Anak-anakku Bukan Benihku

Anak-anakku Bukan Benihku
Chap41. Kabar yang Mengejutkan


__ADS_3

Leyna menangis sendirian di dalam kamarnya. Pedih merambati hati teringat perjalanan hidup yang membuat benci diri sendiri.


Para pria di luar tak menyadari kepedihan Leyna, kecuali Johan yang menyimpan tanda tanya. Para pria mengira Leyna hanya lelah karena perjalanan,


“Pak Sukirman, antarkan Johan ke kamarnya” perintah Tuan Hartanata.


“Baik Pak. Mari nak Johan” pak Sukirman bermaksud mengantar Johan ke lantai atas, ke kamar yang bersebelahan dengan kamar Leyna.


“Maaf apakah diperkenankan saya melepas kangen dengan saudara-saudara sekampung saya di mess saja?” pinta Johan kepada Tuan Hartanata.


Tuan Hartanata melihat Johan, lalu matanya menatap tajam ke Anto, mandor kesayangan.


Anto membalas tatapan Tuan Hartanata dengan mengangguk dan sedikit membungkuk memberi hormat.


“Hhhhehhh..” Tuan Hartanata menarik nafas panjang.


“Maafkan saya Pak” Anto bersuara, mendapati Tuan Hartanata lama menatapnya, tanpa suara.


“Baiklah. Meski banyak yang ingin aku bicarakan, aku tak bisa memaksa” Tuan Hartanata.


"Terima kasih Pak" ucap Johan.


“Kami mohon diri” Johan dan Anto berpamitan.


“Saya mohon pamit sekalian Pak. Besok karena ada pekerjaan di Jakarta, mungkin tidak akan sempat mampir ke rumah ini” ungkap Johan.


“Yah. Aku mempercayakan semuanya kepadamu To, aku tahu kamu mampu” Tuan Hartanata masih sempat berpesan kepada Anto. entah apa maksudnya. Hanya tuan Hartanata dan Anto yang tahu.


Anto kembali mengangguk dan membungkukkan badan lalu mengajak Johan meninggalkan rumah besar diiringi tatapan heran pak Sukirman.


“Mengapa pemuda itu memilih mess para pekerja, padahal disiapkan kamar mewah di sebelah kamar nona Leyna?” batin pak Sukirman penuh dengan tanya.


Dalam perjalanan ke perkebunan, Anto berbicara cukup serius kepada Johan.


“Aku nggak percaya kamu kangen dengan anak-anak kampung kita di mess Mas Johan” Anto melirik mengharapkan mendapat reaksi atau setidaknya ekspresi dari pernyataannya.


“Ternyata aku tidak sesiap yang aku tekadkan To” kata Johan.


“Kenapa Mas?” tanya Johan.


“Entahlah, rumah besar itu sungguh membuat hatiku ciut nyali” kata Johan sambil tersenyum kecut.


“Ha ha ha, apakah karena kamu harus tidur sendirian?” Anto menggoda senyum mengembang nakal di bibirnya.


“Heh. Kupikir kamu sudah memahami kalau aku selalu minder jika berhadapan dengan kalangan sosial tinggi To, apalagi ini konglomerat yang tiba-tiba begitu baik kepadaku dengan alasan puterinya” Johan memang dianggap pemuda pemalu meski banyak bergaul dengan anak-anak begundal seperti Anto.


“Sebenarnya aku bisa menemanimu kalau tadi kamu menginap di sana Mas” Anto menyesal.


“Tidak to, aku rasa mes dan anak-anak begundal jauh lebih menarik bagiku” Johan menggelang.


“Kamu sendiri bagaimana bisa mengenal dan dekat dengan anak konglomerat begitu Mas?” Anto masih penasaran.


Johan memandangi Anto sebelum memberi pertanyaan.

__ADS_1


“Apa kamu tidak bertemu dia saat pertama kembali ke rumahnya To” selidik Johan.


“Ya, ya. Sekilas saja. Aku sempat mengira ada gadis kesasar di rumah Tuan Hartanata waktu itu” Anto mengingat-ingat ia sedang dipanggil Tuan Hartanata saat seorang gadis cukup kumal mengejutkan tuannya.


“Ha ha ha ha. Muka dan penampilannya menipu kan To?” Johan geli sendiri saat awal mengira Leyna hanyalah gadis dari kalangan biasa.


“Penyamaran yang sempurna, sampai Tuan Hartanata pun dengan pengaruhnya tak mampu menemukan persembunyian puterinya” tegas Anto.


Mereka terdiam sejenak. kendaraan yang mereka tumpangi mulai memasuki jalanan perkebunan.


“Tuan Hartanata itu memang berhati mulia Mas, jangan dilihat dari penampilannya yang tinggi besar, berkulit gelap dengan tatapan tajam” Anto kembali bersuara.


“Beliau orang perkebunan Mas, kehidupan masa muda beliau juga keras seperti aku. Meski sekarang pemilik perkebunan terluas dan sangat dihormati, namun tidak pernah beliau mendudukan diri sebagai juragan di hadapan para pekerja. Beliau bahkan benci jika dipanggil dengan sebutan tuan” Anto melanjutkan.


“Bagaimana orang sebaik itu bisa membuat orang menjadi segan To? Apa karena hartanya?” Johan heran.


“Bukan Mas, di sisi lembutnya beliau tetap pebisnis yang handal. Tetap tegas kepada partner yang tidak menjalankan bisnis dengan benar, atau berani berbuat curang. Tetap mengawasi pekerjaan dengan disiplin. Beliau tak segan turun ke perkebunan”  ungkap Anto.


“Hhheh. Ceritamu membuat hatiku cukup lega To” Johan seakan melepaskan beban.


“Memang kenapa Mas? Apa yang kamu ragukan dari beliau?” tanya Anto.


“Aku heran saja, pertama melihat rumah Leyna saja aku begitu syok, bagaimana mungkin beliau dengan mudah dapat menerimaku, bahkan sempat mengerjaiku dengan panggilan video kala itu”


Johan sebenarnya sangat malu mengingat peristiwa di Silancur. Saat ia tertangkap basah di bawah selimut oleh Tuan Hartanata.


“ha ha ha ha. Setelah tahu bahwa kamu sepupuku, Tuan Hartanata menghujaniku dengan berbagai pertanyaan dan penyelidikan setiap kali bertemu denganku” kata Anto.


“Tidaklah Mas, masa lalu kita harus dilupakan. Aku berhutang budi atas kebaikanmu mengembalikan hubungan Nike dan aku. Maka aku yakinkan Tuan Hartanata bahwa putrinya pasti akan bahagia jika bersamamu” Anto menenteramkan sepupunya.


Johan menatap sepupunya lekat-lekat.


Mobil menuju mess dengan perlahan mengimbangi guncangan jalan perkebunan yang tidak rata, hingga berhenti di pelataran yang biasa digunakan untuk parkir.


Sambil menggendong tas punggungnya, Johan berjalan menuju mes mandor. Dilihatnya para pekerja telah istirahat karena hari telah senja.


“Sis kok baru mandi kamu jam segini?” Johan berhenti untuk menyapa Siswo yang berjalan dari kamar mandi menuju mess pekerja.


Tidak seperti mess mandor, pekerja dibuatkan kamar mandi umum berjajar di ujung mess.


“Iya mas” Siswopun menghentikan langkahnya menghadap Johan. Membungkuk untuk memberi salam. Kepalanya menunduk tak menatap Johan.


“Gimana khabarmu, sehat kan?” Johan mengulurkan tangan,


Siswo menyambut sambil badannya agak membungkuk membuat Johan keheranan.


“Kamu ini kenapa? Sakit?” tanya Johan.


“Tidak mas” jawab Siswo.


Parmin yang melihat Siswo bertemu Johan dan memberi penghormatan ikut mendekat dan melakukan hal yang sama. Johan semakin keheranan.


“Kalian ini kenapa? Jangan aneh-aneh ah. Berdiri yang benar” sergah Johan

__ADS_1


Johan memendorong jidat kedua orang itu dengan ujung jari-jari tangan sampai kepalanya terdongak.


“Ha ha ha ha. Min, Sis. Kamu ini kenapa. Mas Johan gak akan suka kamu perlakukan begitu” Anto yang telah selesai mengamankan kendaraan mendekati mereka bertiga.


“Iya Mas, maaf Mas” Parmin dan Siswo tetap tidak berani memandang wajah Johan.


“Sudah letakkan dulu alat mandimu itu, nanti segera menyusul ke mess kita buat nasi goreng rame-rame dan ngopi sampai pagi” perintah Anto. Kedua pekerja kebun itu meninggalkan Anto dan Johan.


“Kenapa mereka bertingkah aneh begitu kepada ku To?” Johan penasaran dengan perbuatan dua pekerja kebun anak tetangganya di kampung itu.


“Semua pekerja di sini sudah mendengar khabarnya Mas” kata Johan.


“Khabar apa? Khabar aku akan datang ke mess? Apa istimewanya?” Johan semakin penasaran.


“Khabar kalau Tuan Hartanata akan menikahkan anaknya” kata Anto.


“Oh, pantas tadi nyonya Hartanata dan kakak Leyna tidak terlihat di rumah, mungkin sedang mencari pernak-pernik  pernikahan” pikir Anto dalam hati.


“Hampir setiap pagi Tuan Hartanata berkunjung ke perkebunan ini dan bertanya kesana kemari soal tradisi pernikahan kepada para pekerja lokal. Maklum ini pertama kali beliau akan menikahkan putrinya” Anto menjelaskan.


“Wah berarti jika mengikuti tradisi, tak akan ada kendala kelak jika Leyna mau aku nikahi. Tidak harus melompati kakaknya” pikir Johan.


“Beliau ingin segera menimang cucu katanya. Bahkan tadi pagi beliau tidak kembali ke rumah atau ke kantor seperti biasanya, beliau ikut makan siang di sini” lanjut Anto.


“Oh iya. Sampai sebegitunya? Memang kapan pernikahannya To?” tanya Johan.


“Secepatnya, jika para pengantinnya bersedia” ungkap Anto.


“Kamu ini aneh To. Maksudmu pernikahan sudah disiapkan, tetapi pengantinnya belum diajak berbicara?” Johan keheranan.


Mereka masuk ke mess mandor. Anto melepas tas dari gendongannya buru-buru diminta oleh pak Murti kepala rumah tangga Mess. Pak murti meletakkan tas punggung di kamar lalu menyajikan dua gelas kopi pahit kesukaan Anto di meja tamu.


“Makasih Pak” ucap Anto.


Pak Murti mengangguk kepada Anto dan membungkuk kepada Johan lalu kembali ke ruangannya.


“Bagaimana mau diajak bicara Mas.” Anto melanjutkan menyunggingkan senyuman penuh makna.


Johan melongokkan kepala dan melebarkan mata menunggu kelanjutan penjelasan Anto.


“Calon pengantin perempuan begitu masuk rumah langsung mengunci diri di kamar. Sedangkan pengantin pria memilih tidur di mess mandor untuk ngopi dengan para pekerja. Apa tidak pusing Tuan Hartanata?” Johan masih melongokkan kepala ke depan, lalu celingak celinguk menengok kiri kanan.


Hanya ada dirinya Anto dan pak Murti di mess mandor.


“Ha ha ha ha.. Mas. Kamu memang pria yang beruntung menikahi putri Tuan Hartanata” lanjut Anto.


“Prrfh” Johan sampai menyemprotkan kopi pahit yang ingin diminumnya.


“Jangan bercanda To!” Johan membelalakkan mata.


Anto berdiri, membunggkukkan badan dan melanjutkan.


“Tidak Tuan Johan, saya serius, mohon dimaafkan jika tidak berkenan” Anto tertawa-tawa bangga sepupunya bisa dengan mudah masuk menjadi keluarga Tuan Hartanata.

__ADS_1


__ADS_2