
Mendengar umpatan keras dari Athaya membuat Adelard, Naufal, Aidan, Aldo, dan Lemuel menoleh ke belakang. Mereka semua kaget bukan main saat melihat Athaya tengah memegang tubuh Aleyza yang merintih kesakitan.
Adelard yang panik itu langsung membuang motornya hingga ambruk ke atas aspal. Ia menghampiri Aleyza dan Athaya dengan cepat, begitu pun yang lainnya.
“Tha, Eyza kenapa bisa begini?” tanya Adelard panik setelah melihat pinggang kanan Aleyza yang tertancap sebuah pisau.
Athaya menggeleng. “Gue nggak tau, tapi setelah pengendara motor yang tadi lewat mepet ke arah Eyza. Tiba-tiba Eyza udah gini.”
“Tolong, kalian cepet panggil siapa pun yang lewat pakai mobil.” Titah Naufal cepat.
Aldo mengangguk. Lelaki itu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memeriksa apakah ada mobil yang akan melewati mereka.
“Ini kita harus gimana nih? Gue bingung, ini pisaunya harus di cabut apa nggak?” tanya Aidan kelimpungan. Beberapa kali lelaki itu meringis melihat darah yang mengucur di pinggang Aleyza.
“Jangan di cabut. Kita nggak boleh sembarangan cabut luka tusukan.” Peringat Lemuel dengan tatapan tajamnya ke arah Aidan. “Kalau kita cabut pisau itu, bisa-bisa pendarahannya makin hebat.”
Naufal mengangguk. “Benar kata Lemuel.”
“Gue nggak nyangka kalau pengendara motor yang tadi lewat itu ternyata emang udah ngincar Eyza,” ujar Aldo tak paham.
Aleyza memejamkan matanya menahan rasa sakit yang menjalar di pinggang nya. Gadis itu limbung ke dalam pelukan Athaya karena tidak sanggup melihat darah yang terus mengucur di bahunya. Rintisan pelan pun tak henti-hentinya keluar dari mulutnya.
“Tha…, Thaya…., sakit.” Lirihnya terdengar memilukan.
“Jangan tidur dulu, kamu tahan bentar ya sayang. Jangan bikin aku makin panik, Za,” ujar Athaya mencoba untuk menenangkan Aleyza yang merasakan sakit yang begitu hebat.
“IBU! IBU! BERHENTI BU, DARURAT!” teriak Aldo yang sudah berdiri di tengah jalan untuk menghadang sebuah mobil hitam yang hendak melintas.
Mau tidak mau pemilik mobil itu pun menghentikan laju kendaraannya. Dengan cepat Aldo mengetuk kaca mobil itu.
“Ada apa ya mas?” tanya seorang Ibu berumur sekitar empat puluh tahun itu setelah membuka kaca mobilnya.
“Teman saya ada yang luka kena tusukan pisau dan harus segera dibawa ke rumah sakit.” Balas Aldo cepat.
Ibu itu membulatkan matanya, ia menoleh ke arah Athaya dan Aleyza yang masih berdiri di samping motor. “Segera bawa ke mobil saya aja, kita langsung ke rumah sakit,” ujarnya.
Aldo mengangguk. Ia pun Kembali menghampiri sahabat-sahabatnya. “Tha, bawa masuk Eyza ke sana. Biar kita ikutin lo dari belakang,” ujarnya.
Athaya mengangguk. Ia segera membopong tubuh Aleyza untuk masuk ke dalam mobil Ibu-ibu itu.
Sementara yang lainnya juga bersiap-siap untuk mengikuti mobil yang membawa Athaya dan Aleyza dari belakang.
Aldo yang seharusnya naik ke motor Aidan, kini lelaki itu membawa motor milik Athaya.
***
__ADS_1
Ruang UGD.
Keenam lelaki itu tidak henti-hentinya berdoa agar Aleyza tidak apa-apa. Mereka semua menunggu resah berharap pintu ruangan itu cepat dibuka. Melihat Aleyza terluka tentu membuat semua merasa gagal dalam menjadi gadis itu.
Ini kali pertamanya Aleyza terkena luka tusukan.
Athaya, sudah pasti lelaki itu yang paling merasa bersalah di sana. Lelaki itu sejak tadi tidak berhenti mondar-mandir hingga membuat siapa pun yang memperhatikannya pasti merasa pusing.
“Bisa-bisanya kita kecolongan kayak gini,” ujar Naufal.
Aidan mengangguk setuju. “Gue nyesel. Kenapa tadi nggak jagain Eyza dari samping sih.”
“Rencana si peneror bener-bener tersusun rapih. Bahkan, kita aja nggak nyangka kalau pengendara motor itu bakalan nusuk Eyza pakai pisau.” Balas Athaya yang sudah mendudukkan dirinya di samping Naufal.
Ia menghela napas berat. “Siapa pun di sini bisa aja kan dia jadi musuh dalam selimut.”
Mereka semua saling pandang satu sama lain. Seolah menaruh rasa curiga terhadap masing-masing diantara mereka.
“Gue berharap lebih kalau kalian semua setia dan nggak berani untuk mengotori nama The Vagos dengan cara berkhianat di sini,” ujar Adelard memberikan peringatan.
Tidak berselang lama, pintu UGD itu terbuka. Menampakkan seorang dokter wanita dengan tiga orang perawat di sampingnya.
Athaya dan Naufal langsung berdiri untuk bertanya. Sementara yang lain masih duduk untuk mendengarkan kabarnya.
“Kondisi Eyza gimana dok?” tanya Athaya langsung pada intinya.
“Keluarganya dimana ya?” tanya dokter wanita yang bernama Sarah itu.
Dokter Sarah tersenyum tipis. “Luka tusukannya tidak terlalu dalam dan beruntung tidak terkena ginjal. Sebab, jika terkena bisa aja keadaan pasien akan sangat kritis. Untung saja kalian dengan cepat membawanya ke sini hingga kami bisa cepat-cepat menangani. Untuk sekarang, pasien memerlukan istirahat dulu ya.”
Semua yang mendengar itu sedikit merasa lega. Setidaknya luka tusukan di pinggang kana Aleyza tidak terlalu parah.
“Pasien akan dirawat inap sekitar empat hari dan pasien di mohon untuk tidak terlalu banyak gerak agar luka operasinya cepat mengering.”
“Terimakasih dok.” Balas Athaya.
***
Aleyza masih memejamkan matanya. Sejak satu jam lebih dipindahkannya gadis itu ke ruang VVIP, Aleyza masih tidak membuka matanya.
Mungkin juga karena efek obat bius yang membuat gadis ini masih betah menutup kedua mata indahnya itu.
Keenam lelaki itu masih setia mendampingi Aleyza. Mereka semua hanya diam sembari menatap wajah Aleyza dengan sorot mata penuh rasa bersalah, mengapa mereka harus kecolongan dan menyebabakan Queen mereka terluka begini.
“Gue coba hubungi Om Kendrick sama tante Keyla dulu,” ujar Athaya setelah mengeluarkan handphone dari saku celananya. Lelaki itu mendial nomor milik Kendrick.
Cukup lama untuk panggilan Athaya diangkat oleh Kendrick. Mungkin pria itu sedang sibuk sehingga tidak mengecek ponselnya.
__ADS_1
“Halo? Ada apa Athaya?”
Athaya bernapas legas setelah sambungan teleponnya dijawab oleh Kendrick. “Halo, om. Saya Cuma mau ngasih tau kalau Aleyza masuk rumah sakit dan sekarang lagi di rawat inap. Pulang sekolah tadi Aleyza kena tusukan pisau di pinggang sebelah kanannya. Sebelumnya, saya juga minta maaf karena tidak bisa menjaga Aleyza,” ujarnya menjelaskan.
“Luka tusukan?” terdengar helaan napas berat dari Kendrick. “Benar-benar merepotkan saja anak itu.”
Athaya mengepalkan kedua tangannya. Bisa-bisanya Papah dari Aleyza masih bersikap seperti itu setelah tahu kalau anaknya sedang terluka.
“Lalu bagaimana dengan kondisinya? Dia tidak sampai mati kan?”
“OM!!!” sentak Athaya kelepasan. Ia benar-benar tidak paham dengan jalan pikiran Kendrick. Bahkan, saat anaknya sedang sekarat pun orang itu masih tidak peduli.
“Yasudah, dia juga tidak sampai mati kan. Jadi, tolong ya kamu urus dia saja. Om sama tante benar-benar masih sibuk ini, tidak mungkin juga jika harus ke sana. Untuk biaya administrasinya nanti saya transfer langsung ke rekening kamu ya.”
“OM?! Eyza but_”
Belum sempat Athaya melanjutkan ucapannya, Kendrick terlebih dahulu memutuskan sambungan telepon mereka. Lelaki itu mendesah kecewa. Kedua matanya menyorot sendu ke arah Aleyza.
“Tha, gimana?” tanya Aidan penasaran.
Athaya menggeleng pelan. “Mereka nggak peduli sama sekali.”
“Gila! Waterpark men!!!!” balas Adelard menggebu-gebu.
“Orang tua gila kerja tuh gitu! Anaknya lagi kayak gini aja masih nggak peduli. Udah gila! Benar-benar gila!” Aldo menggeleng heran.
Athaya berdiri dari duduknya untuk mendekat ke arah Aleyza. Tangan lelaki itu terangkat untuk mengelus puncak kepala gadis itu. “Jangan sedih ya, Za. Kamu masih punya kita semua kok.” Bisik nya tepat di telinga Aleyza.
***
“Za? Lo mau apa? Mau pipis nggak?”
“Masih sakit? Ada yang mau gue pijitin?”
“Lo haus? Nih minum.”
“Mau makan buah? Biar gue kupasin, lo mau buah apa?”
“Eh, Za. Jangan bangun dulu.”
Aleyza memijat pelipisnya dengan tangan kirinya. Ia benar-benar merasa stress karena lima lelaki di hadapannya ini tidak henti-hentinya mengoceh.
“Bisa diem? Gue pusing nih. Gue nggak kenapa-napa dan gue juga nggak mau apa-apa,” ujar Aleyza mulai merasa kesal.
“Maaf, Za. Kita Cuma mau ngasih yang terbaik buat lo.” Balas Aidan dengan raut wajah menyesal.
Aleyza mengangguk. Bibirnya membentuk lengkungan kecil. “Makasih sebelumnya, gue benar-benar bersyukur punya kalian semua.
__ADS_1
“Nggak usah bilang makasih, Za. Itu udah jadi tugas kita buat jagain lo.” Jawab Adelard.