Anak-anakku Bukan Benihku

Anak-anakku Bukan Benihku
Chap57. Test Pack


__ADS_3

“Mas Jo, tegorokanku sakit banget. Seperti terbakar saja rasanya” keluh Leyna sebelum pesawat yang membawa mereka lepas landas menuju Jakarta.


“Nanti turun kita langsung ke rumah sakit saja, biar aku daftar online” hibur Johan menenangkan kekasihnya.


Hari ketiga pernikahan Johan dan Leyna yang luar biasa. Hari terakhir cuti pernikahan yang bisa didapatkan oleh Johan. Mereka bersiap menempuh hidup baru sebagai sepasang suami istri di apartemen perusahaan Johan.


“Sakit banget Mas” kembali keluh leyna manja.


Johan meraih kepala Leyna dan membaringkan di pangkuannya, sejurus pilot mengumumkan boleh melepas sabuk pengaman.


“Badanmu terasa panas sekali Pey” Johan memeriksa dahi istrinya.


“Tapi aku merasa kedinginan” Leyna terlihat pucat.


Johan menghubungi rumah sakit yang telah bekerjasama dengan perusahaannya untuk mendapatkan nomor antrian periksa.


“Aku sudah mendapat nomor antrian, dari bandara kita langsung ke rumah sakit saja” Johan sangat khawatir melihat istrinya terlihat tidak nyaman.


“Kamu tidak marah kan mas?” rajuk Leyna.


“Apa yang harus membuat aku marah?” Johan balik bertanya.


“Entahlah, rasanya sungguh tidak nyaman hari ini” Leyna berbincang tanpa merubah posisinya di pangkuan Johan.


“Aku rasa kamu hanya capek saja karena berhri-hari menyiapkan pernikahan kita dan harus berdandan menggunakan pakaian yang agak dipaksakan sesuai keinginan papa” Ujar Johan menghibur.


“Entahlah, kenapa baru sekarang terasa begitu lelah” keluh leyna.


“Mungkin karena kamu merasa telah meletakkan semua beban” hibur Johan.


“Bersabarlah, sebentar lagi kita bisa ke rumah sakit”


***


Turun dari pesawat, pasangan suami istri Johan dan Leyna segera menyewa taksi bandara untuk segera menuju rumah sakit.


Seorang teman kuliah Johan yang memimpin bagian rekam medis telah menyiapkan data Leyna sebagai pasien.


“Langsung saja menunggu antrian di bagian umum Jo” Agung menyempatkan diri menemui Johan di loby rumah sakit swasta yang megah itu.


“Kamu tidak bekerja, kenapa malah keluar dari kantormu?” sambil berjalan Johan mencecar pertanyaan kepada Agung yang sejak kuliah sering membantu jika Johan mengalami masalah dengan mata kuliah.


“Terima kasih Jo, itu sangat membantu menyemangatiku” Agung berkata serius. Johan dan Leyna berjalan mengikuti Agung yang berjalan agak terburu-buru dari loby menuju area rawat jalan bagian poli  umum.


“Oh, maaf Gung, bukan maksudku tidak sopan. Aku sangat senang karena bantuanmu hingga istriku bisa mengantri langsung… Aduh” Johan terhenti karena menubruk Agung yang tadinya berjalan di depan Johan tiba-tiba berhenti mendadak.


“Ugh” Agung kaget tertabrak Johan, namun ia segera membalikkan badan matanya melotot, mulunya menganga penuh keheranan.

__ADS_1


“Istrimu? Gadis cantik disebelahmu ini?” Agung bertanya penuh heran.


“Eh. Iya. Maaf aku tadi sampai lupa memperkenalkan karena buru-buru. Aku begitu khawatir dengan keadaanya” Johan tersipu.


“Oh. Aku kira kamu sedang memeriksakan staf mu setelah aku dengar kau diangkat jadi kepala cabang di sini?” Agung seakan tak percaya.


“Istrimu? Kamu sudah menikah, dan aku kawanmu tak kau beritahu?” Agung terus saja bertanya-tanya.


“Maaf Gung, Ini Leyna istriku, Kenalkan ini Agung yang banyak membantuku saat kuliah dulu” Johan memperkenalkan Agung kepada istrinya.


Leyna mengulurkan tangan disambut Agung yang menyunggingkan senyum lebar sambil menyambut tangan Leyna dan berjabatan.


“Kamu? Kapan?” Dalam benak Agung agak mustahil seorang gadis mungil yang begitu cantik bisa terpikat oleh Johan yang sederhana.


“Sudah jangan lama-lama” Johan berujar, Leyna melotot. Agung bertambah lebar senyumnya dan menengok kepada Johan.


“Tidaak. bukan masalah cemburu, masalahnya aku ingin buru-buru agar Leyna segera diperiksa dokter” Kata Johan seakan melakukan sebuah kesalahan.


“Nggak, kamu belum menjawab pertanyaan. Kapan?” Agung bertanya dengan penasaran.


“Tiga hari lalu” Johan menjawab seakan habis kesabaran.


“Baik, baik. Mari” Agung melepaskan tangan Leyna yang lembut namun terasa panas akibat suhu badannya yang tinggi.


Sampai area poli umum terlihat antrian yang tak begitu banyak karena hari memang masih cukup pagi.


Agung mengetuk pintu ruang periksa dan langsung menggesernya untuk membuka tanpa menunggu dipersilahkan dari dalam.


“Oh Pak Agung, mari pak” Sambut salah seorang perawat yang menjadi asisten praktek dokter umum di ruangan itu.


Bertiga mereka masuk diiringi pandangan heran pasien yang sedang mengantri.


“Setelah pasien yang satu ini ya pak. Nona ini yang akan periksa?” tanya perawat itu. Leyna hanya mengangguk menahan rasa tak nyaman di tubuhnya.


“Mari saya periksa tekanan darah dan suhu dulu” Leyna menuju kursi periksa dihadapan asisten dokter.


“Aku kembali ke kantor ya Jo” sementara perawat memeriksa Leyna, Agung meninggalkan mereka untuk kembali ke ruangan kerjanya.


“Terima kasih Gung, kalau sudah selesai aku langsung pulang untuk istirahat ya” pamit Johan.


“Baiklah, lain kali saja aku ke tempatmu untuk memberi selamat dalam suasana yang lebih enak” ujar Agung memberi isyarat kepada asisten dokter yang memeriksa Leyna dan dibalas anggukan kepala dan lemparan senyuman yang manis.


Agung keluar hampir beriring dengan pasien yang telah selesai diperiksa oleh dokter.


“Mari Nona” Perawat asisten yang memeriksa Leyna membawa berkas kepada dokter.


“Apa yang dirasakan Nona” tanya dokter yang terlihat ramah itu.

__ADS_1


“Badan saya terasa dingin dan tenggorokan pedih dok” Jawab Leyna.


“Boleh saya periksa tenggorokan Nona?” Dokter menyalakan senter dan mengarahkan ke mulut leyna yang dibuka dengan lebar. Menulis beberapa catatan setelah memeriksa catatan dari asisten perawat.


“Apakah Nona leyna bersedia periksa urine?” tanya dokter, dijawab oleh anggukan ragu oleh Leyna.


Dokter memberi isyarat kepada asisten perawat untuk mengurus prosedur dan peralatan yang dibutuhkan untuk pemeriksaan urine Leyna. Seorang asisten mengantar Leyna dan akan mengurus prosedur laboratorium.


“Apakah ada yang hal yang serius dokter?” Johan yang tadi masih duduk di deretan kursi dekat asisten perawat akhirnya ikut mendekat ke kursi pasien di depan dokter.


“Jangan khawatir, ini hanya prosedur pemeriksaan biasa” Jawab dokter itu dengan tenang sembari tersenyum.


“Apa kira-kira penyakitnya dokter?” tanya Johan penasaran.


“Sepertinya bukan saya yang harus memberi diagnosa, sementara prosedur di sini sudah selesai, selanjutnya nanti silahkan nanti anda berkonsultasi dengan dokter di ruang periksa U3. Nona Leyna akan diantar ke sana oleh asisten” terang dokter.


“Oh eh, yah. Terima kasih dokter. Permisi” Johan beranjak dari kursi pasien. Sejurus pasien berikutnya telah duduk di kursi sebelahnya.


Johan mengikuti petunjuk ruang U3 menyusur lorong rawat jalan yang mulai ramai dengan antrian pasien. Rumah sakit swasta besar ini memang terkenal bagus dalam pelayanan, hingga antrian sering begitu panjang. Maka begitu Leyna mengeluh tadi ia segera menghubungi sahabatnya agar bisa mendapatkan prioritas pemeriksaan.


“Poli ibu dan anak?” batin Johan.


“Oh itu U3, dokter spesialis kandungan dan ginekologi? Apakah?” bibir Johan menahan senyum, meski pikirannya penuh tanya. Johan memilih duduk di sudut agak belakang agar bisa menyandarkan kepala ke tembok.


“Bapak Johan” suara panggilan asisten dari ruang periksa.


“Silahkan ke ruangan U3 pak” melihat ada orang yang mendekat sambil memperhatikannya, perawat tahu bahwa yang dipanggil sudah merespon.


Johan memasuki ruang periksa U3. Dilihatnya Leyna sudah duduk di depan dokter sembari menunggunya.


“Bapak Johan, atau mas Johan saja ya?” Dokter muda itu bertanya sambil memandang ke arah Johan.


“Anda adalah …?”


“Saya suaminya dok” Jawab Johan.


“Oh ya, kalau begitu selamat” Dokter mengulurkan tangan membuat johan yang hendak duduk membatalkan niatnya.


“Maksudnya dok?” Johan memandang wajah Leyna yang menahan senyum bahagia meski wajahnya terlihat pucat karena kondisi yang kurang sehat.


“Tolong dijaga baik-baik istrinya, nanti saya kasih resep agar kondisinya segera pulih. Jangan beraktifitas yang berat dulu, karena usia kandungan istri baru sekitar tiga atau empat minggu. Mas Johan bisa mengerti” dokter muda tersenyum lebar seakan ikut bahagia.


“oh iy..iya dok, terima kasih dok” Johan spontan memeluk Leyna dengan mesra, membuat dokter yang masih bujang itu sedikit memalingkan muka.


“Silahkan ditunggu di apotek rumah sakit, nanti hasil test pack akan disertakan saat penerimaan obat” dokter itu berkata tetap dengan senyum indah di bibirnya.


“Baik dok, permisi, terima kasih” Johan dan Leyna berdiri dari kursi periksa. Mereka berjalan keluar menuju apotik. Tangan Johan mendekap bahu Leyna, dan sesekali mencium sisi kepala istrinya.

__ADS_1


Johan tak peduli pandangan pasien dan keluarga yang sedang antri di sepanjang lorong yang ia lewati. Dunia kali ini seakan miliknya sendiri bersama sang istri.


__ADS_2