Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Aleyza yang berubah


__ADS_3


Mulai renggang nih. Makin mudah dong buat gue bunuh lo dan anak sialan yang ada dikandungan Lo itu.


Aleyza tertawa. Gadis itu melempar ponselnya hingga terdengar bunyi pecahan.


Kedua tangannya mengepal kuat, bibirnya memang mengulas senyuman. Tetapi matanya tidak berhenti meneteskan air mata. Aleyza merasa dirinya mulai gila. Ia benar-benar merasakan kehampaan hidup yang luar biasa sakitnya.


Pertengkarannya dengan Athaya sungguh membuat Ia kacau. Disaat butuh dukungan dari Athaya, kini ia malah mendapatkan pengabaian bahkan diragukan akan anak yang dikandungnya.


Aleyza melangkahkan kakinya menuju meja belajar. Tatapan matanya tertuju pada cutter yang sering ia gunakan. Dengan cepat ia mengambilnya.


"Thaya beneran nggak akan peduli lagi sama gue ya?"


Aleyza melangkah menuju balkon kamarnya. Dinginnya angin malam meniup lembut permukaan kulitnya. Kedua mata sayu Aleyza memandang sendu ke arah kamar Athaya yang berseberangan dengan kamarnya.


"Thaya, kenapa bisa Lo raguin anak Lo sendiri? gue sakit, Tha. Sakit."


Aleyza tersenyum lega saat tangannya mulai mengeluarkan sedikit darah segar akibat goresan yang dirinya ciptakan.


"Lo kira, dengan hidup begini nggak capek? andaikan bisa milih, gue juga nggak mau kalau sampai hamil gini. Tapi mau gimana lagi? bukannya kita berdua yang salah? tapi kenapa kesannya gue salah sendiri."


Aleyza mendongakkan pandangannya untuk menatap langit malam tanpa taburan bintang. "Eyza cuma punya Athaya. Tapi, kalau Athaya udah nggak peduli sama Ezya. Eyza harus sama siapa?"


"Keluarga?" Aleyza tertawa miris. "Gue nggak punya keluarga."


"Tha, gue nggak mau kehilangan Lo. Dengan Lo dekat sama Caitlin buat gue takut kalau Lo bakalan berpaling ke dia." Aleyza mulai terisak dalam tangisnya. "Tapi, kenapa lo malah nggak ngerti itu sih Tha?"

__ADS_1


Aleyza memukul dadanya yang semakin terasa sesak. "Gue harus apa, Tha? kalau Lo nggak peduli sama gue, oke gue juga akan berlaku begitu ke Lo."


Aleyza memejamkan kedua matanya. Ia tahu bahwa yang ia punya hanya Athaya. Namun, ketika lelaki itu sudah tidak memperdulikan nya untuk apa ia tetap berharap pada Athaya? Untuk saat ini, Aleyza akan berperilaku biasa saja. Ia akan buktikan bahwa tanpa Athaya pun ia bisa bertahan.


***


Athaya berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali. Lelaki itu melangkah cepat menuju kelas Aleyza.


Ia menyesal telah memarahi Aleyza, bahkan mengatakan bahwa dirinya sudah tidak akan peduli pada Aleyza. Bagaimana pun juga, Aleyza adalah orang yang dia sayang dan kini ia sedang mengandung anaknya. Ia tidak ingin terjadi hal buruk kepada keduanya.


Dengan menguatkan tekadnya, Athaya masuk ke dalam kelas gadis itu. Terlihat hanya Aleyza saja yang berada di kelas. Gadis itu membenamkan wajahnya pada lipatan tangannya di atas meja. Dengan langkah pelan, Athaya berjalan menghampiri Aleyza.


"Eyza?" panggil Athaya dengan suara bergetar.


Cukup lama Athaya menunggu, tetapi tidak kunjung mendapatkan jawaban. Lelaki itu pun memutuskan untuk menepuk pundak Aleyza pelan.


Tindakannya itu berhasil membangunkan gadis itu. Kedua mata Athaya membulat saat melihat kondisi mata sembab Aleyza.


Aleyza memandang datar ke arah Athaya. Tatapan hangat yang selalu Athaya dapatkan kini tidak ada lagi. Senyuman manis yang selalu Aleyza berikan kepada Athaya kini seolah sirna. Hanya tatapan dingin tidak suka yang Athaya terima.


"Mau apa?" tanya Athaya.


"Za, ayok kita kompres mata Lo biar nggak terlalu bengkak" tawar Athaya. Lelaki itu hendak menarik tangan Aleyza, tetapi gadis itu buru-buru menjauhkan tangannya dari Athaya.


"Nggak perlu, gue nggak butuh itu," balas Aleyza.


Perkataan Aleyza tentu membuat Athaya bingung. Sebelumnya, ia tidak pernah diperlakukan seperti orang asing oleh Aleyza.

__ADS_1


"Za, Thaya minta maaf. Jangan pikirin semua ucapan Thaya kemarin ya." Athaya menundukkan kepalanya dalam.


"Pergi Lo," titah Aleyza membuat Athaya mendongakkan kepalanya.


Aleyza berdecak sebal dibuatnya. "Pergi ke kelas Lo, gue muak liat muka Lo."


Athaya menatap Aleyza bingung. "Za, kok pakai Lo gue?"


"Gimana gue," balas Aleyza dingin.


Athaya menatap Aleyza tidak percaya. Ternyata, kalimatnya kemarin benar-benar membuat Aleyza sakit hati sampai begini. "Maaf, Za."


Aleyza menggusah napas berat. Gadis itu berdiri dari duduknya. "Kalau Lo yang nggak mau pergi, biar gue aja yang pergi."


Sebelum Aleyza benar-benar pergi, Athaya terlebih dahulu mencekal tangan gadis itu. "Aww." rintih Aleyza ketika tangan yang ada bekas goresannya tertekan oleh Athaya. Athaya sendiri tentu kaget, ia tidak terlalu mencengkeram erat tangan Aleyza.


"Za, tangan kamu kenapa?" tanya Athaya. Ia menggulung kan lengan seragam Aleyza, betapa terkejutnya Athaya ketika melihat bekas goresan luka.


"Kamu kenapa jadi gini, Za? ayok, kita ke UKS biar aku obatin Luka nya."


Aleyza berdecak pelan. "Ngapain Lo peduli? bukan nya kemarin Lo sendiri yang bilang nggak bakalan pedulikan gue? terus kenapa sekarang Lo se akan-akan peduli?!" ucap Aleyza, ia segera pergi dari hadapan Athaya. Membuat lelaki itu membulatkan matanya tidak percaya.


"ZA! TUNGGUIN THAYA!" teriak Athaya seraya mengejar Aleyza.


"GUE NYESEL BILANG GITU ZA, GUE NYESEL"


Aleyza nya kini berubah. Sungguh, Athaya menyesali perkataannya kemarin.

__ADS_1


***



__ADS_2