
Turun dari ranger, Leyna terburu-buru lari ke kamarnya diiringi pandangan heran para pria.
“Maaf pa aku masih lelah” kilah Leyna tak mempedulikan Johan maupun Tuan Hartanata.
Leyna mengunci pintu, melemparkan badannya dan tertelungkup di peraduan.
“Sial sulit sekali aku melupakan kegilaan bersama Dewa meski sakit sekali di hati” batin Leyna.
“Ya iyalah Ley, baru lewat semalam kemarin, kenangan seperti itu bahkan akan melekat seumur hidupmu” tentang batin Leyna yang lain.
Dalam pedihnya, ingatan Leyna kembali ke villa di Jogja.
***
Minggu sore sebelum sopir sewaan Dewa menjeput mereka, satu adegan mereka selesaikan dengan gila.
Dewa dan Leyna sampai kehabisan tenaga tergolek berdampingan memandang nanar langit langit kamar di villa.
Ketukan pelayan tua di pintu kamar membangunkan Dewa dan Leyna. Pelayan memberitahu kendaraan yang menjemput mereka sudah datang.
Dewa dan Leyna berbenah diri untuk menempuh perjalanan pulang.
“Dewa” kata Leyna.
“Hmmm.” Dewa kali ini tak lagi duduk di depan di samping sopir sewaan, tetapi mendampngi Leyna yang bergelayut lembut di pangkuannya.
“Aku baru ingat aku tak memegang kunci kos” Leyna melanjutkan.
“Lantas?” Dewa mendengarkan.
“Aku tak bisa pulang ke kos dalam kondisi begini dengan kamu mengantarku” ujar Leyna mengingat penampilannya benar-benar kusut.
Ia akan malu meminjam kunci kepada ibu kos ibu kos diantar lelaki selain Johan dengan penampilanya yang tidak karuan.
“Kesempatan untuk mengulur waktu nih” pikiran licik Dewa terbersit.
“Bagaimana kalau kita ke hotel saja? Kamu pulang sendiri naik taksi besok kalau hari sudah terang” Dewa menawarkan demi kesempatan yang ia inginkan.
“Kamu tidak apa-apa? Kamu tidak bekerja besok?” tanya Leyna.
“Tidak, tidak masalah, bisa diatur” jawab Dewa senang mendapat peluang.
“Hemm, baiklah kalau begitu” Leyna menyetujui tawaran Dewa.
“Berarti kita masih ada satu malam lagi untuk bersenang-senang” Dewa mengangkat kakinya untuk menaikkan kepala Leyna yang ada di pangkuannya. Bibirnya mengecup lembut bibir Leyna.
Dewa memerintahkan sopir mengganti tujuan ke sebuah hotel bintang lima di tengah kota.
Mereka memesan kamar VIP untuk 24 jam.
Dewa dan Leyna menikmati makan malam di dalam kamar sambil menonton siaran TV kabel yang menjadi fasilitas kamar mewah itu.
__ADS_1
“Jadi kamu mau jadi istriku atau hanya ingin bersenang-senang seperti ini saja Ley?” Tanya Dewa di tengah mereka makan.
“Biarlah aku pikirkan Dewa” jawab Leyna menebak arah pembicaraan Dewa.
“Apakah kamu sungguh-sungguh berpacaran dengan pegawai rendahan itu?” serang Dewa merasa tak mendapat jawaban yang memuaskan.
“Aku bisa membeli nyawanya jika dia menghalangiku Leyna” ancam Dewa, membuat selera makan Leyna tiba-tiba menghilang.
Makan malam yang baru separuh ia habiskan, hanya dipakai mainan. Meski lapar karena kelelahan, rasa itu tak lagi membuatnya ingin menghabiskan hidangan.
“Aku butuh waktu Dewa, tidak tiba-tiba begini” elak Leyna yang ragu apakah Dewa sungguh membutuhkan cintanya atau hanya ingin menikmati tubuhnya.
“Apalagi yang kau tunggu. Apakah yang kita lalui empat tahun lalu. Yang kita nikmati malam dan hari tadi tidak memberikan keyakinan padamu bahwa aku sungguh masih mencintaimu?” desak Dewa.
“Entahlah. Mengapa harus buru-buru Dewa?” tanya Leyna.
“Aku sudah terlalu lama menunggu Ley, sudah lama menahan dendam rasa ingin memilikimu” keluh Dewa.
“Bukankah sudah aku puaskan dendammu sampai hampir lepas semua tulang belulangku” Leyna memang tampak kuyu karena tenaganya diforsir dan kurang tidur.
“Bukan itu intinya. Kalau cuma itu aku bisa membelinya dengan murah” bantah Dewa.
“Jadi selama ini, tanpaku. Apakah kamu memuaskan diri dengan membeli?” tanya Leyna.
“Memangnya kenapa? Aku tak dapat menemukanmu. Tak ada yang bisa menggantikanmu” ungkap Dewa.
“Lantas panggilan mama dengan foto cantik itu siapa?” tanya batin Leyna. Ia tak ingin mengungkapkan kecurigaan yang mungkin akan menambah luka batinnya.
“Sumpah Dewa, aku masih menjaga kemurnian cinta kita” Leyna melotot menahan dongkol.
“Ah, gadis seperti kamu. Mana mungkin dapat menahan hasrat setelah kenangan yang kita buat empat tahun lalu” Dewa semakin memojokkan Leyna.
“Dewa, mengapa kau begitu merendahkan aku? Mengapa kau menghinaku setelah yang aku berikan kepadamu?” ingin rasanya Leyna menangis dan memaki kekasihnya yang pernah hilang itu. Namun cinta pertama yang tersisa menghalangi niatnya.
“Kamu tahu aku orang yang tak mudah percaya dengan kata-kata” omongan Dewa tak melemah sedikitpun.
“Terserah apa persepsimu kepadaku. Kurasa kamu memang sudah berubah” Leynasedikit kesal. meletakkan sendok ke piring makannya dengan sedikit kasar lalu menuju tempat peraduan.
“Sudahlah Dewa aku penat sekali. Hentikan membahas ini” Leyna membaringkan diri. Tubuh lelah kehabisan tenaga dan perut sudah terisi membuat kantuk Leyna merambati tubuhnya dengan cepat.
Leyna jatuh tertidur dengan hati masih dongkol.
Dewa menikmati malam sendirian di sofa yang ada di kamar sambil sesekali matanya memandang Leyna yang terlihat nyaman beristirahat. Jemarinya sibuk menelusur pesan di telepon genggam yang baru saja ia hidupkan.
Malam belum terlalu larut saat telefon genggam Dewa berdering dengan suara cukup keras.
“Sial” Dewa terkejut karena ia lupa belum memasang mode senyap setelah ia hidupkan. Dewa menjauh ke sudut kamar.
“Iya Ma!” Leyna samar mendengar suara Dewa pelan.
“Aku pulang besok” lanjutnya.
__ADS_1
“Iya. Pekerjaan sudah selesai sih, tapi tidak dapat tiket penerbangan malam ini” kata Dewa berbohong.
Hati Leyna pedih, namun ia tak ingin Dewa mengetahuinya.
Tak ada gunanya baginya andai harus bertengkar dengan Dewa. Seperti biasa saat masih pacaran dulu, Leyna pasti kalah, karena prinsip Dewa sejak kecil, tak ada yang bisa mengalahkanku. Kalaupun ada, tak boleh.
“Ya..ya, Ma. Habis ini aku pesan tiket penerbangan pertama esok” lanjut Dewa masih dalam sambungan telepon gengam suaranya tetap rendah.
“Ya. Dah. Muach” Leyna benar-benar menjadi jijik mendengarnya.
dewa segera memesan tiket penerbangan. Setelah berhasil melakukan pembayaran melalui online banking, Dewa berjalan menuju pembaringan.
Dewa berbaring di belakang Lyna yang tidur meringkuk lalu memeluk Leyna dari belakang.
Beberapa lama dalam pelukan Leyna masih tetap bertahan samar suara Dewa saat menelepon membuatnya enggan membuka mata.
Meski sudah semakin sadar dari tidurnya, Leyna tetap pura-pura terlelap hingga Dewa makin penasaran.
Dewa sungguh dekat dibelakangnya, hembusan nafas terasa lembut di tengkuk dan belakang telinganya.
Tangan Dewa berusaha meraih kancing piyama yang telah berkali-kali ia buka paksa sejak kemarin malam.
“Aku lelah Dewa” akhirnya Leyna membuka suaranya setelah sekian lama Dewa memperlakukannya dengan mesra.
“Satu malam lagi Ley please” pinta Dewa.
"Aku sudah tak ada tenaga lagi" elak Leyna.
“Kalau kamu lelah tak apa Ley, berbaringlah. Biar aku melakukannya sendiri” sebenarnya bukan hanya lelah. Percakapan telepon Dewalah yang menggangu selera Leyna.
“Bagaimana bisa Dewa” meski enggan, Leyna kasihan mendapati Dewa berusaha sendirian.
Leyna juga masih merasa dongkol dengan tuduhan Dewa saat mereka makan tadi. Tuduhan itu membuat perasaan Leyna kepada Dewa hampir saja mati.
“Kamu boleh melakukannya sambil tidur kalau mau Ley” Dewa memulai permainan dengan perlahan tanpa perasaan.
Dewa mengira Leyna bermalas-malasan hanya karena kelelahan.
“Tak apa-apa, tidur sajalah, biarkan aku menikmatinya sendirian” ujar Dewa.
Leyna hanya ingin agar permainan segera dituntaskan. Ia mencoba membangkitkan dirinya mengimbangi.
Tangan Leyna meraih punggung Dewa yang tertunduk diatasnya. Usapan dan elusan ia berikan bergantian dengan pelukan.
Leyna merasakan mulai terpengaruh akibat sentuhan pada kulit bersih dan halus Dewa. Berbeda sekali dengan kulit kampungan Johan yang agak kasar.
“Sial, kamu Johan. Mengapa selalu mengganggu setiap kali aku menikmati permainan. Keluh Leyna dalam hati tanpa mengurangi ritmenya bersama Dewa.
Merasa mulai mendapat tanggapan, Dewa menggila. Leyna semakin dapat menikmati malamnya.
Tetapi, semakin menikmati, nama Johan makin mengganggu. Leyna ingin membuang nama itu saat ini. Ia ingin melupakan sesaat. Namun tak bisa.
__ADS_1
Sayang sekali karena Dewa telah sejak tadi mberusaha sendirian, permainan selesai saat Leyna sedang mulai menikmati.