
Pagi ini, Aleyza kembali pergi ke sekolah dengan di antar kan oleh Kendrick.
Ia berjalan pelan menuju kelasnya. Beberapa pasang mata yang memandangnya kagum itu tidak Aleyza pedulikan. Hal yang sudah biasa baginya, lagipula tetap Athaya lah pemenangnya.
"ZA! ZA! ADA YANG BERANTEM! ZA"
Fais berteriak dari kejauhan sembari berlari kencang menghampiri Aleyza. Wajah gadis itu terlihat begitu panik.
"Berantem? Dimana, Fais?" tanya Aleyza ikutan panik.
"Iya berantem, di gudang belakang. Ayo cepetan!" Fais menarik tangan Aleyza, mengajak gadis itu untuk ikut berlari bersamanya.
Karena terlalu fokus dengan larinya, Aleyza sendiri sampai tidak sadar jika ia menyakiti diri dan janinnya sendiri. Perutnya mulai terasa kram, tapi ia tetap melanjutkan larinya.Tanpa keduanya sadari, ada Athaya yang berdiri di depan pintu kelas. Lelaki itu hendak menghampiri Aleyza, tapi niatnya itu diurungkan ketika melihat Fais yang berlari dengan gadis nya.
Sesampainya di gudang belakang, ternyata benar apa yang Fais bilang. Tiga orang siswa tengah adu jotos saling menyerang. Aleyza dan Fais pun dengan cepat menghampiri mereka berdua. Tanpa banyak pikir, Fais langsung berdiri di tengah-tengah mereka bertiga. Menghadang ketiga lelaki itu untuk tidak saling beradu tinju lagi.
"Kalau mau berantem jangan di sekolah! di ring tinju sana!" peringat Fais pada tiga siswa yang masih saling menatap dengan pandangan penuh dendam. Napas ketiganya memburu.
"Dia yang mulai duluan! pake acara bara temen lagi!" balas Gino sembari menunjuk Angga dan juga Aris.
"Salah Lo juga! ngapain Lo malah embat cewek gue, anj*Ng!" balas Angga tidak mau kalah.
"Perkara cewek doang?" Aleyza berdecih pelan. "Kayak yang cewek cuman satu sampai di rebutin gitu. Lagipula, kalau mau berantem jangan di area sekolah!"
"Jelas! itu cewek yang udah gue taksir dari lama, bisa-bisanya dia malah main embat aja. Orang kayak dia nggak bisa didiemin, ngelunjak anj*Ng!" kata Angga membantah.
"Alah, bacot Lo!" Gino kembali melayangkan pukulan di wajah Angga.
Aleyza memekik kaget, gadis itu berinisiatif untuk memegang tangan Angga agar tidak membalas Gino. Namun, malah dirinya yang dihempaskan oleh Angga hingga terjembab ke atas tanah
Athaya yang diam-diam melihat dari kejauhan jelas menggeram kesal. Tanpa banyak bicara, ia langsung menghampiri Aleyza. Menolong gadisnya dan ia segera melayangkan pukulan di pipi kiri Gino agar lelaki itu berhenti berkelahi dengan Angga.
__ADS_1
"STOP BUAT BERANTEM! DAN LO! BERANI-BERANINYA LO MALAH BIKIN CEWEK GUE JATUH BEGITU AJA KE TANAH HAH!" Kata Athaya dengan urat leher yang menonjol.
Angga, Gino, dan Aris kompak menunduk. Jika Athaya Yang sudah marah, lelaki itu akan terlihat menakutkan. Ketiganya tidak berani menatap mata tajam milik Athaya.
"Lo juga! Lo cowok, kalau Lo tau ada berantem ya Lo pisahin aja langsung nggak perlu ngajak cewek gue! liat sekarang kan? cewek gue juga yang malah terluka!" sentak Athaya pada Fais, sungguh ia sangat marah kali ini. Ia khawatir akan calon anaknya yang sedang di kandung oleh Aleyza, jika terjadi sesuatu kepada calon anaknya tentu saja Athaya tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Ada yang sakit hmm?" tanya Athaya pada Aleyza, kini nada bicaranya sedikit melembut.
Aleyza hanya bisa meringis menahan sakit di area perutnya, bagaimana pun perutnya tetap terasa kram dan makin sakit.
"Perut kamu sakit?" tanya Athaya khawatir.
Aleyza sedikit mengangguk, "Pe... perut aku kram, Tha." jawabnya lirih.
"Kalian bertiga ke ruang BK sekarang! Kalian udah besar, minta hukuman langsung ke guru BK! dan satu lagi, kalau cewek gue kenapa-kenapa kalian bertiga nggak pernah hidup dengan tenang!" titah Athaya tegas dengan kalimat yang penuh pengancaman.
"Gu_"
"SEKARANG ANJ*NG!" potong Athaya membuat Angga, Gino, dan Aris tersentak kaget. Ketiga lelaki itu langsung berlari kencang untuk melaksanakan perintah Athaya.
Setelah kepergian Fais, tatapan mata Athaya mengarah pada Aleyza yang masih memegangi perutnya.
"Masih sakit?" tanya Athaya pada gadis itu.
Aleyza mengangguk, "Sakit, Tha. Perut aku kram dari tadi."
Tanpa Aleyza duga, Athaya justru langsung menggendong nya apa bridal style. "Kita ke rumah sakit sekarang, aku nggak mau kalau kamu dan calon anak kita kenapa-kenapa." ucapnya penuh rasa sayang dan juga kekhwatiran.
***
Setelah selesai mengantarkan Aleyza ke rumah sakit dan memastikan bahwa gadis nya tidak kenapa-kenapa. Athaya terpaksa harus kembali ke sekolah untuk memberikan surat sakit Aleyza.
Ya, Aleyza harus istirahat. Sebelum kembali ke sekolah, tentunya Athaya segera mengantarkan Aleyza ke rumah nya untuk beristirahat.
__ADS_1
Kini, Athaya sedang berjalan menuju kantin untuk menghampiri teman-teman nya bersama dengan Caithlin di sampingnya.
"Mamih Lo mana, Tha? kok malah sama Caithlin?" tanya Aidan saat melihat Athaya yang datang ke kantin bersama Caithlin.
"Tadi gue anterin dia pulang, dia harus istirahat. Gue ke sini bareng Caithlin karena tiba-tiba aja nih cewek ngintilin gue." balas Athaya menjelaskan.
Caithlin yang berada di sampingnya itu tersenyum lebar, "Kenapa? emangnya salah kalau gue ikutin Athaya ke kantin?"
Lemuel yang mendengar itu pun berdecih pelan. "Kalau baper sih ya Lo yang repot." sindir lelaki itu.
Caithlin menatap tidak suka ke arah Lemuel. Lelaki itu sibuk memainkan ponsel seperti biasanya, raut wajahnya terlihat begitu tenang seperti tidak ada apa-apa.
"Lo ada masalah apa sama gue?" tanya Caithlin setengah kesal.
Lemuel mendongakkan pandangannya, alisnya terangkat sebelah. "Ya nggak ada."
Aldo meringis pelan merasakan suasana yang mulai menegang. "Udah- udah, Lo mendingan cepet -cepet pergi dari sini." usir Aldo kepada Caithlin.
Lemuel tertawa sinis, lelaki itu berdiri dan mendekat ke arah Caithlin. "Gue bakalan jadi orang pertama yang hajar Lo kalau sampai berani nyakitin Aleyza, meskipun Lo itu cewek." bisik nya di telinga Caithlin.
Lemuel menepuk dua kali pundak gadis itu kemudian berlalu pergi dari sana. Naufal yang melihat itu pun merasa aneh. Lemuel merupakan orang yang susah ditebak, sekalinya bicara pasti membuat semua orang harus berpikir keras dengan apa yang di maksud dari ucapannya.
***
Aleyza memegang dadanya yang berdebar kencang. Ia baru saja membaca sebuah pesan yang tertulis di atas kertas. Entah siapa yang meletakkan lipatan kertas itu di laci dekat tempat tidurnya.
"Kapan ya gue bisa hidup dengan tenang lagi? gue capek kalau terus-terusan di ganggu kayak gini." ucapnya pelan.
Ia membuang napas kasar, merasa gelisah karena tak tenang. Perutnya yang tadi pagi kram kini sudah mendingan setelah ia meminum vitamin dari dokter.
Aleyza harus menjaga janinnya, ia ingin hidup tenang. Namun, terror itu tetap saja mengganggu nya.
__ADS_1
"Sayang, kamu tenang aja ya. Aku bakal lindungi kamu kok, kamu harus tetap bertahan sama aku ya," ujarnya sembari mengelus-elus perutnya.