Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Positif 1


__ADS_3


“Hoekkk.”


“Hoekkk.”


Aleyza menyenderkan kepalanya yang terasa berat dan pusing pada kaca wastafel.


Lagi-lagi mual menyerangnya. Ada apa ini? Kenapa mual itu selalu datang?


Dia pun membasuh wajahnya dengan air guna menyegarkan diri. Ia lemas, sungguh.


Gadis itu keluar dari kamar mandi lalu berjalan menuju tempat tidur. Sepertinya hari ini ia harus izin untuk tidak masuk sekolah.


Ting!


suara ponsel berdenting memaksa Aleyza bangkit untuk mengambil benda pipih yang terletak di atas nakas sebelah tempat tidurnya.


Saat akan meraih benda itu, tatapan Aleyza justru terpaku pada kalender kecil yang terletak tak jauh dari ponselnya


Tanggal 14?


Mata Aleyza mem-bola.


Telat tiga minggu?


Tiba-tiba perkataan Athaya melayang-layang di kepalanya. “Za, ingat! Kalau kamu hamil, kasih tau aku! Karena itu juga anak aku, aku akan bertanggung jawab! Apapun yang akan terjadi ke depannya,kamu adalah tanggung jawab aku.”


Matanya berkaca-kaca.


Jangan bilang kalau dia hamil.


Alasan pusing ini? Mual ini? Aleyza menggeleng. Mengartikan tidak mau percaya.


***


Karena rasa penasarannya, Aleyza memaksakan diri keluar dari rumah untuk membeli barang itu tanpa sepengetahuan siapapun.


DEG.



Aleyza menjatuhkan testpack yang berada ditangannya. Kejadian malam itu ternyata menghadirkan makhluk kecil yang berada di dalam rahimnya.


Tes.


Tubuh Aleyza luruh ke lantai kamar mandi. Air matanya tak dapat di bendung.


Sekarang Aleyza harus bagaimana?


“Aku harus apa?” batin Aleyza.


“Apa aku harus gugurin bayi ini?”


Tidak! Dia tidak boleh berbuat sekejam itu pada anaknya. Tapi, jika dipertahankan apa yang akan terjadi ke depannya? Aleyza yakin dan tahu bahwa jika dia memberitahu Athaya. Athaya pasti akan bertanggung jawab. Tapi, Aleyza pun sadar diri. Ada benteng besar yang menghalangi keduanya.


Perbedaan agamalah yang membuat Aleyza bingung harus apa.


***


Hari ini di kelas Aleyza sedang berjalan pelajaran Bahasa Inggris.


Guru sedang menjelaskan dan menulis di papan tulis. Tidak semua murid yang mendengarkan penjelasan sang guru. Anak laki-laki lebih memilih untuk asyik tidur dan mengobrol. Sedangkan Aleyza, sedari tadi ia menunduk dengan tangan berpangku meja.


Kepalanya sedang pusing dan badannya terasa meriang.

__ADS_1


Mungkin akibat hormon hamilnya.


Dibelakang Aleyza, ada Athaya yang sedari tadi memerhatikan gelagat aneh Aleyza.


“Kamu kenapa, Za?” tanya Athaya dalam hati.


Aleyza yang merasa haus pun berputar ke belakang untuk mengambil botol minum yang berada di tasnya.


“Si Aleyza, kenapa?” tanya Lemuel.


Bukannya menjawab, Athaya malah menatap Aleyza dengan menyelidik.


“Mukanya kok pucat sih?” Athaya ragu.


Lemuel pun ikut meneliti wajah Aleyza, dan ya. Wajah gadis itu cukup pucat tidak seperti biasanya.


“Iya, pucat. Aleyza emangnya lagi sakit?” tanya Lemuel.


“Ck! Menyebalkan!” decak Athaya, ia malah sangsi dengan pertanyaan Lemuel.


Sekarang Aleyza sudah Kembali duduk menghadap depan. Tapi tangannya memijit pelan dahinya.


“Mual banget perasaan.” Gumam Aleyza berusaha menahan mual nya.


“Engh…, sakit banget perut gue.” Racau Aleyza sangat pelan.


Athaya yang sedari tadi masih memperhatikan gerak-gerik Aleyza pun langsung sigap ketika mendengar racauan gadis itu.


“Zayang, kamu kenapa hei?” tanya Athaya begitu khawatir. Ia berdiri mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.


Aleyza yang mendengar suara Athaya pun langsung menolehkan kepalanya.


“Atha…, ak…, aku pusing. Perut aku sakit, aku juga mual,” ujar Aleyza berusaha menahan air matanya.


“Who was that chatting?” ucap Pak Guru yang mendengar sedikit keributan.


“Maaf pak, Aleyza nggak enak badan. Saya izin bawa Aleyza ke UKS!” ungkap Athaya tegas.


Sedangkan Aleyza sendiri masih tetap terisak pelan. Pak guru pun mendekati meja Aleyza dan ikut mengecek wajah Aleyza.


“Badannya memang panas, cepat kamu bawa dia ke UKS sekarang.” Jelas Pak Guru yang langsung di balas anggukan oleh Athaya.


Tanpa basa-basi Athaya menggendong Aleyza ala bridal style. Tidak menghiraukan tatapan teman-temannya.


***


Di UKS.


Aleyza masih tetap meringis kesakitan, bahkan saat petugas Kesehatan akan memeriksanya.


“Atha, apakah Aleyza sudah sarapan?” tanya ibu petugas Kesehatan yang hendak memeriksa Aleyza.


“Su…,sudah.” Jawab Athaya.


“Ya sudah, saya periksa dulu ya.” Ucap ibu petugas Kesehatan itu. Namun, Aleyza langsung menolaknya. Bagaimana pun, ia tidak ingin ibu petugas Kesehatan tersebut mengetahui bahwa Aleyza tengah hamil.


“Ng.., nggak mau. Mau tidur aja.” Ucap Aleyza menolak.


“Zayang, dicek dulu ya. Biar nanti kamu bisa minum obat,” ujar Athaya berusaha membujuk Aleyza.


“Nggak mau Thaya! Mau tidur aja!” ucap Aleyza final.


Athaya pun hanya bisa menghela napas pelan. “Ya sudah, kamu tidur aja. Maaf ya bu, Aleyza nya nggak di periksa.”


Ibu petugas Kesehatan pun hanya menganggukan kepala dan tersenyum kepada Athaya.

__ADS_1


“Ya sudah, kalau begitu saya keluar dulu ya.” Ucap Ibu petugas Kesehatan lalu berlalu pergi dari ruang UKS itu.


***


Di markas The Vagos. Aleyza sedang bergegas menuju ruang tamu dengan muka kesal. Sedari pulang sekolah, mood Aleyza semakin buruk. Ia sedang ingin di manja oleh Athaya, tapi lebih itu tidak peka sama sekali.


Sesampainya di ruang tamu, Aleyza langsung berteriak keras. “ATHAYA!”


Napasnya sampai terengah-engah dan wajahnya pun memerah menahan amarah.


“Astaghfirullah haladzim.” Sebut Athaya terkejut.


“Anj**g!”


“Sh*t!”


“Bab*!”


Sementara anggota inti The Vagos yang bermain game justru malah mengumpat.


Aleyza langsung menghampiri Athaya yang duduk dengan kaki di luruskan.


“Aku di kamar sendirian, sedangkan kamu malah santai-santai disini! Nyebelin tau!” marah Aleyza mendorong kaki Athaya kasar dan duduk di sana menghadap Athaya.


“Kenapa sih, Za. Kenapa? Kok marah-marah terus. Kenapa hmm?” tanya Athaya lembut.


“MALESIN!” jawab Aleyza sambil melengos.


“Malesin? Kenapa sih? Bingung aku tuh.”


Aleyza Kembali menatap Athaya dengan wajah merenggut, lalu menatap anggota inti The Vagos yang lanjut pada kegiatan mereka sebelumnya.


“Pokoknya malesin!” balas Aleyza ngegas.


Athaya hanya bergeleng kepala sabar. Sedang tidak ingin untuk berdebat dengan Aleyza.


Athaya membuang napas kasar lalu bangkit dari duduknya dengan berkata, “Aku tinggal dulu bentar, ya.”


“Mau kemana sih? Heh!” tanya Aleyza yang ikut berdiri.


Tadinya Athaya ingin ke toilet, panggilan alamnya kini sudah memanggil.


Aleyza pun kesal bukan main. Niatnya ke sini kan mau cari perhatian ke Athaya, tapi malah ditinggal pergi. Matanya sudah memerah ingin menangis. Entahlah, bawaannya dia sensitive sekali.


“ATHAYANJ*G! SIAL*N! BRENG*EK! GUE ITU LAGI HAMIL ANAK LO TAU! GUE PENGEN DI PERHATIIN SAMA LO! LO NYA NGGAK PEKA! Aaa…, hiks… nggg…” teriak Aleyza sambil menangis.


Tanpa sadar diri dia mengatakan tentang kehamilannya di hadapan para anggota The Vagos.


Aleyza langsung duduk di sofa dan terus menangis. Sedangkan Athaya dan yang lainnya langsung menatap Aleyza dengan mata melebar. Terkejut pastinya.


“Anj**g! lo ngehamili Aleyza?!” tanya Aldo dengan kedua tangan memegang pipinya berekspresi terkejut.


“BANG**T!”


“Serius? Anj**g!” ucap Lemuel.


Athaya tidak jadi ke toilet, ia langsung berjalan mendekat ke Aleyza yang sedang menangis sesenggukan. Duduk bersimpuh di kaki Aleyza dengan wajah bodohnya.


“Za…, kamu bilang apa tadi?” tanya Athaya memastikan.


“Hiks…, a…, aku, aku hamil Tha.”


Athaya menelan ludahnya susah payah. “Gila! Kecebong gue udah jadi aja! Padahal baru sekali coba, bibit unggul nih!” batin Athaya tersenyum puas.


“Zayang, serius? Kamu udah cek?” tanya Athaya mendesak.

__ADS_1



__ADS_2