Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Hukuman dan kembalinya teror


__ADS_3


Selepas dari ruangan OSIS, Aleyza memutuskan untuk Kembali ke kelasnya.


“Heh! Ketos nggak becus!”


Itu adalah Leira, siswi paling sok berkuasa di sekolah mereka. Gadis itu datang menghampiri Aleyza Bersama satu temannya.


Aleyza memutar bola matanya malas. Harusnya ia tadi tidak pergi secepat ini dari ruangan OSIS. “Apaan sih lo! Sana ah, jangan halangi jalan gue!”


Leira membulatkan mata. Aleyza adalah musuh terbesarnya di sekolah. Ia tidak menyukai gadis itu karena bisa menjabat sebagai Ketua OSIS dan Aleyza yang selalu menjadi prioritas Athaya yang merupakan sosok lelaki yang paling di idam-idamkan oleh para gadis di SMA Trunajaya.


“Nggak usah songong lo! Mentang-mentang ketua OSIS aja lo songong!” ucap Leira seraya mendorong dada Aleyza dengan jari telunjuknya.


“Letak songong nya gue dimana ya? Perasaan gue nggak pernah songong tuh. Lo itu mengatai diri sendiri heh?!” balas Aleyza sarkas.


Leira mengepalkan kedua tangannya erat. Ia menatap Aleyza nyalang dengan gigi bergemelutuk menahan amarah. “BANYAK OMONG LO! DASAR CEWEK MURAHAN! DI GILIR SAMA ANAK-ANAK THE VAGOS AJA BANGGA!”


Leira hendak melayangkan tamparan, tapi dengan cepat Aleyza mencekal tangan gadis itu.


“Apa? Gue murahan yang mau di gilir sama anak-anak The Vagos? Omongan lo di jaga ya! Kalau nggak tau apa-apa mending diem deh. Dan ya, lo mau nampar gue?” Aleyza berdecak pelan. “Gue yang bakalan nampar lo duluan.”


Plak.


Tamparan keras berhasil mendarat mulus di pipi Leira. Gadis berambut pirang itu memegang pipi kirinya yang terasa panas dan perih. Kedua matanya berkaca-kaca menatap penuh benci ke arah Aleyza.


“Lei, lo nggak apa-apa kan?” tanya Celma pada Leira.


Tanpa di duga, Leira malah menangis sekencang-kencangnya hingga membuat mereka menjadi pusat perhatian. Beberapa murid pun langsung mengerumuni ketiga gadis SMA itu.


“Lo yang duluan cari masalah, lo juga yang mulai men drama. Gue potong leher lo mati lo!” Aleyza bersedekap dada, menatap remeh ke arah Leira tentunya.


“Gila! Si Leira macam-macam sama si Aleyza.”


“Ih kok ketos gitu sih, se enaknya aja tau.”


“Ketos sih, jadi ya se enaknya ya.”


“Sutt, pawang nya galak-galak kalau udah ngamuk.”


Aleyza dapat mendengar cibir-cibiran itu. Tapi, tenang saja. Aleyza tidak akan terpengaruh oleh omong kosong mereka.


“Lo jadi cewek jangan lemah makannya! Dan ingat ya, lo yang mulai duluan, lo yang ngatai gue, jadi ya nggak salah kalau gue bertindak nekad ke lo. Jangan pernah mengusik hidup gue kalau lo mau masih mau ada di dunia ini!” setelah mengatakan itu, langkahnya dihadang oleh Bu Ratna. Sepertinya, guru itu sudah melihat semua aksi Aleyza tadi.


“Aleyza, ikut ke ruangan saya sekarang juga!” titah Bu Ratna yang mau tidak mau harus Aleyza ikuti.


***


Di ruangan Bu Ratna, kini suasana terasa mencekam. Meskipun begitu, Bu Ratna tak membuat Aleyza gentar. Bahkan, sekarang gadis itu sedang menyenderkan punggungnya di kursi dengan santai. Raut wajahnya datar, menatap tak minat ke arah guru Matematika itu.


“Apakah seperti ini perilaku seorang Ketua OSIS?” tanya Bu Ratna.


“Saya juga manusia bu, tidak luput dari kesalahan. Lagi pula, saya tidak akan seperti itu jika tidak di usik terlebih dahulu.” Balas Aleyza melakukan pembelaan.


“Di usik? Memang nya Leira mengusik kamu bagaimana? Ibu juga melihat kalau kamu yang nampar dia duluan, Aleyza.” Bantah Bu Ratna.


“Saya memang yang menampar dia duluan.” Aleyza bersedekap dada. “Tapi saya juga punya alasan. Saya nggak akan mungkin nampar dia duluan, kalau dia nggak menghina saya. Kalaupun ibu ada di posisi saya, saya yakin ibu pun akan menampar dia.”


“Meski dia menghina kamu, nggak seharusnya kamu nampar dia kan? Kamu ini di sini punya jabatan sebagai Ketua OSIS. Seharusnya kamu berpikir dahulu sebelum mau bertindak, Aleyza. Apapun alasan kamu, saya tetap akan menghukum kamu.”


Aleyza berdecak malas. “Apa? Menghukum saya? Ya tidak bisa bu, saya nggak sepenuhnya salah!”


“Saya tidak menerima penolakan, sebagai hukuman. Kamu harus mengerjakan seluruh Latihan soal yang saya berikan. Saya di sini sebagai guru kamu, dimana adalah orang tua kamu ketika di sekolah. Maka dari itu turuti perintah saya!”

__ADS_1


“Saya heran sama ibu, ibu kalau ke saya tuh kayak yang punya masalah banget tau! Saya salah apa sih bu? Heran tau.” Tanya Aleyza mengeluarkan isi hatinya yang tertahan selama ini. Bukan tanpa alasan, tapi Bu Ratna ini memang seperti yang sangat tidak menyukai Aleyza. Bahkan, ketika mengajar di kelas pun ia pasti akan bertindak sinis padanya.


Bu Ratna terlihat tidak peduli. “Terserah kamu mau berbicara apa! Silahkan kamu Kembali ke kelas, saya tunggu Latihan soal itu harus sudah selesai.”


***


Di markas The Vagos.


Athaya mendekat ke arah Aleyza yang sedang duduk lesehan di lantai. Gadis itu tampak asyik dengan laptop dan juga beberapa lembar kertas entah apa.



Tanpa aba-aba, Athaya menarik kertas yang sedang Aleyza pegang.


“Ngapain kamu ngerjain soal-soal ini?” Athaya mengernyit bingung.


Aleyza memandang sinis ke arah lelaki itu. “Aku di hukum! Dan harus kerjain seluruh soal ini!”


“Serius? Seorang ketua OSIS juga bisa di hukum? Wah nggak nyangka gue.” Adian menggeleng masih tak percaya.


“Ya, kan si Aleyza juga manusia. Dia juga bisa ngelakuin kesalahan kali. Ouh iya, lo pasti capek kan, Za. Lo mau apa? Gue turutin deh,” ujar Aldo menawarkan.


“Gue ambilkan minum deh, lo pasti haus.” Aidan ngacir dari sana menuju dapur untuk mengambil satu kaleng minuman soda. Beberapa saat kemudian lelaki itu Kembali menghampiri Aleyza.


“Dan, Eyza nggak boleh minum soda. Ganti yang lain.” Titah Athaya tidak suka.


Aidan nyengir, ia melupakan satu hal dimana Aleyza memang tidak boleh dan tidak bisa meminum minuman bersoda. Dengan cepat, ia Kembali ke dapur untuk menukar minuman itu dengan kopi, karena sudah tidak ada minuman lainnya.


“Tha, nggak ada yang lain. Adanya kopi, boleh?” tanya Aidan pada Athaya setelah sampai di tempat semula.


Athaya mengangguk. Karena mau bagaimana lagi, lebih baik Eyza meminum kopi daripada soda. Ia menerima uluran kopi favorit Aleyza dari Aidan lalu memberikannya kepada Aleyza.



“Nggak mau minum kopi,” ujar Aleyza disertai gelengan kuat di kepalanya.


“Terus mau apa, hmm?” tanya Athaya.


“Ngantuk, pengen tidur. Tapi ini masih belum beres, besok harus udah di kasih ke Bu Ratna soalnya.” Balas Aleyza dengan wajah tertekuk sebal.


“Lo kenapa bisa di hukum sih?” tanya Adelard seraya bangkit dari tidurannya. Lelaki itu beralih duduk di samping kembarannya yaitu Athaya.


“Seharusnya gue diem di ruangan OSIS nya lamaan aja, biar nggak ketemu tuh si Leira.” Balas Aleyza.


“Lah, apa hubungannya sama si Leira?” tanya Naufal dengan kening berkerut tidak paham.


“Lo lupa atau emang nggak tau? Dia kan emang nggak pernah suka sama gue. Apa lagi semenjak tau gue sama Thaya pacaran. Bah, makin punya dendam tuh cewek sama gue.”


“Kamu di apain sama dia?” tanya Athaya dengan raut wajah khawatir. Aleyza malah terkekeh pelan melihat Athaya yang khawatir padanya.


“Dia ngatain aku cewek murahan yang mau di gilir sama kalian semua. Ya aku nggak terima dong, aku tampar aja dia.”


“Sial*n! berani-berani nya dia ngatain lo! Tapi, emang seharusnya tuh cewek di tampar.” Puji Aldo seraya bertepuk tangan.


“Gila lo, Do!”


“Tunggu, kemarin lo bilang selalu dapat pesan dari nomor nggak di kenal kan? Lemuel kayaknya bisa bantu lacak tuh,” ujar Adelard beralih topik.


Lemuel yang merasa disebut Namanya pun menoleh ke arah Adelard.


“Boleh tuh. Bentar, biar gue ambil hp dulu.” Balas Aleyza lalu mengambil almamater sekolahnya yang tergeletak di sofa. Gadis itu merogoh saku almamater tersebut untuk mencari ponsel.


“Eh, kertas apaan nih?”

__ADS_1


Aleyza menatap secarik kertas lusuh disana. Dengan cepat, gadis itu membukanya.


Yang lainnya pun ikut penasaran, mereka memandang Aleyza yang tengah membuka lipatan kertas itu dengan tidak sabaran.



“Maksud nya apa sih?” tanya Aleyza sedikit tidak paham.


***


“Nomor nya nggak aktif.”


Lemuel melempar ponsel milik Aleyza ke arah Athaya yang dengan sigap menangkapnya.


“Serius nggak aktif?” tanya Athaya pada lelaki itu.


“Nggak usah ngeraguin gue lo! Emang nggak aktif tuh nomor.” Balas Lemuel sedikit tidak suka. Lelaki itu membuka kemeja nude nya, memperlihatkan roti sobek di perut miliknya.


“Peneror itu cerdik, dia juga nggak bakalan lengah. Pasti udah mikirin setiap rencananya cukup matang.” Balas Naufal.


Athaya memijat kepalanya yang terasa pening. Ia mengambil kertas yang Aleyza temukan tadi, lalu menaruhnya di atas meja. Matanya memandang kertas itu dengan bingung.


“Ada yang paham sama maksud dari isi kertas ini?” tanyanya.


“Mana saya tahu, kok nanya saya. Dahlah, gue mules mau kebelakang dulu.” Balas Aidan. Tanpa menunggu persetujuan dari yang lainnya. Aidan langsung pergi dari hadapan para sahabatnya.


“Lo paham, Do?” tanya Athaya pada Aldo yang sudah mengantuk.


“Hah? Gimana? Paham apa?” balas Aldo kelimpungan.


“Gue paham,” ujar Adelard mengajukan diri. Kembaran Athaya itu menghampiri Athaya lalu ikut duduk Bersama. Ia mengambil buku dan pulpen di dalam tas milik Aleyza. Tak lupa juga, ia mengeluarkan ponselnya.


Athaya yang tidak paham pun hanya melihat apa yang akan abangnya lakukan.



“Mati! Pembunuh harus mati!” Lemuel tersenyum miring.



Athaya dan yang lain membulatkan mata.


“Peneror yang sama! Dan dia benar-benar ngincar Aleyza.” Ucap Aidan.


“Kertas ini ada di almamater Aleyza, itu berarti…, pelakunya juga ada di sekolah? Apa hari ini ada orang lain di sekitar Aleyza?” Athaya menatap satu per satu sahabatnya.


“Nggak mungkin pelaku itu salah satu di antara kita kan?” tanya Athaya.


“Sembarangan lo!” Aldo tertawa. Ia merebut kertas itu dari tangan Athaya. “Kek kenal sama nih tulisan. Tapi, siapa ya?”


“Coba lo ingat, bisa jadi lo tau kan.” Balas Naufal.


“Mana bisa gue inget, lo tau sendiri kan otak gue gimana? Otak gue mah lemah.” Aldo berujar jujur.


“Maklum sih, kan emang sebelas dua belas kayak si Aidan.” Balas Adelard mengejek.


“Sutt, bukan waktunya bercanda.” Peringat Naufal membuat keduanya diam.


“Guys! Eyza udah balik dari kamar mandi kan? Soalnya tadi di sana nggak ada!”


Mereka kompak menoleh ke arah Aidan yang baru saja Kembali dari kamar mandi markas.


Tunggu, Aleyza saja dari tadi belum Kembali dari kamar mandi. Lantas kemana ia?

__ADS_1



__ADS_2