
“GOOD MORNING GUYS KU YANG TERCINTA!”
“Anj**g! berisik! Masih pagi woy!” Adelard menempeleng kepala Aidan, membuat lelaki itu mengaduh kesakitan. Ia tertawa melihat muka kocak milik sahabatnya itu.
“Lo kalau punya masalah sama gue bilang aja napa! Nggak gini caranya, lo punya dendam apa sih?” tanya Adelard yang sudah merasa jengah dengan Adelard.
“Gue mana punya dendam ke lo, cuman ya gue kasian aja liat lo jomlo selama ini. Tuh liat, temen lo udah ganti aja ceweknya.” Adelard menunjuk ke arah Aldo menggunakan dagu nya yang tengah asyik merangkul Pundak Elen pacar barunya. “Tuh anak udah ganti lagi aja ceweknya coba.”
Lemuel yang melihat itu pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Elen itu memang termasuk salah satu gadis popular di SMA Trunajaya. Aldo memang tidak di ragukan lagi sebagai crocodile, untuk mendapatkan Elen saja cukup mudah baginya.
“Lo kok bisa ya mau sama model crocodile Aldo? Dapat apa lo dari dia?” tanya Aidan penasaran.
Elen menggeleng pelan. “Nggak dapat apa-apa sih, lagian juga kan pas kemarin dia nembak gue ya gue iseng aja buat menerimanya.”
Mereka yang mendengar jawaban dari Elen itu pun tertawa kompak. Bisa-bisanya, seorang Aldo sang crocodile SMA Trunajaya bisa berpacaran dengan Elen yang ternyata menerimanya hanya karena iseng. Sudah di pastikan mereka adalah pasangan yang cocok. Kehebohan yang mereka ciptakan itu berhasil membuat perhatian dari siswa-siswi SMA Trunajaya tertuju ke arah mereka.
“Lo nerima gue karena iseng kan? Maka dari itu gue juga nembak lo karena iseng, Len. Cocok juga ternyata kita ya.” Balas Aldo kemudian terkikik geli.
“Gokil! Gokil!” Lemuel bertepuk tangan heboh sekali.
“Kena azab baru tau rasa lo.” Peringat Naufal kepada sahabat crocodile nya itu.
“Yang ada azab nya yang takut sama gue. Selagi bisa dapat pacar banyak dan Cuma-Cuma kenapa enggak kan?”
“CROCODILE TINGKAT ANGKUT!” sahut Aidan.
“BUAYA AJA BANGGA!” timpal Athaya yang baru saja selesai memberi makan Aleyza.
“Em, Tha. Kayaknya bang Adelard tuh emang cocok berguru dengan Aldo deh. Soalnya kan biar dia bisa punya cewek, nggak kasian kamu liat abang sendiri miris gitu?” ujar Aleyza. Senyumnya seketika merekah sempurna, ia membayangkan betapa bucin nya nanti Adelard kita mempunyai pacar. Apakah akan sama se bucin Athaya kepadanya atau tidak.
“Kamu mau bikin bang Delard sesat kayak si Aldo? Kamu mau aku jual ke om-om hah?!” Athaya mendengus pelan.
“Ide bagus tuh, Za. Gue setuju.” Aldo menganggukkan kepala sembari berpikir. “Adelard tuh emang harus berguru sama gue, biar hidupnya nggak kaku-kaku amat soalnya!” lelaki itu berujar dengan semangat.
“GUE NYA OGAH!” tolak Adelard mentah-mentah yang mana membuat mereka semua Kembali tertawa melihat wajah Adelard yang kesal itu.
__ADS_1
“Kenapa? Padahal kalau abang jadi **** boy juga cocok tuh.”
Athaya tersenyum mengerikan. “Mamih Eyza….”
Aleyza cengengesan dibuatnya. “Ya maaf.”
“Eh guys!” ujar Lemuel tiba-tiba. “Gue tadi ketemu Gelvino.”
“Serius?” Athaya mengangkat sebelah alisnya.
“Ya dia nya sih nggak ngapa-ngapain, cuman gue tuh aneh sama dia. Kok dia nanya ke gue apakah Aleyza dapat teror atau nggak.” Balas Lemuel.
Naufal mengerutkan kening. “Dia kok bisa tau?”
“Lo kayak nggak tau kelakuan tuh anak gimana. Pastinya dia punya banyak banget mata-mata di sekitar kita juga tentunya.” Balas Lemuel.
Aleyza berdeham pelan lalu memperbaiki posisi duduknya. “Jangan bahas itu dulu ya.” Ia menatap Elen yang tengah asyik dengan makanan nya.
“Nanti di markas aja, soalnya bahaya.” Lanjut Aleyza.
***
“Kagak lah orang lo aja belum ngasih tau gue. Emangnya apaan nih?” tanya Aleyza dengan raut wajah malas.
“Katanya sih di kelas kita tuh bakalan ada murid baru, dengar-dengar sih cewek.”
“Gue nggak peduli ah, lagi pula kalau murid baru itu beneran cewek dan cantik. Gue yakin Athaya nggak bakalan berpaling dari gue.
Alice mencebik kan bibirnya mendengar tanggapan gadis itu yang tidak sesuai dengan ekspetasinya. “Ya itu mah gue juga yakin, lo tau se bucin apa Athaya sama lo. Mana bisa dia berpaling. Lagi pula kan maksud gue ngasih tau tentang ini tuh mau bergosip ria sama lo, tapi lo nggak asyik untuk di ajak gosip.”
Aleyza memutar bola matanya malas. “Gue paling nggak suka buat ber gossip ria, karena gue bukan ibu-ibu komplek yang suka gossip ya!”
Alice membuang wajahnya ke arah lain. Sungguh kesal sekali dia dengan Aleyza yang ternyata tidak se frekuensi dengannya yang suka bergosip ini.
Matanya mengedar lalu membulat saat itu juga ketika melihat seorang gadis masuk ke dalam kelas Bersama dengan Bu April.
“Tuh, Za! Dia murid barunya.” Ucap Alice dengan heboh seraya menunjuk ke arah murid baru itu.
__ADS_1
Aleyza mengikuti arah tunjuk gadis itu. Ia hanya menatap datar ke arah seorang gadis yang memang cukup cantik. Beberapa teriakan teman sekelas Aleyza pun turut mengiringi kedatangan gadis itu kecuali Athaya yang hanya asyik memandangi wajah datar pacarnya yaitu Aleyza. Menggemaskan, itulah kesan yang Athaya berikan untuk Aleyza.
“Baiklah anak-anak, kita hari ini kedatangan murid baru. Dia pindahan dari SMA Merdeka,” ujar Bu April dengan lantang.
Semua yang mendengar itu pun memekik kaget. Bagaimana tidak? Mereka tau sendiri bagaimana unggul nya SMA Merdeka yang ternyata semua muridnya pintar.
“Perkenalkan, nama gue Caithlin Felicia Cristina. Bisa di panggil Caithlin aja,” ujar Ciathlin dengan senyum ramah nya.
Bu April tersenyum. “Caithlin, kamu bisa duduk di bangku kosong seberang Aleyza. Untuk Aleyza, boleh angkat tangannya dulu? Karena dia belum tahu kamu.”
Aleyza yang mendengar Namanya di panggil pun dengan malas mengangkat tangannya. Caithlin yang sudah melihat Aleyza pun tanpa banyak bicara segera menuju bangku yang memang berseberangan dengan Aleyza.
***
Athaya sedang menunggu Aleyza di parkiran. Gadis itu katanya akan ke ruang OSIS sebentar untuk mengambil berkas.
Ia melihat seorang gadis yang menendang-nendang sebuah motor yang terlihat sangat mepet dengan motor miliknya. Setelah di lihat-lihat, ia tau bahwa motor yang mepet itu adalah milik Lemuel.
“Heh! Motor milik temen gue!” teriak Athaya. Dengan cepat ia berlari menghampiri motor Lemuel yang di tendang-tendang terus oleh gadis itu.
“Ouh ini motor punya temen lo? Dimana dia? Gue mau ngeluarin motor susah nih.” Ucap gadis itu yang ternyata adalah Caithlin.
“Lo gila ya? Padahal lo tinggal geser dikit aja motor temen gue, nggak perlu pake acara di tendang-tendang gitu.”
“Suruh siapa nih motor mepet banget sama motor gue! Salah dia lah! Jadi nggak salah kalau gue tendang nih motor.” Balas Caithlin dengan cepat. Wajahnya terlihat begitu santai tanpa merasa bersalah sedikit pun.
“Gila beneran lo!”
“Banyak omong ah lo, cepet geser nih motor temen lo.”
“Gue nggak kenal lo dan gue ogah geser nih motor. Lo tunggu aja sampai yang punya motornya datang!”
“Cowok nyebelin!” maki Caithlin tak tertahan. Ia mengambil helm yang berada di atas motornya. “Cepetan ih! Gue mau balik nih.”
Athaya berdecak sebal dibuatnya. Meskipun begitu, mau tidak mau ia pun menggeserkan sedikit motor milik Lemuel.
“Udah!” ucap Athaya, setelah itu ia pun meninggalkan gadis itu di parkiran. Bisa gila dia di buat oleh Caithlin. Bahkan, Aleyza dan Caithlin saja jelas masih waras Aleyza baginya.
__ADS_1
Caithlin menatap kepergian lelaki itu dengan senyuman tipis. “Lo menarik.”