Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Caithlin tau?


__ADS_3


“ATHAYA!”


Teriakan kencang itu membuat beberapa inti The Vagos menoleh ke arah sumbernya. Bu Ratna datang Bersama Fais yang terlihat enggan.


“Kamu ini apakan keponakan saya?! Se enaknya saja kamu ya!” tanya Bu Ratna dengan sorot mata berapi-api.


“Bu, saya nggak apa-apa kok,” ujar Fais tidak ingin memperpanjang urusan ini.


Athaya menghentikan kegiatan makannya. Ia menatap tak minat ke arah Bu Ratna dan juga Fais. “Lah, keponakan ibu kok yang salah. Suruh siapa coba peluk-peluk Eyza.”


“Memangnya kenapa kalau dia meluk Aleyza? Aleyza saja tidak masalah, kok kamu yang ribet ya?! Memangnya kamu pacar dia? Ibu rasa tidak, Aleyza tidak mungkin mempunyai pacar seperti kamu.” Balas Bu Ratna.


“Kata siapa Aleyza nya nggak masalah bu? Emang nya ibu nggak tau? Saya kan memang pacarnya Aleyza. Kata siapa Eyza nggak mau? Eyza mah mandang saya bukan dari fisik ataupun kemampuan bu. Eyza adalah cewek berbeda, tidak sama seperti yang ibu pikirkan.” Bantah Athaya sedikit emosi.


“Tha, hey. Udah ya.” Lerai Aleyza seraya memegang Pundak lelaki itu.


“Baru pacaran aja udah sok sewot gini pas cewek nya di peluk orang lain, heran saya sama kamu. Tapi, setidaknya kamu nggak seharusnya mukul keponakan saya!” ujar Bu Ratna.


Aleyza menatap Bu Ratna. “Maaf bu, saya mohon maaf sebesar-besarnya atas nama Athaya. Dan saya minta, agar ibu tidak memperbesar masalah ini ya.”


Naufal dan yang lainnya hanya bisa saling pandang karena tidak paham dengan keributan yang terjadi itu.


“Saya tetap akan menghukum Athaya!” balas Bu Ratna masih teguh pendiriannya.


“Nggak masalah buat saya. Ibu mau kasih hukuman apa buat saya? Saya akui sih saya salah karena udah mukul cowok lemah kayak keponakan ibu itu.” Balas Athaya tidak takut sama sekali.


“Bu, sudah. Saya juga tidak apa-apa, lagipula memang salah saya sendiri. Jadi saya dan Athaya sama-sama salah. Tidak perlu di perpanjang lagi,” ujar Fais mencoba membujuk tantenya ini.


“Tidak bisa! Murid seperti Athaya tidak bisa dibiarkan! Lama-lama dia bisa ngelunjak!” balas Bu Ratna.


“Bu, saya mohon tidak perlu di perpanjang ya.” Aleyza menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


“Za, udah. Nggak usah mohon-mohon gitu, aku nggak masalah kalau harus di hukum,” ujar Athaya pada Aleyza. Ia menurunkan tangan Aleyza dari depan dada. Athaya beralih menatap Bu Ratna dengan senyum yang dipaksakan. “Hukuman nya apa ya bu, wahai Ibu Ratna tercinta.”


“Lari mengitari lapangan sebanyak seratus kali sekarang juga!”


“Gampang.” Balas Athaya dengan santainya.


Semua yang mendengar itu membelalakkan matanya kaget.


Naufal yang sedari tadi hanya diam memandangi keributan kini berdiri. Ia menatap Bu Ratna datar, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana seragamnya.


“Bu, mau saya laporin ke mamah saya?” tanya Naufal tanpa merasa segan sedikit pun. “Saya hanya mengingatkan jika ibu lupa. Ibu sendiri jika di bandingkan dengan mamah saya tidak ada apa-apanya, terlebih lagi sekolah ini milik mamah saya.”


Bu Ratna langsung terdiam. Mulutnya terkunci seolah tidak mampu berkata-kata lagi. Bagaimana ia bisa melupakan bahwa Naufal Orlando adalah anak dari pemilik SMA Trunajaya.


“Maaf nih bu, saya juga sebenarnya tidak akan seperti ini jika ibu tidak memulainya duluan. Fais saja tidak mempermasalahkan, lalu mengapa ibu yang repot? Lalu, hukuman lari seratus keliling? Itu hukuman atau mau bunuh anak orang bu? Ibu lupa atau bagaimana? Lapangan sekolah kita luas banget bu, dengan ibu menghukum Athaya lari keliling seratus kali apakah pantas? Saya rasa tidak, meski sebenarnya Athaya sendiri sanggup untuk itu.”


“O-oke, ibu maafkan Athaya untuk kali ini. Tapi, ibu harap dia tidak melakukan kesalahan lagi.” Balas Bu Ratna setengah gugup. Mata tajam bak elang milik Naufal itu membuat dirinya merasa diancam.


“Tha, lo minta maaf sama dia.” Titah Naufal pada Athaya. Matanya beralih menatap Fais. “Lo juga minta maaf.”


Athaya mengangguk. Ia mengulurkan tangannya ke arah Fais yang langsung disambut oleh lelaki itu.


“Gue minta maaf karena udah menghajar lo,” ujar Athaya. Sebenarnya, ia ingin menghajar Kembali Fais saat ini. Namun, karena ia juga tidak mau jika Aleyza terlibat karena masalahnya. Maka ia harus mengalah.


“Gue juga minta maaf, nggak seharusnya gue peluk cewek lo. Lagipula, gue beneran refleks waktu itu.” Balas Fais dengan wajah menyesal.

__ADS_1


Athaya membalasnya dengan senyuman yang di paksakan. Ia menarik tangannya Kembali, membuat Aleyza langsung menggenggam tangan lelaki itu.


“Selesaikan?” Naufal menaikkan sebelah alisnya.


Bu Ratna mengangguk, walau terlihat dari wajahnya jika ia masih tidak terima. “Ibu permisi dulu kalau begitu.” Katanya. Ia menarik tangan Fais untuk ikut bersamanya.


Melihat kepergian dua orang itu membuat Aleyza menghela napas lega. Ia menepuk dua kali Pundak Naufal. “Makasih ya, Fal. Makasih banyak pokonya,” ujar Aleyza kepada Naufal.


“Santai aja, queen.” Balas Naufal dengan wajah tenangnya. Ia mengambil tas hitamnya yang berada di atas meja kantin. “Balik, yok.” Perintahnya. Naufal melangkahkan kaki dari kantin tanpa menunggu persetujuan dari sahabat-sahabatnya.


Aidan dan Adelard yang baru saja Kembali itu langsung mengambil tas mereka masing-masing, kemudian berlari mengejar Naufal yang sudah berada di depan.


“Duluan ya, Tha,” ujar Aldo yang hendak pergi Bersama Lemuel.


“Ya.” Balas Athaya.


“Sayang, tugas aku di kamu kan?” tanya Athaya sembari memakai tas di pundaknya.


Aleyza membuka tasnya untuk mengambil buku PR milik Athaya. Gadis itu menyerahkannya kepada sang empu setelah mengambil dari dalam tasnya. “Nih, Thayang.” Balasnya.


Athaya menerimanya dengan senang. “Aleyzayang memang terbaik, makin sayang deh.”


“Eyza juga makin sayang sama Thayang.” Aleyza mengulas senyum tipis.


***


Aleyza berdiri di depan barisan para murid yang melanggar aturan.


Ia tidak memandang bulu untuk menghukum siapa pun yang berbuat tidak sesuai dengan aturan sekolah. Sekali pun itu para sahabatnya sendiri seperti sekarang ini.


Terik matahari yang menyengat panas itu membuat Adelard dan yang lainnya kecuali Naufal dan Lemuel tidak berhenti mengeluh.


“Za, udah satu jam loh kita kayak gini. Udah yok, udahan.” Timpal Aidan ikut-ikutan memohon.


“Lo sadar nggak kenapa kita di hukum?! Kita ini ada salah, jadi ya wajar kalau di hukum juga.” Balas Naufal dengan wajah tenangnya.


“Nah, Naufal aja tau tuh.” Balas Aleyza yang berdiri di bawah naungan pohon manga. Ia menatap jam yang melingkar di tangannya. Harusnya sih masih ada sekitar lima belas menit lagi agar para sahabatnya bisa Kembali ke kelas. Namun, karena dirinya sedang baik hati. Maka Aleyza memutuskan untuk menyudahi.


“Dahlah, sana masuk kelas! Awas aja ya kalau mau coba-coba buat bolos!” kata Aleyza dengan tatapan tajam.


“Nggak janji, queen. Soalnya kita manusia mah sumbernya bikin kesalahan.” Jawab Aldo yang langsung dihadiahi jitakan oleh Aidan.


“Heh! Aldo tuh bener, lo nggak usah munafik ya Aidan!” balas Adelard membela Aldo.


Aidan melirik sinis ke arah Adelard. “Banyakkkkk omongggg looo.”


Naufal menggeleng-gelengkan kepalanya. “Balik kelas yok.”


Wakil ketua dari The Vagos itu melangkah pergi dari lapangan, disusul yang lainnya di belakang. Aleyza menatap kepergian mereka dengan raut wajah lega, bebannya kini berkurang satu.


Kini ia harus Kembali ke ruang OSIS untuk rapat.


Kaki-kaki jenjang Aleyza melangkah ke luar lapangan. Ia berjalan di koridor sebelum akhirnya berhenti di depan lift dan menunggu pintunya terbuka untuk menuju lantai 4, lantai ruang OSIS berada.


Sesampainya di ruangan OSIS, Aleyza langsung di sambut oleh rekan-rekan satu organisasinya. Fais, tersenyum lega menatap Aleyza. Lelaki itu cukup pusing karena Aleyza belum juga datang, hingga membuat dirinya harus meng-handle beberapa urusan.


***


Athaya menatap lesu ke arah Aleyza yang sedang sibuk dengan kegiatannya. Melihat Fais yang selalu saja di sampingnya itu membuat Athaya ingin menghajar wajah lelaki itu.

__ADS_1


Meskipun Fais tidak macam-macam, tetap saja membuatnya merasa kesal. Athaya tidak suka ada lelaki lain di sekitar Aleyza.


“BIKIN GUE EMOSI AJA!” Athaya menghentakkan kakinya kesal. Ia mengerucutkan bibirnya.


“Ngapain lo?”


Suara seorang gadis itu membuat Athaya menoleh ke sumbernya. Rupanya pemilik suara itu adalah Caithlin. Entah sejak kapan gadis itu berada di sampingnya.


“Apa lo?!” sentak Athaya dengan wajah garangnya.


Caithlin mendelikkan matanya. “Dih, cowok kok pundungan kayak lo.”


“Lo mau gue bunuh hah?! Jangan bikin gue makin emosi deh lo!” balas Athaya dengan pelototan matanya.


Caithlin menatap lelaki itu dari atas sampai bawah. “Mau jadi psikopat lo?!”


“MAU GUE BUNUH BENERAN HAH?!” teriak Athaya dengan kencangnya, membuat Caithlin langsung menutup telinganya dengan kedua tangan.


Tidak ingin banyak bicara, gadis itu langsung menarik tangan Athaya untuk ikut bersamanya. Athaya jelas menolaknya, namun Caithlin dengan tidak tahu malunya malah semakin menarik tangan Athaya hingga keduanya kini sudah ada di parkiran.


“Lo apaan sih?!” tanya Athaya kesal.


“Lo.” Caithlin menunjuk Athaya dengan telunjuknya. “Anterin gue pulang.”


Athaya melotot, lalu menggelengkan kepalanya cepat. “APAAN! NGGAK SUDI GUE! GUE AJA NGGAK KENAL LO! GUE UDAH PUNYA PACAR YA! PACAR GUE LEBIH DARI SEGALANYA! NAMANYA ALEYZA VALERIE ARKARNA.”


Caithlin berdecak malas, ia paling tidak suka jika ditolak seperti ini. “Pacar lo aja lagi sibuk OSIS! Anterin doang napa sih?!”


“Ogah!”


“Jangan sampai gue malah ngajakin ribut cewek lo ya!” ancam Caithlin.


“Silahkan kalau lo berani sama cewek gue! Lo sentuh se ujung kuku aja, yang maju bukan Cuma gue. Tapi, anak-anak The Vagos juga akan maju. Gue cuman mau ngasih tau, Aleyza adalah queen of The Vagos. Jadi, inga itu.” Ucap Athaya.


Caithlin tersenyum miring. “Gue juga cukup tau semua hal tentang Aleyza, Tha,” ujarnya.


“Nggak mau tau, pokoknya lo harus anterin gue pulang!”


Athaya sempat terdiam sejenak, ia masih mencerna maksud dari ucapan Caithlin tentang Aleyza. “Caithlin tau?” gumamnya dalam hati.


***


Tak terasa kini hari sudah mulai gelap. Athaya benar-benar di buat kesal oleh Caithlin. Bukannya memberi alamat rumahnya, ia malah meminta Athaya untuk mengantarkan ke Gramedia.


“Makasih ya, Tha.” Caithlin tersenyum hingga matanya menyipit. “Hehe, sorry ya kalau gue kesan nya maksa lo.”


Athaya menatap datar ke arah gadis itu. “Tau diri juga lo.”


“Ya udah, sana lo balik! Ntar queen lo nyariin lagi,” ujar Caithlin sembari menggerakkan tangannya seperti sedang mengusir.


“Jelas! Harusnya gue menghabiskan waktu hari ini tuh sama Eyza! Bukan lo yang gue aja nggak kenal lo!” balas Athaya.


“Meski lo nggak kenal gue, setidaknya gue yang kenal lo. Dan gue juga cukup kenal queen lo itu.” Balas Caithlin kemudian membalikkan badannya. Melangkah menuju rumahnya yang terlihat lumayan sepi.


Athaya memandang kepergian gadis itu dengan tatapan yang tak bisa di definisikan. “Dia cukup kenal gue dan juga Eyza? Siapa dia sebenarnya?” gumamnya yang hanya bisa di dengar olehnya.


Setelahnya, Athaya pergi dari sana dengan motor kesayangannya.


__ADS_1


__ADS_2