Anak-anakku Bukan Benihku

Anak-anakku Bukan Benihku
Chap54. Rindu yang Terlunaskan


__ADS_3

Riuh rendah suara obrolan berbaur dengan tawa para pengiring pengantin membahana di tengah perkebunan sawit yang biasanya sunyi. Hujan yang sudah mulai berhenti tetap meninggalkan dingin yang menggigit tulang sunsum. Meski tenda itu dilindungi dari angin dengan kain tebal mengelilingi, namun udara dingin tetap menyeruak memasuki. Mereka menyusun tempat duduk lebih rapat dibanding saat makan tadi, dengan harapan suasana menjadi lebih hangat.


Ditemani para pekerja penghuni mes, para tetua yang tak juga mau beranjak dari kursinya terlihat telah berbalut jaket tebal dengan syal melingkar di leher mereka. Sedangkan para perempuan telah beristirahat di mess putra atau saudara mereka karena malam telah menghabiskan setengah perjalanannya.


“Kamu istirahat sana, jaga kesehatan karena esok harus berdiri seharian di pelaminan” perintah pak Muji kepada Johan yang terlihat mulai didera kantuk akibat karbohidrat yang dia konsumsi malam ini.


“Baik pak Dhe, maaf tidak bisa menemani ngobrol” pamit Johan kepada pak Muji dan saudara-saudara yang masih bertahan di tenda makan.


“Tidak mengapa, biarkan kami yang menjaga malam pengantimu sambil melunaskan rindu kami. Semoga esok semua acara berjalan dengan lancar” ujar pak Muji.


“To, kamu kan besok yang mengatur semua acara di perhelatan, sebaiknya kamu juga istirahat” perintah pak Muji kepada Anto.


“Tidak apa-apa pak Dhe, anak-anak perkebunan sudah biasa begadang meski esoknya harus bekerja keras” elak Anto.


“Sudah, tidak perlu sungkan, biarkan kami bersama anak-anak. Kamu harus bisa fokus esok agar acara berjalan lancar” pak Muji memaksa.


“Orang kurang tidur sering kehilangan fokus tanpa menyadarinya” lanjut tetua yang lain.


“Baik pak Dhe, kalau membutuhkan sesuatu bilang saja kepada anak-anak, kalau perlu bangunkan saya. Mes mandor tidak pernah dikunci” ujar Anto sambil membunuh rasa sungkan.


“Sudahlah, kami sudah merasa seperti di rumah sendiri setelah ketemu sama anak-anak. Mereka pasti paham cara membahagiakan kami” para sesepuh meyakinkan Anto dan Johan agar segera beristirahat, karena tengah malam telah lewat.


Tak ingin memperpanjang perdebatan, berdua segera menuju ke mes mandor. Johan segera menuju kamar yang telah berkali-kali ia tempati setiap berkunjung ke mes ini.


Anto menyempatkan diri menghampiri kamar yang ditempati Niken yang masih terlihat sedikit terbuka. Takut mengganggu tidur Niken, Anto langsung membuka sedikit pintu kamar, melongokkan kepala untuk menengok Niken yang masih setengah bersandar ke dinding dengan tumpukan bantal sebagai pengganjal punggungnya. Selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya dari kaki sampai ke leher.


“Oh, mas” hanya itu kata yang keluar pelan dari mulut Niken. Selanjutnya senyum yang terlihat manja menyungging dari bibirnya.


“Dari tadi kamu belum tidur?” tanya Anto menyelidik.


Mengetahui niken belum tidur, Anto membuka pintu seukuran badannya yang setengah masuk ke kamar.

__ADS_1


“Sudah tadi, tapi udara dingin mebuat aku pengin ke belakang. Sekarang malah susah tidur karena kudengar suasana di luar sepertinya begitu menyenangkan” jawab Niken.


“Kamu mau ikut bergabung dengan mereka?” tanya Anto.


“Enggak ah dingin” jawab Niken.


“Kalau mau bergabung aku temani” kejar Anto meyakinkan hati Niken.


“Nggak ah mas, nggak kuat sama dinginnya” jawab Niken sungguh-sungguh.


“Ya sudah, istirahat saja. Kembali tidur” ujar Anto seakan memberi perintah.


“Sudah tadi mas, jadi ilang ngantuknya” Niken menjawab sembari kembali melempar senyum manisnya.


“Hmmm... mau aku temani?” tanya Anto.


“Mas Anto pasti capek, seharian ini saja pasti sibuk menyiapkan penyambutan kami kan?” kata Niken.


“Nggak, sudah biasa bekerja diperkebunan, kami kan libur berkebun selama Tuan Hartanata punya hajat” Anto melangkah ke dalam hendak menuju kursi yang ada di sudut kamar.


Anto tak jadi melangkah ke kursi, badannya berbalik untuk menutup pintu lebih rapat.


Niken bergeser ke arah ranjang yang lebih dekat kepada dinding kamar sambil menepuk kasur disebelahnya, memberi isyarat kepada Anto agar duduk di sebelahnya.


“Kamu yakin?” Anto menatap ragu.


“Memangnya mas Anto mengirimkan perhiasan lewat Johan dulu tidak berfikir dahulu?” selidik Niken.


“Maksudmu?” Anto tak mengerti arah pembicaraan Niken.


“Mas Anto mengirim perhiasan sebanyak itu kepadaku, apa yang ada di benakmu?” Niken memelototkan matanya seakan bertanya, bibirnya tetap mengulas senyum manja.

__ADS_1


“Menganggap sebagai pembayaran hutang keluarga?” Niken semakin menggoda dengan senyum di bibir seksinya.


“Bukankah Johan menyampaikan kalau aku ingin dia mewakiliku melamarmu? Atau dia tidak mengatakannya kepadamu?” Anto menjadi penasaran.


Niken mengeluarkan tangannya dari selimut tebal yang hangat. Dengan cepat meraih tangan Anto dan menariknya dengan keras hingga Anto jatuh terbaring di samping Niken.


Niken memiringkan badannya menghadap Anto yang sedikit terlentang di sampingya.


“Jadi sebenarnya apa yang kau inginkan dan kau harapkan dariku Mas?” tanya Niken tak melepaskan senyuman yang sejak tadi meliputi bibirnya.


“Apa aku harus menjelaskan dengan kata-kata Ken, kamu tahu aku bukan tipe orang yang pandai berkata-kata cinta” Anto hanya memalingkan muka menatap Niken tanpa memiringkan badan yang telentang di samping Niken.


“Sejak saat itu aku berjanji akan melayanimu sebagai istri yang setia Mas. Tak ada lagi yang aku inginkan selain hidup tenang di sampingmu” Niken menjulurkan tangannya. Jari telunjuknya menyusur dahi dan pipi Anto, hingga berakhir di bibir yang terlihat agak menghitam karena nikotin yang sering dihisapnya.


“Hmmm..” Anto hanya bergumam sembari menikmati sentuhan jari gadis yang ingin dia puja di sisa hidupnya.


“Apakah masih ada keraguan atau ganjalan di hatimu Mas?” desak Niken tanpa menghentikan permainan jarinya di wajah Anto.


“Kurasa tak ada yang aku inginkan lagi selain kehadiranmu Ken. Aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku kelak” jawab Anto.


“Kamu tidak kawatir kalau benihmu bertemu benihku, lalu anak-anak kita nanti serperilaku seperti kita” Niken bertanya menggoda.


“Ah, kita kan sudah punya pengalaman cara menghentikan kebadungan” Anto memiringkan badannya. Tangan kekarnya menggenggam lengan Niken yang berkulit lembut. Berusaha menahan keusilan jemari niken yang mulai menyusur kancing baju batik Anto yang belum sempat berganti.


Menyadari ada hambatan dari Anto, Niken menghentikan jemarinya di salah satu kancing baju, namun matanya menatap sayu ke mata Anto.


“Masih banyak tamu Ken” Anto mencari dalih untuk meredam gejolak keraguan di hatinya. Gejolak antara rindu dendam yang sudah bertahun-tahun ia pendam, atau kesopanan karena ia baru beberapa jam bertemu dengan kekasih idaman.


“Memangnya mereka akan terganggu?” Niken semakin menggoda kekasihnya. Suara gelak tawa tak henti-hentinya terdengar dari luar. Bahkan sesekali seseorang berbicara dengan suara agak tinggi menimpali suara tawa sehingga terdengar jelas dari kamar ini.


“Ken hhh..” Anto menyebut nama Niken yang menyingkirkan selimut, mendorong Anto sampai terlentang, dan berguling diatas tubuh Anto.

__ADS_1


“Jangan khawatir Mas, Aku tak akan berteriak liar seperti dulu-dulu” tersenyum manja, Niken membungkuk sambil duduk di paha Anto. Dari balik selimut tadi ternyata Niken hanya mengenakan atasan piyama dengan dalaman berenda yang menggoda.


Niken masih selalu ingat apa yang bisa membangkitkan gairah Anto. Saat ia mendominasi permainan dengan teriakan-teriakan yang menggemaskan. Niken menatap sayu ke wajah Anto beberapa saat, hingga akhirnya ia merubuhkan tubuhnya. Bibirnya meraih bibir Anto yang jiwanya melayang seakan terpisah dari tubuhnya.


__ADS_2