
Setelah membersihkan seluruh tubuhnya, Athaya merebahkan diri ke atas kasurnya. Ia mengambil handphone yang tergeletak di Kasur. Matanya membulat saat melihat ratusan pesan masuk yang Aleyza kirimkan padanya.
Athaya menggigit bibir bawahnya saat melihat tulisan ‘typing’ di bawah profil Aleyza. Ia merasa was-was kalau gadis itu akan marah padanya.
Athaya refleks merubah posisinya menjadi duduk. Keningnya mengerut setelah membaca pesan Aleyza yang baru saja masuk.
Athaya meringis pelan. Pasti yang Aleyza maksud adalah Caithlin.
Athaya memukul kepalanya pelan. Ia benar-benar menyesal karena mau mengantarkan Caithlin pulang. Kalau saja tadi dirinya menunggu Aleyza kumpul OSIS, mungkin saja ia tidak akan bertemu dengan Caithlin di koridor.
Dengan Langkah lunglai Athaya berjalan ke bawah. Berniat menemui Aleyza yang katanya berada di luar rumahnya. ia membuka pintu rumahnya secara perlahan. Ternyata benar, Aleyza sudah berdiri di depan rumahnya. posisi gadis itu sekarang membelakangi dirinya. Demi Miko yang gantengnya masih kalah dengan dirinya, Athaya benar-benar sedikit merinding sekarang.
“Hai, Zayang.” Sapa Athaya dengan suara pelan.
Aleyza membalikkan tubuhnya. Ia menatap Athaya dengan sorot mata yang tak mampu diartikan. Gadis itu mendekat ke arah kekasihnya.
Keduanya saling menatap satu sama lain. Suasana hening, juga udara yang terasa dingin itu menyelimuti pertemuan dua insan yang saling menjalin hubungan rasa cinta.
“Udah mulai bohongi aku, hmm?” suara Aleyza yang berbisik di telinga Athaya. Embusan hangat napas gadis itu di permukaan kulit leher Athaya membuat lelaki itu kian merinding.
“Pergi sama Caithlin?” tanya Aleyza.
“I…, iya.” Jawab Athaya gugup. Entahlah, sebenarnya ia paling takut jika Aleyzanya akan marah.
“Lucu ya, kak Maisie udah nggak ada sekarang giliran Caithlin yang ada.” Balas Aleyza dengan senyuman sinis nya.
Athaya menghela napas berat. “Za, kok ngomongnya gitu? Aku juga nggak ada maksud buat anterin dia pulang. Dia nya maksa dan tiba-tiba narik tangan aku ke parkiran gitu aja.”
“Emangnya kamu nggak bisa menghempas tangan dia gitu? Nggak bisa buat nolak? Kamu tau? Lagi-lagi aku harus pulang sendirian dan itu jalan kaki Tha! Sedangkan kamu lagi asyik sama cewek lain.” Balas Aleyza dengan cemberut.
“Maaf, Za. Aku nggak tahu kalau kamu harus pulang sendirian, kenapa nggak hubungi aku atau anak-anak The Vagos aja? Udah ah, jangan cemburuan gitu, jangan cemberut gitu. Jelek tau ih, aku tahu aku salah, aku minta maaf.”
Aleyza memutar bola matanya malas, untuk saat ini ia benar-benar di buat kesal oleh tingkah Athaya yang terlalu welcome kepada para cewek. “Dahlah, aku mau pulang aja!” ucapnya. Ia memutar badannya, berniat meninggalkan rumah Athaya.
“Jangan, sayang. Udahan marah-marahnya ih, bikin aku merinding tau. Aku kangen nih.” Athaya memeluk Aleyza dari belakang. Lelaki itu menggesekkan hidung mancungnya di ceruk leher milik Aleyza.
“Thaya! Apaan sih! Geli tau!”
Bukannya menghentikan aksinya itu. Athaya justru semakin gencar melakukannya. Lelaki itu memeluk Aleyza begitu posesif.
“Aku pukul atau kamu lepasin, hm?!” ancam Aleyza seraya mencoba untuk melepaskan diri dari rangkulan Athaya.
“Co_”
Bugh.
“Argh!” umpat Athaya. Lelaki itu memegang aset pribadinya yang baru saja di tendang oleh Aleyza tanpa rasa kasihan nya.
Aleyza tertawa melihat itu. Apalagi wajah Athaya yang terlihat kesakitan itu, seperti sangat menderita.
Aleyza bersedekap dada dengan dagu yang sedikit terangkat. “Sakit kan hmm?” Aleyza menaik turunkan alisnya berniat menggoda pacarnya itu.
Athaya menegakkan tubuhnya Kembali. “Kalau nanti junior aku kenapa-napa mau tanggung jawab hmm? Kamu mau aku hukum?!” tanya Athaya dengan wajah setengah marahnya.
Aleyza cengengesan. “Hehe, nggak boleh gitu sayang.”
“Intinya aku tahu aku salah, aku minta maaf dan nggak akan mengulanginya lagi,” ujar Athaya dengan tatapan matanya yang melembut. “Aku tetap sayang kamu kok.”
Aleyza tersenyum lantas mengangguk. “Eyza juga sayang Athaya kok.”
Drtt drtt.
Momen keduanya terganggu saat mendengar suara handphone berbunyi. Athaya buru-buru merogoh saku celananya saat merasa kalau handphone nya yang berbunyi.
“Naufal.” Gumam Athaya setelah membaca nama si penelepon. Dengan cepat, ia mengangkatnya.
“Tha! Aldo di keroyok. Sekarang dia dirawat di rumah sakit Kenanga Indah. Nanti gue kirimin nomor kamarnya lewat chat, lo buruan kesini sekalian ajak Eyza dan juga abang lo. Jangan sampai Eyza lo tinggalin sendirian.”
__ADS_1
“Lo nggak lagi bercanda kan?” beo Athaya masih terkejut.
“Gue nggak lagi bercanda, Tha! Buruan kesini ya! Gue mau ngabarin yang lain juga.” Balas Naufal sebelum akhirnya menutup sambungan telepon mereka.
“Kenapa, Tha? Kenapa?” tanya Aleyza merasa penasaran.
“Aldo dikeroyok. Kita harus segera ke rumah sakit sekarang.”
***
Aleyza, Athaya, dan Adelard datang dengan tergopoh-gopoh. Di depan ruang ICU, sudah ada anggota inti The Vagos yang lainnya. Naufal langsung berdiri setelah ketiganya menghampiri mereka.
“Aldo? Gimana kondisi Aldo?” tanya Athaya seraya menetralkan deru napasnya yang memburu.
Naufal menggeleng sebagai jawaban. Wajah lelaki itu terlihat begitu Lelah. Bahkan kantung matanya sedikit menghitam. Mungkin, wakil ketua The Vagos itu kurang tidur akhir-akhir ini.
“Kok bisa kayak gini sih, Fal?” tanya Aleyza dengan raut wajah ingin tahu.
Naufal menghela napas berat. Lelaki itu Kembali duduk. “Gue nggak tau kronologi pastinya. Tiba-tiba, ketika gue mau perjalan menuju rumah. Aldo nelpon gue, katanya dia di keroyok. Pas gue sampai ditempat tujuan, dia udah pingsan gitu aja.”
“Pasti ulah si Oktrax!” ujar Aidan beropini.
“Bisa jadi! Soalnya cuman mereka yang suka cari gara-gara sama kita kan.” Timpal Adelard sependapat dengan Aidan.
“Bukan.” Balas Lemuel. Semuanya langsung menoleh ke arah lelaki itu dengan kening berkerut.
“Terus siapa kalau bukan Oktrax?!” tanya Aidan bingung.
“Gelvino nggak pernah main keroyok, kalaupun mau cari masalah. Pastinya dia bakalan langsung datang ke markas kita seperti biasanya bukan? Dan gue rasa memang bukan mereka.” Terang Lemuel.
“Benar. Tapi, biar lebih tau jelasnya kita nunggu Aldo dulu.” Kata Athaya.
“Aldo udah lama di dalam nya?” tanya Aleyza pada yang lainnya.
Naufal mengangguk. “Sekitar satu jam lebih ada.”
Athaya menggandeng tangan Aleyza untuk mengajak gadis itu duduk di kursi. Hari sudah sangat malam, membuat rumah sakit terlihat begitu sepi.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter Bersama ketiga perawat keluar dari ruang ICU. Naufal dan yang lainnya langsung berdiri untuk bertanya kondisi Aldo saat ini.
“Saya sepupunya, dok.” Balas Naufal cepat.
Dokter itu mengangguk. “Tidak ada luka yang serius pada tubuh pasien. Memang hanya terdapat beberapa luka memar saja. Untuk saat ini, pasien butuh istirahat. Beberapa hari lagi, pasien bisa menjalani hari-hari seperti biasanya.”
Semua yang mendengar itu langsung menghela napas lega. Beruntunglah mereka kalau Aldo tidak kenapa-napa.
“Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap. Mau kelas yang apa?’ tanya perawat di belakang dokter itu.
“VVIP.” Balas Athaya tanpa banyak pikir.
***
Aldo masih belum sadarkan diri. Lelaki itu harus istirahat total sampai pagi nanti. Adelard dan Lemuel sudah tidur lelap di sofa ruang rawat Aldo. Sementara Naufal dan Aleyza asyik berbincang membicarakan Alice.
Hanya Aidan dan Athaya yang berada di luar ruangan. Kedua lelaki itu duduk berdua di taman depan rumah sakit.
“Rokok, Tha?” tanya Aidan setelah menyulut rokoknya dengan pematik api. Ia menyodorkan bungkus berisi rokoknya ke arah Athaya.
“Lo tau sendiri kalau gue anti rokok kan?” balas Athaya.
Aidan berdecak sebal. “Ck! Nyobain sekali aja nggak bisa gitu?” tanyanya. Selama ini, Athaya memang paling anti dengan yang Namanya rokok.
“Gue harus tetap sehat. Kalau gue sakit parah karena merokok, yang jagain Eyza siapa?” balas Athaya membuat Aidan tertawa.
“Ck! Nggak segitunya juga kali, nggak usah lebay lo.”
“Menurut lo itu mah! Menurut gue beda lagi. Gue terlalu sayang sama Eyza.”
Aidan refleks menempeleng kepala Athaya. “Benar-benar bucin parah lo!”
“Jelas! Lagipula, gue bucin juga karena emang ada orang yang harus di bucinin. Emangnya lo? Jomlo aja sok-sok an,” ujar Athaya meledek Aidan.
Dengan tersenyum kecut, Aidan menjawab. “Gue mah tipikal cowok yang mau langsung nikah aja, udah gitu biar langsung en*-en* juga.”
__ADS_1
Athaya menggeleng-gelengkan kepalanya. Lelaki itu berdiri dari duduknya membuat Aidan menatapnya bingung. “Gue mau ke dalam duluan, Dan. Lo habisin rokoknya, udah gitu nyusul gue juga ke dalam.”
Aidan mengangguk. “Siap.”
Athaya melangkah pergi dari taman rumah sakit. Lelaki itu masuk Kembali ke dalam ruang rawat Aldo. Kehadirannya langsung disambut oleh senyuman lebar Aleyza dengan senyuman tipis Naufal.
“Tha, Eyza ngantuk.” Aleyza menghampiri Athaya. Gadis itu memeluk kaki Athaya dengan pandangan mendongak ke atas.
Athaya tertawa kecil melihat tingkah manja Aleyza. Ia membantu gadis itu berdiri. “Ngantuk hmm? Mau tidur dimana nih?” tanya nya dengan lembut.
Aleyza menunjuk satu sofa yang kosong. “Ditemenin Thaya ya.”
Athaya mengangguk. Ia membopong tubuh Aleyza dengan gaya bridal style.
Dengan cepat, Athaya membaringkan tubuh Aleyza di atas sofa. Setelahnya, ia berdiri di ujung sofa kemudian meletakkan kepala Aleyza di atas pahanya.
“Eyza tidur, boleh?” tanya Aleyza dengan kedua matanya yang mulai terpejam.
Athaya tersenyum menanggapi itu. Ia mengelus kepala gadis itu dengan lembut. Kedua matanya menatap pahatan wajah Aleyza yang terlihat begitu cantik nan indah.
Tingkah Athaya tentu tidak lepas dari perhatian Naufal. Lelaki itu dapat merasakan betapa sayangnya Athaya kepada Aleyza.
“Tha, memangnya semalaman lo kayak gitu nantinya nggak pegal?” tanya Naufal yang merasa posisi Athaya pasti akan sangat melelahkan nantinya.
Athaya menggeleng pelan. “Nggak apa-apa, yang penting Aleyza bisa tidur nyenyak itu udah bikin gue tenang.”
***
Pagi pun tiba.
Beruntung hari ini adalah hari Minggu, jadi mereka semua libur sekolah. Enam inti The Vagos itu berdiri mengitari Aldo yang baru saja membuka matanya. Lelaki itu masih terlihat lemas.
“Nih, minum dulu.” Naufal menyodorkan segelas air putih ke arah Aldo. Lelaki itu berusaha untuk duduk dibantu oleh Athaya.
Naufal membantu Aldo untuk meminum air putihnya. Lelaki itu meringis karena ujung bibirnya yang sobek itu terasa sakit.
“Siapa?” tanya Lemuel tanpa basa-basi. Lelaki yang satu itu memang jarang bicara, dan sekalinya bicara hanya untuk hal yang penting.
Aldo menggeleng pelan. “Gue nggak tau mereka siapa.” Balasnya dengan suara pelan.
Naufal mengerutkan keningnya. “Beneran lo nggak tau mereka siapa, Do?”
“Serius, gue nggak tau mereka siapa. Mereka itu asing, dan gue nggak pernah bertemu mereka sebelumnya.” Balas Aldo mengingat-ingat kejadian semalam. “Waktu gue pulang dari markas, tiba-tiba ada segerombolan orang yang ngikutin gue dari belakang. Mereka halangi motor gue, dan mulai keroyok gue.”
“Bukan Oktrax ya?” tanya Athaya untuk memastikan.
Aldo lagi-lagi menggeleng. “Bukan. Mereka juga bukan seumuran gue atau kita.”
“Terus?” tanya Aleyza.
Aldo berusaha mengingat-ingat. “Seumuran orang tua kita.” Balasnya kemudian.
Aidan mengelus dagunya dengan kening berkerut. “Apa ini ada hubungannya dengan teror yang sedang Eyza hadapi?”
Athaya menoleh ke arah Aleyza yang berdiri di sampingnya. “Menurut kamu, Za?”
Aleyza menggeleng tanda tak tahu.
Athaya menghela napas berat. “Kita kecolongan lagi.”
Naufal mengangguk. “Aleyza sama Aldo udah kena. Habis ini siapa lagi incaran mereka?”
“Nggak, gue harap nggak ada korban lagi setelah ini.” Aleyza menipiskan bibirnya.
Kemudian kening gadis itu mengerut saat merasa handphone di genggamannya bergetar.
“Kenapa harus nomor nggak di kenal lagi?” batin Aleyza. Diam-diam gadis itu mengecek pesan yang masuk itu.
Jantung Aleyza berdebar tak karuan. Ia refleks menoleh ke arah Athaya. Tidak! Jangan sampai hal itu terjadi!
Aleyza mulai mengetikkan balasan secara diam-diam.
__ADS_1