
"Hhhhhh.. badanku serasa ditimpuk batu gunung, tulang-tulangku mau copot saja rasanya" Leyna menggeliat dengan malas.
Tidur di kamar sendiri yang super nyaman, dekat dengan orang tua yang dapat diandalkan saat masalah menghampiri, membuat Leyna hari ini ingin berlama-lama dalam kemalasan.
"Uh, pegelnya" Leyna memijat bagian-bagian tubuhnya yang terasa pegal-pegal.
Bibir mungilnya tersungging senyum mengingat kejadian-kejadian beberapa hari kemarin setelah upacara wisudanya.
"Mengapa aku bisa sekonyol ini sih" gumam Leyna.
"Bodoh amat ah, biarkan saja semua berjalan apa adanya" Leyna berusaha membuang sesal.
"Selamat pagi Non Leyna, Sarapan sudah siap, mau diantarkan ke sini atau makan di bawah" sapa Bik Atun dari depan pintu kamar membuyarkan lamunannya.
Saking lelahnya, semalam Leyna tidak keluar kamar dan meminta kepada bi Atun untuk mengantar makan malam ke kamarnya.
Bik Atun adalah pelayan rumah tangga yang merawat Leyna sejak masih bayi.
Sejak gadis belia Bik Atun telah membantu keluarga Tuan Hartanata. Bi Atun diperistri Pak Sukirman setelah beberapa tahun sopir itu menggantikan sopir lama Tuan Hartanata.
"Nanti aku turun Bi, mau mandi dulu" jawab Leyna masih dari pembaringannya.
"Jika membutuhkan, saya ada di paviliun Nona" pamit bi Atun.
Sejak menikah, pasangan assisten rumah tangga Tuan Hartanata itu menempati paviliun yang khusus disediakan untuk para pembantu.
Rumah besar itu menyediakan rumah untuk para pembantu setia agar dapat melayani keluarga Tuan Hartanata sewaktu-waktu dibutuhkan.
Leyna melangkahkan kaki dengan malas menuju bathub. Menyalakan kran air hangat sampai air di bathub cukup nyaman, lalu berlama-lama berendam.
Sementara di kamar Tuan Hartanata juga terlambat bangun karena bertemu Johan di Mess mandor semalaman.
Begitu terjaga, hal pertama yang Tuan Hartanata lakukan adalah meraih ponselnya dan menghubungi Anto mandor setianya.
"Selamat si.. eh, pagi Pak" suara di seberang sambungan begitu koneksi terjadi.
"Kamu lagi di mana?" tanya Tuan Hartanata
"Dalam perjalanan pulang dari bandara Pak" jawab Anto.
"Oh, jadi Johan langsung kembali ke Jakarta ya?" ujar Tuan Hartanata.
"Benar Pak, esok ada pekerjaan katanya. Hari ini harus mempersiapkan beberapa berkas" terang Anto.
__ADS_1
"Baiklah tidak mengapa" Tuan Hartanata terdengar sedikit kecewa, langsung mematikan telapon membuat Anto sedikit linglung dengan sikap Tuan Hartanata.
Leyna telah selesai mandi dan menuruni tangga untuk sarapan. Tsirt putih polos dipadu dengan short katun warna krem membuat penampilannya yang selalu berambut pendek terlihat begitu segar.
"Pagi Ma" Sapa Leyna mendapati mamanya sedang sarapan ditemani Erni.
Leyna menyapa tanpa melihat mereka berdua, langsung menuju lemari es dua pintu mewah untuk mengambil air putih dingin.
"Kamu ini memang gak pernah punya sopan" rutuk Erni.
Leyna tak menengok. Tanpa peduli ia terus menuang air ke dalam gelas dan menuju ruang makan.
"Sudah. Pagi-pagi tidak usah membuat masalah" cegah Nyonya Hartanata.
"Anak itu harus diberi pelajaran tata krama Mah" keluh Erni.
Leyna menyiapkan sarapan untuk dirinya tanpa memperdulikan omongan kakaknya. Bahkan enggan memandang ke arah mereka.
"Lihat Mah, lagaknya, dihadapan orang tua seperti itu" Erni makin meradang melihat Leyna seakan membuang muka saat tak sengaja mata mereka bertemu.
"Biasa saja kenapa sih, apalagi yang kurang dari aku" Leyna akhirnya bersuara juga.
"Tuh Mah, dengarkan. Baru kemarin sore lulus saja sudah sok-sokan" Erni mengadu.
Dengan berlagak cuek, Leyna mulai menikmati sarapan sendok-demi sendok.
"Kamu ini!" bentak Erni hampir saja melemparkan sendoknya andai tangan Nyonya Hartanata tak sigap menahan tangan Erni.
Erni merasa tersindir karena saat kuliah dulu segalanya masih diurus oleh Nyoya Hartanata. Bahkan beberapa hal harus diselesaikan menggunakan pengaruh nama besar Tuan Hartanata.
"Sudah. Kalian ini kalau berkumpul selalu saja ribut. Kamu ini Leyna, bisa menahan diri tidak" nyonya Hartanata mulai tidak sabar dengan kelakuan kedua putrinya.
"Ya, empat tahun terasa tenang kan Ma?" Leyna terkadang dongkol dengan mamanya karena sejak kecil kurang diperhatikan. Berbeda dengan kakaknya yang bisa selalu menempel.
"Tuh Ma, akibat papa selalu memanjakan dan membela dia" Erni hampir histeris mendengar adiknya mulai melawan mama mereka.
"Leyna, kamu jangan begitu dengan kakakmu. Tidak sepenuhnya kakak bergantung kepada orang tua.Papa dan Mama hanya membantu sebatas kewajiban" terang Nyonya Hartanata.
Leyna hanya mengankat bahu dan melanjutkan menikmati sarapan. Mata Erni membulat seakan hendak keluar melihat sikap adiknya.
"Kakakmu juga sudah menunjukkan kemampuan selama bekerja" lanjut Nyonya Hartanata.
Leyna tak sedikitpun melirik kepada Nyonya Hartanata. Sarapannya cukup lahap, karena rindunya kepada masakan bi Atun.
__ADS_1
"Dia juga menunjukkan kepada Mama, telah berbaik hati kepadamu" ujar Nyonya Hartanata.
"Benarkah?" Leyna menghentikan menyendok makanan, menanggapi pernyataan Mamanya dengan mulut masih penuh makanan.
"Ya. Kamu akan diajak jalan-jalan ke Eropa atas kerja kerasnya" kata Nyonya Hartanata.
"Uhuk pufh" Leyna terbatuk sampai menyemprotkan makanan dari mulutnya ke meja.
Erni memelototkan mata, sementara Leyna buru-buru mengambil gelas air putih dengan tangan kanan, sembari tangan kirinya digoyang-goyangkan tanda tidak setuju.
"Terima kasih Ma, maaf aku gak akan ikut" ujar Leyna setelah sedikit lega di tenggorokannya. Wajahnya pucat.
Hati Leyna langsung kecut mengingat pesan yang dia baca di ponsel Dewa. Ternyata ini bukan mimpi. Ini nyata.Leyna merasa dijual untuk kesenangan kakaknya dan pacarnya.
Nyonya Hartanata yang tidak paham situasinya melanjutkan.
"Kakakmu mendapat dua paket tour Eropa, Papa sedang ada urusan penting jadi kamu bisa mengisi kursinya" terang Nyonya Hartanata tanpa dosa.
"Sial, sudah tubuhku dijual, cuma jadi pengganti pula" rutuk Leyna dalam hati.
Leyna hanya menggeleng-gelengkan kepala kepada Erni yang belum tahu bahwa Leyna telah membaca pesannya kepada Dewa.
"Sungguh tega kamu Er" Leyna berujar kepada kakaknya tanpa memanggil Kak lagi.
Sudut matanya tiba-tiba terasa panas dan berbulir.
"Kamu ini memang tidak tahu berterima kasih. Apa maksudmu" Erni yang belum menyadari Leyna telah mengetahui kebusukan kakanya malah merutuki adiknya.
"Leyna, kamu lama-lama bikin Mama jadi naik darah saja. Kalau tidak mau tidak apa-apa, tinggal bilang saja TIDAK MAU. Kami bisa berangkat bertiga. Tidak perlu berkata yang tidak sopan" Nyonya Hartanata marah berkepanjangan.
"Mama, sama saja. Tak ada bedanya" meski menahan tangis, namun urai air mata tak dapat menutupi kepedihan hatinya.
Tak tahan berlama-lama di meja makan, Leyna melempar sendok yang masih dipengang ke piring yang masih berisi sisa sarapan.
Leyna berlari meninggalkan meja makan menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya di lantai atas diiringai tatapan tak mengerti Nyonya Hartanata.
"Brak" suara pintu kamar dibanting dengan keras.
Tuan Hartanata yang baru saja tiba di ruang makan dan hendak duduk menjadi tertunda untuk melongokan kepala ke lantai atas.
"Aku ketinggalan apa ini?" tanya Tuan Hartanata dengan tenang.
"Tuh, anak manja papa yang tak tahu berterima kasih" jawab Erni sengit.
__ADS_1
"Sudah Pa, sarapan saja dulu" pinta Nyonya Hartanata sambil menyiapkan sarapan suaminya.