Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Prioritas


__ADS_3


“Ikat pinggang lo mana? Masa iya lo nggak punya uang buat beli tuh ikat pinggang? Push up tiga puluh kali!”


“Itu coba seragam lo masukin napa! Biar rapih dan terlihat jadi anak teladan gitu kan!”


“Karena hari ini lo telat, lo lari keliling lapangan sepuluh putaran.”


Tiga siswa yang melanggar peraturan itu pun langsung menurut dengan apa yang Aleyza perintahkan. Sikap cewek itu tidak akan ada takut-takut nya meski sudah memarahi beberapa anak lelaki. Sebab, jika ada yang berani macam-macam dengan nya. Ada Athaya dan juga anggota inti The Vagos yang turun langsung menghadapi nya.


“Lain kali jangan di ulangi lagi ya, awas kalau di ulangi. Ntar bukan gue yang negur, tapi Athaya. Mau hah?” kata Aleyza penuh penekanan. Kedua matanya itu menyorot tajam tiga siswa yang baru saja ia hukum.


“Dahlah, sana masuk kelas!” titah Aleyza tanpa mau diganggu gugat.


Ketiga siswa nakal itu langsung berlari menuju kelas masing-masing, mereka tidak ingin membatah ucapan sang ketua OSIS SMA Tranujaya karena takut nantinya yang akan turun langsung adalah Athaya atau bahkan anggota inti The Vagos.


Aleyza merapihkan rambutnya lalu menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu kini menunjukkan pukul 07.35.


Mata nya memencar, kemudian berhenti tepat pada sosok lelaki yang tengah asyik memainkan bola basket.


“Keringetan gitu aja tetep ganteng coba.” Gumamnya.


Athaya yang sadar jika di perhatikan pun menoleh ke arah Aleyza. Lelaki berambut kecokelatan yang sedikit basah akibat keringat itu melambaikan tangannya untuk menyapa sanga sahabatnya. “ALEYZAYANG!” teriak Athaya dengan heboh.


Aleyza memutuskan untuk menghampiri Athaya. Tepat saat dirinya sudah sampai di depan lelaki itu, Aleyza malah terjatuh terlungkup karena menginjak tali sepatunya yang tiba-tiba saja terlepas sendiri.


Hal itu sontak membuat Athaya kaget, buru-buru ia membantu Aleyza untuk bangkit. Sorot mata yang memancarkan ke khawatiran itu menjadi bukti bahwa ia tidak ingin gadis itu terluka.


“Za, udah berapa kali gue bilang lo itu harus hati-hati. Nggak usah lari-larian kayak gitu, kalau lo luka kan lo sendiri yang repot. Jangan suka ceroboh-ceroboh napa sih, nggak elite tau kalau misalnya Ketua Osis ceroboh gini!” ujar Athaya yang kelepasan. Bukan nya apa-apa, ini bukan kali pertama Aleyza yang jatuh akibat tersandung tali sepatunya sendiri. Sudah sering sekali Aleyza seperti ini yang mana membuat Athaya selalu geram.


“Maaf, Tha,” ujar Aleyza sembari menundukkan kepalanya.


“Awas aja ya kalau lo masih ceroboh kayak gini.” Balas Athaya dengan raut wajah ditekuk tidak suka.


“Iya Atha, iya nggak akan lagi.” Balas Aleyza sedikit terpaksa.


“Dengar nggak Aleyza?”


Aleyza berdeham pelan. “Iya Athayang, dengar kok.”


“Aleyza….”


“Apa Athayang?” balas gadis itu dengan manja.


Athaya mengukir senyum tipis. “Mau jalan sendiri atau perlu gue gendong?” tanya nya.


“No, gue bisa jalan sendiri.” Ucap Aleyza yang hanya di balas anggukan oleh Athaya.


Saat akan meninggalkan Athaya, dengan sengaja Aleyza malah menendang tulang kering Athaya sekuat tenaga.


Sebelum kena amukan Athaya, Aleyza segera berlari menjauh dengan tawa yang di umbar sempurna.


“Awssshh.” Ringis Athaya yang merasakan tulang kering nya sakit akibat tendangan dari Aleyza. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala sembari mengelus tulang kering nya yang terasa sakit.


“Untung gue sayang sama lo, Za. Lo tetap prioritas.” Gumam nya pelan.


***


Kondisi kelas XI IPA 1 sempat ricuh karena Aleyza yang masih sibuk di lapangan. Jam pelajaran masih kosong membuat seluruh murid yang di dalam nya seenaknya.


Aleyza melangkahkan kakinya cepat menuju ke dalam kelas. Sudah di pastikan bahwa suasan kelasnya saat ini tidak lah kondusif. Dan benar saja, dari tempat Aleyza berada dapat terdengar suara gaduh yang berasal dari kelas nya.


Setelah Aleyza masuk ke dalam kelas, para penghuni di kelas XI IPA 1 langsung berlagak kalem. Anggota inti THE VAGOS langsung menyambut kehadiran Aleyza, mereka dapat melihat bahwa saat ini Aleyza sedang kelelahan.


“Za, kenapa? Capek ya? Pasti capek sih, eh iya sebelumnya PR lo udah belum?” tanya Lemuel langsung pada intinya.

__ADS_1


Aleyza memutar bola matanya malas, sudah ia duga. Dibalik kekhawatiran yang Lemuel tunjukkan pasti selalu ada udah dibalik batu ujungnya.


Aleyza mengeluarkan buku PR nya untuk diberikan kepada makhluk tak tahu diri seperti Lemuel.


“Nih, dah sana ah gue capek nih.” Ucap Aleyza mengusir Lemuel agar tidak mengganggunya.


“Makasih loh Aleyzayang. Makin cinta nih.” Balas Lemuel genit, entah setengah menggoda atau memang begitu.


Athaya yang mendengar bahwa Lemuel berbicara seperti itu kepada Aleyza langsung menatap Lemuel tajam, membuat nyali Lemuel menciut.


“Macam-macam sama yang punya pawang nya galak bet lo mah.” Ucap Aidan tertawa dan di ikuti oleh siswa-siswi yang berada di kelas.


“Apa lo?!” sewot Athaya yang paham maksud dari pawang itu adalah dirinya sendiri.


“Santai dong, Tha. Galak banget lo,” ujar Aidan.


“Udah jangan marah-marah, tuh samperin cewek lo kayaknya kecapean dah.” Ucap Adelard menunjuk Aleyza menggunakan dagunya.


Athaya pun langsung bangkit dari duduknya, ia berjalan menghampiri Aleyza yang tengah asyik melamun memandangi papan tulis di depan.


“Apakah papan tulis dan gue itu lebih menarik papan tulis, sampe lo ngeliatin nya begitu amat?” tanya Athaya yang membuat lamunan Aleyza buyar. Aleyza hanya memutar kepalanya untuk melihat Athaya sekilas dan Kembali pada posisi awalnya yaitu memandangi papan tulis.


“Kenapa, Za?” tanya Athaya kepada Aleyza.


“Dia kayaknya kecapean, belum istirahat juga tuh dari tadi.” balas Alice mewakili.


Athaya menganggukkan kepalanya, ia cukup paham. Pasti di posisi Aleyza memang cukup menguras tenaga dan juga pikiran. Tentunya membuat Aleyza sering kelelahan juga.


“Tha, capek.” Rengek Aleyza.


“Lo nya aja yang banyak ngeluh, Za.” Ucap Alice tak berdosa nya.


“Gue nggak ngeluh ya! Tapi gue emang lagi capek, Alice!” balas Aleyza dengan sorot mata tidak suka.


Alice meringis sembari mengusap tengkuk. Sepertinya hari ini Aleyza memang sedang kelelahan dan berada dalam mood yang jelek.


“Iya, Sayang.” Kekeh Alice.


Athaya yang selaku teman Naufal hanya mendesah kepadanya. Naufal itu dulunya seorang playboy. Namun, Ketika berpacaran dengan Alice ia berubah dan menjadi lelaki yang bucin angkut hanya pada satu wanitanya.


“Kan gue udah pernah bilang, Za. Mending lo mengundurkan diri aja dari Ketua OSIS, capek sendiri kan lo?”


Aleyza memutar bola matanya malas. “Lo gampang banget ngomong ya, Tha! Dahlah males gue sama lo! Sana jauh-jauh, gue mau tidur!”


Athaya berdeham pelan lalu berbisik di telinga Aleyza. “Apa perlu mau gue tiduri juga lo, Za? Siapa tau capeknya hilang.”


Aleyza refleks menjauhkan tubuhnya dari Athaya. “ATHAYA SIALAN! MESUM LO! GUE POTONG JUGA TUH ANU LO!” teriak Aleyza.


Sontak semua orang yang berada di dalam kelas mengalihkan pandangan nya tertuju kepada Aleyza yang kini sedang memasang wajah kesalnya dan Athaya dengan senyum jahilnya.


“NGGAK USAH LIHAT-LIHAT KE GUE LO SEMUA! MAU GUE POCEL TUH MATA HAH?!” sentak Aleyza kesal.


Semua orang tentunya langsung gelagapan, enteng sekali Aleyza berkata begitu. Jelas saja semua orang yang berada di kelas ketakutan.


Sedangkan anak-anak inti The Vagos hanya tertawa melihat tingkah Aleyza yang sedang kesal. Sudah hal biasa bagi mereka melihat Aleyza seperti ini.


***


“Aidan, ambil minum buat gue dong.”


“Aldo, sini heh! Lo belum beres pijitin kaki gue nya!”


“Heh Lem! Tolong nyalain AC nya, gue gerah nih.”


Naufal menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Athaya yang semena-mena. Mentang-mentang ketua, bisa-bisanya adik dari Adelard ini begitu.

__ADS_1


Kini kepalanya menoleh ke samping, menatap Aleyza yang berkutat dengan laptop.


“Lo lagi ngapain, Za? Bukan nya tadi pas di kelas lo ngeluh capek ya? Kenapa nggak istirahat aja?” tanya Naufal heran.


“Gue nggak ngeluh ya! Karena gue emang capek beneran, tapi mau gimana lagi. Gue harus segera selesain nih surat pengajuan pembukaan ekskul.” Balas Aleyza tanpa mengalihkan pandangannya dari layer laptop.


“Nggak ngeluh tapi bilang capek terus, sama aja boong kan.” Timpal Aldo yang baru saja selesai memijat kaki Athaya.


“Ngeluh terus tapi tetap dikerjain adalah bentuk professional dalam menjalani hidup, tau!” balas Aleyza.


“Gaya-gayaan tuh Bahasa, gue kadang heran. Kok bisa lo nya produktif, sedangkan si onoh ngga ada produktif-produktif nya,” ujar Aidan.


Semua orang tahu dan paham bahwa Aidan saat ini sedang menyindir Athaya yang asyik meminum segelas jus dingin yang di berikan oleh Aidan sendiri tadi.


“Ngomong apa lo?!” kedua mata Athaya melotot galak.


“Gilak! Big Baby nya Aleyza galak bener.” Ucap Aidan seraya bergidik ngeri.


“Bayi Dugong keknya.” Gumam Aldo.


“Ngomong apa lo? MAU GUE BUNUH HAH?!” balas Athaya kesal.


“Galak bener sih lo, takut nih gue.”


“Nggak usah banyak bacot, beneran gue bunuh terus gue mutilasi tau rasa lo!”


Aldo meringis. “Benar-benar jiwa psikopat, guys.”


Aleyza yang sudah gagal fokus pun langsung menutup laptopnya. Ia memijat pangkal hidungnya, kepalanya terasa pening sekali mendengar keributan para inti The Vagos itu.


“Kalian kenapa ribut terus sih? Ganggu konsentrasi orang tau nggak! Kenapa kalian nggak tidur siang aja sih?!” kata Aleyza menyarankan.


“Gue lagi nggak mau tidur siang.” Athaya menekuk wajahnya sebal, mulai menunjukkan sifat manja nya kepada Aleyza.


“Gimana kalau kita tawuran aja?!” tanya Athaya menyerukan ide random isi kepalanya.


“Buset dah si Athaya, nggak cape kapa tawuran mulu lo.” Adelard menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Mana ada kata capek lah, seru tau tawuran itu. Ya udah, hayu.” Ajak Athaya.


“Nggak ada tawur-tawuran ya!” balas Aleyza cepat.


“Ah nggak seru, gue mau cari masalah sama si Otak aja deh biar bisa tawuran.” Athaya berdiri, berniat untuk mencari masalah dengan geng Oktrax dan berujung dengan tawuran.


Lemuel tertawa keras. “Bukan otak, Atha. Oktrax woy! Oktrax!”


“Padahal kan gimana gue.” Balas Athaya.


“Kalau lo pergi cari masalah dan berujung tawuran, gue mending balik dan nggak pernah mau ketemu sama lo!” ucap Aleyza, ia bangkit dari duduknya. Membereskan laptop dan juga perlengkapan lain miliknya bersiap-siap untuk pulang.


Setelah selesai berkemas, Aleyza mengambil jaket navy nya yang berada di atas sofa. Kelakuannya itu tidak luput dari perhatian Athaya yang tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut Aleyza. Athaya kini menatap diam saja dengan sorot mata tajam.


“Gue mending balik!” ujar Aleyza. Tepat saat Aleyza hendak melewati Athaya, cowok itu langsung me mikul nya seperti karung beras.


Aleyza berontak, minta untuk diturunkan. Namun, Athaya sama sekali tidak memperdulikannya. Ia membawa Aleyza masuk ke dalam kamar yang tersedia di markas The Vagos.


“Atha! Ih turunin gue! Gue kesel sama lo!” teriak Aleyza yang berada di gendongan Athaya.


Athaya mendudukkan Aleyza di atas Kasur. “Sorry, gue nggak ada niatan mau tawuran. Gue bakalan tidur siang, asal ditemenin sama lo. Gue juga kesel sama lo, Za. Dari tadi lo terlalu asyik dengan laptop dan nge diemin gue. Gue cemburu sama tuh laptop, untung aja nggak gue banting laptop lo. Intinya gue mau tidur siang asal sama lo.” Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Aleyza. “Gue nggak nerima penolakan, atau lo bakal tau akibatnya,” ujar Athaya dengan senyuman jahilnya yang mana mampu membuat Aleyza diam terpaku.


Mereka berdua tidak tahu kalau ada ketiga teman gila mereka, yaitu Aidan, Aldo, dan Lemuel yang diam-diam mengintip dari sela pintu kamar.


“Gila, Athaya nya mulai aktif nih bund,” ujar Aidan lalu ketiga nya terkikik geli dengan ucapan Aidan.


***

__ADS_1



__ADS_2