
Johan kembali ke dalam rumah dengan gontai. Nike dan Merry masih berdiri terdiam di tempat masing-masing.
Sebuah kalung emas dengan liontin belian tergeletak diantara dua kaki Nike.
Johan berjalan perlahan mendekat Nike, menunduk mengambil kalung titipan Anto. Kedua tangannya melingkar ke leher Nike dan memasangkan pengait, seperti yang hendak ia lakukan tadi. Nike tersenyum kecut.
Merry buru-buru menjepretkan kamera ponsel Johan yang dipegangnya agar tidak tertinggal momen.
“Mas Johan sih aneh-aneh saja. Memasang kalung titipan Anto pakai harus difoto segala. pakai acara mesra lagi” omel Merry sambil menyerahkan ponsel Johan kembali ke pemiliknya.
“Namanya juga memikul amanah Mer, aku ingin melaksanakan pesan Anto sesuai dengan keinginannya” Kata Johan
“Maafkan aku ya Mas, Aku datang di waktu yang tidak tepat” Nike agak memelas.
Johan menghela nafas masih mengarahkan kemera ponsel ke dada dan leher Nike. Satu dua jepretan dia abadikan indahnya leher jenjang Nike dihiasi kalung emas.
“Kamu tidak salah Nike, waktu dan keberuntunganku yang salah. Aku harap kamu bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya” kata Johan.
“Maafkan aku karena tiga hari ini salon tempatku bekerja sedang mendapat order rias pengantin berturut-turut hingga baru sekarang bisa ke sini” Nike masih menyesali kebahagiaanya tidak menguntungkan bagi Johan.
“Permintaan yang aneh, kenapa mas Johan harus berlaku seakan-akan menjadi Anto? Kalau aku malah cemburu jika orang yang aku cintai diperlakukan begitu” Merry tak habis pikir perilaku para lelaki.
“Entahlah, mungkin Anto ingin menunjukan kesungguhannya ingin meminang Nike” tebak Johan.
Nike, gadis liar yang selama ini dikenal tak kenal malu itu bisa memerah pipi dan tersipu. Apalagi Johanah yang mengatakan kenyataan itu dihadapannya. Artinya yang ia dengar bukan bohong semata.
“Kan bisa saja tinggal diserahkan lalu Nike memakai sendiri” sungut Merry tak juga berhenti membuat Nike semakin merasa bersalah.
Johan memilih diam. Dibukanya gallery ponses dipilihnya gambar yang dirasanya bagus hasil jepretan Merry dan jepretannya sendiri untuk dikirimkan kepada Anto.
“Tanggung-jawabku sudah tuntas To, sisanya silahkan kalian jalankan sendiri” Johan memberi catatan pesan pada gambar-gambar yang ia kirimkan. Johan tidak mengharapkan balasan.
“Ini Nomor Anto kamu catat” Perintah Johan kepada Nike sambil menyorongkan smartphone.
“Anto berharap kamu menghubunginya terlebih dahulu setelah kamu menerima tanda cintanya” Lanjut Johan. Nike mengelus liontin permata di lehernya dengan jemarinya yang lentik.
Malam semakin larut. Gelap semakin menyelimuti hati Johan, namun ia tak ingin terlihat terlalu lemah di mata dua gadis itu.
“Sudah terlalu malam Nike, kamu menginap saja di sini, kamu bisa tidur dengan Merry atau pakai kamarku” saran Johan merasa kasihan kepada Nike.
Merry memelototkan matanya dibelakang Nike tanda tak setuju, namun Johan tak memperdulikannya.
“Terima kasih Mas” kata Nike lirih.
Setelah memasukkan motor Nike yang tadi sempat menghalanginya mengejar Leyna, Johan menyiapkan peraduan di depan telivisi seperti biasanya.
Nike memilih berbincang dengan Johan, kasihan melihat Johan menjadi susah tidur karena peristiwa senja tadi.
Nike dan Johan berbincang sambil rebahan hinga Nike ketiduran.
Melihat Nike tertidur di samping Johan, Merry mengambil bantal dan melempar dekat Johan disebelah Nike,
menendang kakaknya yang tak juga mengantuk agar bergeser sedikit menjauh.
__ADS_1
Merry merebahkan tubuhnya di antara Johan dan Nike hingga tertidur.
Johan hanya sekekali mengerjap-kerjapkan matanya yang mulai pedas. Kantuk tak juga datang meski tanggung-jawabnya terhadap Nike sudah ia tuntaskan. Kedatangan Leyna yang tiba-tiba ke rumahnya memberi tanda bahwa mungkin sebernarnya ia masih dibutuhkan.
Adiknya telah lelap disampingnya, menghalangi pandangannya kepada Nike. Pikirannya meradang tak tentu arah.
Nike, semoga kamu berbahagia.
Leyna apakah kamu datang karena rindu untukkku, kamu menangis malam ini karena aku?
Aku ingin menyusulmu, apa daya malam menghalangiku.
***
Wakatu menunjukan pukul 20:15 malam ketika Johan tiba di depan pintu rumah bapak Kos Leyna. Perjalan panjang yang ditempuhnya hari ini dengan bus bumel makin menambah kesengsaraan dari tekanan rasa inginya bertemu dengan Leyna.
“tok-tok-tok” Johan mengetuk pintu depan rumah bapak kos.
“Loh, mas Johan kok malam-malam. Baru datang dari kampung?” tanya bapak kos yang membukakan pintu, melihat Johan kerepotan membawa barang-barang.
“Iya pak, maaf mengganggu” Johan menjawab sembari menyorongkan bungkusan oleh-oleh yang ia siapkan siang tadi.
“Apakah Leyna balik ke sini pak?” tanya Johan.
“Oh, mas Johan belum tahu toh?” tanya bapak Kos.
“Iya pak, saya hampir seminggu mengambil cuti dan istirahat di kampung” kilah Johan, padahal beberapa harinya dihabiskan di Lampung
“Oh ya, ya duduk dulu dong mas Johan” bapak kos mempersilahkan.
“Oalah, makanya kemarin nak Leyna kembali ke sini sendirian, entah dari Lampung jam berapa, hampir tengah malam baru sampai. Bapak sampai kaget malam-malam ada yang mengetuk pintu” terang bapak kos.
“Mas Johan?” ibu kos yang mendengar percakapan mereka keluar dari ruang belakang dan ikut bergabung. Beliau duduk di samping bapak kos.
“Iya lho mas, kemarin nak Leyna kok malam-malam datang sendirian seperti sedang gundah, matanya terlihat sembab, tetapi kami tidak tega bertanya” ibu kos menimpali.
“Ini tadi malah seharian bapak tidak melihat apakah sudah makan atau belum. Kalau kamarnya terlihat terang ketika sore tadi bapak tengok” lanjut bapak kos.
“ Apakah Ibu melihat Leyna keluar mencari makan atau apa gitu nggak tadi?” tanya bapak kos kepada istrinya. Ibu kos menggelengkan kepala.
“Aku juga dirumah seharian Pak, tetapi tidak melihat nak Leyna, aku kok malah jadi khawatir ya” ujar ibu kos.
“Boleh saya menemui Leyna pak?” tanya Johan meminta ijin.
Bapak kos memandang ke istrinya, karena biasanya kos tutup jam 21:00 dan setelah obrolan mereka tadi berarti tinggal setengah jam lagi.
“Kalau menurutku lebih baik nak Johan menemani nak Leyna dulu, ibu kok malah jadi khawatir karena kemarin malam sepertinya ada suara menangis dari dalam kamarnya” kata ibu kos
“Lho, tahu begitu kok ibu nggak cerita, atau bertindak bagaimana begitu” tuduh bapak kos.
“Yah, kan aku nggak tahu masalah yang dihadapi to pak, nanti malah dikira mencampuri urusan pribadi anak muda”
elak ibu kos.
__ADS_1
“Kalau kejadiannya begitu nggak apa-apa. Mas Johan temani dulu nak Leyna, bapak khawatir ada apa-apa nantinya” bapak kos berbaik hati.
“eng, tapi saya khawatir kalau saya yang mengetuk pintu tidak akan dibukakan” keluh Johan.
“Ya ya, nanti kami dampingi" Ujar bapak kos.
"Bu. Masih ada nasi dan sedikit lauk seadanya kan, coba dibawa nanti kita tawarkan" perintah bapak kos kepada istrinya yang segera menyiapkan.
Mereka bersama ke rumah kos. Johan berdiri disamping pintu kamar Leyna agar tidak terlihat olehnya, bapak kos dan ibu kos mengetuk dan memanggil Leyna yang samar-samar terdengar terisak-isak.
Beberapa saat setelah suara isakan berhenti, terdengan suara kunci pintu kamar. Leyna hanya membuka sedikit.
Wajah manis sawo matang, dengan bibir terkembang muncul dari sela pintu.
Leyna memang aneh, dalam keadaan marah atau sedih, ia tetap bisa tersenyum bahkan tertawa dihadapan orang yang tidak bermasalah dengannya. hingga orang sering mengira Leyna adalah gadis yang tak pernah memiliki rasa sedih maupun masalah.
“Nak Leyna, ibu belum melihatmu keluar kamar sejak semalam, ini bu bawakan makan. Dimakan dulu ya” kata ibu kos.
“Ah ibu kok jadi repot begini” suara yang sangat dirindukan Johan terdengar keluar dari bibir mungil Leyna terdengar serak, pertanda tangisbaru saja dipaksa berhenti.
Pintu kamar dibuka semakin lebar. Ingin Johan menubruk dan memeluk Leyna jika tidak ada kedua orang tua disitu.
Leyna hendak keluar menerima makanan sesaat melihat Johan disamping pintu.
Buru-buru Leyna mengurungkan niatnya, mundur dan hendak menutup pintu. Johan sigap mengganjalkan kakinya di sela pintu.
Leyna mendorong pintu dengan segenap tenaga hingga Johan mau pingsan rasanya menahan sakit kakinya yang terjepit.
“Nak Leyna!” Ibu kos menjerit karena sangat terkejut. Bapak kos berusaha ikut menahan pintu dari luar melihat Johan begitu kesakitan.
Leyna melepaskan dorongannya ke pintu dan berlari menuju kasurnya. Tertelungkup dan menangis sejadi-jadinya.
“Nak Johan, nanti kalau sidah tenang makanannya diberikan” Ibu kos memberikan piring yang hampir terlempar saat beliau kaget tadi.
“Mas Johan kami istirahat dulu ya” Bapak kos menrangkul dan sambil mengelus punda istrinya untuk meredakan kekagetannya.
Berdua mereka meninggalkan pintu kamar Leyna, membiarkan dua sejoli menyelesaikan masalah mereka sendiri.
Johan menutup pintu kamar dan mendekati gadis yang ia cintai. duduk di kasur di samping Leyna tertelungkup.
“Maafkan aku Ley” Johan ingin mengelus kepala Leyna tetapi keberaniannya tidak ada.
“Aku yang salah, hukumlah aku Ley” tangisan Leyna semakin mereda.
Keberanian Johan muncul, dielusnya kepala Leyna seperti kebiasaanya. Tidak ada penolakan.
“Aku merasa ….”
“Plak” Leyna tiba-tiba berbalik, menampar mulut Johan yang menjadi kaget bukan kepalang.
Belum habis rasa kaget Johan, Leyna bangkit, duduk di hadapannya, meraih kepala Johan, menahannya agar
tidak menghindar dan segera menciumi wajah Johan sambil dipenuhi uraian air mata.
__ADS_1
Johan gelagapan ketika ciuman Leyna menghabisi bibirnya, namun tak melawan.