
Johan dan Anto mandi sudah terlalu malam setelah tenggelam dalam obrolan. Beberapa pekerja perkebunan telah menyelesaikan makan malam. Mereka bergerombol di ruang tamu mess mandor yang luas berisi meja besar yang sering digunakan untuk pertemuan.
“Selamat malam Mas” sapa para pekerja saat melihat Johan keluar dari kamar tamu mess.
“Malam" Balas Anto
"Tolong jangan pernah lakukan ini lagi” Johan mengangkat pundak pekerja yang memberi salam sambil membungkkukan badan.
“Tapi mas Johan. Kami tidak mau dianggap merendahkan keluarga Tuan Hartanata” kelit pekerja itu.
“Ha ha ha, jangan mengada-ada. Aku bukan keluarga Tuan Hartanata” ujar Johan.
“Belum. Hanya belum saja. Dan tidak akan lama” Anto yang keluar dari kamarnya menimpali.
“Sudahlah To, jangan dibuat semakin rumit hal begini saja” Johan tetap keberatan.
“Maaf Mas, mereka hanya menjalankan budaya di sini. Mereka tidak bermaksud apa-apa. Tidak ada feodalisme di sini. Aku juga menghormati pak Sukirman atau pak Murti seperti orang tuaku yang tak pernah aku kunjungi. Aku menganggap Siswo, Kirman, Parmin, sebagai kakak, adik, sebagai saudaraku sendiri” tegas Anto.
“Yah sepertinya itu hal yang berbeda” Johan tetap bertahan pada pendirian.
“Sudahlah Mas, diterima saja. Tak perlu mempersulit mereka” cegah Anto.
Siswo datang menyela perdebatan mereka berdua.
“Mas Anto, boleh bawa hangat-hangat ke sini nggak malam ini? saya ambilkan dari mess” tanya Siswo kepada mandornya.
“Tidak usah ambil dari mess Sis, itu ada oleh-oleh dari Tuan Hartanata saat pulang dari Singpura dulu belum aku buka. Aku menunggu momen yang paling baik untuk membukanya. Kurasa malam ini saatnya” ujar Anto.
“Boleh aku ambilkan mas?” tanya Siwo meminta ijin.
“Hmm.. di rak biasa ya. Tapi ingat hanya untuk penghangat” ujar Anto yang menyadari udara di perkebunan saat ini memang sangat dingin dengan angin yang cukup semilir.
Para pekerja membelalakkan mata melihat merk mahal di botol berbentuk unik yang diambil Siswo dari kamar Anto. Mereka menikmati malam dingin dengan berbincang riang, ditemani kehangatan dalam persaudaraan sesama perantau.
“Jadi kapan kamu akan menikahi Nike To?” Johan berusaha mengalihkan pembicaraan.
Sejak Anto menitipkan kalung berlian untuk dipasangkan pada leher Nike, nama itu tak lagi menyakitkan hati Johan meski disebut berapa kalipun.
“Apakah dia sudah menghubungimu?” lanjut Johan karena Anto lambat memberi jawaban.
“Sudah Mas. Sudah banyak hal yang kami bicarakan. Nike berharap ibunya dapat kembali sehat sehingga saat pernikahan kami, ibunya dapat duduk mendampingi mempelai wanita di pelaminan” harap Anto sungguh-sungguh.
“Iya, kudengar ibunya telah diterapi di rumah sakit kota, sehingga kesehatannya mulai membaik" Kata Johan
"Kasihan selama ini hanya berobat di desa sehingga kurang dalam perawatan” kata Johan prihatin.
“Aku sudah beberapa kali mengirimkan biaya berobat Mas, semoga bisa membantu mempercepat pemulihan" Anto mengalihkan pandangan ke Johan berharap pendapatnya.
"Apakah anak itu bisa mengelolanya sunguh-sungguh?” Anto masih ragu.
__ADS_1
“ha ha ha. To, kamu ini masih ragu, sementara sudah berapa harta yang kau kirimkan ke sana" Johan tak membutuhkan jawaban atas pertanyaannya.
"Merry bilang Nike berubah drastis, ibunya juga sudah membaik, sudah belajar berjalan kembali. Kamu memang pria sejati To” puji Johan.
Anto sempat memalingkan muka dari Johan untuk mengusap setetes air yang menerobos sudut matanya yang panas karena menahan kerinduan kepada Nike.
“Mbak Merry sudah besar ya Mas?” Anto mengalihkan pembicaraan.
Meski lebih tua, Anto biasa menyebut adik Johan dengan atribut mbak, karena orang tua Anto adalah adik dari orang tua Merry dan Johan.
“Iya, sebentar lagi kuliah. Entah apa cita-cita adikku itu, aku sempat kehilangan masa tumbuhnya karena pelarianku ke jogja” ujar Johan.
“Maafkan aku mas, aku tak tahu kalau kelakuanku dan Nike membuatmu putus asa” Anto menyesal.
“Hhh, sudahlah To, masa lalu biarlah berlalu” Johan menghibur adik sepupunya yang terus menyesali masa lalu mereka yang buruk.
“Setelah menikah kelak, ajaklah Nike dan ibunya ke sini, mungkin Nike bisa membuka usaha salon sendiri di sini untuk mengisi hari-harinya saat kau tinggal bekerja” nasehat Johan kepada Anto.
“Iya mas, dia tidak akan mau jika tidak bersama ibunya” kata Anto.
Sedang asyik mereka berbincang sorot lampu mobil terlihat terguncang-guncang dari kejauhan.
“Tumben ada yang datang malam-malam ke perkebunan” gumam Anto.
Para pekerja sejenak menengok, namun kembali melanjutkan kegiatan masing-masing. Ada yang berbaring santai sambil merokok, ada yang bermain kartu, ada yang duduk saja sambil berbincang.
“Tuan Hartanata?” bisik Anto kaget melihat semburat mobil dalam keremangan penerangan perkebunan.
Terlihat pak sukirman membukakan pintu belakang sedan hingga terlihat Tuan Hartanata keluar dari kendaraan.
“Selamat malam Pak” Anto menyambut kedatangan Tuan Hartanata yang tersenyum sumringah. Johan membungkkukan badan.
Para pekerja berhenti bergerak dengan kaku. Mereka serba salah, mau menyembunyikan kartu dan gelas bekas mereka minum namun Tuan Hartanata sudah terlanjur memasuki mess mandor. Para pekerja menganggukkan kepala tanda hormat.
“Sudah lanjutkan saja. Tak ada yang istimewa. Aku Cuma ingin teman ngobrol saja” perintah tuan Tuan Hartanata.
Melihat para pekerja masih bengong dan terdiam, Tuan Hartanata menlambai-lambaikan tangan memberi isyarat agar para pekerja melanjutkan. Merekapun kembali asyik pada kesenangan.
“Mas Johan silahkan duduk di sini” perintah Tuan Hartanata kepada Johan.
Para pekerja sontak berhenti kembali. Semua mata memandang kepada Tuan Hartanata yang memanggil Johan dengan atribut mas sebagai tanda penghormatan.
“Wah, sepertinya Tuan Hartanata begitu menghargai mas Johan” bisik Parmin pada Siswo dan pekerja yang mengerubunginya.
Anto melotot ke arah mereka sehingga mereka sontak kembali melanjutkan aktifitas masing-masing.
“Kamu jangan ke mana-mana To, sini temani sepupumu” Tuan Hartanata kembali memerintah mandornya.
“Baik Pak” Anto duduk di samping Johan yang terlihat kaku.
__ADS_1
“Kamu tidak bercanda kan Johan. Tidak sedang bermain-main dengan putriku” Tuan Hartanata langsung saja bertanya kepada inti pemasalahan.
Deg! Jantung Johan berhenti berdenyut sesaat meski pertanyaan itu pernah diucapkan tuan Tuan Hartanata sebelumnya.
Anto faham benar cara berbicara Tuan Hartanata sungguh-sungguh seperti jika berbicara dengan partner yang ceroboh.
“Saya..” Johan tak jadi melanjutkan, bingung mau berbicara tentang apa.
Tuan Hartanata yang mengambil alih suasana.
“Saat di jogja lalu putriku mengatakan bahwa kamu sudah mendudukkan diri layaknya seorang suami” Mendengar pernyataan Tuan Hartanata, para pekerja berhenti sejenak untuk menyimak.
Namun melihat Anto kembali melotot, mereka melanjutkan permainan. Mereka meletakkan kartu menjadi pelan-pelan, slow motion, seakan takut kartu akan mengeluarkan suara yang mengejutkan.
Tuan Hartanata melanjutkan.
“Bahkan beberapa bulan pacaran, gaji sudah kamu serahkan putriku untuk dikelola” kata tuan Tuan Hartanata.
"Siswo yang kena giliran meletakkan kartu jadi tertahan. Kepalanya tetap menghadap kerumunan, tetapi telinganya terpasang ke arah meja pertemuan.
"Ehm.. "Anto berdehem untuk memperingatkan para pekerja.
“Iya Pak” Johan tak terlalu keras bersuara. Ia malu gaji kecilnya harus dikelola putri seorang konglomerat.
“Kamu melakukan itu karena benar-benar mencintai putriku atau kamu hanya ceroboh dan ingin pamer saja?”
“Karena menurut Leyna, kamu lari dan menghilang justru setelah sampai ke rumahku beberapa bulan lalu?” selidik Tuan Hartanata.
Johan lama terdiam, sesekali menengok Anto berharap membantunya memberi jawaban.
“Bagaimana Tuan Hartanata sampai tahu perbuatannya beberapa bulan lalu” batin Johan heran.
“Hmm. Kenapa kamu diam?” desak Tuan Hartanata.
Johan berusaha menata hatinya, menenangkan degup jantungnya agar ia tak tergigit lidah sendiri saat berkatakata.
“Maaf Pak, saya mempercayai Leyna. Saya menggantungkan jiwa saya di hatinya?” jawab Johan.
Tuan Hartanata melotot memandang Johan. Para pekerja menahan nafas dalam-dalam.
“Saya berharap Leyna menjadi belahan jiwa saya. Perkenankan saya menikahinya” ujar Johan sambil gemetaran,
“Brak” semua terlonjak dan berdebar. Hampir copot jantung mereka.
“Ha ha ha ha, mengapa lama sekali kalimat itu keluar dari mulutmu” Tuan Hartanata menggebrak meja sambil tertawa lepas setelah mendapat jawaban yang dia harapkan.
“Khabari orang tuamu agar hadir di sini secepatnya. Tidak usah repot memikirkan apa-apa. Aku hanya ingin bertemu calon besanku”
Semua yang hadir menjadi lega. Mereka semua ikut berbahagia.
__ADS_1
Malam itu Tuan Hartanata bahkan rela begadang sampai lepas tengah malam sebelum kembali ke rumah dalam pengawalan para pekerja menggunakan ranger beriringan-iringan menembus dinginnya malam.