Anak-anakku Bukan Benihku

Anak-anakku Bukan Benihku
Chap27. Terjebak Dibawah Selimut


__ADS_3

Leyna membuka mata yang terasa kesat. meski tak menangis, namun gundahnya malam tadi sempat membuat sembab di mata. Meski kurang tidur, Leyna tak pernah melawatkan fajar untuk bangun dari tidur.


Perlahan membuka selimut agar tak mengganggu Johan yang masih lelap. Leyna tak menemukan pakainnya yang kemungkinan tertindih Johan.


Tak ingin mengganggu kekasihnya, Leyna meraih kaos berkerah Johan yang ia temukan,  mengenakannya meski kedodoran menutup sampai atas paha.


Leyna beranjak dari kasur, berdiri sesaat sebelum melangkah menjauh. Dipandanginya wajah Johan yang tak terlalu ganteng.


Entah mengapa akhirnya hatinya bergetar dan timbul perasaan menginginkan Johan menjadi pasangan hidupnya.


"Mungkin pepatah cinta karena terbiasa telah berlaku kepadaku?" batin Leyna


Leyna mengambil smartphone menuju pemandangan di belakang penginapan saat dilihatnya keindahan matahari yang baru bangkit dari peraduan.


Dari balik kaca yang lebar Leyna mengabadikan momen yang ia kejar sampai harus rela menginap di lereng pegunungan.


Setelah puas dengan beberapa jepretan, Leyna menyalakan MacBook yang dibeli pada hari yang sama dengan smartphone miliknya.


Koreksi skripsi oleh dosen penguji pada sidang dahulu tak terlalu banyak, hingga Leyna berharap di sela bersantainya kali ini bisa menyelesaikan hanya dalam beberapa jam.


Dari meja di kamar penginapan, Leyna masih menyempatkan menengok Johan yang masih meringkuk di balik selimut.


"Benarkah kamu mau jadi suamiku Jo" begitu bisik Leyna pelan, ia tak tega kalau sampai Johan terbangun.


Leyna teringat permintaan konyol Johan saat mereka pertama jalan-jalan bersama ke Prambanan.


Leyna memenuhi permintaan Johan untuk jalan-jalan hanya karena merasa kasihan melihat Johan yang terus memohon setiap kali mereka bertemu.


"Maafkan aku Dewa, semua salahku" bisik batin Leyna.


Saat Johan meminta hubungan di runtuhan batu Prambanan, Leyna sebenarnya masih menyimpan nama itu dalam-dalam.


Dewa, kekasih yang telah menemani kebahagiaanya semasa SMA adalah teman satu kampung sejak kecil. Meski usia terpaut satu tahun mereka biasa bermain bersama sejak Papa Leyna masih merintis usaha.


Banyak kenangan manis Leyna kepada Dewa yang masih sering mengusik hatinya sampai detik ini, hingga ia hanya menganggap Johan sebagai pelampiasan saja.


Bermaksud hendak memberi surprise, Dewa pemuda gagah dan tampan meninggalkan kampung tanpa memberitahu Leyna untuk menempuh pendidikan. Tujuannya kelak saat sukses akan kembali dan memberikan kebanggaan kepada kekasihnya.


Dewa yakin kekasih yang sudah setengah tubuhnya ia kuasai dan jelajahi itu telah memberikan seluruh hati dan jiwa kepadanya.


Namun  peraturan pendidikan yang tidak memungkinkan Dewa melakukan komunikasi dengan keluarga dan kekasihnya membuat Leyna yang merasa telah menyerahkan segalanya menjadi didera rasa malu.


Leyna merasa ditinggalkan begitu saja.


Dewa tidak menyadari bahwa cara memperlakukan gadisnya telah menjadikan hubungan mereka terjebak dalam situasi buruk yang fatal.


Hampir satu tahun tanpa komunikasi, membuat Leyna frustasi. rasa malu karena merasa dirinya telah ternoda membuatnya terpuruk dalam rasa hina.


Namun Leyna bukanlah gadis lemah. Meski perawakannya mungil, bermata bulat dan pipi gembil menggemaskan, Leyna adalah gadis kuat tegar dan tegas dalam segala hal.


Jiwa itulah yang membuat frustasinya tidak membuahkan keinginan konyol seperti bunuh diri atau terjebak dalam pergaulan yang tidak benar.


Leyna memutuskan lari dari rumah menumpang bus hanya dengan membawa beberapa potong pakaian, ATM, dan dokumen pentingnya.

__ADS_1


Mulanya ia hendak ke Jakarta atau Bandung, namun keraguannya bahwa perusahaan Papanya yang punya banyak relasi di dua kota metropolitan itu pasti akan dengan mudah mengejarnya. Leyna akhirnya membuat keputusan menempuh perjalanan yang lebih jauh hingga terdampar di Jogja.


Leyna memutuskan kuliah di kampus yang tidak terkenal berlokasi di pinggiran, dan mencari kos sederhana yang cukup tertutup sehingga sulit ditemukan. Ia meninggalkan semua kesenangan, meninggalkan alat komunikasi untuk benar-benar berlari dari keluarganya.


Namun usahanya melupakan masa lalunya tak sepenuhnya sempurna meski sudah ada Johan yang mengisi hidupnya.


Tak menemukan putrinya, Tuan Hartanata tetap yakin bahwa putri kesayangannya itu baik-baik saja. Tuan Hartanata selalu membanjiri rekening Leyna dengan uang yang berlimpah, meski ia heran bahwa penarikan rutin tidak lebih dari gaji bulanan para pegawainya.


"Dret drrrt dret"pagi-pagi smartphone Leyna bergetar, membuyarkan lamunan akan kenangan manis masa lalu.


Ada nama Papa di layar.


"Celaka" pikirnya.


"Kenapa pagi-pagi video call, bukan telepon saja" batin Leyna, namun bersigegas menerima panggilan.


Leyna mengalihkan panggilan ke MacBook agar lebih nyaman dalam percakapan.


Di seberang sambungan dilihat papanya sudah di kebun dekat mes mandor. Sepertinya Tuan Hartanata lebih suka menghubungi putrinya dari tempat itu ketimbang dari rumahnya.


"Pagi sayang... "Sapa tuan Hartanata mendahului putrinya.


"Pagi Paaah.." Leyna tersenyum manis, suaranya pelan takut mengganggu Johan.


"Kok kecil amat suaramu, lagi dimana?" Tanya Tuan Hartanata


"Baru bangun Pah, mau ngerjain koreksi skripsi" Leyna tetap menjawab dengan suara rendah.


"Eh itu bukan di kos ya?" seru Tuan Hartanata.


"Eh, anu Pah.. Aku lagi refreshing di luar kota" Leyna tergagap apalagi menyadari kamera MackBook yang ia letakkan di meja menyorot ke tempat tidur dimana Johan masih berselimut tanpa pakaian di sana.


"Itu yang tidur pacarmu kemarin?" tanya Tuan Hartanata. Leyna tersipu malu, meninggikan kaus kerah Johan yang ia kenakan takut jejak cinta semalam yang tertinggal di leher dan dadanya ketahuan.


Melihat putrinya melakukan gerakan mencurigakan, Tuan Hartanata bukannya marah, tetapi malah tergelak-gelak, membuat Leyna menarik nafas lega.


"Aduh, putri kecilku yang nakal ternyata sudah dewasa. tiga tahun tidak di rumah telah membuatmu sungguh berubah" ujar Tuan Hartanata, Leyna memerah pipi gembilnya.


Melihat di kamera putrinya mengenakan baju pria dan kedodoran, membuat Tuan Hartanata berpikiran yang bukan-bukan.


Apalagi di belakang putrinya terlihat Johan yang menggeliat sambil menguap. Tangannya ditarik lurus ke atas sehingga selimut sedikit terungkap memperlihatkan bahu dan dadanya yang telanjang.


Leyna benar-benar mati kutu menahan malu. Untung papanya lebih senang melakukan panggilan video dari perkebunan, sehingga hanya mereka berdua yang ada.


"Bangunkan dia Sayang" perintah Tuan Hartanata. Leyna terkesiap menyadari keadaan kekasihnya.


"Papaaah. jangan jahat ah" Leyna makin memerah pipinya dan membantah suaranya mulai terdengar lebih keras.


"Papa mau ngomong. Bangunkan atau papa terbang ke situ biar papa sendiri yang bangunkan!" Tuan Hartanata terlihat mulai sunguh-sungguh.


"Sudah paah. kami tidak melakukan apa-apa kok suer" elak Leyna.


"Pokoknya bangunkan, kalau tidak Papa akan ke sana segera, Mandoor penerbangan jam berapa pagi ini" Tuan Hartanata memanggil mandor kesayangannya.

__ADS_1


"Engak mau! Papah" teriak Leyna.


Johan menjadi terbangun mendengar Leyna berteriak. Tetapi melihat Leyna mengenakan kaos yang ia pakai semalam, Johan sadar akan keadaanya sehingga tidak berusaha membuka selimut segera.


"Kenapa berteriak sama papa di telepon Ley?" tanya Johan masih terdengar lemas.


Leyna terperanjat.


Menyadari Johan mulai bangun, Leyna segera berlari ke tempat tidur untuk menahan agar tidak bangkit.


Johanpun kaget karena bukan panggilan suara yang dilakukan Leyna, melainkan panggilan video.


Leyna menindihkan tubuhnya kepada Johan hingga kesulitan bergerak.


Sebenarnya Tuan Hartanata menahan senyum geli melihat putrinya terlihat lucu dengan kaus kedodoran yang hanya menutupi tubuhnya sampai atas paha, dan tanpa malu-malu memperlihatkan hubungan mesra di hadapannya.


"Hey Johan apa yang kamu lakukan terhadap putriku?" Tuan Hartanata garang.


Johan memandangi kekasihnya dengan wajah penuh kebingungan.


"Heyyy jangan bengong begituuuu? Kamu apakan putriku semalaman sampai bercak-bercak begitu?" Tuan Hartanata memelototkan matanya.


Leyna kembali meninggikan kerah Kaos Johan yang ia kenakan.


Johan sampai lupa hendak duduk saking takutnya, namun mengingat kondisi Johan, tangan lembut Leyna segera menahan.


"Maafkan saya Pak" Jawab Johan gemetaran dari balik selimut.


"Maaf-maaf. Enteng saja kamu laki-laki minta maaf!" Tuan Hartanata berbicara dengan nada tinggi.


"Papaaahhh" Keluh Leyna hampir menangis. Kelegaan yang tadi sempat ia dapatkan kembali berbalik menjadi sesak di hatinya.


"Leyna tidak usah ikut bicara. Ini urusan laki-laki" Tuan Hartanata mengingatkan putrinya


"Jika terjadi apa-apa, Awas ya. Kamu harus bertanggung-jawab. Aku akan mengejarmu sampai ujung bumi sekalipun" Ketus Tuan Hartanata.


"Ba..baik Pak" Jawab Johan tergagap.


"Baik-baik apanya yang baik. Kalau sampai ada apa-apa, baik bagaimana coba?" hardik Tuan Hartanata Johan makin gelagapan.


"Papaaaahh" Leyna mulai betul-betul menangis tak pernah melihat papanya segarang itu.


Melihat kesedihan Leyna Johan meraih kekasihnya memeluk dalam dekapannya dan mengelus rambutnya seakan lupa bahwa kamera masih menyala, dan dia masih belum berbusana di balik selimutnya.


Di layar terlihat Anto masuk kamera dibelakang Tuan Hartanata sambil tertawa-tawa mengejek Johan dan Leyna


Tangan Tuan Hartanata melambai-lambai ke belakang keberusaha mengusir Anto agar menyingkir dari kamera.


"Papa Jahaaaaat" teriak Leyna wajahnya cemberut menyadari sedang digoda oleh Tuan Hartanata.


Leyna bangkit hendak memutuskan sambungan.


Sebelum hubungan dimatikan masih sempat terdengar suara Tuan Hartanata tertawa terbahak bahak bersama Anto.

__ADS_1


"Lucu ya To sepupumu itu gampang sekali dikerjai" suara terakhir yang terdengar dari Tuan Hartanata di iringi gelak tawa.


__ADS_2