Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Semakin Membingungkan


__ADS_3


“Atha, ngapain kamu ke sini?” tanya Aleyza pada Athaya yang entah sejak kapan duduk di atas kasurnya. Ia berjalan mendekat ke arah lelaki itu, lalu duduk di sampingnya.


Athaya mengulas senyum tipis. “Emang nya nggak boleh, hmm?” tanyanya seraya menyibak rambut Aleyza ke belakang.


“Bukannya nggak boleh. Tapi kan udah malam, kenapa kamu nggak belajar aja sih.” Aleyza mencebik kan bibirnya.


Athaya tertawa kecil. “Lagi nggak mau belajar. Mau nya kamu.”


Aleyza memutar bola matanya malas. Ia menatap Athaya ogah-ogahan. “Ngomong apa sih kamu.”


“Aku mau nya kamu.”


Aleyza melotot. “Apaan sih, Tha.”


Athaya tertawa lagi. Ia menatap Aleyza dengan tatapan teduh. Tatapan hangat yang hanya ia berikan kepada Aleyza dan keluarganya sendiri.


“Om Kendrick sama Tante Keyla hari ini pulang ke rumah ya?” tanya Athaya untuk memastikan.


Air muka Aleyza langsung berubah muram. Kepalanya mengangguk pelan.


“Za.” Panggil Athaya.


“Apa?”


“Aku khawatir, dan aku takut. Za.”


Aleyza memandang Athaya bingung. Dahinya mengernyit, tanda tak paham dengan apa yang Athaya katakan. “Ngomong apa sih?! Bisa nggak kalau ngomong tuh jangan setengah-setengah!”


“Aku khawatir sama kondisi kamu, aku takut…, takut kamu kenapa-napa dan aku takut kalau dia nggak beneran meninggal.”


Kalimat itu berhasil membuat Aleyza bungkam dengan kebingungannya sendiri.


***


Setelah berbincang dan mengeluarkan keluh kesah nya Bersama Athaya. Kini lelaki itu sudah pulang. Aleyza pun memutuskan untuk tidur, namun niatnya tertunda saat mendengar lemparan kerikil di jendela kamarnya.


Karena penasaran, Aleyza pun hendak melihatnya melalui balkon kamarnya. Ia tidak menyangka kalau justru melihat sebuah kotak berwarna biru persis seperti kotak sebelumnya yang pernah ia terima.


“Buka nggak ya?” tanya Aleyza bimbang. “Kalau isinya silet atau bahkan kayak waktu itu lagi gimana?”


Aleyza menggigit bibir bawahnya kuat. Ia ingin memanggil Athaya, tapi sepertinya lelaki itu sudah cukup kelelahan hari ini. Aleyza tidak ingin menambah beban Athaya, ia cukup tau lelaki itu pasti butuh istirahat juga.


Aleyza membuka penutup kotak itu secara perlahan. Matanya sedikit terpejam seraya terus membuka penutup itu hingga benar-benar terbuka sempurna. Matanya langsung membulat, ia menatap isi kotak itu dengan pandangan setengah tidak percaya. Itu adalah foto Athaya dan juga Maisie.


Dari mana si peneror mendapatkan foto-foto ini semua?


Dengan tangan gemetar, Aleyza mengambil secarik kertas yang ada di sana.


__ADS_1


“Egois, ijinkan untuk ber egois?” Aleyza berujar resah. Jika seperti ini terus, sudah di pastikan ia bisa gila mendadak.


Gadis itu mengambil selembar foto Maisie. “Kak…, apa lo beneran masih hidup?” lirih Aleyza terdengar pelan. “Kalau lo beneran masih hidup, dan lo beneran ingin egois. Silahkan kak.”


Aleyza menghela napas berat. Ia segera memasukkan foto-foto itu ke dalam kotak lagi. Tidak ingin menyimpannya, Aleyza pun membuangnya ke tempat sampah.


***


Pagi ini. Setelah selesai sarapan, Aleyza dan Athaya berjalan ke depan untuk berangkat ke sekolah Bersama.


Athaya yang melihat rok Aleyza terlalu pendek pun langsung mengikatkan jaketnya di pinggang gadis itu.


“Kamu nggak ada rok lain apa? Awas aja kalau besok masih pake rok ini, aku sobek-sobek tuh rok.” Ancamnya. Sungguh terdengar sangat mengerikan di telinga Aleyza.


“Iya Thaya.” Pasrah Aleyza meskipun sedikit tidak rela.


Saat gadis itu ingin naik motor Athaya, tiba-tiba suara dari notifikasi ponselnya berbunyi. Aleyza tidak jadi naik, buru-buru ia menyalakan layar ponselnya.



Aleyza meneguk ludahnya susah payah. Gadis itu terdiam dengan jantung yang berdebar kencang. Pesan itu…., mengapa seakan menjadi pesan penjawab atas kalimatnya semalam?


Athaya yang menyadari kalau Aleyza tidak kunjung naik motor pun menoleh. Rupanya, gadis itu tengah sibuk memandang layar ponsel dengan kening berkerut. Karena penasaran, Athaya pun merampas ponsel gadis itu membuat Aleyza tersentak kaget.


Athaya membaca cepat sebuah pesan yang masuk di ponsel milik Aleyza. Kedua alisnya bertaut tanda bahwa dirinya dilanda kebingungan.


“Palingan Cuma orang iseng kok,” ujar Athaya.


Athaya mematikan layar ponsel Aleyza lalu memberikannya kepada gadis itu. “Semalam? Kenapa sama semalam setelah aku pulang?”


“Semalam setelah kamu pulang aku dapat bingkisan dan sebuah kertas. Isinya foto-foto kamu sama Kak Maisie, terus kertas nya berisi tulisan Gue ingin ber egois, apa lo ijin kan?.”


“Semalam? Kamu dapat bingkisan?” beo Athaya. Lelaki itu menghela napas berat. “Kenapa kamu nggak langsung ngasih tau aku, Za?”


“Aku nggak mau ganggu kamu, kamu juga perlu istirahat kan. Lagipula, emang niatnya hari ini aku mau ngasih tau kamu kok.” Balas Aleyza.


Athaya memejamkan matanya sejenak. Ia memijat pangkal hidungnya. “Za. Kalau nanti kamu dapat yang kayak gini lagi langsung hubungi aku ya. Luka di jari tangan kamu aja belum sembuh benar, emang nya mau kalau ada yang terluka lagi? Jangan bikin aku terus-terusan khawatir sayang.”


Aleyza mengangguk. “Iya, aku minta maaf ya Thayang.”


“Ini semakin membuat aku bingung, Za. Aku semakin curiga kalau peneror ini ada sangkut pautnya dengan kematian Maisie.”


***


Kernyitan di dahi Athaya tercetak begitu jelas. Ia mengamati wajah Aleyza yang murung akhir-akhir ini. Biasanya gadis itu akan selalu ceria dan usil sekali. Lainnya dengan saat ini. Aleyza terlihat lebih diam. Bukan Cuma dirinya saja yang merasa aneh, tapi anak-anak The Vagos yang lain pun sama merasakannya.


“Za, lo kenapa?” tanya Aidan penasaran.


Aleyza menggeleng pelan. Wajahnya yang cemberut itu terlihat imut bercampur menakutkan. “NGGAK USAH NGELIATIN GUE SEBEGITU NYA! GUE COLOK MATA LO!” sarkas nya kepada seorang siswa yang sejak tadi menatapnya.


Siswa yang bernama Bayu itu langsung membuang pandangannya ke arah lain kemudian berlalu dari tempat semula. Mencari aman intinya.

__ADS_1


“Sayang, nggak boleh galak-galak gitu.” Athaya mengulas senyum tipis. Ia menepuk pelan puncak kepala Aleyza sebanyak tiga kali. “Kamu kenapa sih, hm? Jangan cemberut gini dong, bikin aku overthinking tau.”


“Namanya juga cewek! Emang paling jago bikin cowok overthinking, itu dia alasan gue selama ini jomlo!” timpal Aidan.


“Halah alasan lo! Lo kan emang nggak laku!” Aldo menjulurkan lidahnya untuk mengejek Aidan.


“Gue? Nggak laku?! Mana ada! Gue kan ganteng, bukan nggak laku. Ya karena emang gue males kalau harus ngurusin cewek, jadi mending jomlo.” Balas Aidan dengan wajah sombongnya.


“Tuh, si Adelard juga perasaan jomlo. Kenapa nggak di ejek juga?” tanya Naufal. Ia melirik ke arah Adelard yang berada di ujung gazebo.


“Ngejek tuh anak? Sama aja bunuh diri gue!” balas Aldo.


Athaya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan para sahabatnya itu. Ia Kembali fokus dengan Aleyza. “Ke kelas? Aku antar yok.”


Aleyza menggeleng. Terdengar helaan napas Panjang dari mulut gadis itu. Seluruh atensi mengarah padanya. Dari sorot kedua mata Aleyza, jelas sekali kalau gadis itu tengah menyembunyikan sesuatu.


“Kamu kenapa sih, sayang?” tanya Athaya yang semakin heran dengan Aleyza.


“Lagi-lagi aku dapat pesan dari nomor itu. Dan isi pesan nya tetap sama. Menurut kalian, ini kerjaan siapa?”


***


“Gue semakin bingung. Akhir-akhir ini Aleyza selalu kena teror.” Athaya berujar sembari mengelus rambut Aleyza. Gadis itu tertidur dengan posisi menyender di dadanya.


Aidan yang tengah asyik memakan cemilan nya itu langsung tersedak akibat perkataan Athaya. Adelard yang berada di sampingnya malah tertawa laknat.


“Aneh nggak sih? Masa iya teror ini ada setelah sehari kematian Maisie.” Tutur Aidan.


Athaya mengangguk setuju. “Gue juga berpikiran begitu. Ngerasa aneh aja gitu.”


Naufal menautkan kedua alisnya, tanda bahwa lelaki itu tengah berpikir. “Ada sangkut pautnya nggak sih?”


“Dia beneran meninggalkan?” tanya Adelard.


Athaya menghela napas berat. “Nggak tau. Tapi, ini semua semakin membingungkan.”


Aidan yang sejak tadi hanya cengengesan itu pun langsung berubah serius. “Masa iya Cuma orang iseng?”


Athaya menggeleng cepat. “It’s impossible if people are fun.” “Kalian lupa? Bahwa dia pernah dapat bingkisan yang isinya silet kan? Belum lagi kemarin dia dapat bingkisan yang isinya foto-foto gue dan Maisie dan kertas yang berisikan tentang keinginan untuk egois.”


Naufal meringis mendengar itu. “Serius?”


Lemuel tertawa pelan. “Emang nggak bener nih.”


Atensi kelima lelaki itu langsung tertuju ke arah Lemuel. Mereka menatap lelaki itu dengan tatapan bertanya-tanya.


“Emang nya kalian yakin kalau dia udah meninggal?”


Pertanyaan dari Lemuel itu berhasil membuat mereka bungkam.


__ADS_1


__ADS_2