaya juga meragukan nya?
***
Di dalam kamarnya yang gelap gulita, Athaya terduduk di sudut ruangan dengan kedua lutut yang ditekuk. Lelaki itu benar-benar kacau sekarang.
Athaya menelungkupkan kepalanya diantara lipatan tangan yang bertumpu di lututnya. "Maaf, Za. Maaf, maaf aku mengecewakan kamu. Aku terpaksa, Za. Ini demi kebaikan kamu dan anak kita." gumam Athaya.
Ia sedikit terisak, sungguh. Ini bukan kemauannya, ia benar-benar terpaksa dan merasa sangat tertekan.
__ADS_1