Anak-anakku Bukan Benihku

Anak-anakku Bukan Benihku
Chap50. Selangkah lagi


__ADS_3

Johan keluar dari kamar dengan wajah yang tak kering sempurna. Setelah mencuci muka, terlihat dia agak tergesa-gesa keluar kamar agar tak berkesan sebagai pejantan malas oleh rekan yang kini kedudukannya hampir setara dengan Johan di perusahaan.


"Pagi amat ada hal penting apa An?" Tanya Johan masih terdengar setengah enggan.


"Hey Boss. Ini hari kerja ingat?" Anna seolah serius menegur Johan. Johanpun sedikit terkesiap.


"Ah ya ya maaf" Johan menjadi keki dihadapan Anna.


"Maaf sih boleh, tapi kamu kalau enak-enakan jangan kebablasan sampai siang dong" Anna ketus, tapi wajahnya tak dapat menyembunyikan senyum dan muka merah.


Leyna menjadi malu karena merasa sindiran Anna mengenai dirinya juga.


"Maaf kak, aku ke kamar dulu ya. Mau mandi sekalian" Leyna berusaha menghindari pembicaraan yang pastinya nanti membahas pekerjaan. Tentu juga untuk menyembunyikan rasa malu karena pasti Anna telah menduga apa yang mereka lakukan semalam.


"Nggak apa-apa kok kalau mau mendengarkan diskusi kami. Biar kamu tahu pekerjaan suami nantinya" Anna sedikit menggoda Leyna.


"Enggak kak, aku juga belum mandi, mau membersihkan badan dulu" elak Leyna cepat.


"Ehm, pantes seperti ada aroma apaaa gitu" Anna memang paling suka menggoda orang yang sudah salah tingkah.


"Ih, kak Anna, sudah ah aku masuk dulu ya" Leyna buru-buru kabur dari pembicaraan.


Anna hanya mengangguk, memberikan senyuman dan kedipan sebelah mata kepada Leyna, membuat Leyna semakin ingin cepat-cepat membuang rasa malunya dari hadapan Anna.


"Ini berkas-berkas yang harus kamu tanda-tangani. Semalam aku sampai lupa gara-gara kamu kebanyakan bercanda" Anna menyodorkan satu bendel berkas perusahaan kepada Johan setelah pintu kamar tertutup rapat oleh Leyna.


Johan mengamati berkas di hadapannya, membaca dengan teliti agar tak salah jika harus bertanya.


"Itu surat keputusan direksi atas pengangkatanmu sebagai pimpinan di sini" Anna menjelaskan.


"Yang ini berkas perijinan operasional cabang kita dari otoritas di sini, semua sudah disiapkan oleh notaris yang kita tunjuk. Kamu tinggal menandatangani di bagian-bagian yang ada namamu" Lanjut Anna.


"Ini harus sekarang?" tanya Johan.

__ADS_1


"Besok kalau kamu mau pensiun" jawab Anna sengit.


"Yah gak usah sewot begitulah An" Johan seperti belum seluruh nyawanya menyatu di pagi ini.


"Kalau kamu mau perusahaan segera jalan, ya segera teken. Nanti biar notaris yang menyelesaikan sisanya"  ujar Anna kembali.menjelaskan.


"Iya. iya" Johan kembali mencermati dokumen-dokumen di hadapannya.


"Kok kamu terlihat seperti orang kehilangan fokus begitu sih Jo? Apakah ada yang sedang mengganggu pikiran Jo?" Anna merasa ada yang kurang dari rekan kerja yang akhirnya menjadi sahabatnya itu.


"Ah, entahlah An, kurasa tidak ada yang istimewa" Johan menjawab tanpa melepaskan pandangan dari dokumen di hadapannya.


"Bukan aku mau ikut campur kehidupanmu Jo, tetapi aku harus bertanggung-jawab akan masa depan cabang ibukota. Aku tidak ingin mempermalukan diri sendiri maupun tim di sini nantinya. Jadi aku harap tak ada yang terlalu tertutup di hadapanku" Anna mendesak untuk menelisik suasana hati Johan.


Johan sebentar meletakkan dokumen di hadapannya. Matanya tajam memandang Anna. Hatinya sedikit terganggu, namun wajah Anna yang selalu membiaskan tujuan tulus membuat Johan tak berani berpikiran buruk.


"Tak akan ada yang bisa membantuku An. Bahkan keluargaku. Ini beban pribadiku" Johan pelan bahkan hanya terdengar seperti bergumam di telinga Anna.


"Masa?" Anna duduk dengan kedua tangan menumpang ke atas meja makan. Meyorongkan kepala kearah Johan dengan mata sedikit melotot seperti biasa jika ia hendak menginterogasi Johan dengan rasa penasarannya.


"Entahlah. Ini terasa begitu mendadak, terasa begitu tiba-tiba" Johan ragu sambil kembali memandang tajam ke mata Anna seakan mencari dukungan dari sana.


Anna hanya mengangguk memberi tanda ia bersedia mendengarkan jika Johan ingin mencurahkan perasaan yang mengganggunya.


"Aku seorang psikolog Jo. Ribuan masalah orang telah aku simpan dengan rapi" Anna meyakinkan.


Tanpa melepas pandangan kepada Anna, Johan kembali bergumam.


"Bulan depan. Mungkin" Johan berbicara perlahan membuat Anna semakin penasaran.


"Ada apa bulan depan?" desak Anna tak sabar.


"Mungkin bulan depan aku tak lagi seorang bujangan. Aku harus menikah" suara Johan sangat pelan, tetapi bisa membuat Anna terlonjak.

__ADS_1


"Aduuuh Joooo. Kalau bisa hari ini saja aku mau kok menikah. Kenapa dengan kamu ini? Bukankah pernikahan adalah momen besar yang membuat pasangan kekasih begitu bahagia hingga berasa ratu dan raja sehari?"


Anna hampir berteriak membuat Johan mengernyitkan dahinya dan memberi isyarat agar Anna tak terlalu keras berbicara.


"Ada apa dengan kamu ini? kurang cantikkah Leyna? Bukankah dia sampai tergila-gila padamu sehingga baru sehari kau tinggalpun ia menyusulmu kemari?" Anna nerocos saja seperti gadis yang kegirangan karena menemukan sesuatu yang hilang.


"Hey Jo. Asal kamu tahu ya! Perempuan itu kalau sudah berinisiatif mendatangi laki-laki yang ia cintai, artinya sudah bersedia mempersembahkan hidup kepada laki-laki itu. kamu ini terlalu menjaga gengsi atau bagaimana?" Anna tak banyak mengurangi volume suaranya.


"Anna, kamu kan sudah memahamiku selama ini. Kamu tahu kan aku ini datang dari keluarga yang seperti apa?" Kilah Johan dengan enggan.


"Apa? Kenapa? Kamu merasa miskin dan begitu sengsara? Bekerja di perusahaan kecil dengan gaji yang tak seberapa begitu? Jo, nggak semua perempuan mengedepanakan materi Jo. Kamu salah kalau kamu mau bilang begitu. Tak kulihat sedikitpun sifat materialistis di pribadi kekasihmu itu" Anna berbicara seperti orang kalap saja.


"Kenapa jadi Anna yang sewot begini ya" ujar batin Johan.


"Kamu ini mainmu kurang jauh Jo" ujar Anna.


"Aku sudah sampai Lampung An" jawab Anna.


"Itu cuma peribahasa Jo, kamu ini kenapa sih?" Anna geregetan.


"Aku juga paham An. Maksudku aku sudah melihat kehidupan keluarga Leyna. Jika disandingkan dengan keluargaku akan terlihat keluarga tuan dan pembantu" Johan tak dapat menyembunyikan perasaan rendah dirinya.


"Aku bahkan salah langkah karena selama ini tak punya pikiran untuk mengumpulkan uang sebagai bekal pernikahan" Johan berterus-terang membuat Anna termangu.


"Hmm.. lalu apa yang membuatmu berpikir kalau bulan depan mungkin kamu menikah? Apakah Leyna sudah terlambat?" tanya Anna dengan suara pelan. Takut Leyna yang di kamar ikut mendengar.


"Bukan!" Jawab Johan


"Papanya yang meminta" Lanjutnya.


"Entah ayah macam apa yang bisa tiba-tiba meminta seorang pria yang baru ia kenal untuk menikahi puterinya" Johan gamang menceritakan pertemuannya dengan Tuan Hartanata beberapa hari lalu.


"Waduh, beruntung sekali hidupmu Jo. itu artinya Leyna adalah anak istimewa di hadapan papanya. Sampai pernikahannya pun beliau urus> Seorang Ayah sampai rela meminta kepada seorang pria. Perkara apalagi yang mengganggumu? Aku yakin orang tua semacam itu akan rela keluar banyak harta untuk membahagiakan puterinya" Anna berpanjang lebar membuat kesimpulan.

__ADS_1


"Justru itu An. Aku merasa malu dan sangat rendah di hadapan semua orang" Johan merasa kurang percaya akan jalan hidupnya.


"Tidak semua orang seberuntung kamu Jo. Hadapi dan jalani saja" Anna tertawa terkekeh-kekeh.


__ADS_2