
“AAAAA”
Aleyza membuang sebuah kotak berisi kelinci dengan kepalanya yang sudah terpisah dengan badan itu. Ia menemukan sebuah kota itu di depan rumahnya sepulang dari markas tadi.
Gadis itu memegang dadanya yang berdegup kencang. Keringat dingin mulai bercucuran di keningnya.
Ia menoleh ke samping dan tepat saat itu juga, dirinya terkejut setelah melihat tetesan darah di cermin kamarnya. Bau amis menguar di seluruh penjuru kamar membuatnya ingin muntah.
Dengan kaki yang gemetar hebat, Aleyza berjalan menuju lemari bajunya. Ia mengambil sebuah kain di sana. Setelahnya, gadis itu berjalan menuju kamar mandi di kamarnya untuk mengambil ember berisi air. Meski harus menahan mual, ia mulai membersihkan cermin yang berlumuran darah. Kepalanya mendadak pening karena itu.
“Kamu adalah gadis egois, kamu adalah pembunuh, dan kamu harus mati.” Gumam Aleyza membaca sebuah tulisan di cermin itu.
“Gue nggak egois! Gue juga bukan pembunuh!” ujar Aleyza dengan dada yang naik turun menahan amarah. “GUE BUKAN PEMBUNUH!” ulangnya lagi.
“Kak Maisie memilih bunuh diri itu karena memang pilihannya sendiri! Bukan gue yang memaksanya untuk bunuh diri! Jadi gue bukan pembunuh!”
***
Aleyza berjalan sempoyongan menuju kelasnya. Semalam ia tidak bisa tidur hingga membuat kantung matanya menghitam. Itu sebabnya ia sengaja berangkat lebih pagi untuk menghindari Athaya.
Bisa-bisa lelaki itu memarahinya kalau tahu dirinya tidak tidur semalaman.
Dengan mata setengah tertutup, Aleyza menyalakan saklar lampu di kelasnya. Belum ada satu orang pun di sana. Itu tandanya, Aleyza menjadi murid yang berangkat paling awal di kelasnya.
“Apalagi ini?” tanya Aleyza entah kepada siapa setelah melihat mejanya terdapat sebuah kertas.
Aleyza memegang kepalanya yang terasa sakit. Kalau seperti ini terus, ia rasa dirinya akan gila secara mendadak.
Gadis itu berjingkrak kaget saat seseorang menepuk pundaknya kencang. Aleyza menoleh ke belakang, rupanya Alice. Syukurlah kalau begitu.
“Lo kenapa?” tanya Alice dengan panik saat melihat kondisi wajah Aleyza saat ini. “Semalam lo pasti nggak tidur kan? Kelihatan banget dari mata lo.”
Aleyza mengangguk. Ia mendudukkan bokongnya di atas kursi. Gadis itu membuang asal kertas itu. “Gue lagi banyak pikiran, Lice.” Balasnya.
Alice mengangguk. Ia ikut duduk di sebelah Aleyza. “Kalau gitu, lo tidur aja dulu. Nanti kalau udah ada guru gue bangunin lo.”
Aleyza tersenyum tipis. “Anak yang sangat peka, pinter.”
__ADS_1
Alice cemberut kesal. “Gue emang peka dan juga pinter ya!”
“Serius?”
“Seriusan Eyza!”
“Iya deh iya, oh iya. Tumben banget lo berangkat pagi?” tanya Aleyza dengan pandangan bertanya ke arah Alice.
“Emangnya masalah? Padahal kan gimana gue ya.” Balas Alice dengan tak santainya.
***
“Za, kamu kenapa?” Athaya bertanya panik kepada Aleyza yang sejak tadi terlihat gelisah.
Beberapa kali gadis itu menghela napas berat juga terlihat tidak nyaman. Apalagi kedua kantung matanya yang menghitam, menjadi tanda bahwa Aleyza sedang tidak baik-baik saja.
“Jangan ada hal yang lo sembunyikan dari kita, Za. Kalau ada sesuatu lebih baik lo langsung ngomong aja,” ujar Naufal.
Aleyza memejamkan matanya sejenak. Jujur saja ia masih kepikiran dengan kiriman semalam juga dengan kertas yang ada di mejanya tadi. “Gue takut, dan karena itu gue gelisah.” Katanya pelan.
“Kenapa, Za?” tanya Athaya. Lelaki itu menggenggam tangan Aleyza hangat.
“Semalam, gue dapat teror lagi dan itu makin parah. Ada sebuah kota yang isinya bangkai kelinci dengan kepala yang sudah terpisah dari tubuhnya, belum lagi cermin kamar gue yang banyak banget darah. Tadi pagi juga, ada kertas di meja gue yang gue rasa itu juga dari si peneror. Di-dia, dia bilang kalau gue pembunuh.” Kata Aleyza dengan sorot mata penuh ketakutan.
Aleyza menggeleng pelan. “Gue Cuma nggak mau kalian kerepotan karena mikirin ini.”
“Za, kalau lo masih ngerasa nggak enak sama kita. Itu artinya kita belum lo anggap sebagai keluarga. Lo itu kalau ada apa-apa bisa nggak sih buat langsung bilang sama kita, Za?” ujar Aidan.
“Menurut gue, pulang sekolah nanti.kita datang ke rumah Maisie.” Usul Lemuel membuat mereka semua saling pandang.
“Ngapain?” tanya Adelard heran.
“Gue rasa, teror yang Eyza alami ini ada sangkut pautnya dengan Maisie.” Ujar Lemuel.
“Kalau gitu, gue setuju. Yang lain gimana?” balas Aldo tanpa banyak pikir.
Mereka semua pun akhirnya mengangguk kompak tanda setuju dengan usulan dari Lemuel tentunya.
***
Para Inti The Vagos itu sudah sampai di depan sebuah rumah besar bernuansa Itali. Rumah yang dulunya terlihat begitu indah dan terawat, kini usang dan kotor.
__ADS_1
Mereka semua mengerut bingung, rumah di depan mereka ini terlihat seperti yang sudah tidak berpenghuni.
“Om Willy sama tante Farah beneran udah nggak tinggal di sini?” tanya Naufal kepada yang lainnya. Tidak mungkin juga sih jika rumah di depan mereka masih berpenghuni dengan kondisi yang usang dan kotor ini.
“Kayaknya mereka beneran untuk menetap di luar negeri nggak sih? Soalnya ini rumah aja angker banget.” Adelard bergidik ngeri melihatnya.
“Ya kan siapa tau aja mereka masih tinggal di sini.” Balas Aidan.
Aleyza menggeleng lesu. “Nggak mungkin juga, liat deh rumah ini aja nggak terawat berarti memang mereka udah nggak tinggal di sini.”
“Niat kita kan ke sini Cuma mau pastiin aja apa mereka masih tinggal di rumah ini atau enggak. Kalau nggak ada gini sih ya udah.” Timpal Aldo.
Aleyza menghela napas berat. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Lingkungan rumah Maisie terlihat begitu sepi.
“Yasudah, mending kita balik ke markas aja ya,” ujar Naufal menginstruksi.
“Oke, kita bahas ini di sana.” Timpal Adelard menyetujui.
Mereka semua pun Kembali menaiki motor masing-masing. Aleyza yang memang sengaja meninggalkan motornya di sekolah pun naik ke atas boncengan motor Athaya.
Lelaki itu melarangnya untuk mengendarai motornya sendiri.
“Za, udah belum” tanya Athaya setelah selesai memakai helm di kepalanya.
Tanpa mereka sadari, dari arah berlawanan ada dua orang berboncengan motor yang mengendarai motornya secara ugal-ugalan.
Pengendara motor itu tiba-tiba saja memepetkan motornya ke arah Aleyza, hingga saat Aleyza akan menaiki motor Athaya dan …..
Blush.
“Aaakhhh.”
Pengendara motor itu ternyata memang sengaja memepetkan motornya ke arah Aleyza karena memang sedang mengincarnya.
Mendengar rintihan Aleyza, Athaya dengan cepat menoleh ke arah belakang, kedua matanya membulat saat melihat Aleyza kesakitan. Ia langsung turun dari atas motornya.
“Pi…, pinggang aa…, aku,” ujar Aleyza dengan terbata.
Athaya memeriksanya dengan cepat. Tepat saat itu juga ia terkejut bukan main saat melihat sebuah pisau tertancap di pinggang kanan milik Aleyza yang telah berlumuran dengan darah.
__ADS_1
“ANJ*NG! SIAL*N!” umpatnya refleks.