Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Mode Marah


__ADS_3


Athaya menggigit bibir bawahnya dengan waut wajah resah. Ia sedang dilanda kebimbangan antara menemui Aleyza atau tidak.


Sekarang ini ia sudah berdiri di depan pintu rumah cowok itu.


Baru saja Athaya ingin mengetuk pintu, tetapi pikirannya tiba-tiba berubah. Lelaki itu berdecak sebal, lalu berbalik badan berniat pulang. Tepat saat ia memutar tubuh, sesuatu menabrak dirinya.


“Kemana lo?”


Athaya meneguk ludahnya dengan susah payah saat mendengar suara yang sangat familier itu. “Eh ada Eyzayang,” ujar Athaya cengengesan.


Aleyza menatap penuh intimidasi ke arah Athaya. Sudah Athaya pastikan, saat ini Aleyza sedang dalam mode marah. Tubuh Athaya bergerak maju dan memutar tubuh Aleyza hingga membentur pintu rumah nya yang kini tepat di belakang Aleyza.


“Maaf, maafin gue karena udah pulang duluan dan ninggalin lo,” ujar Athaya membuka suara. Lelaki itu mendekatkan wajahnya ke telinga Aleyza. “Maaf, Eyzayang. Gue tau gue salah. Tapi, gue harap lo jangan marah ya.”


Aleyza refleks menatap manik mata milik Athaya. Jarak wajahnya dengan Athaya hanya tinggal satu jengkal saja. Membuat Aleyza bisa merasakan hembusan napas dari bibir Athaya.


Tidak! Untuk saat ini Aleyza tidak boleh gugup dalam situasi ini, ia sedang dalam mode marah. Jangan sampai dia mudah terbujuk oleh Athaya.


“Habis darimana lo? Sampe ngebiarin gue pulang jalan kaki.” Tanya Aleyza dengan suara yang terdengar serak.


“Sorry, Za. Gue nggak maksud gitu.” Balas Athaya terbata.


“Habis pergi sama cewek? Iya? Kalau lo pergi tuh setidaknya ngabarin gue. Biar gue nggak usah kelamaan nungguin lo. Lo tau nggak sih, Tha? Gue tuh capek habis kumpul OSIS, gue kira setelah rapat selesai gue bisa langsung pulang dan istirahat. Ternyata gue salah! Gue nungguin lo tapi lo nya lagi asyik entah sama siapa. Dan liat, akhirnya gue pulang jalan kaki.” Jujur Aleyza dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Athaya menghembuskan napas pelan. Ia akui ia melakukan kesalahan dengan meninggalkan Aleyza begitu saja dan memutuskan untuk pergi ke rumah Maisie. Jika ia bilang terlebih dahulu, mungkin Aleyza tidak akan semarah ini padanya.


“Sorry, Zayang. Kamu pasti ke capean kan?” tanya Athaya kemudian membelai lembut rambut kecokelataan milik Aleyza.


“Gue tadi pergi ke rumah Maisie, tadi ibu nya dia minta gue buat main ke rumahnya. gue kan nggak enak untuk nolak itu, Za.” Setelah meneguk salivanya susah payah, akhirnya Athaya pun bisa menjelaskan alasan nya tak menunggu Aleyza.


Alis Aleyza bertaut tajam. Kedua tangannya mengepal erat. “Ouh sama Maisie, terus ngapain lo ke sini? Kenapa nggak diem disana aja?” tanya Aleyza dengan raut wajahnya marah.


Athaya menggeleng pelan. “Sorry, Za. Gue benar-benar minta maaf.”


Aleyza menghela napas gusar. “Udah, nggak apa-apa. Lagi pula gue sadar diri, Tha. Gue bukan siapa-siapa lo, jadi gue juga nggak berhak larang-larang lo kan?” Aleyza berusaha mendorong tubuh Athaya agar menjauh dari dirinya.


Athaya menundukkan kepalanya. “Za, kenapa lo ngomong begitu? Lo tau kan se sayang apa gue ke lo? Kenapa lo berpikiran begitu?” cicit Athaya pelan.


“Gue tadi berusaha ngomong sama Pak Raja biar lo nggak di hukum terlalu lama. Setelah susah payah akhirnya Pak Raja ngijinin gue buat panggil lo masuk lagi ke kelas. Tapi sayang, setelah gue cari lo ke lapangan. Lo nggak ada disana, dan gue nggak tau lo ada dimana. Gue berpikir positif kalau lo pulang duluan ninggalin gue karena ada hal penting menyangkut The Vagos. Tapi ternyata, setelah gue tanya bang Adelard. Lo nggak ke markas, eh malah sama Maisie. Coba aja lo ngabarin gue, Za. Mungkin juga nggak bakalan begini.”


“Gu-gue lupa Za….”

__ADS_1


“No! lo bukan lupa, tapi emang sengaja.”


Athaya mendongakkan kepalanya. Lelaki itu menatap Aleyza tajam seolah tidak suka dengan ucapan gadis itu.


Tanpa lama-lama, Athaya langsung berhambur ke pelukan gadis itu.


“Please, Za. Jangan marah sama gue, lo tau gue paling nggak bisa ketika lo marah ke gue. Lo tega liat Big baby lo ini begini, Zayang?” ujar Athaya yang sudah siap untuk mengeluarkan beberapa tetes air matanya. Jangan salah, Athaya ada seorang lelaki yang memang tidak suka menangis. Tapi, jika sudah berhubungan dengan Aleyza maka hal itu tidak akan berlaku lagi.


Aleyza menghela napas Panjang. Matanya terpejam sejenak untuk meredakan emosinya.


Perlahan tapi pasti, gadis itu pun membalas pelukan Athaya.


“Kalau gue bilang gue itu cemburu apakah salah, Tha?” tanya Aleyza pelan, namun masih bisa di dengar oleh Athaya.


Dibalik pelukan mereka, Athaya menggelengkan kepala pelan. “You have every right to be jealous, my queen.” Ucap Athaya lalu mencium kening Aleyza cukup lama.


***


Pukul Sembilan malam, seluruh anggota The Vagos berkumpul di markas untuk membahas battle bulanan melawan Oktrax.


Atas intruksi Athaya, mereka semua secara berpasangan untuk mengasah kemampuan bela diri mereka.


Athaya, Adelard, dan Naufal sedang membahas strategi yang akan mereka gunakan untuk melawan Oktrax.


“Karena sebentar lagi tanggal 15, maka kita semua harus mempersiapkan diri.” Perkataan lelaki itu membuat Adelard dan juga Naufal mengangguk kompak tanda paham denga napa yang lelaki itu maksud.


“Kan emang tugasnya Adelard bagian ngatur strategi, lupa atau gimana lo?” tanya Naufal tidak santai.


“Santai napa! Nggak usah pakai acara nyolot lo! Ngomong kok pakai kuah, nih liat muka ganteng gue ternodai!” Athaya mengusap wajahnya kasar.


Adelard tertawa melihat tingkah mereka. “Buat kali ini, anggota tuh si Oktrax ada berapa banyak?”


“Seperti biasa, dua kali lipat dari kita.’ Balas Athaya setelah meneguk teh dinginnya.


“Gila, banyak amat perasaan.” Naufal menggeleng heran.


***


Di satu sisi.


“Aleyza! Pelan-pelan napa! Lo punya dendam apa sih sama gue? Gue salah apa sama lo hah?!” Aldo berteriak sembari memegang pipi kirinya yang baru saja ditendang oleh Aleyza.


Padahal, Aldo sudah menyuruh agar Aleyza melakukannya dengan pelan. Tapi, dia malah melakukannya dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


Aleyza mencebikkan bibirnya. Ia menatap Aldo penuh dendam, begitu pun sebaliknya. “Ck! Lemah lo! Baru gitu doang udah banyak ngeluh.”


“Lo kalau lagi kesal sama orang jangan di lampiasin nya ke gue dong! Sana lo ribut sama orang yang bikin lo kesal! Andaikan gue nggak takut sama Thaya, udah gue balas serangan lo dari tadi!” balas Aldo kesal.


“Banyak bacot lo! Sini lawan gue lagi!” teriak Aleyza lantang.


Aldo mengelus dadanya, mencoba untuk bersabar menghadapi makhluk seperti Aleyza. “Sabar, sabra. Lo nggak boleh lupa kalau dia ratunya The Vagos,” ujarnya pada diri sendiri.


Tanpa mereka sadari, sedari tadi sudah ada Athaya, Adelard, dan juga Naufal yang melihak mereka berlatih.


“Tha, tuh si Eyza kenapa? Kayaknya lagi emosi banget, tumben?” tanya Adelard heran.


“Nah iya, kenapa sih tuh cewek? Padahal kan masa pms nya udah lewat.” Timpal Naufal.


Athaya membuang napas pelan. “Dia lagi marah sama gue gara-gara gue pergi gitu aja ke rumah kak Maisie.” Jawabnya jujur.


Adelard dan Naufal pun kompak memandang ke arah Athaya, keduanya menggeleng-gelengkan kepala. “Bego emang lo.” Ucap keduanya kompak.


***


“Dahlah! Capek gue!” Aleyza berjalan menuju ruang tengah markas. Disana, ada Aidan yang tengah duduk di sofa.


“Heh lo Aidan! Minggiran dikit!” ujar Aleyza semena-mena.


Aidan menatap sengit gadis itu. Meskipun begitu, ia tetap menggeser tubuhnya. “Silahkan, nyonya besar.” Katanya dengan nada menyebalkan.


“Ternyata lo itu ganteng juga, Aidan,” ujar Aleyza tiba-tiba. Aidan menatapnya bingung, ini baru pertama kalinya seorang Aleyza Valerie Arkarna memuji dirinya.


“Tumben, lo lagi kesetanan apa nih sampai muji-muji gue?”


“Gue nggak muji ya! Lo kan emang ganteng, Aidan. Tapi, gue bingung kenapa lo malah jomlo.” Kata Aleyza seraya menatap kasihan ke arah Aidan.


“Ya nggak apa-apa gue jomlo. Soalnya kan gue nggak punya waktu buat main-mainin cewek. Gue maunya sekali punya cewek langsung di ajak SAH, keren kan gue?” balas Aidan.


“SAH dulu atau AH dulu nih?”


“Mulut lo Aleyza!” Aidan melotot ke arah Aleyza. “Gue sumpel pakai kaos kaki tuh mulut baru tau rasa!”


“Apaan sih, berisik lo ah!” Aleyza menutup telinganya.


“Astagfirullah, lo itu benat-benar laknat! Herman gue, kenapa bisa ya tuh si Athaya bucin banget sama lo.”


“Ya lo tanya dialah! Bukan malah nanya gue! Kalau dia bucin ke gue, berarti dia cinta sama gue, puas lo?!” aleyza menjulurkan lidahnya untuk mengejek Aidan.

__ADS_1


“Ck! Seaamiin tapi tak seiman aja bangga lo!” balas Aidan membuat Aleyza tidak lagi berkata—kata.



__ADS_2