Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Mulai Menyelidiki


__ADS_3


Di dalam ruangan serba putih itu kini hanya menyisakan Athaya dan juga Aleyza.


Anggota inti The Vagos lainnya sudah pulang ke rumah masing-masing sejak satu jam yang lalu. Dikarenakan hari yang sudah larut, maka dari itu Aleyza meminta mereka untuk pulang saja.


“Tha, mamah sama papah beneran nggak mau ke sini?” tanya Aleyza pada Athaya yang sedang duduk di samping ranjangnya.


Athaya menggeleng. “Nggak hari ini, Za. Mungkin besok, ya.”


Mendengar itu, Aleyza pun menundukkan kepalanya dalam. “Ternyata mereka masih aja nggak peduli sama aku ya. Padahal, yang aku butuhin sekarang itu mereka. Kenapa nggak sekalian tadi tuh aku mati aja sih?”


“EYZA!” ucap Athaya dengan nada sedikit naik. Ia tidak terima jika Aleyza mengatakan seperti itu, apakah sebelumnya Aleyza pernah berpikir tentang Athaya? Bagaimana lelaki itu jika Aleyza benar-benar pergi meninggalkannya.


Athaya menempelkan jarinya di bibir Aleyza. “Za, nggak boleh ngomong gitu. Harus berapa kali aku bilang kalau kamu itu nggak sendirian, hmmm?”


Lelaki itu berdiri dan mendekat ke arah Aleyza yang duduk di atas ranjang. Athaya menyenderkan kepala gadis itu di dadanya kemudian mengelusnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


“Za, maafin Thaya ya. Lagi-lagi Thaya gagal jagain Eyza,” ujar Athaya seraya menumpukan dagunya di atas kepala Aleyza.


Aleyza menggeleng pelan. “Tha, jangan bilang gitu ya. Kamu nggak pernah gagal buat jagain aku, lagipula juga kita nggak tau kalau kejadiannya bakalan gin ikan?”


“Za, kalau aja tadi aku ng_”


“Athaya. Berhenti nyalahin diri kamu sendiri. Kamu nggak pernah gagal jagain aku, kamu tetap lelaki hebat nya Aleyza.”


Athaya menghela napas berat. Ia menangkup kedua pipi Aleyza yang terlihat pucat tanpa rona merah seperti biasanya.


“Aku takut kehilangan kamu, Za.”


“Eyza juga takut kehilangan Athaya.” Balas Aleyza dengan sorot sendu di matanya itu.


Athaya menggelengkan kepalanya. “Za, aku nggak bakalan ninggalin kamu.”


Aleyza tersenyum. Ia menerawang jauh ke depan. Otak nya itu ia paksa untuk berpikir mengingat kejadian tadi siang. Gadis itu seperti menemukan sebuah kejanggalan.


“Tha, yang kasih usul buat kita ke rumah kak Maisie siapa?” tanya Aleyza pada Athaya.


“Lemuel kan?” balas Athaya.


Aleyza membulatkan matanya. Ia bahkan baru ingat satu hal ini. “Apa mungkin kalau kejadian hari ini udah direncanain?”


Athaya mengerutkan keningnya. “Apa mungkin peneror itu emang selalu ngikutin kita ya?”


Aleyza terdiam sejenak. Memang benar apa yang dikatakan Athaya.


Ia juga tidak menoleh menuduh orang sembarangan, terlebih lagi itu adalah Lemuel yang merupakan sahabat baik mereka.

__ADS_1


“Za, nggak ada yang bisa kita percaya selain diri sendiri untuk saat ini,” ujar Athaya.


“Wajar nggak sih kalau aku berpikiran kalau semua ini adalah ulah orang terdekat kita, Tha? Dan kalau ikut memang benar, gimana?” tanya Aleyza


“Kalau itu benar terjadi. Jelas aku nggak bakalan maafin orang itu, meskipun itu benar-benar orang terdekat kita.”


***


Pagi ini, ruang rawat inap Aleyza kini dikunjungi oleh Athaya, Adelard, Naufal, orang tua Athaya, serta Sam dan juga Tiara yang merupakan orang tua Naufal.


Hari ini juga, Athaya dan Naufal sudah diizinkan untuk tidak sekolah oleh Sam selaku pemilik Yayasan SMA Trunajaya.


Shafia yang baru saja selesai menyuapi Aleyza sup beralih membantu gadis itu meminum obatnya. Wanita itu benar-benar telaten mengurus Aleyza.


“Harus cepat sembuh ya sayang.” Shafia tersenyum sembari mengelus puncak kepala Aleyza.


“Makasih, Bunda.” Balas Aleyza dengan senyuman manisnya itu.


Shafia mengangguk. “Iya, sama-sama sayang. Duh, calon mantu ku manis ini.” Balasnya kemudian terkikik geli.


Semua orang yang berada di ruang rawat inap Aleyza pun bersorak heboh untuk meledek Aleyza dan Athaya yang sama-sama menahan malu. Kedua pipi pasangan itu kini pun sudah memerah merona sekali ternyata.


Sam menggeleng-gelengkan kepalanya melihat itu. Pria itu berdeham lumayan kencang membuat mereka semua terdiam seraya menatapnya dengan pandangan bertanya.


“Naufal sebelumnya udah cerita sama saya tentang segala terror yang sedang Aleyza alami,” ujar Sam mulai fokus pada inti hal yang ingin dibicarakannya kali ini. “Sebelum semuanya makin parah, kita harus mulai mencari tahu dan Menyusun rencana.” Ia menepuk pelan bahu anaknya yang duduk di samping kanannya.


Sam mengangguk. “Tenang aja, soal itu nggak usah ditanya. Saya ahlinya waktu masih muda dulu,” ujarnya yang langsung mendapatkan senggolan dari Tiara, istri tercinta nya.


Sam hanya membalasnya dengan kekehan ringan saja. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil benda kecil di dalam sana.


“Itu alat penyadap suara kan?” tanya Adelard setelah melihat benda yang Sam tunjukkan.


Sam mengangguk sebagai jawaban. “Coba pasang ini di markas kalian dan kita cukup pantau dari jauh.”


Athaya menerima alat penyadap suara yang diberikan Sam.


“Jangan sampai yang lain tahu selain kita yang ada di sini.” Peringat Sam.


“Kenapa begitu? Bukannya mereka juga berhak tau ya?” tanya Abimana pada sahabatnya itu.


Sam tertawa. “Kita nggak tau kan gimana ke depannya? Dan saya juga nggak bisa pastikan kalau bisa jadi salah satu di antara mereka ada yang berkhianat.”


***


“Tha, jadinya gimana?” tanya Naufal yang baru sampai setelah pergi ke markas satu jam yang lalu untuk melancarkan aksinya.


Athaya mengacungkan jempolnya. Helaan napas berat keluar dari mulutnya. “Gue harap, setelah ini kita bisa mendapatan petunjuk dan menjadi titik terang. Gue harap juga mereka akan berbuat ulah di markas kita.”

__ADS_1


Naufal mengangguk setuju. Keduanya kini tengah duduk di depan ruangan rawat Aleyza. Gadis itu tengah beristirahat dan mereka berdua tidak ingin mengganggunya.


Naufal mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Ia kemudian menyalakan ponsel itu dengan cepat. “Kita coba sekarang gimana? Siapa tau mereka beneran ada di sana.”


Athaya mengangguk tanda setuju. Naufal dengan cepat pun mengotak-atik ponselnya untuk menghubungi nomor penyadap suara yang sudah ia pasang tadi.


Cukup lama untuk menunggu, sebelum akhirnya mereka bisa menangkap suara.


“Karena kejadian kemarin, Aleyza masuk rumah sakit kan? Kata nona muda, jangan sampai dia mati dulu.”


Athaya yang mendengar itu jelas marah. Ia hampir saja membanting ponsel milik Naufal. Namun, dengan cepat Naufal menenangkan lelaki itu.


“Nggak usah gegabah, kita dengerin dulu siapa tau kita dapat petunjuk lebih,” ujar Naufal.


“Sebenarnya, tuan besar udah nyuruh kita bunuh tameng dia. Tapi, nona muda melarangnya.”


“Tameng? Siapa yang menjadi tameng Aleyza?”


“Jelas Athaya lah.”


“Sudah-sudah, kita harus segera menyelesaikan tugas sebelum ada yang datang ke markas ini.”


“Kau ingat? Nona muda bilang ada salah satu dari mereka yang terlalu pintar.”


“Lemuel bukan?”


“Ya, benar.”


Sejenak hening.


“****! lihat, ada penyadap suara. Cepat cabut itu!”


“Anj*ng! mereka tau kalau gue pasang alat itu.” Naufal mengacak rambutnya kesal setelah sambungan di teleponnya dengan alat penyadap suara itu mati.


Athaya mengerutkan keningnya. “Mereka sempat mau bunuh gue? Tapi kenapa nggak jadi malah mengincar Aleyza? Dan lagi, siapa itu nona muda?”


Naufal menggeleng pelan. “Gue juga penasaran siapa itu nona muda. Tapi, untuk saat ini lo yang harus berhati-hati.”


“Apa lo juga sama kayak gue? Gue curiga sama seseorang, dan apa lo juga begitu?” tanya Athaya.


“Lemuel bukan?”


Athaya menipiskan bibirnya. Kernyitan di dahi lelaki itu semakin terlihat jelas. “Nggak mungkin. Kalau itu benar Lemuel, lantas kenapa mereka takut sama dia?”


“Gue nggak tau, tapi yang jelas kita harus ke markas sekarang.” Putus Naufal akhirnya.


__ADS_1


__ADS_2