Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Positif 2


__ADS_3


“Hiks… aku serius.”


“ZA! LO SERIUS?!” teriak Aidan heboh.


Semua inti The Vagos masih memerlukan waku untuk mencerna semuanya. Mereka menatap ke arah Aleyza dan juga Athaya dengan tatapan tak percaya.


Aleyza, hamil? Oleh Athaya? Bagaimana bisa? Mereka tahu bagaimana Athaya. Tidak mungkin Athaya tega melakukan itu kepada Aleyza.


“Za, lo ngomong apa sih?!” tanya Aldo yang masih tidak paham juga.


“Hiks…, Eyza hamil. Gara-gara Thaya,” ujar Aleyza sembari terisak.


“Tunggu-tunggu! Ini tolong maksud ucapan Aleyza itu gimana ya? JELASKAN SEKARANG!” ujar Adelard maju lagi dengan gayanya yang sok itu.


Temannya yang lain pun setuju dengan ucapan Adelard.


Athaya bangkit dari posisinya dan menatap semua temannya.


“Iya, seperti yang kalian dengar tadi. Eyza hamil dan itu anak gue. Lo semua ingat kejadian dimana gue nggak jadi buat balapan sama Gelvino? Di hari itu, anak-anak Oktrax udah menjebak Eyza dengan bilang kalau gue di tahan mereka di Secret Club'. Eyza yang panik, tanpa pikir Panjang jelas datang ke sana. Dia terpaksa di buat mabok sama Gustian dan anak-anak Oktrax yang nggak ada di lokasi balapan. Gustian juga udah masukin obat perangsang di minuman yang Eyza minum. Andai kata gue datang telat, mungkin Gustian yang udah ngelakuin itu. Gue juga terpaksa harus ngelakuin itu ke Eyza, gue tau gue yang salah. Tapi, gue bakalan tetap bertanggung jawab akan anak gue dan juga Eyza,” ujar Athaya menjelaskan kejadian malam itu yang menimpa dirinya dan juga Aleyza.


“Kenapa lo harus ngelakuin itu sih, Tha?” kali ini Lemuel yang bertanya.


“El! Gue nggak tega ngeliat Eyza tersiksa! Lo tau sendiri efek dari obat perangsang itu gimana kan?!"


“Sia*l*n! lo sadar nggak sih, Tha?! Hubungan lo sama Eyza itu rumit! Di tambah lagi dengan Aleyza yang hamil anak lo emangnya hubungan ini mudah?! Enggak! Lo sadar nggak sih bego!” ucap Adelard dengan sorot mata kecewa itu.


“YA TERUS GUE HARUS GIMANA BANG?! ANAK YANG DI KANDUNG EYZA ITU ANAK GUE! DAN OTOMATIS KEPONAKAN LO! GUE NGGAK PEDULI DENGAN PERBEDAAN YANG ADA ANTARA GUE DAN JUGA EYZA! YANG GUE TAU! ITU ANAK GUE! GUE PAPAH NYA! DAN BIARKAN GUE YANG CARI JALAN KELUAR NYA SENDIRI!”Athaya jadi emosi dibuatnya.


Bugh.


Lemuel mencengkeram erat kerah seragam milik Athaya. Lelaki yang seragamnya sudah berantakan itu menatap nyalang ke arah Athaya yang sudah ia pukuli.


“Lo bego atau gimana sih Anj*ng! enteng banget ya lo ngomong gitu! Lo pernah nggak sih mikirin ke depannya kalian tuh harus gimana?!” ujar Lemuel. Urat lehernya terlihat menonjol. Pembawaannya yang terbiasa tenang, kini tak lagi berlaku. Lemuel yang sekarang terlihat benar-benar berbeda. “Lo mau tanggung jawab? Gimana hah?! Mau nikahin Eyza?! Terus lo mau nikahin dia gimana?! Lo mikir nggak sih?!”


Lemuel mendorong Athaya hingga membentur dinding markas. Athaya sama sekali tidak melawan dan membiarkan Lemuel yang bebas memukul wajahnya dan tubuhnya.


“Hiks… El, udah…. Bukan salah Thaya juga,” ujar Aleyza yang berusaha memisahkan pertengkaran keduanya.


“Selama ini gue emang diem aja! Tapi, untuk kali ini gue nggak bisa, Za! Kalian itu makin memperumit hubungan tau!” geram Lemuel. Lelaki itu Kembali memberi pukulan di rahang Athaya.


“Hiks… El udah, udah… bang Delard… pisahin mereka. Fal, pisahin aaaa hiksss…” raung Aleyza. Entah mengapa, ia menjadi sensitif begini.


“Arghhh! Bego lo! Sia*l*n! Anj*ng!” kesal Lemuel. Ia pun menyudahi perbuatan nya itu.


“Athaya…. Eyza lapar, pengen makan!” rengek Aleyza mendongak sambil menarik-narik baju seragam Athaya dari samping. “Udahan berantem nya ih, Eyza lapar.”

__ADS_1


“Eh? Tadi siang lo belum makan, Za?” tanya Lemuel yang kini mulai Kembali tenang.


“Udah, El. Tapi, Eyza lapar lagi.”


“Za! Biasanya lo paling anti makan banyak, lah ini njir.” Ujar Aidan heran.


“Jangan lupa kalau sekarang ini Eyza lagi hamil, itu pastinya bawaan bayi.” Timpal Naufal tenang seakan-akan paham dengan kondisi ibu hamil.


“Ya udah ayo kita cari makan ya, sayang.” Ajak Athaya mengulurkan tangannya untuk Aleyza.


Aleyza pun langsung sumringah dan menerima uluran tangan kekar itu.


“Ayok!” ucapnya dengan semangat dan tersenyum lebar.


Athaya tersenyum manis melihat betapa antusiasnya Aleyza sampai ia mengabaikan beberapa luka di wajahnya yang diakibatkan oleh pukulan Lemuel tadi. Menurutnya, luka itu tidak terasa sakit akibat melihat senyum mengembang milik Aleyza.


Mereka berdua pun pergi dengan bergandengan tangan. Mengabaikan para penonton setianya itu.


“Anj*ng! kita ini beneran ditinggal pemirsa?!” ucap Aldo sedikit lantang.


Aidan, Adelard, dan Naufal pun ikut beranjak dari sana mengabaikan Aldo dan juga Lemuel yang sedang berbicara sejenak.


“Heh?! Mau kemana lo semua hah?!”


“Ikut tuh dua curut drama nyari makan lah! Lo kalau masih mau diem di markas sih silahkan.” Jawab Naufal yang berjalan paling belakang dari yang lain.


“GOBL*G BENER GUE PUNYA TEMEN!” umpat Aldo lalu ikut mengejar yang lain dengan Lemuel yang berjalan santai di belakang nya.


“Darimana aja kamu?!” suara datar nan dingin Kendrick menyambut kehadirannya.


Aleyza seketika menegang di tempat. Perasaannya tidak enak.


Dapat Aleyza lihat, bahwa Keyla sedang terdiam sembari menundukkan kepalanya.


“PAPAH TANYA KAMU DARI MANA?!” pria paruh baya itu terlihat sangat marah. Bahkan, suara gemelatuk giginya bisa terdengar oleh gadis itu.


“Da-dari markas The Vagos, pah.” Jawab Aleyza.


Kendrick bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Aleyza. Menatap tajam anak gadisnya itu dan Plak!


“ANAK KURANG AJAR KAMU! SELALU SAJA MEMBUAT PAPAH MALU!”


Aleyza spontan memegangi pipinya yang terasa panas sambil menatap sang Papah dengan pandangan bertanya-tanya.


Ada apa ini? Kesalahan apa lagi yang ia perbuat hingga Kendrick se-marah ini?


“Ap-apa salah Aleyza, pah?” tanya Aleyza sesenggukan.

__ADS_1


Tak.


Aleyza membulatkan matanya saat Kendrick melemparkan testpack yang ia gunakan kemarin siang tepat ke hadapan wajahnya.


“ITU PUNYA KAMU KAN? PUNYA KAMU KAN?!”


Aleyza mengambil benda itu. “Papah da-dapat i-ini da-dari mana?” tanya Aleyza tergagap.


Mengapa alat itu masih ada di dalam rumahnya? jelas-jelas dia sudah membuangnya sejauh mungkin dari jangkauan rumah.


“NGGAK PENTING PAPAH DAPAT ITU DARI MANA!” Kendrick memegang dadanya yang terasa sakit.


“PAPAH SALAH APA SAMA KAMU ALEYZA?!INI YANG PAPAH TAKUTKAN KALAU KAMU BERGAUL SAMA GENG SIA*LAN ITU!” bentak Kendrick.


“BERAPA KALI PAPAH BILANG BUAT JANGAN BERTEMAN SAMA MEREKA! LIHAT! INI HASILNYA KAN! MEMANG ANAK KURANG AJAR KAMU!” pria paruh baya itu menjambak kasar rambut Aleyza.


Aleyza hanya berani menangis kali ini. Membela diri? Untuk apa? Lagipula ini memang kesalahannya.


“SIAPA AYAHNYA?!” tanya Kendrick.


Aleyza tak menjawab.


“SIAPA AYAHNYA ALEYZA?! ATAU KAMU ITU DI GILIR SAMA ANAK-ANAK GENG SIA*LAN ITU HAH?!”


Deg.


Aleyza masih tetap diam saja meski sebenarnya ia sakit hati dengan ucapan Papah nya sendiri. Ia tidak serendah itu untuk mau di gilir oleh banyak lelaki. Lagipula, ini adalah sebuah kecelakaan yang dirinya dan Athaya buat. Entah mengapa, Aleyza jadi tidak berani untuk mengatakan bahwa Athaya adalah ayah dari anak yang sedang di kandungnya.


Kendrick yang merasa geram melihat putrinya itu hanya diam saja, menggenggam kasar tangan gadis itu lalu menyeretnya menuju pintu keluar.


Aleyza hanya bisa pasrah mengikuti Langkah besar papahnya sambil merintih sakit akibat cengkraman kuat Kendrick pada pergelangan tangannya.


Mamahnya? Keyla hanya bisa menatap kecewa pada Aleyza. Bagaimana bisa anak gadisnya menjadi seperti ini.


“KELUAR KAMU DARI RUMAH SAYA! JANGAN HARAP BISA KEMBALI SEBELUM MEMBAWA PULANG LAKI-LAKI BAJINGAN ITU KE SINI!”


Brak.


Pintu di tutup kuat oleh Kendrick.


“Eyza harus kemana sekarang?” batin Aleyza.


Duarrr.


Suara petir menggelegar memenuhi langit di atas sana.


Aleyza mendongak. “Kayaknya udah mau hujan. Eyza harus kemana ini? Ke rumah Thaya? Nggak mungkin juga. Tadi kan Thaya balik lagi ke markas, atau Eyza ke sana aja?” monolognya sambil menatap langit kelabu.

__ADS_1


Dengan perasaan campur aduk, gadis itu memutuskan pergi dari sana. Menggenggam erat tas sekolahnya lantas melangkah menuju pagar rumahnya di depan sana.



__ADS_2