Anak-anakku Bukan Benihku

Anak-anakku Bukan Benihku
Chap22. Dendang Hati Dua Sejoli


__ADS_3

Johan merasakan hangat basah menempel pipinya. Semerbak wangi rambut yang sangat ia kenal menyeruak hidungnya. Rambut yang selalu dipotong pendek yang pas dengan perawakan Leyna.


Kesadarannya sudah pulih namun masih enggan untuk membuka mata. Hanya bibir Johan tersenyum.


dengan mata masih terpejam Johan mengulurkan tanganya segera meraih kepala yang ia duga diatasnya.


Johan enggan bergerak karena takut kemesraan yang baru ia dapat akan menjadi buyar.


“Kamu gila, pakai keramas segala” bisik Johan di telinga Leyna yang hampir lekat ke bibirnya.


“Emang kenapa, pulang dari rumah perjalanan berjam-jam, sampai tiga hari ini aku belum keramas” tanya Leyna.


Johan mencium belakang telinga Leyna menikmati wangi rambut kekasihnya. Menyedot nafasnya dalam-dalam seakan tak ingin satu milipun terlewatkan.


“Gatal sekali rambutku tadi Jo, aku sampai terbangun” lanjut Lena menikmati perlakuan Johan.


Johan berpikir, entah roh apa yang merasuki Leyna sehingga tenaganya seperti tak pernah habis. Semalam mereka baru tidur menjelang pagi, namun jam begini Leyna sudah bangun dan terlihat segar setelah mandi.


Sementara Johan sendiri merasakan tubuhnya masih sangat lelah meskipun kantuk sudah sirna tergugah wangi tubuh kekasihnya.


“Nanti kalau bapak ibu kos melihatmu keramas, kita dikira yang enggak-enggak bagaimana?” cemas Johan.


Leyna malah cekikikan.


“Kok malah tertawa” Johan keheranan.


“Kurasa bapak ibu kos sudah lama berprasangka begitu kepada kita Jo” jelas Leyna lembut sambil memberikan towelan jari telunjuk ke hidung Johan.


“Bagaimana kamu bisa berkata begitu?” Tanya Johan semakin heran.


“Kalau bukan karena sudah menduga yang bukan-bukan, mana mungkin kamu diperbolehkan menginap di sini sampai semalaman Maaasss Joooo” Leyna gemas


Hal yang sangat membingungkan bagi Johan adalah, meski baru marah Leyna akan bercanda riang bahkan di tengah kepedihan. Apalagi pagi ini ia sudah terlihat ceria tanpa beban.


“Mengapa aku gak berfikir sejauh itu ya?” pikir Johan membenarkan jawaban Leyna.


“Tapi kan bapak ibu kos memintaku menemanimu karena kamu kemarin seharian tidak keluar kamar Ley, dan terdegar tagisan semalaman” sanggah Johan.


“Ih, siapa yang menangis? Kuntilanak kali” Leyna tak menduga tangisannya sampai terdengar ibu kos.


“Ah, kamu ini. Masa aku berpacaran dengan kuntilanak” goda Johan.


“plak” tamparan lembut mendarat di pipi Jogan. Leyna tersenyum kegirangan melihat wajah Johan yang lucu menahan tamparannya sampai mata terpejam.


Melihat Johan terpejam, Leyna menempelkan sebuah kecupan ke bibir Johan.


“Kurasa bukan saja karena aku sakit Mas Jo” Leyna tidak menerima pendapat Johan.


“Beliau berdua itu kalau berbicara sama aku sangat berbeda dibandingkan kalau berbicara dengan anak-anak kos yang lain” lanjut Leyna sedikit membanggakan diri.


“Berbeda bagaimana?” Johan tidak mengerti maksud kekasihnya.


“Dari sikap beliau berdua saat berbicara seakan aku merasa kalau mereka menganggap jauh sudah lebih dewasa dibandingkan teman-teman kos lain” Johan tetap tidak paham, tetapi tidak membantah pernyataan Leyna.


“Maksudmu sudah siap menikah? Atauuuuu … siap hamil di luar nikah?” goda Johan tak henti-henti


“plak” kembali tangan lembut Leyna mendarat di pipi. Kali ini Johan sungguh meringis kesakitan.

__ADS_1


“Nggak lucu” seru Leyna sambil memonyongkan mulutnya dan menjulurkan lidahnya.


Leyna beranjak hendak menuju cermin rias di sudut kamar, namun Johan berusaha menahan dekapannya.


Leyna memaksa menarik kepalanya, berdiri lalu hendak berjalan ke pojok kamar.


Namun baru selangkah terdengar panggilan Johan.


“Mau ke mana Yaaaang” suara Johan pura-pura manja.


Leyna tiba-tiba berhenti, membalikkan badan dengan mata terbelalak, mulut sedikit menganga lalu dengan kedua telapak tangannya meraba-raba seluruh kepalanya.


Badannya sedikit membungkuk menghadap Johan, wajahnya terlihat kaget.


Johan ikut terperanjat.


“Ada apa?” Johan sampai terlonjak dari tempat tidurnya dan segera mendekat ikut mengamati rambut dan kepala Leyna.


Leyna tetap pada sikap yang sama.


“Ada apa?” sedikit berteriak dan meninggikan tonasinya pertanda panik, Johan meraba sekeliling kepala dan rambut Leyna.


Tiba-tiba Leyna menegakkan badannya bersikap seolah-olah tak pernah berbuat apa-apa.


“Oh, masih utuh” katanya datar tanpa ekspresi.


Dengan enaknya ia kembali melangkah santai ke pojok kamar.


“Sumpah ada apa Ley” desak Johan kebingungan.


“Nggak kepalaku masih utuh” Leyna santai saja duduk di kursi rias.


“Kamu tadi bilang apa?” Leyna malah balik bertanya


“Apa? Kapan? Kamu ini sungguh membuatku kebingungan” Johan makin jengkel melihat Leyna tanpa ekspresi sama sekali.


“Tadiiiii pas masih berbaring tadi. Waktu aku mau jalan ke sini” Leyna mencentil-centilkan suaranya.


“Yang mana sih” Johan memeras isi otaknya.


“Ya sudah kalau lupa, gih mandi sana. Baunya sudah bikin mual, nanti kalau hoek-hoek aku disangka hamil” benar-benar psiko gadis ini, ngomong sepanjang itu tanpa menengok tanpa ekspresi.


Johan hendak melangkah keluar ketika sekilas ingatan melintas di pikirannya.


“Oh” katanya agak ragu.


“Oh apa Oh?” Leyna sedikit ketus.


Ragu-ragu Johan mengeja.


“Apa karena aku tadi bilang Yaaang?”


Johan agak lirih bersuara namun :


“Nah itu dia, bagian mana kepalaku yang peyang” Leyna berteriak sambil melonjak dari kursinya ke arah Johan. Johan sampai terperanjat tergagap-gagap.


Leyna terkekeh-kekeh melihat wajah Johan yang terlihat agak pucat saking kagetnya.

__ADS_1


“Ha ha ha ha, Yang, Yang, dikira kepalaku peyang apa” Leyna masih tertawa-tawa.


Johan menggeleng-gelengkan kepala perlahan melangkah keluar untuk mandi agar badannya menjadi segar.


“Mandinya cepet nanti kita jalan” kata Leyna kembali ke keadaan.


Johan berhenti, menegok ke belakang lalu membalikkan badan memandang Leyna dengan tatapan tak percaya.


“Cepetan, mandinya” Johan masih mematung, Leyna melemparkan senyuman dan suara lembutnya.


“Kemana?” akhirnya keluar juga suara Johan yang sempat hilang tertelan.


Baru sekali ini Leyna berinisiatif mengajak Johan jalan-jalan. Biasanya Johan harus merayu, memaksa atau kalau perlu sedikit mengeluarkan jurus ancaman.


“Emm mau shoping ke Mall?” lanjut Johan


“Pengin refreshing Maaaaas, ngapain ke Mall. Aku mau nyari yang segar, alami dan gak ramai orang” terang Leyna


Johan pura-pura menengok kiri kanan, membalik ke belakang.


“Kamu tuh ngapain kayak ayam kena jeprek karet ekornya” Leyna tersenyum-senyum melihat tingkah Johan.


“Nggak ada orang lain, apa kamu seriusan memanggilku mas?” Johan baru sadar sedari tadi Leyna memanggilnya dengan atribut mas, tidak seperti kebiasaanya henya menyebut nama.


Leyna memerah pipinya, ia awalnya spontan saja memanggil mas Johan, tapi rasanya ia ingin mengubah kebiasaan meski belum terlalu nyaman.


Leyna ingin menunjukkan ia punya rasa hormat kepada Johan sebagai kekasih dan pribadi yang lebih tua. Ya. umur Johan terpaut agak jauh dibandingkan Johan, kurang lebih 5 tahunan.


“Sudaaah. Sana buruan mandinya, aku mau berganti pakaian” Leyna mendorong kekasihnya membalikkan tubuhnya dengan paksa agar menuju pintu keluar.


Johan pura-pura melawan.


“Dik bentar dik” Johan cekikikan membuat pipi Leyna semakin panas.


Leyna kuat mendorong sambil memukuli punggung Johan.


Sampai di pintu, Johan membalikkan badan. Menahan daun pintu yang dipaksa ditutup oleh Leyna. Kedua pipinya dijepitkan diantara daun pintu dan kusennya.


“Diiiik.. sebentar dong” Johan pura-pura kesakitan. Leynapun tak sungguh-sungguh mendorong daun pintu.


“Kita jadinya mau kemana?” Johan bertanya di sela daun pintu dengan wajahnya yang terlihat menjadi lucu.


“Mbuh, cepetan, ntar kugetok kepalamu. Peyang gundulmu” Johan malah tertawa kegirangan.


“Jdar” sesaat Johan menarik kepalanya. Daun pintu tertutup dengan suara menggema.


“Aku mandi ya Diiik” teriak Johan dari balik pintu.


“Mbuuh” balas Leyna dari dalam kamar tersipu-sipu. Leyna berjalan menuju sudut kamar dimana tas dan koper yang dibawanya dari lampung diletakkan.


Dari dalam tas punggung yang tak sempat dibuka sejak datang, Leyna mengambil Smartphone model terbaru yang dibelikan oleh papanya seminggu yang lalu.


Ia menerima pemberian papanya karena ke Jogja kali ini bukan  pelariannya. Ia tak ingin papanya mengkhawatir kannya lagi


Leyna membuka browser telepon canggih itu, lalu mengetikkan kata kunci berbunyi “spot selfi terbaik”.


Jarinya menggeser layar hingga menyentuh salah satu hasil pencarian yang ditampilkan.

__ADS_1


“Oh, Magelang. Nggak jauh juga sih” bisiknya kepada diri sendiri.


__ADS_2