
8 bulan kemudian, Ani terlihat ingin melahirkan, Alisya yang pada saat itu sedang hamil besar dan juga tinggal menunggu kelahiran anaknya tetap membantu Ani, namun di tengah ketegangan saat Ani sedang di tangani Alisya, tiba tiba Alisya mulai mengalami kontraksi, Alisya segera memberitahu ke salah satu istri pak Radinal yang juga ada pada saat itu membantu Alisya untuk segera keluar dan memberitahukan ke pak Albar bahwa Alisya akan melahirkan, namun mereka tidak usah khawatir karna mereka bertiga yang akan menangani hal tersebut.
Bertepatan jam 10.54, Alisya dan Ani sama sama berhasil mengeluarkan bayinya, seketika terdengar suara bayi yang sangat merdu membuat semua orang bahagia dan merasa lega.
Pak Albar dan Dony segera memasuki ruangan dengan rasa penasaran.
Ia Melihat bayi laki laki yang di gendong Ani, melihat tersebut Dony sangat merasa senang ia pun segera menggendong bayi mungilnya tersebut.
Sedangkan bayi pak Albar di gendong istri pak Radinal namun berbeda dengan bayi Dony yang terus menangis, bayi pak Albar justru tak ada suara yang membuat pak Albar kebingungan, istri Radinal mengatakan bayi pak Albar laki laki namun ia sudah meninggal dunia.Mendengar hal tersebut pak Albar seakan tidak percaya, sedangkan Alisya hanya terdiam dengan tampa ekspresi tak terima anaknya meninggal.Istri Radinal segera membawah bayi Alisya untuk segera di makamkan.
Pak Albar memeluk istrinya seketika air mata mengalir di pipi Alisya dan juga pak Albar.Ani dan Dony yang melihat hal tersebut juga ikut bersedih.
1 Minggu kemudian, Alisya sudah dapat merelakan kepergian anaknya begitupun pak Albar.
Pagi pagi, Alisya ke rumah Ani untuk membawakan makanan.Alisya menggendong bayi Ani dan merasa sangat senang melihat bayi Ani ia teringat akan bayinya.
"Nona Alisya, nona jangan bersedih, kami berdua yang akan membesarkan bayi ini, dia pasti akan sangat senang memiliki dua ibu." Ucap Ani yang membuat Alisya tersenyum.
"Kamu sudah memberikan nama buat bayi kita." Ucap Alisya sambil menggendong bayi Ani.
"Belum,saya tidak terlalu tahu kalau soal nama, bagaimana kalau nona aja yang memberikan nama." Ucap Ani.
"Hem, bagaimana kalau namanya...ucap Alisya yang masih berfikir.
"Barsya." ucap Alisya
__ADS_1
"Nama yang bagus." Ucap Ani.
"Barsya."ucap Alisya dan Ani.
Vania merupakan istri pak Albar yang lain yang saat itu sedang mengandung 9 bulan akan melahirkan, Alisya segera di panggil untuk membantu nya.
Tak berselang lama terdengar suara bayi, Alisya memberitahukan bahwa anaknya laki laki,mendengar hal tersebut semua orang merasa senang akhirnya laki laki bertambah lagi, termasuk pak Albar yang segera masuk melihat bayinya.
Alisya melihat pak Albar begitu senang, menggendong bayinya dan berterima kasih kepada Vania yang telah memberikan nya bayi laki laki.
Malamnya, pak Albar berpamitan kepada Alisya akan ke rumah Vania karna giliran ia ke sana dan mengatakan bahwa besok pagi ia akan ke sini untuk makan pagi bersamanya.
Paginya Alisya menunggu pak Albar dan sudah menyiapkan makanan untuk nya, namun sudah dua jam Alisya menunggu pak Albar tak kunjung datang, ia pun menutup makanan tersebut.
Terdengar suara ketukan yang benar saja itu pak Albar yang segera meminta maaf karna ia baru saja membantu Vania karna ia belum bisa melakukan apa pun sesudah melahirkan, mendengar hal tersebut Alisya dapat memahaminya.
Hal itu membuat Alisya merasa cemburu tapi ia tahu diri juga, ia tak mampu memberikan apa yang dapat Vania berikan ke pak Albar.
Melihat Alisya terlihat selalu tidak fokus saat mengerjakan sesuatu, Ani pun mencoba menghibur Alisya.
"Nona Alisya, lihat anak kita sedang menangis seakan ia ikut merasakan apa yang nona rasakan." Ucap Ani.
"Barsya, ibu tidak bersedih,ibu bahagia apalagi melihat barsya." Ucap Alisya namun kesedihan di wajahnya tak dapat berbohong.
Di rumah Alisya, pak Albar terus terus menceritakan anaknya kepada Alisya, Alisya yang mendengar nya semakin bosan karna ia terus membahas anaknya apalagi ketika ia menyebut nama Vania.
__ADS_1
"Iya mas, saya juga senang melihat mas bahagia." Ucap Alisya segera tidur agar ia tak mendengar pak Albar bercerita lagi.
Perlahan lahan jarak Alisya dan pak Albar semakin terasa asing,yang dulunya pak Albar selalu mencium kening Alisya sebelum tidur tidak lagi ia lakukan malahan pak Albar hanya membahas anaknya dan juga Vania.
Pak Albar bahkan menyuruh Alisya untuk sesekali ke rumah Vania untuk membantu nya.
Namun ketika ia kesana, apa yang ia lihat malah melihat pak Albar dan Vania sibuk dengan anaknya dan Alisya terabaikan, bagaikan ia tak ada di sana, bahkan ketika Alisya berbicara kepada Albar, Albar menghiraukannya dan fokus ke anaknya.
Alisya terlihat masih tegar dan tak mempermasalahkan hal tersebut.
Sehabis dari rumah Ani,Alisya mampir ke sungai entah apa yang ia pikirkan yang pasti ia merindukan kebersamaan nya dengan pak Albar, ia baru merasakan betapa ia mencintai pak Albar,mata nya yang mulai berkaca kaca dan hendak menangis namun tak jadi karna pak mayor yang saat itu juga sedang berada di sungai segera menghampiri Alisya.
Pak mayor tahu mengapa Alisya terbenung seperti itu yang pastinya karna pak Albar.
"Alisya." panggil pak Mayor
"Pak mayor." Ucap Alisya
"Nona Alisya sedang apa sendiri di sini?." Tanya pak Mayor.
"Lagi ambil air pak." Ucap Alisya yang mencoba beralasan.
"Nona Alisya tidak usah bersedih pak Albar seperti itu mungkin karna masih sangat senang mendapatkan bayi laki laki." Ucap pak Mayor.
"Iya pak." Ucap Alisya
__ADS_1
"Atau saya perlu mendatangi pak Albar dan mengajaknya gelut karna sudah membuat nona Alisya bersedih." Canda pak mayor yang membuat Alisya tertawa.
Dengan sedikit candaan yang pak mayor lontarkan mampu membuat kesedihan Alisya sedikit menghilang.