Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Ini salah


__ADS_3


Ting!


“Za, handphone lo tuh.”


Aleyza meraih ponselnya yang berada di atas meja. Seketika mata nya terbuka lebar begitu melihat notifikasi yang masuk.


“Kenapa, Za?” tanya Alice melihat aneh gelagat Aleyza.


“Athaya.” Ucapnya hamper tak bersuara. Wajahnya berubah pucat pasi.


“Atha?” emang dia kenapa?” Alice ikutan panik. Pasti telah terjadi sesuatu dengan lelaki itu yang membuat air muka Aleyza berubah drastis.


“Gue harus pergi.” Aleyza berdiri dari duduknya, meraih cepat tas selempang nya lalu memasukkan ponsel dan dompetnya ke dalam tas tersebut.


Alice meraih tangan Aleyza, membuat kegiatannya berhenti sejenak. “Kemana sih?”


“Secret club. Anak buah Oktrax nahan Athaya disana. Katanya mereka bakal lepasin Atha kalau gue datang. Udah ya, gue takut Athayang kenapa-napa.”


“Tunggu dulu, Za.” Alice masih tetap bersikukuh menahan tangan Aleyza yang terlihat sudah sangat gelisah.


“Apa lagi sih, Al? gue beneran khawatir sama Atha.” Mata Aleyza mulai berlinang.rasanya ingin menangis kencang sekarang. Sungguh, ia sangat takut terjadi sesuatu pada Athaya. Tadi, setelah mengiringi Aleyza ke cafe dimana ia janjian dengan Alice, Athaya langsung pamit untuk pergi ke markas sebentar.


“Kamu yakin Athaya ditahan mereka? Coba deh kamu telpon dia dulu, atau nggak kamu hubungi anak-anak The Vagos biar mereka bisa nemenin kamu.” Saran Alice.


“Nggak aktif tau! Gue nggak mau ganggu anak-anak The Vagos lainnya. Gue juga bisa sendiri kok.” Jawab Aleyza frustasi. Gadis itu menghembuskan napasnya kasar, lalu Kembali berbicara. “Gue bisa sendiri kok, pokoknya gue harus kesana.”


Setelah mengatakan itu, Aleyza menghempas paksa tangan Alice.


Aleyza berjalan tergesa-gesa keluar cafe dan langsung meng gas motornya menuju Secret Club.


***


Brummm….


Brummm….


Brummm….


Deru knalpot yang sedang di gas saling bersahutan ditengah ricuhnya sorakan dan dukungan untuk kedua lelaki yang sedang bersiap balapan.


“Gelvino, semangat!” teriak anak buah Oktrax menyemangati.


“Athaya, always menang ya!” teriak anak-anak The Vagos yang tak kalah heboh menyemangati Athaya.


Sedang Athaya dan Gelvino tampak acuh dan tetap fokus pada jalanan gelap di depan sana.


Sesuai perjanjian, tantangan yang diterima Athaya waktu itu diadakan malam ini tepat pukul 10 malam di Jalan Raya Anggrek 2.


Di sebelah kanan, tampak Athaya Zalino Bratajaya dengan motor kebanggaannya. Tampangnya malam ini benar-benar memukai dengan setelan serba hitam itu. Menambah kesan bad boy yang dimiliki nya.


Sedangkan sebelah kiri, Gelvino juga tak kalah keren dan memukau dengan pakaian kasual.


“Menurut kalian nih ya, si Atha bakal menang nggak malam ini?” tanya Aldo.


“Menang dong, ya kali nggak menang. Adik gue mah nggak ada tandingannya.” Jawab Adelard.


Seorang gadis berpakaian seksi berdiri di tengah-tengah Athaya dan Gelvino. Tangannya yang sedang memegang bendera ia angkat ke atas sebagai aba-aba bahwa balapan akan segera di mulai.


Ting!


Ponsel Naufal berbunyi, ia mengecek notifikasi yang masuk. Naufal yang kaget dengan isi pesan itu pun langsung berlari menuju Athaya.


Ia mengangkat tangan ke atas, meminta waktu sebentar.


“Anj*ng!” maki Athaya setelah melihat isi chat itu. Ia memutar kemudi motornya hendak meninggalkan arena balap. Tapi, sebelum itu dia menyempatkan diri untuk melirik sinis ke arah Gelvino lalu pergi entah kemana.


Semua orang terheran-heran, termasuk para sahabat Athaya yang tak tau apa yang sebenarnya terjadi.


“Well, gampang banget buat bikin lo kalah.” Gumam Gelvino kemudian muncul senyuman sinis di wajah lelaki itu. Athaya pergi, dan itu artinya dialah pemenang malam ini.


***


“Tambah lagi dong cantik, bener nggak nih guys?” Brandon terkekeh menatap para temannya sembari menuang alkohol ke dalam gelas Aleyza yang mulai teleng.


Brandon James. Lelaki itu adalah wakil ketua Oktrax, musuh bebuyutan The Vagos. Orang yang sebelumnya mengirim pesan ke Aleyza dan mengatakan jika mereka telah menyekap Athaya.


Demi Athaya, Aleyza harus bertahan. Jujur, ini yang pertama bagi Aleyza menginjakkan kaki ke club malam. Belum lagi ia baru pertama kali merasakan minuman yang menurutnya sangat tidak enak serta dapat membuat panas tenggorokan.


Glekk.


Aleyza Kembali meneguk minumannya itu. Pandangannya berbayang, dan kepalanya mulai berat.


“Enghhh….” lenguh nya. Panas, tubuhnya terasa panas. Aleyza mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan.


“Wihhhh, mulai panas nih bro.” Gustian cengengesan menertawakan keadaan Aleyza dihadapannya.


“Nunggu apa lagi lo? Udah sana nikmatin!” ujar lelaki berbaju coklat menyodorkan beberapa kunci pada lelaki itu.


Brandon menggeleng, “Nanti dulu lah. Gue maunya dia yang mohon-mohon, soalnya kan tadi dia sok jual mahal."


“Bra…Bran…Brandon.” Panggil Aleyza serak. Matanya terlihat sayu dan memelas.


“Liat noh, udah nggak tahan dia. Hahahaha.”


Brandon mendekati Aleyza dan memegang tangannya. Aleyza terkejut, sentuhan Brandon rasanya seperti arus listrik yang mengalir cepat ke darahnya dan membuatnya tersengat.


“Mau apa lo hah?” Aleyza menghempas cepat tangan lelaki itu.


“Gue udah ikutin apa yang lo mau. Sekarang, ka-kasih tau gue dimana Athaya.” Gelisah Aleyza. Tubuhnya benar benar seperti terbakar.


“Gus, siniin kuncinya!” Brandon menyodorkan tangannya.


“Jangan lupa bagi bagi ya. Gue yakin dia masih perawan. Jadi main santai aja ya.”

__ADS_1


“Kita lihat aja nanti.”


Brandon menarik paksa tangan Aleyza yang sedang meronta-ronta ingin dilepaskan.


“LO BISA DIEM NGGAK SIH?!” bentak Brandon ditengah ributnya musik DJ yang sedang mengalun.


Aleyza mendengarnya, namun gadis itu mencoba melepaskan diri sekuat tenaga.


Brakk.


Brandon membuka pintu coklat di hadapannya dengan sekali hentakan setelah berhasil memutar kunci yang sebelumnya diberikan Gustian padanya.


“MASUK!”


Brandon mendorong Aleyza terlebih dahulu lalu menutup pintu tersebut.


Aleyza menggeleng, air matanya mulai bercucuran.


“KENAPA LO MALAH NANGIS?!” bentak Brandon mendekat ke arah Aleyza.


Tangan nya sedang berusaha membuka kaos yang melekat pada tubuhnya.


“Ja-jangan, ja-jangan sentuh gue! J-a jangan lakuin itu, Brandon. Gue mohon!” Aleyza berkata lemah pada Brandon sambil menggeleng pela kepadanya.


Brandon terus saja mendekat, “Apa? Mau lo mohon-mohon juga nggak bakalan gue lepasin. GUE CUMA MAU TUBUH LO!” Brandon langsung menangkap pinggang Aleyza. Membuat gelenyar aneh ditubuhnya semakin membara.


Tanpa sadar, Aleyza mengalungkan tangannya pada leher Brandon. Membuat lelaki itu lagi-lagi tersenyum devil. Ini kesempatan berharga bagi Brandon, dan ia tak akan melewatkannya. Brandon mendekatkan wajahnya, hendak mencium Aleyza sebelum….


Bugh.


Brandon tersungkur.


“ANJ*NG!” maki Athaya.


Orang yang baru saja memukul Brandon adalah Athaya. Setelah membaca pesan yang berasal dari Alice melalui Naufal tadi, lelaki itu buru-buru datang ke Secret Club.


Athaya menarik kasar kerah kaos Brandon lalu memberinya bogeman mentah di rahang pemuda itu berkali-kali.


“INI BUAT LO YANG UDAH BERANI BOHONGIN ALEYZA!”


Bugh.


“BERANINYA LO BAWA DIA KE TEMPAT HARAM INI!”


Bugh.


“DAN BERANINYA LO UDAH BUAT DIA MABUK!”


Bugh.


“LO! BERANI NYA LO MAU MELECEHKAN DIA!”


Bugh.


“ANJ*NG!”


Glep.


Kegiatan Athaya yang hendak terus memukuli Brandon terhenti kala sepasang tangan mendekap tubuhnya dari belakang.


“A.. atha, udah. A … Aleyza takut.” Ucap suara itu sesenggukan.


Athaya melemah. Ia pun menghentikan aksinya lalu berbalik menatap tajam Aleyza.


“ZA! LO TAU TEMPAT INI BAHAYA KENAPA MASIH DATANG?!” bentak Athaya membuat Aleyza tersentak.


“DEMI GUE? IYA?!”


“LO LUPA ATAU GIMANA?! GUE HARI INI ADA JADWAL BALAPAN SAMA GELVINO! KENAPA LO PERCAYA BANGET SAMA PESAN ITU SIH?!” Athaya tak bisa mengontrol emosi nya. Ia khawatir sangat malah.


“Tha.. ja.. jangan salahin Eyza. Eyza khawatir sama kamu! Ak … argh!” Athaya panik saat melihat Aleyza melenguh. Gadis itu mengipas-ngipas tubuhnya dengan tangan.


“Za, ka… kamu kenapa. Za?” Athaya memegang kedua Pundak Aleyza. Membuat gadis itu Kembali meremang.


“Pa… panas.” Jawab Aleyza.


Athaya mengernyit heran. “Kenapa sih, Za?!”


Athaya memegang dahi Aleyza yang berkeringat dingin. “Ada yang sakit?” tanya lelaki itu lagi.


Aleyza menggeleng. “Panas, Tha. Panas!” Aleyza hendak mengangkat bajunya ke atas, namun langsung ditahan oleh Athaya.


“ZA! JANGAN GILA KAMU!” Athaya kehabisan akal. Mengurut pelipisnya pelan lalu teringat akan satu hal.


“Sh*t! Brandon sialan!” umpat Athaya. Ia tahu, Brandon pasti telah memasukkan sesuatu ke dalam minuman yang Aleyza minum.


“Tha, to-tolongin Aley. Pa-panas, Aley nggak kuat.” Lagi-lagi Aleyza meremang. Aleyza meraih tangan Athaya lalu menuntunnya untuk mengelus leher gadis itu.


Panas itu datang Kembali, karena tak tahan. Aleyza pun mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibirnya dengan bibir Athaya, membuat lelaki itu mematung di tempat.


“Ini..., ini salah, Za!” batin Athaya.


Saat akan menarik diri, Aleyza justru menahan tengkuk Athaya dan tak membiarkan lelaki itu pergi.


Athaya yang terbawa suasana, kini mulai mengambil alih ciuman yang diawali oleh Aleyza.


Akibat dari hawa yang sama-sama mulai memanas. Athaya pun menggendong Aleyza ala bridal style menuju kamar tadi lalu mengunci rapat pintu tersebut dari dalam.


Athaya sadar yang akan dilakukannya salah. Namun, otak dan tubuhnya saat ini tidak berjalan dengan sinkron.


***


“Gimana?” Alice menatap harap ke arah Naufal.


Naufal menggeleng. “Nggak diangkat,” ujar lelaki itu frustasi. Menghembuskan napas Lelah lalu Kembali duduk di bangkunya.

__ADS_1


Setelah kepergian Aleyza, Alice langsung menghubungi Naufal. Kebetulan, Naufal yang sedang berada di arena balapan pun langsung memberitahu Athaya. Dan Ketika Athaya pergi menyusul Aleyza, Naufal bergegas menjemput Alice dan berkumpul di basecamp.


“Mereka berdua gimana ya? Kok gue jadi khawatir gini.” Kesal Adelard.


“Coba lo telepon lagi, siapa tau kali ini diangkat.” Suruh Lemuel. Diantara mereka semua, memang lelaki itulah yang paling tenang dan sedikit dewasa.


“Nggak bisa, El. Tetap nggak ada jawaban.” Muka Naufal memerah saking kesalnya.


“Semoga aja Athaya bisa nemuin Aleyza dan mereka berdua nggak kenapa-napa.” Ucap Aidan berusaha tenang.


“Lagian Athaya kuat, gue yakin dia bisa nemuin Aleyza dan mereka berdua aman,” ujar Adelard.


***


Hoam….


Aleyza menguap. Gadis itu terbangun dari tidur nyenyak nya.


“Kok, kayak ada yang aneh ya.” Pikir Aleyza.


Mata gadis itu belum terbuka sepenuhnya. Namun, ia merasa ada sesuatu yang berat sedang menimpa perutnya yang rata.


Degh.


Buru-buru gadis itu membuka mata lentiknya dan betapa terkejutnya Aleyza kala menyaksikan wajah tampan Athaya terpampang indah dihadapannya. Aleyza memang sudah terbiasa jika tidur Bersama dengan Athaya. Ingat! Hanya tidur biasa saja! Tapi, untuk saat ini Aleyza merasakan ada berbeda dan cukup aneh.


Aleyza mengintip ke balik selimut saat merasakan hal aneh juga terjadi di bawah sana.


Mata Aleyza membulat, hamper saja ia terpekik kala mendapati dirinya dan Athaya sedang berpelukan dalam keadaan naked.


“A…, apa semalam kami melakukan hal itu?” batin Aleyza.


Aleyza menatap ke arah Athaya. Ingin rasanya memaki, menampar, bahkan memukuli pria yang tengah memeluknya saat ini. Namun, hal itu terhenti kala ia mengingat satu hal.


Dirinya lah penyebab hal itu terjadi!


Mata Aleyza mulai berlinang. Ia takut, sedih, marah, kecewa dan benci pada dirinya sendiri.


Bagaimana bisa ini terjadi? Bagaimana jika nanti dirinya hamil? Padahal ia tahu, ada benteng besar yang menghalangi Aleyza dan Athaya. Mereka harus bagaimana?


“Hiks… hiksss.” Isakan tertahan gadis itu mulai keluar. Pelan memang, namun mampu membangunkan Athaya yang masih tertidur.


Athaya mengucek matanya.


“Tha… Atha.” Panggil gadis itu sesenggukan saat Athaya mulai membuka matanya.


Sama seperti yang dilakukan Aleyza sebelumnya, Athaya juga sempat terkejut dan langsung teringat alasan mereka seranjang dalam keadaan naked.


“Za… Ak… Aku.” Ucap Athaya terbata-bata. Ia sendiri bingung harus bagaimana. Ia pun mengakui bahwa ia salah, tak seharusnya semalam ia terbawa suasana dan berakhir seperti ini.


“Cup-cup, Za sayang. Maaf, maafin aku. Nggak seharusnya aku terbawa suasana. Za, udah ya jangan nangis.” Ucap Athaya berusaha menenangkan tangis Aleyza.


“Hiks… hikss hikss…” Aleyza menghapus kasar air mata yang terus saja keluar tanpa henti dari mata lentiknya.


Aleyza menyesal.


Andai saja.


Andai saja ia mendengarkan perkataan Alice. Pasti hal seperti ini tak akan pernah terjadi.


Tes.


Air matanya Kembali jatuh dan menetes kian deras.


“Hua.. hikss… hikss. Ma, Pah, maafin Aleyza.” Raungnya tersedu-sedu.


“Za, aku janji akan tanggung jawab sepenuhnya atas kamu. Kamu tau aku sayang sama kamu, Za.” Kata Athaya berusaha menenangkan Aleyza.


Aleyza tidak menggubris, isak tangisnya berlanjut meski Athaya sudah memeluk untuk memberi ketenangan.


“Za, dengerin aku.” Athaya merenggangkan pelukan, menatap Aleyza cukup dalam. “Aku tau kalau aku salah. Tapi, aku juga bakalan tanggung jawab.”


“Hiks…”


“Za, udah ya. Kamu tau kalau aku nggak bisa liat kamu nangis gini.”


“Tha, hiks… hikssss….”


Athaya menghela napas dalam lalu tersenyum simpul seakan paham denga napa yang sedang dirasakan Aleyza. “Tenang ya, aku tau ini salah. Tapi aku yakin pasti bakalan ada jalan keluarnya.”


“Tha, aku nggak masalah sama apa yang udah kita lakuin. Cuman, ak… aku takut sama hasil ke depannya. Ka.. kalau aku hamil gimana? Kamu pasti tanggung jawab, aku yakin itu. Tapi, kamu tau kan kita beda agama Thaya. Kita be_”


“Stt….” Athaya menyela perkataan itu segera. “Nggak usah kamu ambil pusing ya, kamu tau kan aku sayang sama kamu. Udah ya, jangan nangis terus.”


“Tha, aku sayang sama kamu.” Ucapnya masih terisak.


“Udah ya, sekarang mandi. Udah gitu aku anterin pulang ke rumah kamu atau mau ke rumah aku?”


Aleyza mengelap air matanya dan menatap Athaya. “Mau ke basecamp aja boleh?”


“Boleh, aku juga takutnya anak-anak khawatir sama kita.”


“Mmmm, Za. Bisa jalan nggak? Anu-nya masih sakit?” setelah diam beberapa menit, Athaya bertanya.


Aleyza mengangguk, mengubah air mukanya jadi sinis. “Nggak usah nanya begituan bisa nggak sih?! MALU TAU!”


“Pake acara malu-malu segala. Kayak sama siapa aja sih, Za.” Athaya terkikik geli.


“Ih… Athayang!” teriak Aleyza yang kesal dengan Athaya.


Untuk saat ini, biarlah mereka berdua begitu adanya. Meski mereka sadar perbuatan mereka salah. Tapi, mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur.


“Zayang, kalau kamu hamil. Bilang ke aku ya, itu kan anak aku juga. Biarkan aku bertanggung jawab,” ujar Athaya lembut sembari menatap Aleyza dalam dan langsung mengecup kening Aleyza penuh kasih sayang.


__ADS_1


__ADS_2