Anak-anakku Bukan Benihku

Anak-anakku Bukan Benihku
Chap28. Membangun Karier di Ibukota


__ADS_3

"Pak Johan dipanggil Bu Anna ke ruang kerjanya" Alfon membuyarkan lamunan Johan.


Johan melamun di meja kerjanya mengingat keindahan yang ia nikmati bersama Leyna akhir-akhir ini. Ia bersyukur memiliki kekasih yang mampu mengendalikan diri saat Johan telah terbakar cinta.


"Ada apa Fon? Tanya Johan melihat Alfon masih menunggu reaksi Johan. Aalfon mengankat bahu pertanda tidak tahu.


"Baiklah saya pamit ke pak Edy dahulu" Johan segera bangkit dari kursinya.


"Tidak perlu Pak, Bu Anna tadi yang menghubungi Pak Edy saat saya berada diruangan beliau"  Kata Alfon.


Beliau bilang Pak Johan segera ke Bu Anna saja" Lanjutnya.


"Baiklah"  Johan segera menuju ruangan personalia.


Johan mengetuk pintu ruangan pimpinan personalia. Meski relasinya dengan Anna seperti seorang sahabat, namun di tempat kerja Johan tetap menghormati Anna sebagai pejabat perusahaan.


"Masuk Jo" Anna mempersilahkan dengan nada suara jauh dari formal.


Johan mengambil tempat duduk di depan Anna tanpa dipersilahkan. Anna menyiapkan beberapa berkas yang akan disampaikan.


"Kamu betah kerja di sini Jo" pertanyaan Anna mengawali pembicaraan.


"Bagaimana menurut penilaianmu An?" Johan balik bertanya.


Di perusahaan lain, atau karyawan lain, pasti akan dianggap kurang ajar jika berlaku seperti Johan. Tetapi kedekatan Anna dan Johan membuat mereka selalu berbicara santai meski dalam pekerjaan.


"Senyummu tidak memberiku jawaban, tetapi malah bikin  mispersepsi dihatiku" canda Johan.


Bukannya Menjawab, Anna malah melemparkan senyum yang bagi pria belum mengenal kepribadian Anna bisa menimbulkan salah pengertian.


"Kamu ini Jo, pertanyaanku belum kau jawab, malah mengobral rayuan. Nanti kalau aku tergiur kau harus berhadapan dengan calon suamiku" Anna memperpanjang guyonan.


"Baca dulu pemaparan manajemen ini Jo" Leyna menyodorkan berkas yang dibungkus dengan amplop bertuliskan "Rahasia".


Johan membaca dengan teliti, sementara Anna melanjutkan beberapa pekerjaan.


"Agensi di Jakarta Ann? Wah hebat, perusahaan kita mengalami banyak kemajuan" kata Johan selesai membaca pemaparan.


"Ya.sebagai perusahaan daerah yang sedang berkembang kita perlu agensi di pusat bisnis Jo" Kata Leyna.


"Tujuannya agar perwakilan partner dan konsumen tidak perlu datang jauh ke daerah kalau ingin menggunakan jasa kita" Lanjut Anna menjelaskan.


"Kenapa dokumen rahasia begini malah kamu tunjukkan ke aku" Tanya Johan keheranan.


"Johan kamu tidak pernah mimpi kejatuhan bidadari begitu?" seloroh Anna.


"Ah Kamu ini ada-ada saja, kalau bidadarinya segede kamu, bisa pingsan dan gak bangun selamanya aku" Johan membalas candaan Anna.


"Kamu mau? Kalau kejadian gak bisa bangun, atau memang gak mau bangun?" Anna menggoda sambil melemparkan senyuman.


"Jangan senyum-senyum melulu An, kita cuma berdua di ruangan. Aku bisa salah pengertian" Sebenarnya Johan cuma berani bercanda dan  ingin segera mendengar penjelasan, tetapi Anna sengaja membuatnya penasaran.

__ADS_1


"Agensi di Jakarta butuh pemimpin yang cekatan Jo" Anna mulai menerangkan.


"Ya sudah jelas dong An, apalagi harus merintis dari awal di sana" Johan menyela.


"Kamu ini main potong saja, mau tidak aku jelaskan?" Anna menghardik, tetapi bibirnya tetap menyunggingkan senyuman.


"Baik Buuuu, silahkan lanjutkan" Johan menumpangkan ke dua tangan di atas meja, berlagak seperti anak SD yang sedang memperhatikan gurunya.


"Aku butuh orang yang namanya tercantum di dokumen ini untuk tanda tangan" Anna menyorongkan dokumen dengan sebuah balpoin khusus menumpang diatasnya.


Johan memelototkan matanya.


"Maksudmu?" Johan bertanya sebelum matanya menangkap ada nama lengkap termasuk gelarnya  ada di sudut kanan bawah surat keputusan dari perusahaan.


"Apa ini tidak terlalu mendadak An?" Johan ingin memastikan.


"Tidak Jo, kami sudah membicarakan ini berbulan-bulan, keputusan memilihmu buka hasil pemikiran satu dua orang" Anna menjelaskan.


"Jangan khawatir, akan ada pelatihan manajemen yang cukup sebelum kamu memimpin tim di sana" jelas Anna.


Johan masih memelototi SK dehadapannya.


"Kamu pasti tidak akan mengalami kesulitan karena akan dibantu Alfon dan Deni" Lanjut Anna menjelaskan.


"Apakah aku tidak perlu memembaca isinya?" tanya Johan.


"Tentu boleh kalau kamu mau Jo" Anna menyunggingkan senyuman yang akan membuat jantung laki-laki yang belum mengenalnya berhenti berdetak.


Sore hari sepulang dari kantor Johan memasuki kos Leyna.


Johan melihat pintu kamar kekasihnya terbuka.


Leyna Melihat kekasihnya terburu-buru dengan wajah bahagia segera bangkit dari duduk dan menyambutnya di belakang pintu kamar.


Johan mendekapkan tangan dipinggang Leyna, sementar Leyna merangkulkan kedua tangannya di pinggang Johan.


Leyna menempelkan bibir mungilnya di bibir Johan sebelum Johan gantian mencium dua pipi gembil Leyna.


Kehangatan cinta Johan dan Leyna semakin membara sejak Papa Leyna tak terlihat marah meski dua kali memergoki secara langsung melalui kamera.


"Hoey, kalau mau adegan panas tutup pintu dulu, gak usah dipamerin" Johan terperanjat. Leynapun tampak malu sehingga mereka melepaskan tangan masing-masing dan menengok ke seberang pintu dimana kamar Lusi berada.


"Eh, Lusi, kapan datang? Mana oleh-olehnya?" Tanya Johan menutup rasa malunya.


"Gak usah basa-basilah bang, itu oleh-oleh sudah dihabiskan pacar abang" canda Lusi, Johan menatap Leyna.


Sementara di belakang Lusi terlihat pacarnya sedang tiduran di kamar sambil memainkan smartphone seakan tak peduli sekitar.


"Dia datang siang tadi bersama pacarnya untuk mempersiapkan wisuda" Leyna yang menjawab pertanyaan Johan.


"Maaf ya Lus, ada yang penting dan rahasia nih" Johan berbicara kepada lusi sambil tangannya mulai menutup daun pintu kamar Leyna.

__ADS_1


"Sudaaah, lanjut sana. Sudah biasa kok" sungut Lusi.


"Ih masa sih, biasa apa? Yang mana?" Johan menghentikan dorongan daun pintu lalu melongokkan kepala ke arah Lusi.


Lusi mencibirkan bibir sehingga Leyna buru-buru menarik Johan agar perdebatan tak berkepanjangan.


Johan melemparkan tas punggung andalannya dan membaringkan diri di kasur pojok kamar.


Leyna mengikuti dan berbaring miring dengan tangan kiri menopang kepalanya agar dapat memandang wajah Johan. Sementara jemari tangan kanannya asyik memainkan kancing baju kemeja di dada Johan.


"Kelihatan senang banget ada apa sih Mas" sepulang dari silancur Leyna sesekali memanggil Johan hanya menggunakan atribut saja. Menandakan ia semakin bisa menerima kehadiran Johan di sisinya.


"Kakak kamu apakah masih lama rencana menikah?" Tanya Johan


"Kenapa tanya begitu? Tumben" Leyna sampai terduduk mendengar pertanyaan Johan yang tidak biasa.


"Sudah punya pacar belum?" Johan kembali bertanya.


"Kenapa? Mau mencarikan Jodoh?" tanya Leyna.


"Nggak mungkinlah, aku mana paham seleranya" Jawab Johan.


"Lantas ngapain nanya-nanya?" tegas Leyna.


"Tradisi di kampungku, adik perempuan tidak pantas kalau menikah mendahului kakak perempuannya" terang Johan.


"Maksudmu?" Leyna penasaran.


"Aku ingin kamu segera menjadi istriku, menjaga anak-anakku"  ungkap Johan.


Leyna terlonjak bahagia. Melompat diatas Johan dan duduk diatas perutnya. badannya membungkuk memeluk Johan dan memberikan ciuman di pipi Johan.


"Kamu? Sungguhkah yang aku dengar Mas? Johan hanya mengangguk dan menyunggingkan senyuman.


"Jangan khawatirkan kakakku Mas. Sebenarnya dia sudah punya pacar. Lebih tampan dari kamu orangnya, mereka berpacaran sejak SMP" Leyna kegirangan sambil menjelaskan.


"Oh" Hanya itu yang keluar dari mulut Johan sendikit tersindir.


Mereka terdiam dalam dekapan. Johan menurunkan Leyna dari tubuhnya karena gadis itu seenaknya menindih tubuhnya hingga Johan sulit bernafas.


"Maaf aku tidak bisa menemanimu saat wisuda nanti" Leyna kembali menopang kepala dengan tangan kirinya memperhatikan kekasihnya.


"Aku ada pelatihan manajemen, Pagi pas kamu wisuda adalah hari terakhir pelatihan, dan harus mempresentasikan gagasan" Johan menerangkan.


"Nggak apa-apa Mas, kan ada keluargaku yang mendampingi" Leyna menghibur kekasihnya sambil mengelus kepala kiri Johan dengan jemari tangan kanannya.


"Kok tumben pelatihan manajemen, bukan seminar seperti biasanya?" tanya Leyna.


"Aku ditunjuk membuka dan memimpin agensi di Jakarta" terang Johan.


Leyna membelalakan mata bulatnya sambil mulut menganga beberapa saat tanda takjub.

__ADS_1


Tangan kanannya masih memainkan daun telinga Johan, wajahnya segera mendekat dan menghadiahi kesuksesan Johan dengan ciuman.


__ADS_2