Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Kemarahan Athaya


__ADS_3


Setelah selesai kumpul OSIS, Aleyza berniat pergi ke suatu tempat tanpa sepengetahuan Athaya. Ia sengaja mengirimi lelaki itu pesan untuk pulang duluan, dan beralasan kalau dia masih akan cukup lama berada di sekolah.


Aleyza hanya ingin mencoba untuk berdamai dengan keadaan. Ia juga merasa kasihan pada Athaya yang harus memikirkan nya dan juga The Vagos.


Aleyza memejamkan mata sejenak. Dadanya terasa sesak ketika melihat gundukan tanah di depannya. Aleyza berjongkok, lalu mengelus nisan putih yang mulai kusam warnanya.


“Hah, Kak. Maafin gue ya, semua ini gara-gara gue.”


Aleyza menunduk dalam. Ia mencengkeram kuat batu nisa itu. Setiap kali mengingat kabar kematian Maisie yang ternyata bunuh diri dan ia lah penyebabnya. Gadis itu selalu saja dihantui rasa bersalah.


Cukup lama Aleyza merenung di sana. Jujur saja, ia masih tidak menyangka kalau semua ini bisa terjadi padanya dan juga kepada orang terdekatnya.


Sebelum pergi, Aleyza menyempatkan untuk mengusap nisan itu Kembali. “Kak, maaf. Andaikan gue tau, lebih baik gue yang mengalah. Maaf kak, semoga lo tenang disana ya.”


***


Aleyza berdecak sebal. Beberapa kali ia melirik ke arah kaca spionnya. Di belakangnya, kini ada dua orang lelaki yang sejak tadi membuntutinya. Aleyza sungguh merutuk sebal. Harusnya tadi ia memberi tahu Athaya jika ia akan pergi ke makan Maisie.


“Wah, Queen Of The Vagos, nih.”


Gelvino dan Gustian berhenti tepat di depan Aleyza, membuat gadis itu harus menghentikan motor sport-nya secara mendadak.


“Mau kalian itu apa sih?!” tanya Aleyza dengan wajah yang dibuat se galak mungkin.


Gelvino turun dari motor, lalu berjalan ke arah Aleyza disusul oleh Gustian di belakang nya.


Tangan kiri lelaki itu hendak memegang Pundak Aleyza, tapi dengan segera gadi itu menepisnya sebelum Gelvino benar-benar menyentuhnya.


“DON’T TOUCH ME WITH YOUR DIRTY HANDS!” sarkas Aleyza. Kedua matanya menyorot tajam ke arah Gelvino.


“So jual mahal lo! Padahal gue juga tau, lo udah sering di gilir sama tuh para The Vagos kan?! Lo disini sendiri, jadi jangan belagu.” Balas Gelvino.


Aleyza menatap Gelvino kesal. Gadis itu turun dari motor setelah melepas helmnya. “Gue bukan cewek murahan! Dan lagi, lo pikir karena gue cuman sendiri gue itu takut? No! lo salah besar. Buat apa gue takut sama banci kayak kalian?!”


Gelvino mengeram kesal. “Jangan mentang-mentang lo cewek gue nggak berani buat melukai lo ya! Gue nggak akan pernah mandang bulu untuk hajar orang, termasuk lo cewek sia**n!”


Gelvino hendak menghantamkan pukulan ke wajah Aleyza. Namun, dengan sigap gadis itu menghindar.


“Lo pikir gue cewek lemah? Sorry, lo salah besar!” teriak Aleyza lalu menendang perut Gelvino.


Aleyza tertawa kencang saat melihat Gelvino yang mundur ke belakang akibat terkena tendangannya.


Gustian yang tidak terima melihat Gelvino di perlakukan seperti itu pun segera mengambil Tindakan. Ia mengambil helm Aleyza yang terletak di atas motor, lalu menghantamkannya ke kepala gadis itu.


Aleyza yang tidak siap pun tidak bisa menghindar, sehingga ia harus merelakan kepalanya terkena benturan keras.

__ADS_1


"GUSTIANJ**G!” Aleyza menatap Gustian dengan wajah merah padam. Tanpa disangka-sangka, gadis itu langsung mengeluarkan jurus tendangannya.


“HANCUR SUDAH MASA DEPAN LO! SIAL*N!”


“Arghhhh.” Gustian mendelik. Kedua matanya melotot, tangannya memegang selangkan**n yang terasa begitu linu dan nyeri.


“Heh! Kurang aja lo!” Gelvino berlari ke arah Aleyza kemudian meninju pipi kanan gadis itu sekuat tenaga. Ia menatap remeh ke arah Aleyza yang terkena pukulan kencangnya.


Aleyza meringis pelan. Pipinya terasa sangat perih akibat pukulan Gelvino yang terlalu kuat. Ia mendongakkan pandangannya, dan terkejut saat melihat kedua lelaki itu berjalan mendekat ke arahnya.


Kali ini ia pasti akan habis babak belur oleh kedua lelaki itu.


“HEH BANCI! LO NGAPAIN CEWEK GUE?! BAJINGAN LO!” Athaya beserta lima sahabatnya turun dari motor, kemudian lari berbondong-bondong ke arah Aleyza dengan rasa khawatir.


Melihat kalau lawan mereka lebih banyak, Gelvino dan Gustian pun memutuskan untuk pergi. Mereka dengan cepat menaiki motor masing-masing.


Aidan dan Adelard hendak mengejar mereka, tapi Naufal dengan cepat melarangnya. “Nggak usah.”


Dengan berat hati, mereka semua menuruti perkataan Naufal. Kini perhatian mereka langsung tertuju ke arah Aleyza yang menundukkan kepala dengan tangan yang memegang pipi kanannya.


Athaya mati-matian menahan amarahnya. Tanpa banyak bicara, ia langsung menarik tangan Aleyza untuk ikut Bersama nya. “Lo bawa motor dia.” Titahnya pada Aldo.


Setelah itu, Athaya membawa Aleyza untuk naik ke motor miliknya. Raut wajah lelaki itu terlihat sangat dingin dan tidak bersahabat. Ia mengambil helm Aleyza yang tergeletak di jalan, lalu memberikannya kepada Aleyza.


“Tha.” Panggil Aleyza dengan pelan.


Athaya menatap Aleyza dengan sorot mata penuh amarah. “Gue nggak suka, dan lo tau itu.”


Selama perjalanan, Athaya sama sekali tidak mengajak Aleyza berbicara. Lelaki itu hanya diam dan fokus mengendarai motornya.


Sesampainya di rumah Aleyza, mereka semua langsung turun dari motor. Kecuali Naufal yang masih setia berada di atas kendaraannya itu. Aldo pun memarkirkan motor milik Aleyza di pekarangan rumah gadis itu.


“Langsung pulang nih?” tanyanya setengah berbisik kepada Naufal.


“Pulang aja, biar mereka selesaikan berdua aja.” Balas Naufal disertai anggukan kecil.


Aldo pun menurut, ia dengan cepat naik ke atas motor milik Naufal.


“Tha, kita balik dulu ya. Lo jangan galak-galak, kasian tuh mamih udah ketakutan gara-gara lo.” Kata Naufal seraya menunjuk Aleyza dengan dagunya.


“Y.” Athaha membalas singkat.


Setelah Naufal dan Aldo pergi dari hadapan mereka, Athaya langsung menarik Aleyza untuk masuk ke dalam rumah. Lelaki itu menyuruh Aleyza duduk di ruang tamu, sementara dirinya pergi ke dapur untuk mengambil handuk kecil dan air dingin.


Beberapa saat kemudian, Athaya Kembali menghampiri Aleyza dengan baskom berisi air dingin dan handuk kecil. Lelaki itu segera duduk di samping Aleyza. Tangannya dengan telaten mengompres luka lebam di pipi Aleyza.


Aleyza hanya diam saja. Bahkan ia tidak mengeluarkan ringisan sama sekali, ia tau Athaya sedang marah. Maka dari itu ia tidak ingin menambah Athaya kesal.

__ADS_1


“Dari mana kamu?” tanya Athaya, memecah keheningan di antara mereka berdua. Aura lelaki itu membuat Aleyza cukup merasa terintimidasi.


“Pergi bentar.” Balas Aleyza dengan kepala tertunduk lesu.


“Pergi? Kemana?”


“Makam.”


“Makam siapa sih?” Athaya menautkan kedua alisnya.


“Kak Maisie.” Balas Aleyza dengan nada pelan.


Athaya terdiam. Kedua tangannya itu mencengkeram erat handuk yang digunakannya untuk mengompres pipi Aleyza. Rahang tegasnya itu mengeras, dengan mati-matian lelaki itu menahan amarahnya.


Sadar jika Athaya hanya diam saja, Aleyza pun berujar. “Aku tau aku salah, aku minta maaf.”


Kedua mata Athaya terpejam sebentar. Lelaki itu menghela napas berat. “Lain jangan gini lagi. Aku nggak suka.”


Aleyza mengangguk tanpa menaikkan pandangannya.


“Kenapa tadi kamu malah nyuruh aku pulang duluan? Kenapa nggak ngajak aku? Kamu tau, di luar itu bahaya. Kalau tadi Gelvino apa-apain kamu, gimana Za?”


“Tha, maaf. Aku cuman nggak mau ngerepotin kamu terus. Eyza nggak mau ganggu Athaya terus. Makannya tadi Eyza suruh Athaya pulang duluan aja.” Balas Aleyza dengan kedua tangan yang mencengkeram seragamnya.


“Aku nggak pernah ngerasa di ngerepotin, Eyzayang.” Athaya mengacak rambutnya kesal. Tangannya beralih memegang kedua Pundak Aleyza. “Tatap mata aku, Za.”


Aleyza mendongakkan pandangannya lalu menatap tepat di kedua manik mata milik Athaya.


“Zayang, udah berapa kali aku bilang? Kamu adalah prioritas. Se sibuk apapun aku nantinya, kalau kamu butuh aku. Aku pasti akan langsung ada buat kamu, aku nggak pernah ngerasa di ngerepotin sama kamu sayang.” Kata Athaya dengan nada suara yang mulai lembut. Ia menatap luka lebam di pipi kanan Aleyza kemudian mengelusnya pelan.


“Kalau tadi aku dan anak-anak yang lain nggak datang tepat waktu, apa yang bakalan terjadi sama kamu Za? Kamu tau? Kalau sampai kamu kenapa-napa, aku nggak bakalan bisa maafin diri aku sendiri.”


“Tha… maafin Eyza.” Aleyza berhambur ke pelukan Athaya. Dadanya terasa sesak tetapi tidak juga dapat menumpahkan air matanya.


“Kamu tau aku se sayang apa sama kamu, Za.” Athaya membalas pelukan Aleyza tak kalah eratnya. Ia mengelus lembut rambut kecokelatan milik gadis itu.


“Aku nggak mau kamu kenapa-napa.” Lanjut Athaya. Ia mengendurkan pelukannya, menatap manik mata milik Aleyza lalu tersenyum tipis.


“Pengen cium boleh?” tanya Athaya.


Aleyza hanya menatap bingung ke arah Athaya. Tidak biasanya ia bertanya atau meminta ijin untuk menciumnya, ada apa dengan Athaya kali ini?


“Tumben nanya?” tanya Aleyza heran. “Biasanya kalau mau cium kening atau pipi juga langsung kan? Nggak perlu nanya dulu.” Lanjutnya.


Athaya hanya menanggapi ucapan Aleyza dengan senyumannya. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Aleyza.


“Ma.., mau apa, Tha?” tanya Aleyza gugup.

__ADS_1


Athaya tersenyum, ia menempelkan bibirnya dengan bibir Aleyza dan ******* nya secara perlahan.



__ADS_2