
Lagi-lagi helaan napas berat meluncur dari mulut Athaya. Naufal yang duduk di samping lelaki itu menoleh, ia merasa jika Athaya hari ini sama sekali tidak bersemangat. Tidak jarang dirinya mendengar helaan napas berat dari sahabat yang paling dekat dengannya.
"Lo kenapa, Tha?" tanya Naufal seraya memasukkan handphone nya ke dalam saku celana.
"Aleyza." jawab Athaya singkat, tetapi Naufal langsung paham.
"Biarin aja dulu, setidaknya sekarang dia jadi punya waktu untuk bareng dengan keluarganya bukan," ujar Naufal.
"Punya waktu apaan? itu mah kayak di kekang tau Eyza nya!" timpal Aidan yang duduk di belakang mereka.
"Iya juga sih, tapi ya mau bagaimana lagi. Lo kayak nggak tau aja orang tua nya Eyza bagaimana." balas Aldo dengan nada datarnya.
"Iya gue tau kalau ini tentunya demi kebaikan dia, tapi.... dengan begitu jelas bikin gue ngerasa jauh sama dia, Fal. Gue kangen dia," ujar Athaya mengungkapkan perasaan gundahnya selama ini.
"Gue tau apa yang Lo rasain, Tha. Tapi, Lo cukup positif thinking aja. Mungkin, Om Kendrick tuh lagi khawatir sama calon cucu nya." ucap Naufal.
Athaya mengangguk setuju. "Mungkin."
"Lo sih bucin banget sama Eyza, giliran ditinggal bentar kayak gini aja udah kayak orang linglung. Oh kasihan, oh kasihan, sungguh kasihan." balas Aidan
"Jelas bucin, dia punya pacar dan itu bikin dia takut untuk kehilangan Eyza. Lah kalau Lo yang bucin kan kita-kita juga bingung, Lo jomlo soalnya." sahut Adelard seraya merapikan pakaiannya yang berantakan.
Aidan mencibir pelan, meskipun apa yang di bilang Adelard itu benar. Tetap saja ia merasa kesal. Tidak kah Adelard sadar diri? ia sendiri saja masih jomlo.
Athaya mengedarkan pandangannya. Tatapannya berhenti pada seorang gadis yang baru saja melewati kelasnya. Dengan cepat, ia berdiri membuat Naufal dan yang lainnya menatapnya bingung.
"Gue pergi duluan," ujar Athaya kemudian keluar untuk menghampiri Caithlin.
Tingkah Athaya tentu tidak luput dari perhatian Lemuel. Lelaki itu menatap kepergian Athaya dengan tatapan tajam tapi tenang khas miliknya. "Salah bertindak, Lo sendiri yang repot."
***
__ADS_1
Di dalam mobil, Aleyza dan Kendrick sama-sama diam. Kendrick yang fokus menyetir dan Aleyza yang asyik bergelut dengan pikirannya.
Diam-diam, Aleyza melirik ke arah Papahnya itu. Tangannya meremas kuat rok bagian bawahnya tanda ia gugup.
"Pah." panggil Aleyza dengan suara amat pelan.
"Apa?" tanya Kendrick.
"Sampai kapan papah antar jemput Eyza kayak gini?" tanya Aleyza hati-hati.
"Kenapa memangnya? bukan nya kamu yang selalu ngeluh karena papah nggak ada waktu sama kamu? sekarang, giliran papah yang antar jemput kamu kenapa kamu malah kayak nggak suka?" tanya Kendrick dengan sarkas
"Oke, dulu Eyza memang selalu ngeluh ke papah ataupun mamah. Tapi, untuk saat ini Eyza malah merasa kalau papah ngekang Eyza dan bikin Eyza jauh sama Thaya dan juga teman-teman Eyza." balas Aleyza pelan.
"Kalau papah biarin kamu terus-menerus sama geng nggak jelas itu, tentunya hidup kamu sendiri yang hancur. Ah, bahkan mungkin kamu lupa sekarang masa depan kamu sudah di buat hancur oleh Athaya hah?" Ujar Kendrick dengan tegas.
"Pah, bukan Athaya yang hancurin masa depan Eyza. Ini salah kita berdua, dan kita juga di jebak."
"Dan yang jebak kalian itu jelas musuh dari geng sia*an itu." balas Kendrick cuek.
***
"Mau ngapain kamu kesini hah?! pulang sana!" sentak Kendrick, menatap penuh amarah kepada Athaya.
"Om, izinin saya buat ketemu sama Aleyza meski sebentar aja. Saya cuma mau memastikan kalau keadaan Aleyza baik-baik aja atau nggak " pinta Athaya yang sejak tadi berdiri di depan rumah Aleyza.
"Tidak akan pernah saya izin kan kamu untuk bertemu dengan Aleyza! Aleyza harus saya kurung agar tidak terus-menerus bergaul dengan kamu!" balas Kendrick masih tetap pada pendiriannya.
Athaya menghela napas berat. Orang tua yang satu ini jelas-jelas memang keras kepala. "Sepuluh menit saja, Om."
"Kalau saya bilang tidak! berarti tidak! malah ngeyel kamu ya!" balas Kendrick.
Kedua bahu Athaya merosot lemas. Mau usaha seperti apa pun, jika Kendrick sendiri yang masih seperti itu. Tentunya percuma saja. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah, jujur ia merasa sangat rindu dengan Aleyza dan juga calon anak nya itu.
"Za, aku kangen kamu sama anak kita." gumam Athaya.
__ADS_1
***
Aleyza memijat keningnya pelan. Kepalanya benar-benar mau meledak untuk sekarang. Rasa mual itu berhasil membuatnya kelelahan dan juga pusing pada kepalanya.
Tingkahnya itu tidak luput dari perhatian Evans yang duduk di samping nya. Keduanya kini berada di ruang tamu.
"Za, kamu udah minum susu dan vitaminnya? Kalau masih pusing dan mual lebih baik kamu istirahat aja," ujar Evans dengan lembut. Wajah lelaki itu terlihat khawatir.
"Gue nggak butuh perhatian Lo, bang!" sarkas Aleyza.
"Za, aku ini Abang kamu. Jelas aku khawatir dan juga perhatian sama kamu. Aku nggak tega kalau liat kamu mual-mual gitu. Jangan di paksain, Za. Kamu juga harus kasian sama calon anak kamu." balas Evans dengan raut wajah khawatir.
"Mending Lo diem aja! gue males denger suara Lo." Aleyza berujar kesal. Gadis itu masih tetap memijat keningnya.
"Na." panggil Evans.
"Apa lagi sih bang?! Gue bilang diem ya diem! Lo bikin gue makin puyeng tau nggak!" balas Aleyza dengan nada membentak.
"Apa salah, Za? Salah kalau aku mah kita itu kayak saudara-saudara pada umum nya? Aku selalu pengen dekat sama kamu, Za. Aku pengen jadi Abang yang selalu bisa jagain adiknya," ujar Evans, mengungkapkan apa yang dirasakannya selama ini. Suara lelaki itu bergetar dengan kepala yang ditundukkan.
Aleyza langsung menghentikan kegiatan memijat keningnya, gadis itu terdiam dengan pandangan lurus ke depan. Kini, pikirannya berkecamuk menjadi satu.
"Aku juga sadar diri kok, Za. Aku cuman anak angkat Mamah sama Papah, tapi aku beneran sayang dan udah anggap kamu adik aku." lanjut Evans lagi. Kedua mata lelaki itu mulai meluncurkan air mata.
Pertahanan Aleyza mulai runtuh. Gadis itu memiringkan tubuhnya untuk menatap Evans yang masih setia menundukkan kepala. Kedua bahu lelaki itu bergetar dengan Isak tangis yang kian mengencang.
"Bang...., gue juga pengen dekat sama Lo. Tapi, setiap papah sama mamah bandingin gue sama Lo. Jelas itu buat gue jadi benci Lo, mereka orang tua kandung gue. Tapi, kenapa kasih sayang nya cuman buat Lo? Gue juga pengen ngerasain kasih sayang seorang Abang, tapi rasa benci itu yang bikin gue nggak mau Lo berada di dekat gue." balas Aleyza.
Evans mendongakkan kepalanya. Tanpa aba-aba, lelaki itu segera mendekap Aleyza erat. Keduanya pun menumpahkan tangis di sana.
Pelukan erat itu menandakan bahwa Aleyza dan Evans sebenarnya saling menyayangi satu sama lain. Mereka hanya terjebak dengan situasi yang seharusnya tidak terjadi. Mereka sama-sama terluka, meski dengan cara yang berbeda.
***
__ADS_1