Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Membujuk Athaya


__ADS_3


Athaya sejak tadi hanya berguling ke samping kiri dan kanan di atas kasurnya. Lelaki itu bergerak tidak nyaman karena mood nya yang hancur sedari di sekolah tadi.


Demi Miko nya Aleyza yang masih kalah ganteng dengannya, ia benar-benar ingin untuk menyiksa orang saat ini juga.


Lelaki itu bangkit dari tidurnya kemudian berjalan menuju balkon. Matanya memandang sendu ke arah kamar Aleyza yang tertutup rapat jendelanya. Bahkan, sampai malam begini Aleyza belum juga datang menghampirinya. Seharusnya Aleyza meminta maaf, bukan malah mendiamkan nya seperti ini.


“INI SEMUA GARA-GARA SI FAIS!” gerutu Athaya penuh dendam.


Tangan Athaya terkepal kuat kemudian memukul tembok yang ada di sampingnya. Lelaki itu memekik pelan saat merasakan nyeri di punggung tangannya. Tidak ingin menyerah, Athaya Kembali memukul tembok itu lagi.


Bugh.


Athaya berhenti melakukan aksinya setelah mendengar seseorang memanggil Namanya. Tatapannya menyorot datar ketika melihat kehadiran Adelard di kamarnya. Ia bangkit dari Kasur mendekati Adelard.


“Nih, gue nggak tau ini dari siapa. Tapi, yang jelas ada Namanya dan itu buat lo,” ujar Adelard seraya menyodorkan kotak kecil ke arahnya.


Athaya menerimanya dengan kening mengerut. “Seriusan lo nggak tau dari siapa bang?” tanyanya.


Adelard menggeleng. “Ya nggak tau, kok nanya gue.”


Athaya mengangguk. “Dahlah, males punya abang kek lo. Sana pergi lo!”


Adelard yang sedang tidak berdebat dengan sang kembaran pun memutuskan untuk pergi. Kaki-kaki jenjangnya itu mulai melangkah keluar dari kamar.


“Ini apa coba?” tanya Athaya seraya memperhatikan kotak berukuran sedang di tangannya itu. Karena tidak ingin menyimpan rasa penasaran terus-terusan, lelaki itu Kembali berjalan menuju kasurnya.


Dengan perlahan, Athaya membuka kotak itu. Matanya membulat saat melihat sepasang jam tangan yang sangat indah di sana.


Ia mengambil jam tangan itu dari dalam kotak dan memandangnya dengan penuh kagum. Ia sedang berpikir, siapa kah yang memberinya jam sebagus ini? Tapi, setelah di lihat-lihat jam ini untuk couple.


Pandangan Athaya tidak sengaja menatap kertas kecil yang terselip di dalam kotak. Athaya mengambilnya, kemudian membaca tulisannya.



Athaya refleks menatap kamar Aleyza yang berseberangan dengan kamarnya. Gadis itu berdiri di balkon dengan senyuman tipis yang terukir manis di bibirnya. Aleyza menunduk, seperti tengah memainkan sebuah handphone di tangannya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, suara notifikasi pesan masuk terdengar di handphone milik Athaya. Dengan cepat, lelaki itu membukanya.



***


Athaya menaiki tangga yang biasa ia gunakan untuk pergi ke kamar Aleyza.


Lelaki itu menepuk-nepuk tangannya untuk menghapus debu yang menempel di telapak tangannya. Ia menatap Aleyza yang juga tengah memandangnya.


Dengan Langkah lebarnya, Athaya masuk ke dalam kamar gadis itu. Aleyza masih setia duduk di atas Kasur. Keduanya saling tatap cukup lama. Seketika suasana menjadi canggung bagi mereka berdua, tidak seperti biasanya.


“Tha, maaf ya.” Ucap Aleyza.


Pertahanan Athaya luntur saat itu juga. Lelaki itu mengerucutkan bibirnya membuat Aleyza tidak tahan untuk memeluknya. Athaya memeluk Aleyza dengan penuh kasih sayang.


“Tha, aku beneran minta maaf ya.” Bisik Aleyza seraya mengeratkan pelukan mereka.


Aleyza membenamkan wajahnya di dada bidang Athaya. Tempat paling nyaman menurutnya.


“Aku nggak mau kalau sampai berpaling dari aku, Za.” Balas Athaya akhirnya.


“Tha, Cuma kamu yang aku sayang. Cuma kamu yang ada di hati aku, terus untuk apa aku berpaling ke orang lain?” ujar Aleyza meyakinkan.


“Serius?” tanya Athaya.


“Serius sayang, kalau aku bohong kebersamaan kita selama ini apa?” Aleyza menghela napas sabar. “Aku tuh Cuma punya kamu, Tha.”


“Za, aku nggak suka kalau kamu harus dekat-dekat sama si Fais itu. Untuk sekarang, kamu emang nggak punya perasaan sama dia. Tapi, untuk ke depannya? Apa kamu bisa jamin itu? Kamu lupa? Rasa sayang itu akan timbul dengan kamu terbiasa dengan kehadirannya. Dan aku takut itu.”


“Hey, kok gitu sih? Aku bisa jamin kalau Cuma kamu yang aku sayang.” Aleyza memegang kedua pipi milik Athaya. “Kesayangan, dan ganteng nya Eyza kan Cuma satu. Yaitu kamu Athaya Zalino.”


Athaya memandang kedua mata Aleyza, mencoba mencari kebohongan di mata gadis itu.


Aleyza tidak berbohong, Athaya sama sekali tidak menemukan keraguan di mata gadis itu.


“Percaya, sayang?” tanya Aleyza.

__ADS_1


Dengan pelan, Athaya mengangguk. Lelaki itu Kembali menghambur ke pelukan Aleyza. Perasaan nya kini terasa sedikit lega.


Aleyza tersenyum lebar. “Udah ya, gantengnya Eyza jangan marah-marah lagi. Nanti gantengnya ilang kan nggak lucu.”


Athaya melepas pelukannya. Ia menunjukkan jam tangan couple yang Aleyza berikan padanya. “Kita saling pakaikan ya?”


Aleyza tertawa kemudian menjawil hidung Athaya. Ia menerima uluran jam itu. “Sini sayang.”


Athaya pun menurut. Senyum di bibirnya perlahan mengembang ketika Aleyza memakaikan jam tangan itu di lengan tangan sebelah kirinya.


“Lucu ya.” Puji Athaya seraya menatap jam tangan itu yang sudah terpasang indah di tangannya dan juga tangan milik Aleyza.



Aleyza memandang lelaki itu lama. Tatapan matanya tak sengaja melihat punggung tangan sebelah kanan Athaya yang terluka. Tentu saja dirinya terkejut. Begitu juga dengan Athaya yang tersentak kaget saat Aleyza tiba-tiba menarik tangannya.


“Tha, ini kenapa?” tanya Aleyza panik.


“Biasalah, hehehe.” Balas Athaya disertai dengan cengiran tidak ber dosanya.


Aleyza benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi. Gadis itu menuju nakas di samping tempat tidurnya dan membuka laci tersebut. Ia mengambil kotak P3K miliknya.


“Sini, duduk. Tha.” Titah Aleyza dengan wajah yang sudah berubah drastis.


Tidak ingin membuat Aleyza tiba-tiba menjadi marah. Athaya langsung duduk di atas kasurnya. Aleyza membersihkan luka di punggung tangan Athaya. Gadis itu terlihat serius mengobati tangan Athaya.


Setelah selesai, gadis itu membalut luka Athaya dengan perban tipis. “Tha, aku mohon ya. Kamu berhenti nyakitin diri sendiri nya,” ujar Aleyza tidak suka.


“Maaf, ya Eyzayang.” Balas Athaya.


Aleyza menghela napas Panjang. “Pokoknya jangan pernah begitu lagi! Aku nggak suka dan kamu tahu itu. Jangan bikin jadi khawatir sama kamu ya, Tha.” Ujarnya, lalu Kembali mendekap hangat Athaya.


Evans yang kebetulan lewat di depan kamar Aleyza itu sontak berhenti ketika melihat keduanya berpelukan. Matanya menyorot sendu, bibirnya mengukir senyuman getir yang memilukan.


Evans mengalihkan tatapannya di beberapa buku tentang bisnis dan juga pelajarannya.


Tanpa di sangka, setitik air mata turun dari mata kirinya. Ia tahu kalau dirinya ini memang dijadikan robot bagi kedua orang tuanya. Evans juga membutuhkan seorang teman.

__ADS_1



__ADS_2