
Aleyza langsung membuang pandangannya ke arah lain saat Evans dan kedua orang tuanya datang mengunjungi.
Ini adalah hari kelima ia dirawat, tetapi mereka baru bisa mengunjunginya. Benar-benar setidak penting itukah Aleyza sampai kedua orang tuanya tidak khawatir sedikit pun?
“Za, maaf ya kita baru kunjungi kamu sekarang. Gimana kondisi kamu? Baik-baik aja kan?” tanya Evans pada Aleyza dengan sorot mata bersalah. Ia hendak menyentuh Aleyza, tetapi saudara tirinya itu dengan cepat menepis tangan Evans.
Keyla yang melihat tingkah kasar Aleyza pun menatap anaknya itu dengan kesal. “Tolong jaga sikapnya, Aleyza. Saya sebagai mamah kamu nggak pernah ya ngajarin kamu buat kasar sama abang kamu sendiri!” katanya penuh dengan nada sedikit meninggi.
Evans menyentuh lengan tangan Keyla dengan lembut. “Mah, udah ya. Aleyza lagi sakit, nggak seharusnya mamah begitu sama dia.”
Keyla menarik napas Panjang untuk menetralkan emosinya. Setidaknya, ia harus ingat bahwa mereka saat ini sedang di rumah sakit bukannya rumah mereka.
“Gimana? Masih mau berteman dengan mereka yang mengakibatkan kamu begini? Coba saja kamu tidak berteman dengan anak-anak geng sialan itu. Kamu pasti tidak akan seperti ini. Sudah pembawa sial, selalu merepotkan lagi. Mau jadi apa kamu ke depannya jika terus-terusan begini?” tanya Kendrick dengan nada tak bersahabat.
“Gimana pah? Pembawa sial dan selalu merepotkan?! Nggak salah? Justru kalian yang bikin Eyza kayak gini!” balas Aleyza tidak terima.
Kendrick berdecak pelan. “Kamu itu tidak pantas berteman dengan mereka, mereka itu berbahaya. Lihat, kamu saja sampai seperti ini pasti karena ulah musuh-musuh geng berandalan itu.”
Aleyza pun berdecak pelan. Ia menertawakan ucapan Kendrick itu. “Hahaha, papah tau apa sih tentang mereka? Orang tentang anak sendiri aja papah nggak tau apa-apa. Masa sama mereka mau sok tau sih.” Ia menatap kedua mata orang tuanya itu dengan aneh. “Eyza benar kan pah, mah?” lanjut Aleyza.
“Aleyza, cukup! Kamu ini sama orang tua nggak ada sopan- sopan nya ya!” balas Keyla menggebu-gebu.
Bola mata Aleyza menatap ke atas seperti sedang berpikir. “Gimana mau sopan, orang selama ini aja kalian nggak pernah ngajarin Eyza kan ya. Eyza kadang mikir, Eyza ini anak kandung kalian atau bukan ya?”
“ALEYZA!” sentak Kendrick kelepasan.
“Apaan sih om, nggak usah nyentak-nyentak gitu ya. Lagian kan saya Cuma bercanda aja, baper an amat sih om nya.”
“Benar-benar kurang ajar ya kamu! Punya otak tidak kamu?! Papah sendiri di panggil om.” Tanya Keyla.
“Pah, Mah, udah ya. Jangan nambah Eyza jadi sakit,” ujar Evans mencoba menenangkan kedua orang tuanya itu.
“Lo Cuma anak pungut ya bang! Jadi mending diem aja nggak usah so peduli sama gue!” kata Aleyza emosi.
“Makin kurang ajar saja kamu!” Kendrick hendak melayangkan tamparan pada Aleyza. Tetapi, seseorang terlebih dahulu mencekal tangannya.
Kendrick menoleh ke samping, ternyata Athaya yang melakukan itu.
“Bukannya bikin anak sendiri cepat sembuh, malah bikin makin sakit! Om ini menganggap Aleyza apa sih?! Kenapa nggak sekalian bunuh aja Eyza nya coba?! Eyza ini anak kandung kalian, tapi kenapa kalian perlakukan dia itu seperti anak tiri?! Apa pernah kalian nanya kabar Eyza? Apa pernah kalian pikirin Eyza? Pernah nggak hah?!”
__ADS_1
Kendrick terdiam dengan tangan terkepal. Kedua matanya menatap nyalang ke arah Athaya.
“Saya aja yang jadi pacarnya Eyza mati-matian jagain dia biar nggak ada satupun yang berani nyakitin dia. Tapi kalian? Kalian orang tua kandung nya aja malah bikin dia selalu tersakiti, apakah pantas kalian ini disebut orang tua hah?!"
Kendrick dan Keyla sama-sama terdiam. Begitu juga dengan Evans yang kini menundukkan kepalanya.
“Kalau kalian datang kesini Cuma mau buat Eyza makin sakit, lebih baik nggak perlu datang sekalian. Kalau kalian nggak bisa jagain Eyza, biar saya dan yang lainnya aja. Kalian silahkan pergi, dan pintu keluar ada di sebelah sana.” Lanjut Athaya.
Tangan lelaki itu menunjuk ke arah pintu ruang rawat inap Aleyza yang terbuka.
“Silahkan keluar.” Titah Athaya tanpa ingin dibantah.
Kendrick membuang pandangannya ke samping, ia sangat tidak sudi jika harus diusir oleh remaja seperti Athaya.
“Tau gini, lebih baik saya tidak kemari. Buang-buang waktu saja memang!” balas Kendrick dengan kesal. Ia menarik tangan Keyla untuk keluar.
Sementara itu, Keyla pun menarik tangan Evans agar ia ikut keluar Bersama mereka.
“Mah…, Pah…, Eyza bu_”
“Sudahlah! Diam kamu! Jangan jadi anak yang suka membantah seperti Aleyza, Evans!” serobot Kendrick.
Athaya menghela napas lega setelah melihat mereka pergi. Ia berjalan untuk menghampiri Aleyza yang masih membuang pandangannya.
Athaya tahu, gadisnya itu pasti sedang menahan tangisnya.
“Eyzayang?” panggil Athaya dengan lembut. Tangannya mengelus puncak kepala gadis itu. “Mau Thaya peluk?”
Aleyza yang mendengar itu langsung menatap Athaya dengan kedua mata berkaca-kaca. Gadis itu bangkit dari tidurannya dan segera menghambur ke dalam pelukan lelaki itu.
“Nangis aja sayang, nangis aja kalau itu bisa bikin kamu lega. Aku izinin kamu untuk nangis sekarang,” ujar Athaya seraya mengelus punggung Aleyza yang bergetar hebat.
“Kenapa mereka jahat sama aku, Tha? Kenapa mereka nggak se sayang itu sama aku? Kenapa harus selalu bang Evans yang mereka prioritaskan? Kenapa, Tha?” tanya Aleyza di sela-sela tangisnya.
Athaya semakin mengeratkan pelukannya. “Za… jangan pikir kalau kamu sendirian ya, ada aku, ayah, bunda, bang Adelard, dan anak-anak The Vagos lainnya yang sayang kamu oke.”
“Eyza sayang Thaya… Thaya sayang Eyza kan?” lirih Aleyza.
“Thaya sayang Eyza melebihi nyawa Thaya sendiri, Zayang.”
***
__ADS_1
Setelah lima hari di rawat, hari ini Aleyza sudah di perbolehkan pulang. Anggota The Vagos tadi siang ikut mengantarkannya ke rumah, membuat Aleyza merasa sangat senang.
“Tha, yang ngurusin Miko selama ini siapa?” tanya Aleyza begitu penasaran.
“Bang Delard lah, siapa lagi.”
Aleyza seketika melongo tak percaya. “Seriusan?” tanya nya lagi.
Athaya hanya mengangguk kepalanya sebagai jawaban, lalu berlalu pergi untuk membiarkan Aleyza Bersama dengan Miko. Red Panda kesayangannya itu.
Aleyza pun menghampiri Miko, ia mengelus kepala Miko itu dengan pelan sebelum memutuskan untuk keluar dari kandang.
Aleyza Kembali menutup pintu kandang red panda nya itu. Matanya tertuju ke arah jendela kamar Adelard yang terletak sebelahan dengan kamar Athaya.
“Wih, bang Delard kesambet apaan ya tumben banget.”
“ZAYANG! SINI HEH!” teriak Athaya yang duduk di atas gazebo.
Lelaki itu melambaikan tangan ke arah Aleyza membuat gadis itu dengan cepat berjalan menghampirinya.
Aleyza duduk di samping Athaya setelah sampai di gazebo. Keningnya mengerut bingung saat melihat Athaya yang merebahkan tubuhnya dengan kepala yang menjadikan pahanya sebagai bantalan.
Satu posisi yang sangat menjadi favoritnya. Lelaki itu selalu merasa nyaman jika menidurkan kepalanya di paha Aleyza.
“Mau di manja-manja dong, sayang,” ujar Athaya dengan manjanya.
Aleyza tertawa mendengarnya. Ia pun melakukannya dengan senang hati. Aleyza pun mengusap-usap pelan pipi Athaya yang mana menghadirkan ketenangan bagi Athaya sendiri.
“Ih, mamih Thaya cantik banget sih.” Puji Athaya kemudian mengukir senyuman.
Kini kedua pipi Aleyza bersemu merah. Ia mencubit pelan pipi lelaki itu karena merasa gemas. “Duh, Thayang gembel terus ya.” Ejeknya sembari terkekeh pelan.
Athaya memiringkan kepalanya untuk menatap perut Aleyza yang rata itu. Seketika ide jahilnya pun muncul untuk mengerjai sang kekasih.
Bibirnya mulai mengembangkan senyuman aneh. “Duh, jadi nggak sabar deh nungguin debay nya Thaya di sini.”
“THA!” Aleyza melototkan matanya galak. Bisa-bisanya Athaya sudah berpikiran jauh seperti itu tanpa memikirkan benteng besar yang menghalangi keduanya.
“Kan bercanda sayangku. Tapi, kalau mau juga ayok.” Ujar Athaya, yang mana semakin membuat rona pipi yang ada di wajah Aleyza semakin memerah.
__ADS_1