
Athaya langsung bangkit dari duduknya setelah mendengar teriakan heboh Aidan yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia berjalan cepat menyusul ke kamar mandi.
“ZA?!” panggilnya tidak sabaran. Athaya berdecak khawatir. Tangannya mengacak rambut kesal karena Aleyza benar-benar tidak ada.
“Serius nggak ada?” tanya Naufal yang datang Bersama yang lainnya.
Athaya menggeleng pelan. Matanya mengedar, lalu fokus pada pintu belakang markas yang sedikit terbuka. Perasaannya mengatakan kalau Aleyza pasti keluar dari sana.
“Cek ke belakang.” Titah Athaya. Kemudian berjalan mendekati pintu itu. Ia membukanya lebar-lebar, halaman belakang markas mereka ditumbuhi oleh semak belukar. Memberi kesan mengerikan karena tidak ada pencahayaan.
“ALEYZA!” teriak Aidan.
“Ini ada apa sih? Sumpah ya, gue masih nggak paham akan situasi yang kita alami ini,” ujar Adelard yang masih tak paham seraya terus melangkahkan kaki.
“Kenapa harus Aleyza yang di incar sih? Kenapa nggak si Aidan aja,” ujar Aldo.
“Lo apaan sih?! Bukan waktunya bercanda ya! Ini tuh lagi genting tau!” balas Aidan menggebu.
Mendengar keributan di sekitarnya membuat Naufal langsung menatap Aldo dan Aidan tajam.
“Hehe, ampun. Fal,” ujar Aldo seraya menangkupkan tangannya di depan dada.
Athaya menghela napas Panjang melihat kelakuan sahabatnya itu. Lelaki itu menatap Lemuel yang tengah mengedarkan pandangannya ke sekitar. “Gue percayai ini ke lo,” ujar Athaya pada lelaki itu.
“Tunggu dulu, Eyza nggak mungkin juga pergi tanpa ngasih tau kita kan.” Balas Lemuel.
“Nggak beres nih.” Adelard berujar resah.
“Kita cari dulu, nggak usah banyak omong gini!” balas Lemuel. Ia melangkah maju ke depan.
Mereka berenam pun berjalan mengitari halaman belakang, hingga pada akhirnya sampai di jalan raya yang sepi dan sunyi. Jalan yang memang jarang dilewati karena sering terjadi pembegalan.
“ATHAYANG!”
Teriakan familier bagi Athaya itu membuatnya menoleh ke arah sumber suara. Beberapa meter dari tempat Athaya dan yang lainnya berdiri, ada Aleyza yang terduduk di atas aspal seraya melambaikan tangannya.
“Nah, itu Aleyza!” ujar Aidan yang langsung mendapat anggukan dari yang lainnya.
Keenamnya langsung berlari menghampiri gadis itu. Athaya lah yang paling panik. Lelaki bertubuh tegap itu langsung menumpukan lututnya di atas aspal untuk memeluk Aleyza yang terduduk di aspal. Jantung Athaya berdebar kencang, menandakan betapa khawatirnya ia sekarang.
“Za, kamu ngapain disini?” Athaya memperhatikan tubuh Aleyza untuk memastikan bahwa gadisnya itu baik-baik saja.
Pandangannya terpaku pada lutut dan siku tangan Aleyza yang terdapat luka sobekan lumayan lebar.
Aleyza melepas rangkulan mereka, lalu menatap tepat di kedua mata Athaya. “Tadi aku liat ada orang yang masuk ke markas kita. Ya aku kejar dia, tapi dia larinya kencang banget jadinya aku jatuh deh.”
“Kenapa lo nggak manggil kita-kita sih?” ujar Aidan.
“Mana sempat lah!” balas Aleyza menatap tajam ke arah Aidan.
“Lo kan bisa teriak kali!” timpal Aldo.
“Aleyza pasti panik, jadi dia nggak sempat untuk manggil kita atau pun berteriak. Lo tau kan? Dia bukan tipikal cewek lemah dan juga penakut.” Balas Adelard.
Aidan dan Aldo kompak mengangguk. “Ya iya juga sih.”
“Cowok, Za?” tanya Lemuel disertai kernyitan di dahinya.
Aleyza mengangguk. “Iya, dia cowok. Pakai hoodie hitam, wajahnya juga pakai masker hitam. Jadi aku nggak bisa lihat muka dia dengan jelas.”
“Sekarang kita ke markas dulu aja.” Titah Naufal yang langsung mendapat persetujuan dari yang lainnya.
***
__ADS_1
“Aneh, deh. Ini pintu juga nggak ada tanda-tanda di rusak atau bahkan di bobol, pastinya orang itu punya kunci,” ujar Athaya setelah mengecek kondisi pintu belakang.
“Kalau benar dia pakai kunci, dia dapat kunci itu dari siapa?” Adelard mengelus dagunya sembari berusaha untuk berpikir.
“Maksud dia maksud ke markas kita mau apa?” gumam Aidan.
“Ya pastinya ganggu Eyza lah! Kan selama ini yang di teror itu Aleyza. Tapi, gue heran tuh orang kenapa coba. Kek nggak punya kerjaan lain aja sampai gangguin anak orang.” Timpal Aldo kesal.
Athaya menoleh ke arah Aleyza yang duduk di sofa. Gadis itu mengamati anggota inti The Vagos dengan seksama. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.
“Kamu dapat pesan lagi nggak, Za?” tanya Athaya pada gadis itu. Aleyza hanya menggelengkan kepala pelan sebagai jawaban. Beberapa hari kebelakang ini dia memang tidak mendapatkan pesan-pesan misterius lagi.
“Kenapa lo nggak ganti nomor aja?” tawar Naufal yang duduk di sebelah Aleyza.
“Nggak. Gue juga pengen tau siapa dia, kalau gue ganti nomor kan nantinya nggak tau.” Balas Aleyza.
Ia mengambil cokelat yang berada di saku jaket Naufal. Itu pasti milik Alice, si penyuka manis termasuk cokelat adalah favoritnya.
“Buat gue boleh?” tanya Aleyza menunjukkan cokelat tersebut.
Naufal mengangguk sekilas.
Ia menatap ke arah sahabat-sahabatnya dengan sorotan mata yang tak dapat diartikan. Helaan napas berat terdengar dari hidungnya. “Gue jadi khawatir sekaligus curiga.”
“Kenapa?” tanya Athaya kurang paham.
“Iya, gue khawatir akan kondisi Eyza kedepannya dan gue takut salah satu di antara kita ada yang berkhianat.” Lanjut Naufal membuat mereka saling pandang satu sama lain.
***
Aleyza berjalan menuju ruangan Bu Ratna dengan Langkah pelan. Sebenarnya, ia sangat malas bertemu guru yang satu ini.
Tok tok tok.
“Ya, Masuk,” ujar Bu Ratna dari dalam ruangannya.
Bu Ratna menatap Aleyza, kemudian beralih menatap kertas-kertas yang gadis itu bawa.
“Ini kamu yang mengerjakan sendiri kan?” tanya Bu Ratna dengan sorot mata mengintimidasi.
“Iya bu, jangan sampai ibu lupa kalau saya yang selalu menjuarai olimpiade matematika ya,” ujar Aleyza sedikit menyombongkan diri.
Bu Ratna mengambil kertas jawaban itu dari tangan Aleyza. Ia mulai memeriksa apakah ada jawaban yang salah atau tidak. “Lain kali jangan kamu ulangi nya kesalahan kamu itu. Meskipun kamu disini sebagai Ketua OSIS, jika kamu salah kamu tetap akan di hukum.”
“Iya, bu.” Balas Aleyza singkat.
“Sudah benar semua, silahkan kamu boleh pergi.” Titah Bu Ratna.
“Kalau begitu saya permisi.” Aleyza menundukkan tubuhnya kemudian berlalu dari hadapan Bu Ratna.
Dengan Langkah lunglai, gadis itu Kembali menuju kelasnya berada. Letak kelasnya dengan ruangan Bu Ratna lumayan jauh, membuatnya harus menempuh jarak yang cukup melelahkan.
Di pertengahan jalannya, tiba-tiba saja Fais datang menghampirinya. Dari wajahnya, terlihat sekali jika lelaki itu sedang Bahagia.
“Za, akhirnya gue menang olimpiade sains,” ujarnya berlari menghampiri Aleyza. Saking senangnya, ia pun refleks memeluk Aleyza cukup erat.
Di satu sisi, Athaya yang sedang mencari keberadaan Aleyza pun memandangi keadaan sekitar. Keningnya mengerut saat melihat dua orang yang begitu ia kenali tengah berpelukan.
Jaraknya dengan mereka lumayan dekat, membuat Athaya tahu dengan siapa Aleyza sedang berpelukan. Itu adalah Fais, lelaki yang selalu Bersama dengan Aleyza di sekolah karena satu organisasi nya.
Kedua tangan Athaya terkepal. Inilah yang dirinya takutkan. Aleyza tidak boleh di miliki seseorang selain dirinya sendiri. Dengan Langkah cepatnya, Athaya berjalan menghampiri Aleyza dan Fais yang masih berpelukan di depan ruang OSIS. Wajah lelaki itu merah padam menahan amarah.
Tanpa aba-aba, Athaya langsung menarik Pundak Fais hingga pelukan keduanya terlepas. Aleyza dan Fais sama-sama kaget dengan kehadiran Athaya secara tiba-tiba.
Bugh.
__ADS_1
Aleyza membulatkan matanya tak percaya. Akibat dari pukulan Athaya itu, Fais terjatuh ke atas lantai sambil tangannya memegangi pipi.
“LO JADI COWOK JANGAN BERANINYA MELUK-MELUK CEWEK LAIN! SIAL*N LO!” peringat Athaya menatap penuh dendam ke arah Fais.
“THA!” sentak Aleyza. Ia merasa kalau Athaya sudah keterlaluan. Gadis itu berjongkok untuk melihat luka memar di pipi Fais. Lumayan parah, pastinya luka itu akan membiru nanti.
Athaya menatap Aleyza tidak percaya. Karena tidak ingin membuat keributan lagi, Athaya segera pergi dari sana dengan perasaan campur aduk. Ia benar-benar kesal pada Aleyza.
“Fais, gue antar ke UKS. Ayok.” Tawar Aleyza dengan raut wajah panik. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa.
Fais menggelengkan kepalanya. “Gue nggak apa-apa, mendingan lo kejar Athaya. Dia kayaknya marah banget tau.”
“Tapi, lo gi_”
“Gue nggak apa-apa, Za. Cepat kejar Athaya aja.” Pinta Fais yang masih menahan sakit di area pipinya.
Aleyza mengangguk. Gadis itu berdiri dan berlari mengejar Athaya yang jaraknya lumayan jauh.
“ATHAYANG!” panggil Aleyza kencang.
Bukannya berhenti, Athaya justru semakin mempercepat langkahnya. Ia tidak peduli dengan Aleyza yang terus memanggil Namanya.
Aleyza kalah cepat. Athaya sudah terlanjur memasuki kelas. Gadis itu berdecak sebal, dengan penuh kekecewaan ia pergi dari sana. Ia akan membicarakan kesalahpahaman ini nanti.
***
“Athaya? Kamu kenapa?” tanya Pak Ahmad guru Bahasa Indonesia yang tengah mengajar di kelasnya.
“Nggak apa-apa!” balas Athaya singkat. Tidak ingin banyak bicara, lelaki itu langsung duduk di bangkunya dengan kasar membuat Lemuel menoleh heran ke arahnya.
“Lo kenapa?” tanya Lemuel dengan tatapan heran.
“Nggak usah bacot lo!” balas Athaya. Matanya menyorot tajam ke arah Lemuel.
“Dih, udah kek cewek yang lagi datang bulan lo!” Lemuel bergidik ngeri.
“Gue bunuh lo lama-lama!”
“Astagfirullah.” Lemuel menangkupkan tangannya di depan dada lalu Kembali fokus pada catatan nya.
***
Fais meringis pelan ketika Aleyza mulai mengompres pipinya dengan kain tipis yang sudah dibasahi oleh air dingin. Ia sangat merasa bersalah, andaikan saja tadi dia tidak memeluk Aleyza. Pasti Athaya tidak akan salah paham dan tidak berujung dengan memukul pipinya.
“Nanti pas di rumah, lo kompres lagi biar agak mendingan ya,” ujar Aleyza setelah selesai mengobati pipi memar Fais.
Fais menghela napas berat. “Gue sebenarnya nggak apa-apa kok. Gue malah nggak enak sama Athaya, dia pasti salah paham dan marah banget sama gue.”
Aleyza menundukkan pandangannya seraya memainkan kain yang ada di tangannya. “Iya, gue tau dia salah paham. Lagipula, dia terlalu egois dan juga keras kepala.”
“Maafin gue ya, ini salah gue. Gue terlalu senang sampai refleks meluk lo, kalau aja gue nggak meluk lo. Pasti Athaya juga nggak gini,” ujar Fais penuh penyesalan.
“Udah, nggak sepenuh nya salah lo kok. Lo Cuma terlalu senang jadi refleks meluk kan ya, selamat ya akhirnya lo menangi olimpiade sains itu.” Balas Aleyza seraya tersenyum tipis.
Fais membalas ucapan Aleyza dengan senyuman tipisnya. Meskipun begitu, ia tetap saja resah dan tidak enak dengan Athaya.
“Kalau gitu, gue balik ke kelas ya. Lo mau gue antar atau gimana?” tanya Aleyza, ia langsung berdiri dari duduknya.
“Nggak perlu, gue bisa balik ke kelas sendiri.” Tolak Fais dengan halus.
Aleyza mengangguk. “Oke, kalau gitu gue balik ke kelas duluan ya. Gue juga minta maaf atas nama Athaya.”
Fais mengacungkan jempolnya. “Iya, santai aja.”
Aleyza pun pergi meninggalkan Fais seorang diri di UKS.
__ADS_1