
Terik matahari yang menyengat membuat siswa-siswi SMA Trunajaya tidak berhenti mengeluh.
Upacara hari Senin sebentar lagi akan selesai, membuat mereka sudah tidak sabar untuk segera masuk ke dalam kelas.
“Untuk siswa-siswi yang tidak memakai atribut lengkap, dimohon untuk tetap berada di lapangan.”
Suara milik Aleyza menginterupsi siswa-siswi. Mereka yang memakai atribut lengkap langsung Kembali ke kelas setelah mendengar perintah Aleyza.
Namun, ada sekitar lima belas murid yang masih bertahan pada posisi mereka. Termasuk Athaya, Adelard, dan juga Aidan yang tidak membawa topi upacara.
“SILAHKAN UNTUK BARIS DI TENGAH DENGAN RAPI! SAYA HITUNG SAMPAI DUA! SATU….”
Lima belas murid itu langsung memposisikan diri di tengah lapangan dengan berbaris rapi.
“DUA!”
Aleyza dan Fais berdiri di depan barisan. Langkah kaki Aleyza mulai berjalan mendekat ke arah lima belas murid itu. Diikuti oleh Fais yang terlihat lemas di belakangnya.
“Lo catat nama-nama mereka dengan alasannya.” Titah Aleyza yang langsung diangguki oleh Fais.
Pasangan Ketua dan Wakil Ketua OSIS itu mulai menghampiri satu persatu murid yang melanggar aturan.
“Fahmi, XI IPS 2. Kenapa tidak memakai ikat pinggang?” tanya Fais kepada salah satu murid lelaki.
“Ikat pinggang saya ilang, kak.” Balas Fahmi dengan jujur.
Aleyza memutar bola matanya malas. “Ilang? Kenapa nggak beli lagi?”
“Saya tidak mempunyai uang yang cukup untuk membeli ikat pinggang baru, kak. Kemahalan ikat pinggangnya.” Balas Fahmi lagi.
Aleyza yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Gadis itu merogoh saku seragamnya, lalu mengambil selembar uang seratus ribu di sana. “Buat lo. Habis hukuman ini jangan lupa untuk beli ikat pinggang baru,” ujarnya.
Fahmi menerima uang dari Aleyza dengan senang hati. “Terimakasih kak.” Katanya seraya menundukkan kepalanya sedikit.
Aleyza mengangguk sekilas. Fais yang sudah selesai mencatat Fahmi itu langsung beralih ke arah Aidan. “Dan, kenapa nggak pakai topi sih?’ tanyanya tanpa basa-basi.
“Gue terlalu banyak pikiran, jadi lupa.” Balas Aidan dengan santainya.
Fais menggeleng-gelengkan kepala heran. Setelahnya ia mencatat nama Aidan di daftar catatan hitam ditangannya.
Beberapa kali lelaki itu berdecak resah. Kepalanya terasa pusing, belum lagi perutnya juga terasa sakit.
“Tha, kenapa nggak bawa topi?” Aleyza bertanya kepada Athaya yang melamun sejak tadi. lelaki itu mengangkat kepalanya saat Aleyza sudah tiba di hadapannya.
“Males aja.” Balas Athaya dengan wajah santai.
“Tha, lain kali jangan sampai lupa ya.” Peringat Aleyza kemudian tersenyum tipis. Ia memang lupa untuk mengingatkan Athaya pagi tadi.
Fais yang mulai merasa ada yang aneh dalam perutnya itu mati-matian menahan diri untuk tidak tumbang. Lelaki itu masih mencatat dengan tangan gemetar. Aleyza yang merasa aneh dengan Fais itu pun langsung memegang kedua bahu lelaki itu.
Buku yang Fais pegang seketika terjatuh. Tangan lelaki itu beralih memegang perut dengan napas yang tersendat.
“Fais? Lo nggak apa-apa?” tanya Aleyza dengan wajah panik. Bukan hanya dirinya, tetapi semua orang yang ada di sana pun sama.
Napas Fais kian tersendat. “Pe…, perut gue sakit,” ujar Fais sebisa mungkin.
Aleyza yang paham pun langsung berusaha menenangkan Fais. “Maag lo kambuh? Lo tenang ya, obat lo dimana?”
Fais berusaha mengambil obatnya yang terletak di saku seragamnya. Aleyza dengan cepat mengambil obat tersebut dan membantu Fais meminum obatnya.
__ADS_1
Athaya yang menyaksikan itu semua hanya mampu diam. Ia melihat bagaimana khawatirnya Aleyza saat penyakit maag milik Fais tiba-tiba kambuh. Bagaimana telatennya gadis itu membantu Fais untuk mengendalikan dirinya.
Tidak berselang lama, perut Fais mulai tidak terasa begitu sakit. Wajah lelaki itu terlihat sangat pucat dengan keringat yang menetes dari wajahnya.
“Gimana? Udah mendingan?” tanya Aleyza.
Fais memegang kepalanya yang terasa berputar. “Kepala gue terasa pusing juga.”
Athaya berdecih pelan. “Udah tau penyakitan, sok-sok an ikut organisasi. Cowok kok lemah,” ujarnya dengan keras.
Aleyza langsung menoleh pada Athaya tak percaya. “Tha, kok kamu bilang gitu? Kamu keterlaluan, Tha.”
“Keterlaluan? Padahal aku ngomong juga fakta kok. Bisanya cuman ngerepotin cewek gue aja lo.” Balas Athaya tanpa pikir Panjang.
“ATHAYA!” bentak Aleyza, membuat Athaya tersentak kaget mendengarnya. “Kamu kenapa sih? Padahal kamu juga sama-sama manusia. Kamu punya perasaan nggak sih?” murka Aleyza.
Fais hanya bisa menundukkan kepala. Lelaki itu memandang sendu obat di tangannya. Jujur saja, setelah mendengar apa yang Athaya katanya kepadanya, Fais merasa telah menjadi manusia yang memang sangat merepotkan.
“Lo lebih ngebelain dia daripada gue, Za?” tanya Athaya seraya menunjuk Fais.
“Nggak gitu, Tha. Tapi untuk kali ini kamu keterlaluan! Dan aku juga bakalan bela yang benar. Perilaku kamu ini yang bikin aku nggak habis pikir sama jalan pikiran kamu, Tha.” Tukas Aleyza, membuat Athaya tak lagi mampu berkata-kata.
Semua yang mendengar itu hanya bisa diam menyaksikan. Mereka tidak punya hak untuk ikut campur urusan keduanya.
“Za, lo_”
“Pergi, Tha.” Usir Aleyza.
“Za?”
“AKU BILANG PERGI DARI SINI, ATHAYA!” bentak Aleyza.
Aleyza menggeleng. “Dia udah keterlaluan untuk kali ini, dan dia memang sepantasnya untuk di tegur.”
Athaya menatap Aleyza dengan sorot mata yang tak bisa diartikan. Untuk pertama kalinya, Aleyza nya kini sudah berani membentaknya.
Tak ingin berlama-lama di sana, Athaya segera pergi dari lapangan. Lelaki itu berlari sekencang mungkin dengan perasaan yang tidak mampu dirinya jabarkan.
***
“Se galau ini lo?”
Athaya menoleh ke belakang saat mendengar suara seseorang di telinganya. Itu Caithlin. Entah sejak kapan gadis itu duduk di sofa yang terlihat usang.
Dirinya kini berada di tepat di ujung rooftop. Selangkah saja Athaya maju, maka ia akan terjun bebas.
Athaya Kembali menatap ke bawah. Ia berusaha untuk mengatur napas, memendam emosi memang tidak baik untuk kondisi dirinya.
Caithlin berdecak pelan. Gadis itu bangkit dari duduknya kemudian berjalan menghampiri Athaya.
Caithlin memegang tangan kiri lelaki itu, ia mengajak Athaya untuk duduk di sofa. “Beneran galau lo?” ujarnya.
Athaya hanya diam sembari terus menatap ke arah lain.
“Perilaku gue tadi itu memang keterlaluan ya?” tanya Athaya pelan.
“Banget. Tapi, gue juga cukup paham dengan sikap lo gimana. “ Caithlin menghela napas Panjang. “Lo itu Cuma takut kehilangan Aleyza kan?”
Athaya menegakkan tubuhnya lagi. “Iya, gue terlalu takut untuk itu.” Jawab Athaya.
“Aleyza adalah gadis beruntung,” ujar Caithlin dengan senyuman yang mengembang.
__ADS_1
***
Aleyza meletakkan Kembali botol air minum yang baru saja ia belikan untuk Fais.
Ia membantu lelaki itu untuk membaringkan tubuh Kasur di UKS. Wajah Fais sudah tidak se pucat tadi, kondisinya pun sudah mulai membaik.
“Za, gue minta maaf ya.” Cicit Fais dengan suara pelan.
Aleyza menatap lelaki itu bingung. “Minta maaf buat apa?”
“Tentang tadi, gara-gara gue lo_”
“Nggak usah bahas itu lagi.” Sambung Aleyza dengan cepat. Gadis itu memijat pangkal hidungnya pelan.
“Za, seharusnya lo nggak kayak gitu. Lo tau kan ? Athaya itu selalu cemburu kalau kita dekat, jadi gue tau perasaan dia gimana tadi.” balas Fais tidak mengindahkan perkataan Aleyza.
“Gue tau dia cemburu. Tapi, nggak dengan berlebihan dan malah mengatai orang lain.” Balas Aleyza.
Aleyza menggusah napas berat. Ia mengusap kasar wajah lelahnya. “Oke, habis ini gue jelasin semua ke dia biar dia nggak salah paham lagi tentang kita.”
Fais tersenyum tipis. “Athaya itu cowok lo. Dia yang bertanggung jawab akan lo selama ini. Jadi, gue harap lo jangan kecewain dia ya.”
***
“ATHAYA!”
Athaya dan Caithlin refleks menghentikan Langkah mereka saat mendengar teriakan kencang Aleyza. Keduanya sama sekali tidak menoleh ke belakang.
Hanya menunggu Aleyza sampai di samping mereka.
“Aku kan berangkat bareng kamu, jadi pulangnya juga sama kamu kan?” tanya Aleyza begitu sampai di sebelah Athaya.
“Gue minta tolong Athaya buat nganterin gue pulang.” Balas Caithlin santai.
“Kok gitu? Nggak bisa gitu dong. Kan gue yang pulang bareng Athaya,” ujar Aleyza tidak ingin di bantah. Ia menggenggam sebelah tangan milik Athaya. “Ayo Tha, kita pulang.”
Athaya sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Ia menatap malas ke arah Aleyza.
“Lo nggak denger? Gue mau nganterin Caithlin pulang, jadi gue nggak bisa pulang bareng lo.” Balas Athaya dengan nada tidak suka.
Aleyza mengerutkan keningnya. Sebelumnya, Athaya tidak pernah sampai menolaknya untuk pulang Bersama. “Tha, kamu kenapa?”
Athaya tersenyum miring. “Masih nanya? Kamu kan pinter, coba deh gunain otaknya dengan benar. Pikirin aja aku kenapa ya.”
“Tha, kok gitu? Aku padahal Cuma negur kamu, kenapa reaksi kamu malah gini?”
“Terserah lo mau beranggapan gue gimana.” Athaya menatap Caithlin yang berdiri di sampingnya. “Ayok, gue anterin lo pulang.”
Aleyza menggeleng kuat. “Tha.”
“Lo juga bisa sama Fais, kenapa gue nggak bisa dengan Caithlin?” Athaya menaikkan sebelah alisnya. Ia melepas kasar tangannya dari genggaman Aleyza.
“Tha…..”
“Gue duluan.” Tukas Athaya cepat, lalu menarik tangan Caithlin untuk pergi.
“It’s oke, Tha. Have fun ya.” Balas Aleyza lirih.
Aleyza memandang kepergian keduanya dengan sorot mata kekecewaan. Lelakinya benar-benar marah untuk pertama kalinya.
__ADS_1