Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Aleyza?


__ADS_3


Athaya menatap jam tangannya. kini waktu sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi.


Hari ini dirinya bangun kesiangan karena semalaman tak bisa tidur, dan baru tertidur pukul 05.00 setelah selesai melaksanakan shalat subuh. Kaki-kaki jenjangnya melangkah cepat menuruni anak tangga satu per satu.


Shofia yang tadi berniat menghampiri kedua anaknya di kamar pun terkejut dengan kehadiran Athaya yang tergesa-gesa. "Loh? Abang kamu mana?" Tanyanya menghentikan langkah Athaya.


"Ada, Bun. Masih siap-siap." Balas Athaya tak tenang.


"Sarapan dulu, Tha. Buru-buru banget sih," ujar Shofia.


"Thaya bisa sarapan nanti Bun, sekarang udah telat banget." Balas Athaya. Bagaimana pun ia harus segera bertemu dengan Aleyza.


"Thaya pergi ya, Bun." Athaya mencium tangan bundanya dan dengan cepat berlari keluar rumah membuat Shofia menggelengkan kepalanya.


***


"Eyza mana ya?" Gumam Athaya saat melihat rumah gadis itu yang terlihat sepi tidak seperti biasanya.


Athaya mengambil ponsel di saku celana seragamnya, lelaki itu membuka pesan masuk dari Aleyza.



Athaya menautkan kedua alisnya setelah membaca pesan dari gadis itu. Mengapa tiba-tiba sekali Kendrick mau mengantarkan anaknya sekolah?


"Tumben, kesambet apaan tuh bapak-bapak?" Gumam Athaya kemudian bersiap-siap pergi ke sekolah sendirian.


***


Sesampainya di sekolah tanpa pergi ke kelas lebih dahulu Aley langsung pergi bertugas di depan gerbang bersama Fais dan Beben untuk mengecek perlengkapan siswa-siswi yang masuk sekolah.


Meski sebenarnya Aleyza merasa tidak enak badan, ia tetap harus melaksanakan tanggung jawab nya ini.


"Lo, boleh masuk," ujar Aleyza setelah memeriksa kelengkapan atribut salah satu siswa. Ia kemudian menatap ke depan, pandangan matanya bertemu dengan mata tajam Caithlin. Gadis itu datang berjalan kaki menuju ke arah Aleyza dengan santainya.


Aleyza berusaha untuk tetap bersikap profesional, gadis itu memeriksa dasi Caithlin, ikat pinggang, kaos kaki dan semuanya terlihat lengkap serta juga rapi. Gadis itu menepuk pelan pundak Caithlin. "Masuk."


Tanpa menjawab ucapan Aleyza, Caithlin melenggang masuk ke dalam kawasan SMA Trunajaya.


Kedua tangan Aleyza mengepal, ia menatap kepergian Caithlin dengan menahan emosi. Murid baru itu sepertinya ingin sekali bermain api dengannya karena selalu berusaha mendekati Athaya. Fais yang menyadari perubahan raut wajah gadis itu pun mengerutkan dahi bingung.


"Kenapa, Za?" Tanya lelaki itu.


Aleyza menghela napas panjang. "Nggak ada apa-apa, kalian lanjutin dulu ya. Gue masih ada urusan lain soalnya."


Tidak ingin mencampuri urusan Aleyza, Fais pun menganggukkan kepalanya. "Siap, Bu bos!" Katanya dengan nada bercanda.


Buru-buru Aleyza mengambil tasnya yang sengaja ia letakkan di dekat pohon yang berada di pos satpam. Setelah itu, ia melangkah menuju ruang kelasnya. Bagaimana pun juga ia harus segera bertemu dengan Athaya.

__ADS_1


Sesampainya di kelas, Aleyza langsung disambut oleh berbagai macam tatapan dari teman-teman sekelasnya. Mata tajam Aleyza langsung tertuju ke arah Athaya yang menelungkup kan wajahnya di antara lipatan kedua tangan nya di meja.


"Tha?" Panggil Aleyza pelan seraya menyentuh kepada lelaki itu


Mendengar panggilan lembut dari Aleyza tentunya membuat Athaya mendongakkan kepalanya.


"Za...." Athaya menghela napas berat. "Kemana aja? Aku kangen kamu tau."


Bukannya menjawab, Aleyza justru langsung merangkul erat pinggang Athaya. Gadis itu menumpahkan tangisnya di perut lelaki itu.


Athaya yang paham langsung mengelus kepala gadis itu lembut. Berupaya untuk menenangkan suasana hati Aleyza.


"Ini sekolah bukan tempat buat nangis ya," ujar Caithlin tiba-tiba. Gadis itu tidak mengalihkan pandangannya pada buku komik yang berada di tangannya.


Athaya berusaha menuliskan pendengaran nya untuk tidak menanggapi ucapan gadis itu. Ia tetap fokus pada Aleyza yang masih menangis dalam rangkulannya.


"Kita ke UKS aja, mau?" Athaya mengurai pelukan Aleyza padanya. Jemarinya bergerak menghapus jejak air mata yang berlinang di pipi gadis itu.


"Nggak, mau." Aleyza menggelengkan kepalanya pelan.


"Sayang... nurut, ya? nggak kasian sama debay nya hmm?" pinta Athaya begitu lembut dengan nada yang agak pelan.


Aleyza menggelengkan kepalanya lagi. "Nggak mau, Thaya. Aku cuma mau di samping kamu sebelum papah bikin kita jauh...."


"Za, percaya sama aku. Papah kamu nggak akan mungkin pisahin kita. Aku akan tetap perjuangkan kamu." ucap Athaya lembut.


"Maaf, Za. Maaf karena udah bikin kamu dalam situasi yang rumit ini." Athaya mengelus pipi Aleyza yang lebam dengan perlahan. Ia merasa kecewa pada dirinya sendiri ketika secara tidak sengaja membuat Aleyza berada pada kondisi yang rumit. "Maaf, Za. Maaf...."


"Idih, masih aja tetap so tegar." cibir Caithlin pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Athaya dan Aleyza.


"Cewek kalau memang sifatnya dengki susah ya." balas Aleyza.


"Udah, jangan di dengerin. Fokus sama diri sendiri aja, ya." Athaya mengacak pelan rambut Aleyza.


***


"Sebenarnya, gue kasian sama Aleyza." Aidan mendesah pelan. Lelaki itu berdiri di depan pintu.


"Ya gue juga." Timpal Aldo. Pandangan lelaki itu mengarah ke langit-langit ruangan basecamp yang mereka tempati. "Lagian, dia benar-benar berada di kondisi sulit. Belum lagi papah nya yang keras kepala itu, apa perlu kita kasih pelajaran ke papanya?"


Adelard terkekeh mendengar ucapan Aldo. "Punya nyali berapa Lo? mau kualat hah lawan orang tua?"


Aldo merubah posisi tidurannya menjadi duduk. "Gue bener-bener kangen Aleyza deh. Lagipula, basecamp juga jadi sepi kalau nggak ada dia."


"Emangnya Lo kangen kalau di rusuhin dia?" tanya Aidan heran.


"Lah, emang nya Lo sendiri nggak kangen?" tanya Aldo balik.


"Ya kali gue enggak kangen anj*r! gini-gini gue sayang ya sama Eyza." Aidan cengengesan tatkala melihat Athaya yang langsung menatap tajam ke arahnya. "Tenang, Tha. Eyza mah kan emang punya Lo seorang. Lagipula gue sayang sama dia sebagai sahabat. Takut amat Lo kalau Eyza gue embat."

__ADS_1


Naufal menghela napas berat. Lelaki itu menyenderkan punggungnya di sandaran sofa. "Gue jadi kangen suasana kita yang dulu deh. Dimana kita masih damai, nggak ada terror aneh-aneh kayak yang kita dapat di akhir-akhir ini. Gue kangen bisa bercanda bebas sama kalian tanpa beban pikiran akan terror yang menimpa Aleyza dan juga kita semua."


"Ya sama gue juga lah. Ahh, kangen banget gue." Timpal Aidan dengan wajah ngenes.


"Kalian pada inget nggak ini hari apa?" tanya Athaya tiba-tiba sembari menatap sahabat-sahabat nya.


"Hari Sabtu, Tha." balas Aldo.


Athaya mengangguk. "Iya, benar. Tapi, bukan itu yang gue maksud. Hari ini itu tepat satu bulan kematiannya Maisie."


Naufal berdeham pelan. Ia melupakan hal yang satu itu. "Gue juga baru ingat."


"Kalian ngerasa ada yang janggal nggak sih?" tanya Lemuel. Nada suaranya terdengar datar, tapi terkesan bermakna. Raut wajah lelaki itu pun terlihat begitu santai.


"Maksud Lo apa?" tanya Athaya meminta penjelasan.


"Gini ya, menurut penilaian gue aja ini mah. Selama Maisie jadi ketos dulu, dia itu kan paling dewasa pemikiran." balas Lemuel membuat yang lain mengangguk. "Apa kalian tetap percaya kalau dia itu bunuh diri?"


Naufal terdiam, apa yang dikatakan Lemuel terdengar masuk akal. Maisie bukanlah orang yang memiliki pemikiran sempit. Apalagi hanya karena ditolak Athaya, mana mungkin gadis itu langsung mengakhiri nyawanya?


"Intinya, dia nggak mungkin bunuh diri. Itu kan yang Lo maksud?" tanya Athaya setelah paham maksud Lemuel.


"Masuk akal juga sih dengan apa yang di bilang Lemuel. Lagipula, kita kenal Maisie nggak sebentar. Walaupun nggak dekat banget, setidaknya kita cukup tau dia kan." balas Aidan beropini.


"Tapi gue bingung, kalau misalkan Maisie nggak bunuh diri. Terus kenapa malah Aleyza yang di terror? Kenapa orang itu seolah-olah nyalahin Aleyza? padahal kan kalau benar Maisie bunuh diri. Seharusnya Athaya yang kena terror, karena kan bagaimana pun juga Athaya yang nolak Maisie," ujar Adelard.


"Masih ada banyak kemungkinan di sini. Bisa aja kan kematian Maisie di manipulasi, bisa juga Maisie mati memang nggak bunuh diri dan dia sebenarnya masih hidup." balas Lemuel.


"Otak Lo pinter juga, El." Puji Aldo terkagum-kagum.


"Kalau misalkan nggak bunuh diri... Maisie mati karena apa coba?" tanya Aidan.


"Di bunuh.... mungkin?" Naufal mengangkat sebelah alisnya.


"Di bunuh? sama siapa? memangnya Maisie punya musuh?" Athaya menautkan kedua alisnya.


Lemuel tertawa pelan. "Siapapun itu bisa aja jadi musuh, lagipula yang terlihat baik dan paling peduli kan belum tentu dia memang begitu."


Mereka semua saling pandang satu sama lain dengan berbagai macam opini di pikiran masing-masing.


"Tha?" panggil Lemuel.


Athaya menatap lelaki itu dengan pandangan bertanya.


"Bukan Aleyza kan pelakunya?" tanya Lemuel membuat mereka semua kompak membulat kan mata.


"Gila Lo hah?!" sambar Aidan.


Athaya hanya menatap tajam ke arah Lemuel dan menggelengkan pelan kepalanya. "Se cemburunya Aleyza, se kesalnya Aleyza, dan se marah nya Aleyza. Dia nggak akan mungkin buat bunuh orang lain! Sekali lagi Lo ngomong gitu! habis Lo sama gue!" ucapnya penuh dengan tekanan tanda tak terima karena secara tak langsung Lemuel menuduh Aleyza.

__ADS_1


***


__ADS_2