
“Lo sering ke danau ini?”
Pertanyaan itu keluar dari mulut Athaya untuk Caithlin. Lelaki itu tengah serius memandangi sekitaran danau.
Caithlin yang tengah melamun itu langsung menatap ke arah Athaya. “Iya, kalau lagi suntuk atau banyak pikiran gue suka ke sini.”
“Lo tau darimana danau ini?” tanya Athaya. Lelaki itu sedikit penasaran. Sebab, sebelumnya ia pernah ke danau ini dan Maisie yang mengajak nya.
“Seorang teman dekat gue. Dia juga katanya dulu pernah ngajak seseorang kesini.”
Athaya mengangguk-angguk kepalanya pelan. “Temen lo cewek?”
“Iya.” Jawab Caithlin apa adanya.
“Lo sendiri sering ke danau ini?” Caithlin kini yang mengajukan pertanyaan untuk Athaya.
“Nggak sering, Cuma pernah sekali dan itu pun di ajak orang.” Jujur Athaya.
“Ouh iya? Siapa?” tanya Caithlin penasaran.
“Ada lah, lo nggak perlu terlalu tau.” Balas Athaya malas.
Caithin tersenyum. “Tanpa lo kasih tau pun gue udah tau, Tha. Maisie yang ajak lo kesini, begitupun gue.” Gumam Caithlin dalam hatinya.
***
Aleyza mengetuk pintu rumah Athaya beberapa kali.
Sudah sekitar dua jam ia berada di depan rumah lelaki itu.
“Tha, aku tau kok kamu denger aku,” ujar Aleyza masih berusaha membujuk Athaya yang ada di dalam sana. Gadis itu mengacak rambutnya kasar. Sudah tak terhitung beberapa kali ia mencoba untuk menghubungi lelaki itu.
“Yasudah, aku bisa lewat balkon rumah kamu aja.” Imbuh Aleyza.
Suasana rumah Athaya terlihat sepi dan gelap. Mungkin, kedua orang tua lelaki itu Bersama dengan Adelard sedang berada di rumah. Itu artinya, Athaya sendirian di dalam sana.
“MENDING KAMU PERGI, NA! AKU LAGI NGGAK MAU KETEMU KAMU!” teriak Athaya dari dalam rumah.
“Tha, ayo kita selesaikan masalah ini baik-baik. Jangan ngehindar kayak gini. Aku tau kok kamu marah dan kesal sama aku. Tapi, tolong jangan kayak gin Tha.” Balas Aleyza.
“PERGI ZA!”
Aleyza menghela napas berat. Ia tau, jika ia nekat. Maka Athaya pun akan semakin nekat.
“Oke, aku pergi. Aku tau kalau kamu pastinya belum makan, jadi tadi aku buatin kamu nasi goreng udang kesukaan kamu. Di makan ya, sekali lagi aku minta maaf.” Aleyza meletakkan kotak makan berisi nasi goreng udang itu di depan pintu rumah Athaya.
“Aku pulang kalau gitu. Sekali lagi maaf udah bikin kamu marah dan kecewa sama aku.” Aleyza menundukkan kepalanya. Gadis itu mulai melangkah pergi meninggalkan rumah Athaya dengan perasaan kecewa yang menggerogoti hatinya.
Beberapa menit kemudian, saat Athaya sudah tidak mendengar suara Aleyza. Dengan cepat ia mengintip dari balik gorden rumahnya. rupanya, gadis itu benar-benar pergi dari sana.
Athaya memandang kedua tangannya yang berdarah. Ia Kembali memukuli dinding rumahnya tadi. Sebenarnya ia ingin menemui Aleyza, lalu memeluk hangat gadis itu seperti biasanya.
__ADS_1
“Za, sorry. Lo sekali-kali harus gini biar ngerti.” Ucapnya. Tiga detik setelahnya, Athaya mulai memukuli kepalanya.
Kedua kaki Athaya mulai melangkah menuju pintu, ia dengan segera mengambil kotak makan yang Aleyza letak kan tadi.
***
Kedua kaki Aleyza mulai melangkah menuju halaman belakang rumah. Dengan sempoyongan gadis itu menghampiri kendang Miko, si red panda kesayangannya.
Aleyza berjongkok di samping Miko. Kedua tangannya mulai mengelus bulu lembut milik red panda lucu itu. “Ko, menurut lo gue gimana? Apa gue jahat banget sampai berani bentak Thaya di depan umum?”
Miko yang paham bahwa pemiliknya sedang bersedih pun merebahkan dirinya dengan berekspresi ikut sedih.
Aleyza tiba-tiba malah menangis ketika melihat Miko yang seperti itu. “Kenapa lo malah ikutan sedih kayak gue sih.”
Gadis itu menghela napas berat. Ia mengambil ponsel dan membuka aplikasi Instagram. Matanya tidak sengaja menatap story Instagram mamahnya. Ada sebuah foto yang baru saja mamanya itu unggah.
Di sana terlihat kalau Keyla, Kendrick, dan Evans tengah berada di sebuah restoran. Ketiganya terlihat sangat Bahagia, sudah seperti keluarga kecil yang sangat sempurna. Aleyza sendiri hanya mampu memandang dengan sendu.
“Miko, emangnya salah kalau gue juga pengen berada di sekitar mereka?”
Aleyza melempar ponselnya ke sembarang arah. Gadis itu keluar dari kendang Miko, pandangannya mendongak untuk melihat bintang yang bertaburan di langit malam sekarang.
“Eyza Cuma punya Thaya. Thaya yang selama ini selalu bikin Eyza bisa merasakan bagaimana rasanya di sayang dan juga bagaimana rasanya dianggap benar-benar ada. Selama ini Cuma Thaya juga yang selalu ngertiin Eyza. Kalau Thaya aja marah gini, Eyza harus gimana? Eyza nggak mau kehilangan Thaya.”
Aleyza perlahan mendudukkan dirinya ke atas rerumputan. “Eyza tau kok Eyza salah. Tapi, Eyza Cuma mau negur Thaya. Thaya udah keterlaluan, nggak seharusnya dia begitu.”
Aleyza mengusap pipinya yang basah. “Eyza nggak mau kalau Thaya marah ke Eyza. Eyza nggak mau kalau sampai Thaya ninggalin Eyza. Eyza nggak mau.”
“Eyza sebenarnya kesepian, Eyza sendiri, dan Eyza nggak punya siapa-siapa lagi….”
Aleyza memeluk kedua lututnya dengan bahu yang bergetar hebat. Ia membenamkan kepalanya di sela-sela lutut. Tidak peduli dengan angin malam yang berembus kencang.
Aleyza hanya butuh kasih sayang. Gadis itu butuh pelukan hangat dari seseorang yang amat dirinya rindukan.
Aleyza hanya takut kalau satu-satunya bintang yang dirinya punya ikut pergi meninggalkannya.
“Tha, Eyza minta maaf. Eyza sayang Thaya….” Lirih Aleyza sebelum semuanya berubah menjadi gelap.
***
“Tha, lo nggak bareng sama Eyza?” tanya Aldo pada Athaya.
Ia baru Kembali dari kantin sekolah. Jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Namun, inti The Vagos itu sudah duduk santai ditempat mereka.
Athaya menghela napas berat. Lelaki itu duduk di samping Naufal. “Gue masih marah ke dia.” Balasnya.
“Gara-gara?” tanya Naufal merasa penasaran.
“Noh, kemarin si Thaya ngatain Fais kalau dia cowok penyakitan waktu mag Fais kambuh di lapangan.” Balas Aidan cepat.
“Lah, lo yang salah kok lo yang marah sama Eyza?”
__ADS_1
“Dia kemarin berani bentak gue di depan banyak orang.” Balas Athaya dengan raut muka yang kesal.
“Gue tau Eyza salah karena udah bentak lo. Tapi, lo juga salah. Nggak seharusnya lo ngatain orang begitu, lagipula maksud Eyza Cuma negur lo meski dengan cara yang agak salah.” Terang Aidan Panjang lebar.
“Sebelumnya Eyza nggak pernah bentak-bentak gue.” Balas Athaya.
Lemuel mengangguk.”Iya gue paham. Tapi, Eyza juga kayaknya kelepasan. Kita kan nggak tau apa yang lagi di alami Eyza sehingga dia lepas control gitu. Lagian lo nya juga ngapain harus ngatain Fais sih? Cemburu? Nggak usah seharusnya lo terlalu cemburuan. Eyza sama Fais dekat karena mereka satu organisasi.”
“Cuma karena itu lo marah ke dia?” tanya Naufal membuat Athaya mengangguk. “Benar-benar bego.”
Naufal mematikan ponselnya. “Lo yang salah lo juga yang marah. Apa pernah lo tau juga apa yang Eyza alami? Dia juga takut kehilangan lo, tapi dia nggak terlalu pencemburu kayak lo.”
Athaya hanya diam merenungi apa yang Naufal ucapkan.
“Disini sebenarnya lo yang salah karena udah ngatai orang. Eyza Cuma negur lo meski dengan nge bentak lo. Tapi, nggak sepatutnya lo marah kayak gini.” Lanjut Naufal. “Kalau sampai Eyza nangis-nangis karena lo. Bukan Cuma gue, tapi anggota The Vagos juga siap hajar lo habis-habisan kalau lo lupa.”
***
Aleyza menyerahkan selembar surat kepada Fais yang berdiri di depannya. Gadis itu memberikan pengarahan tentang apa saja yang harus Fais lakukan.
“Fais, nanti lo minta tanda tangan pembimbing OSIS,” ujar Aleyza.
Fais mengerutkan keningnya memandang selembar surat yang kini di pegang nya. “Za, lo salah ngasih surat nya. Bukan yang ini.”
Aleyza melihat Kembali kertas itu. Gadis itu menepuk pelan keningnya saat apa yang dikatakan Fais memang benar.
Ia mengambil kertas lain yang berada di atas mejanya. “Sorry ya, gue lagi banyak pikiran.”
Fais menerima surat itu. Ia langsung memandang wajah Aleyza yang tampak terlihat sangat Lelah. “Lo pastinya kecapean, Za. Harusnya lo istirahat, jangan terlalu sering memaksakan diri.”
Aleyza menggeleng pelan. “Gue nggak apa-apa kok.”
Fais menghela napas pelan. Ia menepuk Pundak Aleyza itu dua kali. “Gue pergi dulu kalau gitu. Lo lebih baik istirahat, biar kerjaan yang belum kelar gue dan anak-anak lain yang kerjain nya.”
Aleyza mengangguk. “Makasih, Fais.” Gadis itu melangkah pergi dari ruangan OSIS.
Dengan Langkah lunglai nya ia melangkah untuk menuju kelas. Tapi, tepat saat itu juga dirinya tak sengaja berpapasan dengan Athaya. Lelaki itu berjalan berlawanan arah dengan nya.
“Tha.” Panggil Aleyza seraya berjalan lebih cepat untuk menghampiri lelaki itu.
Athaya menghentikan langkahnya saat Aleyza sudah sampai di depannya.
“Aku mau ngomong sama kamu, Tha. Kita selesaikan masalah ini baik-baik ya,” ujar Aleyza lembut. Saat dirinya ingin memegang tangan Athaya, dengan cepat lelaki itu menepisnya.
Athaya menatap dingin ke arah Aleyza. Athaya dapat melihat wajah gadisnya cukup pucat dengan mata yang sembab.
“Apa Eyza lagi sakit? Kok pucat banget.” Batin Athaya bermonolog.
Athaya mendorong pelan Aleyza ke samping agar tidak menghalangi jalanya. Lelaki itu melangkah pergi meninggalkan Aleyza yang mematung di tempat.
“Tha, Eyza kangen. Eyza kesepian, Eyza Sendirian, dan Eyza sakit butuh Thaya.” Gumam Aleyza disertai helaan napas kecewa.
Adelard yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka pun hanya bisa tersenyum miring. Ia menyesap minuman yang ada di tangannya seraya menyenderkan tubuhnya di salah satu pilar. “Kedua bucin yang sangat bego.” Gumamnya.
__ADS_1