
Tuan Hartanata tak ingin memperpanjang masalah para wanita. Begitulah seringkali ia lakukan untuk meredam gerah dalam rumah tangganya.
"Silahkan Pa" Nyonya Hartanata menyajikan sarapan untuk suaminya yang telah duduk di kursi ruang makan berhadapan dengan putrinya.
Erni dan Nyonya Hartanata melanjutkan sarapan dengan enggan. Bertiga mereka diam dengan pikiran masing-masing.
"Semoga pacar Leyna tidak cerita macam-macam kepada papa soal kejadian di Jogja" batin Erni.
Sesekali matan Erni memandang ke pria paruh baya itu di hadapannya untuk menelisik batin Papanya.
Erni khawatir ketidakhadiran Leyna saat keberangkatan pesawat adalah akibat ambisinya sampai terdengar oleh orang tuanya.
"Jadi kalian akan berangkat ke Eropa minggu depan?" Akhirnya Tuan Hartanata memecah keheningan setelah sarapan tinggal beberapa suapan.
"Iya Pa, mumpung musim di sana bagus dan ada paket tour gratis" jawab Erni bersemangat.
"Papa, bener gak bisa menemani kita nih?" Nyonya Hartanata berharap suaminya merubah jadwal pertemuan demi bersenang-senang bersama mereka.
"Pertemuan itu tidak bisa diubah karena menyangkut pimnpinan banyak perusahaan" kata Tuan Hartanata.
"Sayang sebenarnya Pa. Paket ini untuk empat orang" keluh Erni.
"Lho, memang Leyna tidak jadi diajak?" tanya Tuan Hartanata.
"Huh" Erni mendenguskan nafas.
"Anak tak tahu diuntung. Dia menolak mentah-mentah ajakanku" Lanjut Erni bersungut-sungut.
"Barangkali sedang ada masalah dengan pacarnya" Nyonya Hartanata yang tidak paham situasi mencoba bersuara.
"Pacar yang mana yang dimaksud mama" bisik Erni pada diri sendiri.
"Ngomong apa kamu?" tanya Tuan Hartanata yang tak mendengar dengan jelas.
"Oh tidak, tidak Pa" Erni berkelit.
Nyonya Hartanata melirik tajam kepada Erni agar tak memancing suaminya untuk banyak bertanya yang bukan-bukan.
"Oh iya, Papa semalam pulang dini hari, apa ada yang genting di perkebunan?" selidik Nyonya Hartanata berusahamengalihkan pembicaraan.
"Tidak ada, aku hanya ingin memberikan semangat kepada para pekerja agar produksi kita bisa meningkat di tengah harga yang bagus" elak Tuan Hartanata.
"Hmm, tidak sedang merencanakan sesuatu kan?" Nyonya Hartanata menyunggingkan senyum penuh arti.
"Maksud Mama?" Tanya Tuan Hartanata.
__ADS_1
"Yaah, aku dengar selentingan Papa mulai bertanya-tanya soal adat perkawinan" pancing Nyonya Hartanata.
"IIhhh.. Mama, Masak begitu sih, Aku masih ingin merencanakan masa depan kali" rengek Erni merasa lebih tua dari adiknya.
Tuan Hartanata hanya memandangi kedua perempuan yang dia sayangi itu dengan tatapan biasa.
"Setidaknya ajaklah pacarmu itu berkenalan dengan keluarga Er,sekali-sekali ajaklah masuk rumah ini kalau mengantarmu. Tidak hanya sampai di depan gerbang utama saja setiap kali ke sini" pinta Nyonya Hartanata.
"Maaf Ma, dia itu orangnya memang pemalu" Erni berusaha melindungi pacarnya.
"Yaa, sepemalu-pemalunya laki-laki setidaknya turunkan anakku di depan pintu rumah, bukan di pinggir jalan" Nyonya Hartanata menasehati putrinya dengan tetap tersenyum di bibirnya.
"Kan minggu depan toh ketemu Ma" Erni menenteramkan mamanya.
"Hmm, minggu depan . Mau keliling Eropa, tetapi ketemuannya di bandara. Seperti kencan buta saja" ujar Nyonya Hartanata.
Tuan Hartanata hanya memandangi dua perempuan yang sedang berbicara. Erni terdiam karena kecerewetan mamanya.
"Biar Leyna saja yang kawin duluan gimana pa?" tiba-tiba Erni menyorongkan ide yang bagi ibunya dianggap konyol.
"Hey, Seharusnya kamu duluan.Tidak elok jika kakak perempuan menikah didahului oleh adiknya" cegat Nyonya Hartanata.
Erni sendiri sebenarnya sempat khawatir akan kelakuannya mendorong Dewa bertemu Leyna hingga bermalam.
Dari cerita tentang hubungan dengan Leyna yang disombongkan Dewa, Erni khawatir jika adiknya terjadi apa-apa.
"Mamaaa. kan sudah aku bilang aku akan membangun karier dulu, belajar banyak di perkebunan agar kelak bisa menjalankan usaha papa dengan baik" ujar Erni.
Nyonya Hartanata mengangguk tanda menyetujui pendapat putrinya.
"Memangnya papa menemukan ide konyol itu dari mana sih?" Nyonya Hartanata tak habis pikir dengan keinginan suaminya.
"Hmmm.. Yaahh, mungkin hanya selera pria tua saja" Tuan Hartanata menjawab tanpa arah.
"Papa ini, Pernikahan kok masalah selera. Selera bagaimana maksudnya?" tanya Nyonya Hartanata.
"Selama ini aku banyak merenung di perkebunan. Rasanya aku kehilangan satu sisi kehidupanku ketika anak kita meninggalkan rumah di usia yang sangat belia" Ujar Tuan Hartanata.
"Yah, Mulai dah" Erni bersungut-sungut jika Papanya mulai menceritakan peristiwa pelarian Leyna.
"Hush, kamu ini" Cegah Nyonya Hartanata kepada putrinya.
Tuan Hartanata tak mempedulikan sungutan Erni dan terus melanjutkan.
"Andai saja waktu bisa diulang, aku ingin lebih dekat dengan anak-anak. Lebih bisa memperhatikan kalian berdua sebagai anak-anak" keluh Tuan Hartanata.
__ADS_1
"Andai aku sempat menggendong kalian ke perkebunan seperti yang dilakukan para pekerja. Andai ada waktu mengajak kalian memancing bersama di sungai" Tuan Hartanata menarik nafas dalam.
"Rasanya aku iri dengan para pekerja yang bisa membahagiakan anak cucu mereka" lanjut Taun Hartanata.
Melihat kesungguhan Tuan Hartanata, putri dan istrinya tak berani menyela cerita.
"Setidaknya jika sekarang aku tidak bisa melakukannya kepada kalian berdua, aku ingin melakukannya kepada cucu-cucuku" Tuan Hartanata terlihat sungguh-sungguh.
"Nah kan Ma, Cocok itu kalau Leyna segera dikawinkan saja" Erni memotong seenaknya.
"ha ha ha, kalian jadi serius amat" Tuan Hartanata menyunggingkan senyum di bibirnya melihat ekspresi putri dan istrinya.
"Eh Iya, Pa. Nggak apa-apa kok, boleh, boleh kalau Papa mau cucu dari Leyna duluan" Erni buru-buru merasa mendapat kesempatan untuk menutupkesalahan.
Kekhawatiran akan pertemuan Dewa dan Leyna atas inisiatifnya yang bisa saja mengakibatkan kehamilan makin mendorong hatinya untuk mengejar kesempatan.
"Kamu kok terlihat semangat sekali menginginkan adikmu menikah?" Tanya Nyonya Hartanata keheranan.
Naluri kewanitaan Nyonya Hartanata mengusik untuk bertanya-tanya dalam hati. Adakah sesuatu yang terjadi pada saat menghilangnya Leyna beberapa waktu lalu dan putrinya Erni mengetahui.
"Yah, demi kebahagiaan saudara, mengalahpun bagiku tak apa-apa" kelit Erni.
Erni yang melihat lirikan mamanya segera membuang muka agar tak diperhatikan oleh Tuan Hartanata.
"Kapan Pa"Desak Erni tiba-tiba.
"Apanya yang kapan?" Tuan Hartanata
"Kawinan Leyna, Bulan depan saja Pa, biar cepat kelar urusannya" kata Erni seenaknya.
"Hhehh, kamu ini bercandanya keterlaluan" hardik Nyonya Hartanata.
"Nggak apa-apa kan Ma, lebih cepat lebih baik, biar Papa segera bisa menggendong cucu" ujaran Erni yang serius hanya dianggap candaan saja oleh Nyonya Hartanata.
"Kamu nggak keberatan Ma?" kalimat sederhana, biasa, tanpa nada itu tiba-tiba terdengar bagai ledakan di telinga Nyonya Hartanata.
"Keberatan apanya Pa?" Nyonya Hartanata pura-pura tidak paham untuk memancing kepastian ucapan suaminya.
"Mama dan Erni sungguh tidak keberatan kalau Leyna aku kawinkan segera?" tegas Tuan Hartanata kepada putri dan istrinya.
Kedua perempuan itu berpandangan. Keheranan yang menyelimuti wajah Nyonya Hartanata karena mendengar ucapan suaminya, menjadi semakin terasa karena melihat putri yang ditatapnya justru menahan senyuman yang ingin diledakkan.
"Semoga ucapan papa sungguh-sungguh, sebelum semuanya terbongkar" batin Erni tersenyum-senyum merasa kemenangan sudah di depan mata..
"Terserah anaknya sajalah Pa, akudari kecil tak pernah bisa memahami hatinya, meski dia anakku sendiri" Nyonya Hartanata mejawab sambil diselimuti rasa kecewa mengingat kenakalan Leyna di hadapannya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau kalian tidak keberatan, biar para pekerja membantu menyiapkan pernikahannya" Senyum mengembang menghias keceriaan wajah Tuan Hartanata dan putrinya, seiring wajah bingung dari Nyonya Hartanata.
"Tak ada angin tak ada hujan, entah mengapa dia berpikiran mengawinkan anaknya tiba-tiba" bisik hati Nyonya Hartanata.