Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
LDR terjauh


__ADS_3


Athaya memainkan ponselnya sambil sesekali mencomot chiki yang berada di pangkuannya. Lelaki itu sedang membuka satu per satu akun Instagram milik Leviana untuk memantau apakah ada lelaki berani mengusik nya atau tidak.


Tok! Tok! Tok!


Athaya berhenti scrolling saat telinganya mendengar suara ketukan di pintu rumahnya. Dengan cepat, lelaki itu berdiri menghampiri pintu. Ia berpikir bahwa yang datang adalah Aleyza. Namun, ia sedikit berpikir. Jika itu Aleyza, biasanya ia tidak akan pernah mengetuk pintu.


Ceklek.


Kedua mata lelaki itu membulat saat melihat seseorang di depan rumahnya ternyata bukan Aleyza. “Kak Maisie?”


Maisie tersenyum ramah, salah satu tangan cewek itu menenteng sebuah paper bag yang entah apa isinya lalu menyodorkannya ke hadapan Athaya.


“Buat lo.”


Athaya menatap paper bag yang hendak Maisie berikan heran, tanpa lama-lama ia memberanikan diri untuk bertanya apa isi yang ada di paper bag itu.


“Isi nya apa kak?” tanya Athaya.


“Ini di dalam nya ada kue yang baru aja gue bikin, lo coba ya. Semoga lo suka deh,” ujar Maisie tersenyum.


“Em, makasih sebelumnya kak.” Ucap Athaya.


“Duduk aja dulu, kak.” Athaya mempersilakan Maisie duduk di teras rumahnya.


Maisie pun menuruti perintah lelaki itu. Kedua matanya asyik mengamati Athaya yang terlihat sedang membuka Tupperware yang berisikan kue buatannya.


“Gimana, enak nggak?” tanya Maisie.


Athaya sedikit mengerutkan kening, sedang berusaha mencerna setiap rasa yang ada di kue dimakannya. “Lumayan, enak kok.” Jawabnya jujur.


Maisie tersenyum kesenangan Ketika mendengar ucapan Athaya, “Serius nih enak? Manis nggak?” tanya nya lagi.


“Manis, sama lah ya kayak yang bikin nya.” Balas Athaya. Lelaki itu tidak tahu jika perkataannya berhasil membuat jantung Maisie berdebar tidak karuan.


“Hehehe, makasih sebelumnya. Lo itu beda dari cowok-cowok yang gue kenal selama ini, Thaya,” ujar Maisie lagi. Tatapan nya menerawang jauh ke depan. “Gue juga terkadang bingung sama diri sendiri, kok bisa gue ngerasain perasaan yang aneh kayak gini Ketika Bersama dengan lo.”


Athaya menggaruk kepalanya tidak paham. “Maksud Kak Maisie nih apa sih?”


Maisie menggelengkan kepalan pela. “Intinya lo special buat gue, kalau gue dimata lo gimana?”


“Lo dimata gue? Lo itu adalah sosok kakak perempuan bagi gue, gue kan cuman punya abang cowok. Jadi bisa dong lo jadi sosok kakak perempuan gue? Lagi pula yang special mah tetap Bunda dan Aleyza.”


Maisie terkekeh ringan. “Enak ya jadi Aleyza, selalu di prioritaskan dan juga selalu menjadi yang special dimata lo.”


Athaya menganggukkan kepalanya, “Iya emang, dan asal lo tau dia kan emang Queen Of The Vagos. Jangan kan di mata gue, di mata para inti dan anggota The Vagos aja Aleyza tuh emang prioritas dan special. Tapi, Aleyza tetap punya ruang yang berbeda di hati gue.” Aku Athaya yang mana membuat senyum Maisie pudar.


“Ouh iya, gue sampai lupa satu kenyataan itu. Tapi, gapapa setidaknya lo tetap special bagi gue.”


“Kenapa? Kenapa gue special bagi lo?” tanya Athaya penasaran.


“Gue nggak tau apa alasan yang pas untuk membuat lo special bagi gue. Sama seperti Aleyza yang mempunyai tempat berbeda di ruang hati lo, begitupun lo yang punya tempat berbeda di ruang hati gue.” Jelas Maisie membuat mulut Athaya menganga lebar.


Lelaki itu terdiam, berusaha mencerna kata demi kata yang Maisie lontarkan.


Athaya sendiri merasa aneh karena selama ini, kakak kelasnya ini sangat perhatian padanya. Athaya sempat curiga bahwa Maisie mempunyai perasaan yang lebih untuknya. Tapi, Athaya selalu berharap semoga hal itu tidak terjadi. Karena bagaimana pun, Aleyza tetap lah pilihannya.


***


Aleyza mengusap rambutnya yang setengah basah. Gadis itu baru selesai memandikan hewan peliharaannya yaitu Miko, Red panda kesayangannya.

__ADS_1


Senyum lebar yang terpatri di bibir gadis itu menjadi pertanda kalau Aleyza begitu Bahagia Ketika melihat Miko sudah tampan di pagi hari ini.


“Miko, kamu ganteng banget deh sama kayak Athaya. Jadi makin sayang kan.” Kata Aleyza, mengajak bicara Miko.



Aleyza tertawa saat Miko menatapnya dengan mata penuh binar. Red panda nya itu seolah mengerti dengan apa yang Aleyza ucapkan. “Ihh kamu makin gemesin deh, jangan sampai saingan sama Athaya ya. Soalnya aku pasti susah milih, kamu sama Athaya kan sama-sama ganteng hehehe."


“Woy Aleyza!” teriak Adelard dengan lantang. Aleyza pun yang merasa Namanya di panggil pun menoleh ke arah Adelard dengan tatapan ke musuhan.


“Apa sih bang, berisik tau! Ganggu kesenangan orang aja!” balas Aleyza tidak mau kalah.


“Emang dasarnya lo gila! Hewan kek gitu aja lo ajak ngobrol, lucu kagak jelek iya jatuhnya. Nih, liat kelinci gue imut-imut.” Ucap Adelard sembari menujukkan beberapa kelinci yang ia punya.


“So imut sih iya! Ya udah, ayo tanding nih sama si Miko yang ganteng nya samaan kayak Athaya sini!” tantang Aleyza.


“Ogah!” jawab Adelard.


“Nggak mau tau! Karena lo udah bikin gue kesal, sekarang juga harus tanding! Ayo sini!” tantang Aleyza dengan dagu yang diangkat tinggi-tinggi. Lengan bajunya ia gulung sampai bahu.


Adelard memutar bola matanya malas. “Sorry ya Red panda, kelinci gue nggak pantas buat di tandingi oleh lo. Dahlah, gue mau me time nih sama si kelinci imut gue.”


Adelard menunggingkan pantatnya untuk mengejek Aleyza. Tidak terima diperlakukan seperti itu, Aleyza pun langsung mengambil ember berisi air sisa yang ia gunakan untuk memandikan Miko tadi. Tanpa lama-lama, Aleyza segera berlari dan menyiramkan air itu di tubuh Adelard.


“Sialan! Awas lo Aleyza, gue aduin ke Athaya biar dia yang marahin lo!” maki Adelard dengan wajah merah padam. Sekujur tubuhnya kini sudah basah kuyup.


Aleyza tertawa puas. Tidak ingin kena amukan dari Adelard, gadis itu pun berlari menuju pintu rumah Athaya.


“Athayang! Bukan pintu nya dong! Cepet ih!” teriak Aleyza sembari menggedor-gedor pintu rumah Athaya.


“Astagfirullah, Aleyza. Kamu kenapa acak-acakan gini? Dan itu, Adelard kok kamu basah kuyup gitu?” tanya Shafia ketika membukan pintu.


“Biasa bund, tuh gara-gara dia!” ucap Adelard menunjuk Aleyza menggunakan dagu nya.


Sebelum menjawab pertanyaan dari Bunda nya Adelard dan juga Athaya, Aleyza sudah lebih dulu masuk ke rumahnya. “Tadi Aleyza baru selesai mandiin Miko. Tapi, tiba-tiba bang Adelard ngeledekin Miko nya Eyza. Kan Eyza kesel, ya udah Eyza siram aja tuh bang Adelard pakai air bekas mandiin Miko.”


Shafia menggelengkan kepala sambil tertawa kecil. Ia pun menarik tangan Aleyza untuk ikut bersamanya menuju ruang makan. Disana, sudah ada Athaya dan juga Abimana- Ayahnya Athaya dan juga Adelard.


“Pagi, Ayah. Pagi Athayang.” Sapa Aleyza dengan riang. Kehadirannya langsung disambut dengan senang hati oleh Athaya dan juga Abimana.


“Sini sayang, duduk dulu. Kita makan sama-sama, ya.” Titah Shafia yang langsung dituruti oleh Aleyza.


“Hehe, Eyza kan emang niatnya mau makan disini Bun.” Balas Aleyza tidak tahu diri.


“Ouh iya, Bun. Adelard mana?” tanya Abimana celangak-celinguk karena tak mendapati putra sulungnya di meja makan ini.


“Em, bang Adelard ada di depan. Ayah nggak marah kan kalau Eyza siram bang Adelard pakai air bekas mandiin Miko?” tanya Aleyza lugu.


“Loh, emang nya kenapa sampai kamu siram dia begitu?” tanya Abimana penasaran.


“Habisnya bang Adelard nyebelin, masa dia ngatain Miko tuh kalah imut dan lucu sama kelinci-kelinci dia. Padahal kan Miko gantengnya udah sama kayak Athaya.” Aku Aleyza yang mana membuat Athaya menatap geram ke arah Aleyza. Bisa- bisanya gadis itu mengatakan bahwa Red panda yang bernama Miko itu sama ganteng nya dengan dia.


“Nggak usah samain Miko sama gue, Za.” Ucap Athaya. Aleyza malah cengengesan.


“Ya sudah, nggak apa-apa. Lagi pula kamu sama Adelard kan emang suka begitu.” Jawab Abimana, ia cukup tahu bahwa putra sulung nya itu memang suka sekali ketika mengjahili Aleyza atau bahkan memancing ke kesalan Aleyza.


“Ouh iya, orang tua kamu memang nya nggak ada di rumah?” tanya Shafia penasaran.


Aleyza menggeleng pelan dengan tangan yang sibuk mengambil lauk pauknya. “Nggak, lagi pula semalam mereka ada urusan katanya. Biasa, sama rekan bisnis mereka.”


“Kamu nggak diajak gitu?” tanya Abimana merasa bingung.

__ADS_1


Aleyza mengukir senyuman sendu. “Kalau disana udah ada bang Evans, mereka nggak ngebutuhin Eyza. Lagi pula kan mereka juga pastinya malu punya anak kayak Aleyza. Seberusaha apapun Eyza, Eyza akan tetap kalah dengan bang Evans yang selalu mereka banggakan.”


Suasana hening saat itu juga. Shafia jadi merasa bersalah karena mengambil topik yang salah. Athaya yang sejak tadi hanya diam pun kini beralih menatap Aleyza. Gadis itu memang terlihat baik-baik saja, tapi Athaya yakin kalau batin Aleyza jauh dari kata baik.


“Udah, jangan ngerasa sedih gitu. Masih ada keluarga gue yang juga keluarga lo. Nggak perlu ngerasa sendirian ya,” ujar Athaya.


“Iya, makasih Athayang.” Balas Aleyza lalu terseyum lebar.


Athaya mengangguk. “Cepet habisin makan nya.”


Aleyza mengacungkan jempolnya lalu mulai memakan makanannya. Melihat Aleyza yang makan selahap itu membuat Athaya senang. Ia pun menepuk pelan puncak kepala gadis itu.


“Nanti selesai makan kita main ya, lo mau kan main sama gue?” tanya Athaya, berbisik di telinga Aleyza.


“Mau, mau banget Athayang.”


***


“Hehehe, bang Adelard. Gue minta maaf ya, habisnya lo juga nyebelin sih.” Ucap Aleyza sembari cengengesan.


“Y.” balas Adelard singkat, ia malas jika harus meladeni Aleyza.


“Emm bang, nggak ada niatan buat bucin gitu? Atau nggak ya jadi **** boy aja. Tiap hari kan bisa ganti-ganti cewek, keren kayaknya.”


Athaya yang merupakan adik dari Adelard itu menoleh sinis ke arah Aleyza. Bisa-bisa nya gadis itu menghasut abangnya untuk menjadi seorang lelaki yang **** boy.


Adelard menggelengi ucapan Aleyza malas. “Nggak ada niatan gue buat gitu-gituan.” Jawabnya.


“Nggak usah di dengerin bang, emang kebiasaan nya tuh ngehasut-hasut orang.” Timpal Athaya.


Ketiganya kini tengah berada di sebuah taman. Niatnya, Athaya hanya ingin mengajak Aleyza saja. Tapi, kakak kurang ajar nya itu justru ikut Bersama mereka. Katanya sih tidak ingin membiarkan Athaya dan Aleyza hanya berduaan saja. Kan cowok dan cewek hanya berduaan saja yang ketiga nya pasti setan. Tapi lihat, seperti nya saat ini yang menjadi setan nya adalah Adelard sendiri.


“Ih, apaan sih Athaya. Nggak apa-apa bang kalau jadi **** boy, keren tau. Jangan dengerin si Athaya ah.”


“Ck! Gue nggak mau ah jadi **** boy, nggak ada faedah nya sama sekali. Lagi pula, males banget gue kalau harus bucinin cewek. Cewek itu kan suka ribet, gue aja kadang heran kenapa noh adik gue sendiri bisa-bisa nya ngebucinin lo.” Balas Adelard. Lelaki itu memandang ke arah Athaya heran.


“Apaan sih bang, lo belum tau aja gimana rasanya jadi bucin sih. Rasa nya tuh…. Ah mantap.” Ucap Athaya sembari terkekeh pelan.


“Nggak waras lo, emang nya lo nggak ada niatan buat cari cewek lain gitu. Tha?” tanya Adelard.


“Mana sempat, gue terlalu sibuk ngurusin Aleyza sampai nggak punya waktu buat cari cewek lain.” Balas Athaya tenang.


Aleyza membulatkan matanya. “Apa?! Jadi, kalau lo nggak sibuk ngurusin gue lo mau cari cewek lain?! Mau gue bunuh lo?!”


Athaya refleks mengusap telinganya. Mereka bertiga langsung menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di sekitarnya. Athaya benar-benar harus menyiapkan mental jika bepergian dengan Aleyza yang takt ahu malu itu.


“Ck! Nggak usah teriak-teriak gitu, Aleyza!” geram Adelard.


Athaya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Nggak gitu, Eyzayang.”


“Kenapa kita nggak pacarana aja sih?!” tanya Aleyza kesal.


“Eh buset, nih cewek.” Timpal Adelard. “Sadar, Eyza. Sadar yok.” Lanjutnya.


“LDR terjauh itu adalah saat Assalamualaikum di balas dengan Shaloom. Benar nggak nih, Tha?” tanya Adelard.


“Benar bang, benar banget. Sama kayak gue dan juga Aleyza. Asu pokoknya.” Balas Athaya.


“Ya mau gimana lagi, Tuhan nya memang satu, gue sama Athaya yang tak sama.” Jawab Aleyza yang mana membuat Adelard dan juga Athaya terdiam seketika.


Benar, benteng Aleyza dan Athaya terlalu besar mengakibatkan keduanya terluka lebih dalam tanpa mereka sadari.

__ADS_1



__ADS_2