
“Wah, ada pasangan se-aamiin tapi tak seiman nih.”
Orang yang berteriak itu adalah Adelard, si kakak Athaya yang menyebalkan. Dengan wajah tengilnya, lelaki yang sekarang memakai bokser bermotif kelinci itu melambaikan tangan kepada Athaya dan Aleyza.
“Woy, Thaya! Bisa-bisa nya lo jatuh cinta sama cewek model pecinta Red panda kayak si Aleyza. Udah tau nggak seiman ehh tetap aja saling suka dan saling sayang.” Ucap Adelard, membuat Aleyza memberangus tak suka.
“Apaan sih bang Delard! Nyebelin banget emang!” balas Aleyza dengan wajah merah padam.
Keduanya tengah berada di teras rumah Aleyza. Aleyza bangkit dari duduknya, dengan emosi ia berjalan menghampiri Adelard. Tanpa lama-lama dan rasa belas kasihan, Aleyza pun menendang aset berharga milik Adelard. Membuat lelaki itu memekik keras seraya memegang aset milik nya yang terasa ngilu.
Tidak ingin menerima amukan dari Adelard, Aleyza pun Kembali menghampiri Athaya. “Mending kita masuk aja, Tha. Nanti keburu orang gila nya ngamuk!” Aleyza berteriak heboh kepada Athaya. Ia menarik tangan lelaki itu untuk masuk ke dalam rumah dengan cepat.
“Sialan lo! Awas aja ya gue culik tuh Miko biar lo tau rasa! Awas lo juga Thaya! Jadi adik bukannya bela Abang sendiri malah milih tuh cewek.” teriak Adelard dari pekarangan rumah.
Athaya dan Aleyza mengintip lelaki itu dari balik gorden sambil terkikik geli.
“Kamu keterlaluan, Za. Itu pasti sakit banget tau, liat sampe jingkrak-jingkrak gitu si bang Delard nya,” ujar Athaya. Meskipun begitu, ia tetap terhibur dengan tingkah keduanya.
“Ya nggak apa-apa, lagian kali-kali emang harus digituin.” Balas Aleyza.
Ia pun mengajak Athaya untuk duduk di sofa ruang tamu. Waktu sudah menunjukkan pukul Sembilan malam.
Lagi-lagi Kendrick, Keyla, dan juga Evans tidak ada di rumah.
“Mm, Tha.” Panggil Aleyza terdengar pelan.
“Apa Zayang?”
“Kita tuh apa sih sebenarnya?”
“Lo sama gue tuh ya manusialah, lo pikir apa sih?" Athaya menatap aneh ke arah Aleyza, gadis itu refleks memukul bahu lelaki itu cukup keras. “Nyebelin! Maksud gue kan itu tentang hubungan kita!” jelas Aleyza.
Athaya terdiam. Keduanya saling menatap satu sama lain.
Mereka tahu kalau perasaan di antara keduanya itu sama. Namun, tembok besar yang menjadi penghalang hubungan keduanya.
Athaya mengulas senyum tipis dan membelai lembut pipi Aleyza. “Lo tau kan se sayang apa gue sama lo itu?”
Aleyza menghela napas berat. “Iya, tau. Tapi, Eyza capek dan kita juga nggak bisa terus-terusan kayak gini kan?”
Athaya mengangguk. “Gue paham kok, Za. Tapi mau gimana lagi? Aku nggak mungkin rebut kamu dari Tuhan kamu kan?”
Aleyza menatap Athaya dengan mata berkaca-kaca, “Yang seagama aja berat, Tha. Apa lagi yang beda kayak kita.”
Athaya memejamkan mata. Dadanya terasa sesak tiap kali mengingat satu kenyataan itu. “Masih ingat dengan yang selalu yang gue bilang ke lo?”
Aleyza mengangguk pelan. “Biar Tuhan yang menjawab sampai kita akan terus Bersama kan?”
“Tha?” panggil Aleyza dengan suara terdengar parau, “Eyza sayang tau sama Athayang.”
“Gue jauh lebih sayang sama lo, Aleyza Valerie Arkarna.”
***
“Baik anak-anak. Buka buku paket kalian halaman sembilan puluh delapan ya. Kerjakan tugasnya yang ada disana. Saya tunggu dua puluh menit dari sekarang,” ujar Pak Dodo guru Matematika SMA Trunajaya sekaligus wali kelas XI IPA 1.
“Pak!” Athaya mengangkat tangan kanannya ke atas. Lelaki itu langsung menjadi pusat perhatian teman sekelasnya, termasuk Aleyza.
“Ya, Athaya?” tanya Pak Dodo sembari menaikkan sebelah alisnya.
Athaya berdiri dari duduknya. “Saya keberatan dengan tugas yang baru saja bapak berikan. Saya menolak keras tugas itu.”
Pak Dodo mengerutkan kening. “Kamu ini, bisanya terus-terusan membangkang ya Athaya. Kerjakan saja! Tidak ada bantahan!”
“Gimana mau ngerjain Pak? Paham aja enggak, lagian bapak terakhir kali kan ngasih materinya bukan tentang tugas yang diberikan hari ini.” Balas Athaya begitu lantang.
Teman-teman Athaya saling pandang satu sama lain, mereka semua berbisik-bisik. Membenarkan ucapan Athaya kepada Pak Dodo.
“Tha, udah jangan membantah ya.” Bisik Aleyza pelan. Ia tidak ingin jika Pak Dodo marah dan berujung Athaya yang akan di hukum.
“Gue nggak apa-apa, Za.” Balas Athaya.
“Athaya! Benar-benar tidak sopan ya kamu!” Pak Dodo berdiri dengan raut wajah merah padam. “Kamu ini selalu saja menjadi murid pembangkang, tidak tahu aturan, dan selalu se enaknya. Memang nya sejak kapan seorang murid yang mengatur guru?”
Athaya tertawa remeh. “Apakah salah jika saya menyuarakan keluhan? Lagipula bapak selama ini jarang menjelaskan materi. Sekali nya memberi tugas yang sulit dan di beri waktu yang sangat singkat. Apakah bapak ini pantas untuk disebut sebagai guru?”
Pak Dodo diam di tempat. Ia merasa di permalukan oleh anak didiknya sendiri. Athaya ini memang murid yang selalu berani menentang dirinya.
“Bagaimana pak? Apakah saya salah? Tapi saya rasa tidak ya.” Tanya Athaya dengan senyum miring di bibirnya.
“HORMAT BENDERA SEKARANG JUGA, ATHAYA!” perintah Pak Dodo tidak ingin diganggu gugat.
Lemuel yang berada di samping Athaya sendiri hanya bisa diam. Bagaimana pun ia juga ingin mencari aman untuk saat ini.
“Tidak masalah bagi saya. Tapi, saya harap bapak bisa menerangkan terlebih dahulu materi nya kepada teman-teman sekelas saya.” Final Athaya.
Tanpa menunggu balasan dari Pak Dodo, Athaya segera pergi dari kelasnya dan menuju ke lapangan.
Teman-teman sekelas Athaya pun tersenyum haru. Lelaki itu sebenarnya peduli dengan sekitarnya.
“Ck! Bilang aja kalau mau bolos pelajaran matematika.” batin Aleyza di dalam hati nya setelah menatap punggung Athaya yang semakin menjauh.
***
Sinar matahari yang menyengat sama sekali tidak membuat Athaya mengeluh. Satu jam lebih lamanya ia bertahan pada posisinya sekarang.
Ia tidak juga menurunkan tangannya yang sudah mati rasa. Athaya sudah biasa dihukum seperti ini.
“Nggak apa-apa, lagi pula kulit gue keputihan deh. Siapa tau akibat berjemur gini jadi iteman dikit kali ya.” Oceh Athaya, lalu terkikik geli.
“Woy! Awas! Bola tuh!”
__ADS_1
Bugh.
Sebuah bola Volley menghantam keras kepala Athaya. Ia menatap bola volley yang menggelinding tidak jauh dari posisinya. Kedua tangannya terkepal erat merasakan nyeri di kepalanya, lalu mengambil bola itu dengan wajah kesalnya.
“Siapa yang udah berani lempar nih bola volley sialan?!” Athaya menatap satu per satu wajah siswa yang sedang berolahraga di lapangan. Pandangannya berhenti pada seorang siswa yang terlihat gelisah.
Bugh.
Murid-murid yang sedang berada di lapangan terperanjat melihat apa yang dilakukan oleh Athaya.
“FAIS!” pekik beberapa teman Fais, siswa yang kepalanya dilempar bola volley.
“Athaya! Apa-apaan kamu ini hah?!” teriak Pak Raja guru olahraga yang melihat aksi Athaya.
Bukannya takut, Athaya justru menyahut lantang. “Saya tau dia itu sengaja! Jadi saya balas aja perbuatan dia, Pak.”
“Jangan se enaknya nuduh kamu!” balas Pak Raja.
“Saya mah kalau nggak ada yang mengusik juga nggak akan macam-macam pak. Tapi, dia yang duluan jadi ya saya balas dong.” Athaya berjalan menghampiri Fais yang pingsan di lapangan.
“Gue kadang heran, lo itu cowok atau bukan sih? Kena bola begituan aja pingsan. Pokok nya kita impas! Gue kira lo cowok kuat, ternyata lemah. Banci lo.” Setelah mengatakan itu, Athaya segera pergi dari lapangan.
Dari lantai dua, Maisie memandang Athaya dengan senyum yang tipis. “Atha… Atha. Makin sayang gue sama lo.”
***
Sepanjang perjalanan menuju kantin, Athaya tidak berhenti menggerutu kesal kepada Fais. Lelaki itu tidak peduli jika dirinya disangka orang gila oleh siswa-siswi yang mendengar cibirnya.
“Marah-marah terus, kenapa sih?”
Athaya refleks menoleh saat mendengar suara yang familier di sampingnya. “Kak Maisie? Ngapain?”
“Lo habis di hukum kan? Nih gue bawain lo minuman, pasti lo haus kan,” ujar Maisie seraya menyodorkan sebotol minuman kepada lelaki itu.
Athaya yang memang sudah haus pun dengan cepat meminumnya hingga tandas.
“Em, lo pulang sama Aleyza nggak? Kalau enggak, gue mau ngajak lo ke rumah. Ibu gue katanya pengen ketemu sama lo, kangen dia kayaknya,” ujar Maisie.
Athaya diam sejenak, Nampak berpikir. Lalu ia mengangguk, “Aleyza kayak nya juga ada kumpul OSIS, pasti lama. Oke, kita ke rumah lo nanti pulang sekolah ya.”
Maisie terkekeh melihat itu. Ia mengulas senyum manis, “Gue tunggu nanti diparkiran ya. Gue ke kelas duluan kalau gitu, samapi ketemu nanti,” ujarnya kemudian melangkah pergi dari hadapan Athaya.
***
Maisie melangkah riang menuju ke gerbang sekolah. Gadis itu tersenyum lebar tak kala melihat seorang lelaki yang tengah duduk di atas motor. Buru-buru Maisie menambah kecepatan langkahnya.
“Hai, Tha!” sapa Maisie dengan riang.
Athaya sedikit terkejut dengan kehadiran Maisie yang tiba-tiba. Tiga detik setelahnya, lelaki itu tersenyum tipis.
“Lo beneran nggak akan pulang bareng Aleyza?” tanya Maisie pada lelaki itu.
Athaya menggelengkan kepalanya kuat. “Dia lagi kumpul OSIS kayaknya, pasti lama juga kan.” Balasnya.
Maisie terkekeh melihatnya. Ia sedikit merapihkan rambut Athaya yang terlihat berantakan dengan gemas. “Biasanya juga lo nungguin dia, tumben?”
Lagi-lagi Athaya menggeleng. “Gue bisa rapihkan rambut gue sendiri kok, sorry.”
Maisie tersenyum kikuk. “Oke.” Balasnya.
“Ouh iya, nih pakai dulu helmnya.” Athaya mengangkat helm yang ia pinjam milik Aldo tadi. mana mungkin berani ia memberikan helm kesayangan milik Aleyza kepada Maisie. Lagipula, Athaya tidak ingin mengecewakan gadisnya itu.
“Thanks.” Ucap Maisie.
“Kita jadi kan ke rumah lo nya?” tanya Athaya.
“Jadi kok. Tapi, gue mau ke toko eskrim dulu. Lo nggak keberatan kan?” balas Maisie.
Athaya menganggukkan kepalanya. Maisie pun naik ke atas motor milik Athaya dengan cepat. Kedua tangan Maisie memegang ujung tas Athaya.
“Kita berangkat ya.” Ucap Athaya seraya menutup kaca helm nya.
“Oke.” Balas Maisie. Keduanya pun mulai membelah jalanan yang lumayan padat kala itu.
***
Maisie tidak berhenti berdecak kagum saat melihat beberapa eskrim yang sudah tersusun sangat indah dibalik etalase. Keduanya kini tengah berada di salah satu toko eskrim yang letaknya lumayan jauh dari rumah Maisie sendiri.
“Mau beli yang mana jadinya?” tanya Athaya.
“Gue mau yang itu aja deh, kayaknya enak dan lagi lucu banget eskrim nya.” Maisie menarik tangan Athaya untuk dibawanya menuju eskrim yang ia mau.
“Mas, yang ini dua ya.” Ucap Maisie kepada salah satu pelayan toko eskrim tersebut.
“Eh, gue nggak terlalu begitu suka eskrim. Jadi nggak usah.” Jawab Athaya cepat.
Sebenarnya ia sangat menyukai eskrim. Tapi, Athaya lebih senang ketika memakan eskrim Bersama dengan Aleyza. Bukan dengan orang lain. Maka dari itu Athaya mengatakan jika ia tidak menyukai eskrim. Anggap saja Athaya memang berbohong, tapi setidaknya dengan begini ia menjaga perasaan Aleyza.
“Ouh oke.” Balas Maisie dengan senyuman tipis.
“Tha, kita ini udah berapa lama saling kenal ya?” tanya Maisie.
“Em, bentar.” Athaya mengetukkan jari di keningnya. “Satu tahun kayaknya.” Lelaki itu sedikit tersenyum.
Maisie menganggukkan kepalanya. Pikirannya terlempar ke waktu satu tahun yang lalu, ketika dirinya masih menjadi wakil ketua OSIS dan Athaya menjadi siswa baru.
SATU TAHUN LALU.
Terik matahari yang menyengat permukaan kulit itu membuat Athaya berhenti berdecak sebal. Peluh di keningnya sudah mengucur deras. Wajahnya saja sudah memerah karena paparan panas sinar matahari.
Dengan terpaksa, Athaya pun harus berbohong kepada salah satu anggota OSIS. Meminta ijin untuk ke toilet, berniat untuk mendinginkan dirinya sendiri.
Di perjalanan menuju toilet, ia tidak sengaja bertabrakan dengan gadis manis yang tak lain adalah Maisie. Wakil ketua OSIS di SMA Trunajaya kala itu. Maisie yang sedang membawa beberapa tumpukan buku pun tak sengaja menjatuhkan buku-buku tersebut hingga berserakan ke lantai.
__ADS_1
“Awh.” Ringis Maisie.
Athaya yang tak tega melihat Maisie meringis kesakitan, dengan segera berjongkok dan membantu Maisie untuk merapihkan Kembali buku-buku itu.
“Aduh, Kak. Maaf ya, gue nggak sengaja. Gue buru-buru mau ke toilet soalnya,” ujar Athaya jujur.
Maisie menatap Athaya sekilas, lalu menganggukkan kepalanya. “Ia, nggak apa-apa. Lagi pula gue juga salah karena nggak hati-hati.” Ucap Maisie lembut.
“Biar gue saja yang bawa nya kak, mau di bawa kemana?” tanya Athaya yang sudah mengambil alih seluruh buku yang sempat Maisie pegang.
“Ehh, nggak usah. Ini kan tugas gue.” Ucap Maisie berusaha menolak.
“Nggak apa-apa kok kak, lagi pula kakak cewek masa iya bawa tumpukan buku banyak gini.” Ucap Athaya.
Maisie menimang-nimang tawaran dari Athaya, lalu sedetik kemudian mengangguk. “Oke kalau gitu, tolong bantu bawa ke ruangan OSIS aja ya. Terimakasih dan maaf sudah merepotkan sebelumnya,” ujar Maisie sembari berjalan terlebih dahulu menuju ruangan OSIS.
Sesampainya di ruangan OSIS, Athaya pun meletakkan buku-buku yang dibawa nya di salah satu meja.
“Gue permisi dulu kalau begitu ya kak.” Ucap Athaya.
Tanpa Athaya duga, Maisie memberinya beberapa lembar tissue. Athaya pun refleks menatap Maisie dengan pandangan mata seolah bertanya.
“Buat lap keringat lo, lihat tuh deras banget keringat nya,” ujar Maisie dengan ramah.
“Em. Makasih ya kak.”
“Sama-sama_” Maisie melihat badge nama yang terbuat dari kertas yang diberi tali rafia di leher Athaya. “Athaya Zalino Bratajaya.”
“Panggil Athaya aja, kak.” Balas Athaya dengan sopan.
“Oke.”
“Sekali lagi makasih ya, Athaya,” ujar Maisie dengan senyuman manisnya.
“Sama-sama.” Setelah mengatakan itu, Athaya pun berlalu dari hadapan Maisie menuju ke toilet.
***
Sejak saat itu, Maisie dan Athaya pun sering berinteraksi hingga sekarang ini.
“Kok bisa kak Maisie dulu ramah banget sama gue ya.” Athaya terkekeh pelan di akhir kalimat yang dirinya ucapkan.
“Ya kan gue emang ramah sama siapa aja, lagi pula kek beruntung aja gue bisa kenal sama lo.” Balas Maisie membuat kening Athaya berkerut bingung.
“Beruntung apanya?”
“Beruntung lah, sama kayak Aleyza yang pastinya beruntung bisa kenal dan selalu di samping lo kan.” Balas Maisie tanpa banyak berpikir.
“Hah? Gimana?!” beo Athaya dengan mulut menganga lebar.
Maisie yang melihat itu pun tertawa. “Udah, jangan di pikirin. Ayo kita pulang ke rumah gue, kayaknya Ibu udah nungguin juga.”
***
Farah, Ibu dari Maisie itu menyambut kedatangan mereka dengan gembira.
“Aduh, Athaya. Ibu kangen nih sama kamu,” ujar Farah setelah keduanya mengurai pelukan. Wanita itu memegang kedua pipi Athaya. “Wah, kamu kayaknya kurusan deh. Tha.”
Athaya tertawa, “Emang iya, Bu? Kayaknya cuman perasaan Ibu aja deh.”
Farah cemberut. “Ah kamu ini.”
“Ayo masuk ke dalam, Ibu sudah masak banyak buat kalian.” Ajak Farah dengan semangat.
Wanita itu menggandeng tangan Athaya masuk ke rumah. Sementara Maisie membuntuti keduanya dari belakang. Jika sudah Athaya, dirinya pasti akan terlihat seperti anak tiri.
Setahun mengenal Athaya, membuat Farah begitu menyayangi gadis itu.
“Kamu duduk manis aja disini ya, biar Ibu yang ambil makanannya buat kamu.”
“Buat aku nggak, Bu?” tanya Maisie saat melihat Ibu nya hanya mengambilkan makanan untuk Athaya saja.
“Kamu kan bisa ambil sendiri sayang. Kalau ada Athaya kamu harus siap mengalah pokoknya,” ujar Farah kemudian terkikik geli.
Athaya yang mendengar itu pun lantas tertawa, apalagi ketika ia melihat wajah Maisie yang sedikit kesal.
“Makan nya di habisin ya sayang,” ujar Farah.
“Wah, Bu. Makanan nya emang selalu yang paling enak ya.” Puji Athaya.
“Kalau gitu, mending lo sering kesini makan bareng sama kita.” Timpal Maisie berniat bercanda. Ucapannya itu menghadirkan tawa dari Farah.
Athaya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar itu. “Ouh iya, om Wily masih kerja ya. Bu?”
Maisie mengangguk. “Biasalah, lembur terus.”
“Makannya, coba kamu bilangin tuh Ayah kamu biar nggak terus-terusan lembur. Ibu tuh kesepian dirumah tau.” Kata Farah dengan raut wajah kesal yang terlihat lucu.
“Ih apaan, Ibu kayak anak muda aja.” Maisie terkekeh.
Farah cemberut. “Emang masih muda kali ah. Ouh iya, kamu udah punya pacar belum Tha?” tanya Farah.
Athaya meringis pelan, ia bingung harus menjawab apa. Lagi pula, ia saja dan Aleyza memang tidak berpacaran.
“Ibu lupa? Kan dia punya Aleyza.” Tegur Maisie pada Ibunya.
“Hehehe, iya Bu.” Athaya tersenyum memperlihatkan gigi-giginya yang putih.
“Yang beda keyakinan itu? Tha, yang seagama aja belum tentu jodoh. Apa lagi yang beda agama gitu.”
Perkataan yang keluar dari mulut Farah berhasil membuat Athaya yang sedang minum itu tersedak. Kaget bukan main saat mendengar perkataan dari Farah, ibu nya Maisie.
__ADS_1