Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Saling Curiga


__ADS_3


Athaya dan Naufal sudah sampai di markas.


Keduanya buru-buru masuk ke dalam untuk mengecek kondisi markas. Mereka sama-sama mengerutkan kening saat melihat tidak ada satu pun kejanggalan di sana.


Markas mereka masih tertata rapih seperti biasa.


“Kok aneh.” Gumam Naufal. Ia berjalan menghampiri alat penyadap suara yang dipasangnya tadi.


Ternyata, alat penyadap suara itu rusak.


“Bisa-bisa mereka tahu kalau gue pasang alat penyadap ini,” ujar Naufal.


“Ini apa?” Athaya membungkukkan badannya untuk mengambil sebuah kain yang terjatuh di atas lantai. Matanya menatap bingung saat melihat nama Aldo tertera di sana.


Itu adalah head band milik Aldo yang selalu ia pakai.


“Punyanya Aldo, apa mungkin ketinggalan ya?” ujar Naufal.


“Waktu di rumah sakit, gue lihat dia pakai ini. Apa Aldo ke sini? Tapi dia ngapain?”


“Lo lupa? Markas kan punya kita semua. Anak-anak The Vagos jelas bebas mau ke sini kapan saja kan.” Balas Naufal kemudian terkekeh geli.


Athaya terdiam, bagaimana pun yang dikatakan oleh Naufal benar. Namun, entah mengapa ia merasa ada yang janggal.


***


“Eyza di rumah sakit siapa yang jagain, Tha?” tanya Aidan kepada Athaya yang baru saja sampai di markas The Vagos. Lelaki itu masih belum masuk sekolah karena harus menjaga Aleyza.


“Gue sempat minta tolong Alice buat jagain Eyza. Lagipula, tadi dia masih tidur makannya gue ke sini.” Balas Athaya seraya melepas helmnya.


Lelaki itu turun dari atas motor kemudian menghampiri sahabat-sahabatnya satu persatu untuk melakukan tos ria ala-ala mereka.


“Nggak ada hal aneh-aneh lagi kan?” tanya Athaya pada Naufal yang tengah merokok, memang sudah menjadi salah satu kebiasaan lelaki itu.


Naufal yang di tanya oleh Athaya hanya menggeleng kepala dengan wajah tenangnya sebagai jawaban.

__ADS_1


Athaya bernapas lega setelah mengetahui jawaban Naufal. “El, tugas nya udah lo lakuin kan?”


Lemuel menatap Athaya seraya menganggukkan kepala. “Gue udah berusaha, tapi sayang. Sesuai yang gue duga, mereka terlalu pintar. Mereka juga tentunya nggak mau kecolongan.”


Athaya berdecak sebal. Ia sebelumnya meminta lelaki itu untuk mencari sidik jari orang yang berbuat onar di markas mereka dan juga pisau yang digunakan si peneror untuk melukai Aleyza.


Athaya duduk di samping Naufal.


“Do, kemarin lo ke markas?” tanya Naufal pada Aldo yang berbaring di atas sofa. Lelaki itu memiringkan kepalanya menatap sang wakil The Vagos.


“Nggak, gue di rumah kemarin.” Balas Aldo. “Lagian kalau gue kesini mana bisa masuk. Kan yang megang kunci markas sekolah Cuma lo sama Athaya.” Lanjutnya.


Setelah kejadian markas yang kena terror, Athaya dan Naufal memutuskan untuk menarik semua kunci yang anggota inti The Vagos punya dan hanya mereka berdua saja yang memegang kunci markas.


Seketika, baik Athaya dan Naufal keduanya terdiam. Benar juga apa yang dikatakan Aldo.


Naufal mengambil head band milik Aldo yang kemarin ia temukan di dalam markas. “Ini punya lo kan? Kemarin gue nemuin ini di dalam. Kalau misalkan lo nggak ke sini, terus kenapa ini ada di markas?”


Aldo mengerutkan keningnya. Ia langsung merubah posisinya itu menjadi duduk Kembali.


Dengan cepat ia mengambil head band yang terdapat jahitan Namanya di atas. “Lah, kok bisa ya?” tanyanya tak mengerti.


Aldo mengangguk. “Iya, bener kok kalau gue pakai ini pas di rumah sakit. Pas di sekolah juga gue pakai ini, tapi kok bisa ada di sini ya?”


Kedua mata Adelard memicing. “Lo yakin kan?”


“Iyalah! Gue nggak se pikun itu ya, lagipula juga pas di sekolah kan gue barengan kalian terus.” Balas Aldo tegas.


Aidan tertawa melihat raut wajah Aldo yang tegang. “Do, tenang aja kali. Santai. Emangnya ini ada apa sih?”


Naufal membuang puntung rokoknya setelah mematikan apinya. “Gue sama Athaya kemarin masang alat penyadap suara, tapi sialnya ketahuan. Setelah gue sama Thaya cek ke sini, ternyata nggak ada apa-apa dan gue malah nemu head band punya Aldo.”


Lemuel mengerutkan keningnya mendengar penuturan Naufal. “Lo ngerencanain itu tanpa bilang-bilang sama kita?”


Naufal dan Athaya mengangguk setuju. “Lagipula itu rencana dadakan. Niatnya juga gue Cuma mau cari titik terang dari terror ini. Tapi, kayaknya mereka nggak bakalan balik lagi kesini setelah tahu kalau gue pernah pasang alat penyadap suara itu.”


Aidan mengangguk-angguk kepalanya paham. “Sebegitu takutnya ya lo kalau diantara kita ada yang berkhianat? Sampai buat masang alat penyadap suara aja lo nggak ngasih tau kita-kita.”

__ADS_1


Athaya tidak mengelak. “Siapa aja bisa jadi pengkhianat.”


Aldo menipiskan bibirnya. Lelaki itu memejamkan matanya sejenak sebelum Kembali menatap Athaya. “Tha, lo nggak nuduh gue kan?” tanyanya.


“Gue sama sekali nggak nuduh lo ya. Tapi, kalau lo merasa tertuduh ya itu mah bukan salah gue.” Balas Athaya cepat. Raut wajah lelaki itu masih terlihat tenang.


Kedua tangan Aldo terkepal. Ia tidak boleh terpancing emosi saat ini. “Tha, ya kali gue mau berkhianat sama lo dan juga The Vagos? Gue yakin peneror itu yang sengaja naro ini biar kalian nuduh kalau gue pelaku itu. Lagipula, gue juga sayang sama Eyza ya kali gue tega liat dia terluka gitu sih.”


Athaya menatap Aldo sengit, bisa-bisanya ia terlalu jujur mengatakan bahwa ia menyayangi Aleyza di depannya. Ya, meskipun ia tahu Aldo menyayangi Aleyza hanya sebagai sahabat dan juga adik. Tapi, sungguh ia tidak rela. “Aleyza itu Cuma kesayangan gue! Awas aja lo ya. Gue disini nggak nuduh lo, gue Cuma pesan untuk tidak berkhianat aja.” Ia berdeham pelan kemudian beralih menatap Lemuel yang termenung.


“Kemarin, sebelum mereka sadar kalau gue pasang alat penyadap suara itu. Gue dan Thaya sempat dengan pembicaraan mereka. Mereka bilang, ada satu orang yang harus mereka hindari.” Naufal menunjuk Lemuel.


“Kenapa gue?” tanya Lemuel seraya menunjuk dirinya.


Athaya menggeleng sebagai jawaban. Sementara Naufal terkekeh ringan. Dengan santai, ia merapihkan pakaiannya.


“Gue sih curiganya mereka udah tau kalau kita berdua pasang alat penyadap suara itu. Dan, untuk pembicaraan mereka bisa jadi itu Cuma sebagai pengecoh biar kita nggak curiga sama Lemuel bukan?” balas Naufal mengeluarkan apa yang ada di pikirannya selama ini.


“Lo kenapa nuduh dia?” tanya Aidan tak suka.


“Gue nggak menuduh, hanya berasumsi.” Balas Naufal santai.


Athaya yang mulai sadar bahwa situasi ini mulai memanas pun berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. “Selain geng Oktrax, apa ada yang menentang keberadaan The Vagos?”


“Ada lah, jelas. Orang terdekat kita juga kok.” Timpal Aldo membuat mereka semua saling pandang.


“Siapa memangnya?”


“Ya orang tua Aleyza lah,” ujar Aldo dan Aidan kompak.


“Lo ngaco hah?!” tanya Athaya ngegas. “Masa ia orang tua Aleyza setega itu sampai ngebiarin anaknya terluka hah?” lanjutnya.


“Ya nggak menutup kemungkinan juga ya. Lagian, kita juga tau sendiri kalau orang tua Aleyza nggak peduli sama dia kan? Bahkan, ketika Aleyza sudah 4 hari di rawat di rumah sakit, kemana mereka? Ya siapa tau aja ini memang rencana orang tua Aleyza supaya Aleyza nggak terus ada Bersama kita-kita.” Jelas Lemuel.


Penjelasan Lemuel tentunya membuat semua orang yang berada di markas terdiam. Di otak kecil mereka banyak sekali pikiran-pikiran liar yang entah harus di utarakan atau tidak.


“Gila lo.” Balas Athaya kesal. Ia meninggalkan markas begitu saja. Tidak bisa dipungkiri, sebenarnya ia juga kepikiran akan penjelasan Lemuel tersebut. Tapi, dia selalu menyangkal nya.

__ADS_1



__ADS_2