Alisya & Albar

Alisya & Albar
Chapter 22


__ADS_3

Kami menemukan Ronal tergantung diri di atas pohon dan sudah meninggal." ucap Boni dengan nafas yang terengah engah. Mendengar hal tersebut Alisya dan pak Albar tentu merasa kaget dan tak percaya. Mereka segera bergegas ke tempat tersebut.


Melihat Ronal yang sudah meninggal membuat Alisya seakan tak percaya,ia seperti kehilangan seorang kakak di hidup nya. Setelah pemakaman Ronal..


"Pak Albar sepertinya ada yang janggal dengan meninggalnya Ronal,ia sepertinya tidak bunuh diri tapi ada seseorang yang membunuhnya." Ucap pak Mayor


"Saya juga berfikir seperti itu." Ucap pak Albar


Di dalam kamar, Alisya menyalahkan dirinya atas kematian Ronal.


"(apa mungkin Ronal meninggal karna dia telah mengetahui semua rahasia saya,kalau saya tahu seperti ini saya tidak akan menceritakan masalah ini ke Ronal,dia tidak salah apa apa tapi dia jadi korban)".ucap Alisya dalam hati.


"Sayang..ucap pak Albar yang menghampiri Alisya yang sedang berada di kamar nya.


"Mas..ucap Alisya


"Kamu masih memikirkan Ronal yah." ucap pak Albar


"Saya tidak menyangka aja mas dengan kematian Ronal yang pergi secara tiba tiba." ucap Alisya


"seperti nya kamu sangat dekat dengan Ronal." ucap pak Albar


"Rumah kami bersebelahan mas dan keluarga kami juga sudah saling kenal,saya dan Ronal sejak SD sudah berteman dan semenjak orang tua saya pindah ke kota cuma orang tua Ronal yang saya anggap orang tua di sini." ucap Alisya,pak Albar memeluk istri kecil nya tersebut dan menenangkan nya.

__ADS_1


Malamnya,Alisya bermimpi buruk ia terlihat di dorong oleh seseorang dan membuat nya ia terjatuh dari jurang..


"Aaaaa teriak Alisya yang segera bangun begitupun pak Albar yang mendengar teriakkan Alisya


"Alisya,sayang kamu kenapa?." Tanya pak Albar


"Mas...saya bermimpi." ucap Alisya


"saya bermimpi jatuh dari jurang." Ucap Alisya gemetaran


Pak Albar segera memberikan air minum kepada istrinya.


"Sayang itu hanya bunga tidur jangan terlalu khawatir." ucap pak Albar sembari memeluk istri nya yang ketakutan.


Paginya untuk menghibur istri kecilnya ,pak Albar membawah Alisya untuk jalan jalan.


"apa mas?." tanya Alisya.


Pak Albar memberikan hadiah seekor kelinci kepada Alisya.


"ini kelinci untuk menemani moci agar moci tidak kesepian." Ucap pak Albar


"Ternyata kamu perhatikan juga sama moci." ucap Alisya

__ADS_1


"Kita kasih nama siapa mas." Tanya Alisya


"Yang cocok buat dia apa?.Tanya pak Albar yang kembali bertanya.


"Mmm bagaimana kalau Momo, mukanya jutek seperti mas Albar." ucap Alisya yang tersenyum yang di balas senyuman dari suaminya.


"Mas,mas harus menyayangi moci dan Momo seperti mas menyayangi aku,jangan sampai kalau aku enggak ada mas memukul pantat Momo lagi seperti mas lakukan kepada moci sehingga moci lari terbelit belit." Ucap Alisya tertawa


"Itu karna moci nakal coba moci gak berak di kasur kita, saya tidak akan melakukan itu." ucap pak Albar


"Tapi untung pada saat itu saya tidak memanggang moci yang sebenarnya saat itu saya pengen sekali memanggang nya." Canda pak Albar


"Mas...ucap Alisya


"iya saya bercanda." ucap pak Albar yang tersenyum setelah bercanda ke pada istri kecilnya.


Di tempat lain,pak Mayor dan Radinal sedang membicarakan kematian Ronal yang masih janggal di benak mereka.


"Tidak mungkin Ronal gantung diri hanya karena patah hati." Ucap Radinal


"Seperti nya ada bangkai yang sedang bersembunyi di desa kita." ucap Dony


"bangkai tetaplah bangkai yang kejahatan nya akan terbongkar juga." ucap Rendi

__ADS_1


"Penjahat ini sungguh pintar dalam menghilangkan jejak pembunuhan nya,ia bahwa tidak meninggalkan jejak sedikit pun setelah membunuh Ronal." Ucap Dony


"Kemungkinan dia dibunuh saat ia masih dalam keadaan tidur melihat baju yang ia kenakan." Ucap pak Mayor


__ADS_2