
Sudah genap dua minggu setelah kepergian Maisie, kini baik Athaya dan Aleyza mulai Kembali seperti hari-hari biasanya.
Athaya sedang tersenyum lebar tatkala semilir angin meniup lembut permukaan kulitnya. Pagi ini, langit terlihat begitu cerah.
“Thaya! Ke kelas atau mau aku hukum?!” ujar Aleyza yang entah sejak kapan berdiri di samping nya. Sepuluh menit lagi bel berbunyi, tetapi Athaya masih setia berdiri di tengah lapangan tanpa rasa malunya.
“Di hukum juga boleh, kok.” Balas Athaya cengengesan.
Aleyza berdecak sebal. Ia merangkul Athaya secara paksa dan membawanya menuju kelas. Athaya taka da niatan untuk memberontak, sebab ia lebih senang jika begini dengan Aleyza.
Sampainya di depan kelas, Aleyza langsung menyuruh lelaki itu masuk. Ia tersenyum melihat wajah Athaya yang tertekuk sebal. Lelaki itu terlihat lucu sekali ketika sedang cemberut.
“Nggak boleh bolos-bolos terus ya sayang, awas aja kalau setelah ini kamu pergi buat bolos! Aku mau kumpul OSIS dulu, baru nanti ke kelas kok.” Aleyza menepuk puncak kepala Athaya. “Jangan banyak tingkah ya, awas aja kamu!”
Athaya melotot. “Masih pagi udah bawel aja sih, Zayang. Iya-iya nggak akan banyak tingkah. Nih diem nih.”
Aleyza terkekeh pelan. “Good boy big baby!”
“Makin sayang sama Zayang.” Balas Athaya tersenyum manis.
***
“Tha? Mamih lo kemana?” tanya Aidan setelah sadar kalau Aleyza tidak ada di antara mereka.
Keenam anggota inti The Vagos itu tengah asyik nongkrong di warung dekat markas. Bel pulang sekolah sudah berdering sejak beberapa menit yang lalu, mereka pun memutuskan untuk nongkrong terlebih dahulu.
“Lah iya ya, kemana tuh anak? Masa iya di culik om-om.” Sahut Aldo yang masih sibuk dengan mie ayam bawangnya.
“Ya bagus dong kalau di culik sama om-om, apa lagi kalau berduit. Harus di syukuri tuh.” Timpal Lemuel lalu terkikik geli.
“Mulut lo ya! Nggak liat noh pawangnya mau ngamuk.” Adelard menunjuk Athaya yang sudah menatap tajam ke arah Aldo dan Lemuel.
“Astaghfirullah, itu muka Tha. Ampun, hehe bercanda doang kali.” Kata Aldo cengengesan.
Athaya yang sedang termenung tiba-tiba di kejutkan dengan kabar tentang Aleyza yang tidak jadi kumpul OSIS dari teman-temannya. “Tha, tadi kata Alice si Aleyza kagak ada kumpul OSIS tuh. Terus tuh bocah kemana?”
“Hah?! Serius? Tumben banget tuh bocah bolos kumpul OSIS, biasanya kan paling rajin.” Adelard menggelengkan kepalanya heran. “Ada apa kenapa ya.”
“Lo nggak bohong kan, Fal?! Awas aja kalau lo bohong. Gue patah in leher lo.” Ancam Athaya.
“Astaghfirullah, Tha. Sadis amat lo,” ujar Naufal.
“Terus si Alice kemana, Fal?” tanya Aidan.
__ADS_1
“Ngapain lo nanya-nanya cewek gue hah?! Mau apa lo?!” balas Naufal dengan wajah kesal. “Awas aja kalau lo ada niatan buat merebut Alice dari gue!”
“Ngeri, ngeri, bucin abis lo.” Aldo nyengir kuda. “Padahal kan si Aidan cuman nanya doang, biasanya kan tuh cewek lo ngikuti lo gitu.”
“Banyak omong ah lo, mau gue potong tuh bibir?!” Naufal melotot.
“Ngeri lo ah!”
Ting!
Suara notifikasi yang berasa dari ponsel Athaya, membuat cowok itu segera membukanya. Senyumnya mengembang tipis setelah melihat nama Aleyza tertera di layar.
Athaya refleks mengumpat. Kelima sahabatnya itu pun langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung. Athaya terlihat sekali sedang panik dan khawatir.
“Tha, lo kenapa?” tanya Naufal, mewakili.
“Si mamih lo pada lagi ada dalam masalah. Gue cabut dulu kalau gitu.” Balas Athaya kemudian pergi dari kantin tanpa berkata-kata lagi.
***
Setelah memacu cepat motornya di jalanan, akhirnya Athaya sampai di rumah Aleyza. Jantung lelaki itu berdebar kencang dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya.
“Za, Zayang! Kamu dimana, Za?!”
Athaya mencari keberadaan gadis itu. Ia berdecak sebal karena tidak kunjung menemukan Aleyza di dalam rumah, termasuk di dalam kamar.
Athaya pun berjalan menuju belakang rumah. Matanya menangkap siluet seorang gadis yang sedang dirinya cari sedari tadi. Aleyza sedang duduk termenung di kursi halaman belakang rumah.
Athaya langsung berlari menghampirinya, kemudian memeluknya dari belakang.
“Za…, kamu bikin aku khawatir setengah mati!” ujar Athaya, masih dalam posisi mendekap erat tubuh Aleyza. Ia mengelus kepala gadis itu yang bersandar di dada bidangnya.
“Tha, ini jantung aman?” gumam Aleyza.
“Hah? Jantung?”
“Iya, detak jantung kamu kenceng banget gila.” Balas Aleyza lalu beralih memegang tangan lelaki itu. “Tha, kamu kenapa sih?”
“Za, setelah kamu bikin aku panik dan khawatir setengah mati tapi dengan santainya kamu bilang gitu hah?!” kata Athaya. Ia menatap Aleyza tak percaya, lalu melepas pelukan mereka.
“Kan aku Cuma nanya, Tha.”
__ADS_1
“Pertanyaan kamu nggak faedah, dahlah males aku jadinya.” Balas Athaya. Ia mengecek seluruh tubuh Aleyza untuk memastikan sang mamih nya itu tidak apa-apa.
“Aku nggak mau kamu kenapa-napa, Za. Kamu tau kan? Se sayang apa aku ke kamu? Se khawatir apa aku kalau kamu kenapa-napa? Kamu itu hidupku, dan juga duniaku.” Athaya menghela napas Panjang lalu Kembali melanjutkan. “Kalau kamu nggak, dunia ku hancur.”
Athaya tersenyum sembari mengusap lembut kedua pipi Aleyza. Tatapan teduhnya itu mampu membuat Aleyza semakin luluh dengan nya.
“Thayang, makasih. Makasih udah mau sayang sama Eyza, makasih udah mau menganggap Eyza adalah hidup dan dunia kamu ya. Maaf kalau aku bikin kamu khawatir terus.” Kata Aleyza begitu terharu dengan ucapan Athaya. “Tetap jadi Athaya yang Eyza kenal ya sayang.” Lanjutnya kemudian memeluk lelaki itu lagi.
Athaya tersenyum hangat mendengar ucapan Aleyza, ia pun membalas pelukan Aleyza tak kalah eratnya.
***
“Aaaa” Aleyza berteriak heboh dan langsung terduduk di lantai.
Anggota inti The Vagos yang sedang berada di ruang makan pun langsung menghentikan kegiatan mereka ketika mendengar suara teriakan Aleyza.
“Eyza? Ada apa dengan dia?” tanya Athaya dengan kernyitan di dahinya.
“Di cek dulu coba.” Timpal Naufal.
Mereka semua pun berlari menghampiri Aleyza, betapa kagetnya mereka ketika melihat Aleyza yang sedang histeris duduk di lantai dengan jari tangan yang mengeluarkan darah.
Athaya melotot, jantungnya Kembali berdebar sangat kencang. Ia segera menghampiri Aleyza. “Za, kok bisa?” pekik Athaya merasa heran. Ia pun berjongkok kemudian menggendong Aleyza ala bridal style.
Athaya membawa Aleyza menuju ruang tengah untuk mengobati lukanya, sedangkan kelima inti The Vagos masih diam di tempat. Mereka semua merasa heran, siapa yang tega mengirimi Aleyza paket yang berisi silet.
“Siapa yang berani macam-macam dengan Queen kita?!” Aidan mengepalkan dua tangannya begitu erat. “Kalau sampai gue tau siapa pelakunya! Gue pastiin dia nggak bakalan tenang selama hidupnya.”
Naufal menatap bingung ke arah paket tersebut. “Gila nih yang ngirim paket! Masa iya isi paket silet kayak gini. Jelas bikin jari tangan Eyza terluka lah.”
Lemuel yang berdiri di samping Naufal itu pun mengangguk. Mata lelaki itu mengedar, lalu berhenti pada sebuah kertas yang berada di luar bungkus paket.
“Coba baca!” Lemuel menunjuk tulisan yang ada di kertas itu.
Mereka pun kompak saling pandang satu sama lainnya.
“Sia**n! Macam-macam mereka sama kita!”
__ADS_1